Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Ditinggal


__ADS_3

Melihat Veron demikian Zello terlonjak untuk mengambil selimut. Dia lilitkan di tubuh Veron dengan asal. Veron yang berselimut semakin mengerang kesakitan. Hawa panas dalam tubuh semakin menjadi. Kain lebar yang melekat di tubuhnya ia lepas begitu saja.


"Sial," umpat Zello. Dirinya yang berniat keluar mencari bantuan malah ikut terjebak karena pintu kamarnya dikunci dari luar.


Tidak kehabisan akal Zello menghubungi nomor rumah, kakek, semua yang bisa ia hubungi. Tapi sayangnya tidak ada yang dijawabnya. Beralih menelpon Zico dan juga dokter.


"Zello," ucap Veron. Dirinya dengan agresif memeluk Zello, berusaha terus mencumbu Zello dengan liarnya.


Mendapat perlakuan liar dari Veron membuat Zello emosi, dia tumpahkan berbagai macam barang yang berada di atas meja rias Veron untuk pelampiasannya.


Tubuh istrinya yang meliuk-liuk menempel di di tubuhnya membuat pikirannya jijik. Zello tidak merespon liarnya Veron. Dalam pandangannya Veron seperti wanita penghibur handal yang tengah bekerja untuk memuaskan pria-pria. Bayangan-bayangan ******* dan jeritan kecil Veron memadu kasih dengan pria lain membuat dirinya sakit.


Rintihan sakit dari bibir Veron semakin menyiksa telinga Zello.


"Zello, aku bukan mantan narkoba, mantan narapidana. Aku sendiri malu dengan masa laluku, bagaimana bisa aku mengatakan padamu, Zello.... "


"Zello, apa kamu tidak bisa berfikir sedikit pun. Aku tidak mengakuinya karena aku terlalu takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Seperti kamu yang sangat mencintaiku. Aku takut kehilanganmu Zello, sangat takut," lirih Veron.


Veron terus berupaya membuat Zello bertekuk lutut kedirinya. Tangannya agresif menjalar ke tubuh Zello. Menyentuh dengan sangat agresif dan liar.


"Aku ada solusi," ucap Zello sinis. Tangannya mengambil kedua tangan Veron. Mencekalnya menjadi satu dengan kedua tangannya, mencekal dengan sangat erat hingga Veron meringis sakit.


"Lepas....! " mohon Veron.


"Bagaimana kalau aku panggil Dave," ucap Zello lagi.


Veron menggeleng cepat. "Tidak- tidak Zello."


"Oh, atau pria asing lainnya. Katakan siapa? Akan kucarikan," cibir Zello.


"Nggak, Zello. Bagaimana aku bisa melakukannya tanpa cinta."


"Tanpa cinta?" Zello mengikis wajah mereka. Nafas mereka beradu. "Hahaha. Memangnya kenapa? Bukankah kamu sudah biasa."


"Zello lepaskan!" mohon Veron. Badannya seperti tertusuk banyak jarum. Veron tak sanggup berdiri lagi, sakit yang semakin menjadi membuat ubun-ubunnya seakan pecah.

__ADS_1


"Itu masa lalu, Zello. Itu masa lalu." Veron menggigit kuat tangan Zello, menahannya lama hingga tangan Zello mengendur dan terlepas.


"Sakit,...." Veron beralih memungut gunting yang teronggok di lantai. Mengambil dan siap memberi luka ke pergelangan tangannya yang sudah tengadah ke atas.


"Apa yang kamu lakukan?!" hardik Zello. Mencekal tangan Veron yang tengah memegang guntingnya.


Veron berontak namun tenaganya tidak seberapa dibanding dengan tenaga Zello.


Zello melepaskan gunting dari tangan Veron dengan paksa. Menatapnya dengan sesuatu yang tidak bisa Veron mengerti, terlebih rasa sakit yang tengah ia rasakan.


Veron menangis terisak. Tidak lama tubuhnya dihempaskan dengan kasar oleh Zello yang disusul padamnya lampu kamar mereka.


Sakit yang tidak bisa Veron tahan membuat dirinya pasrah. Terus menggigit bibirnya sendiri. Menangis pun Veron sudah tidak sanggup. Pergerakan di kasur membuat Veron mencari bayangan Zello.


Melihat bayangan Zello di atasnya membuat Veron mengulurkan tangan menyambut kedatangannya. Menyentuh dadanya. Tanpa aba-aba, Zello memberikan gerakan ke kaki Veron dan langsung melakukan penyatuan.


Tanpa melakukan foreplay, tanpa perduli nyaman atau tidak posisi istrinya, Zello mengaduk-ngaduk isi milik istrinya tanpa ampun, tanpa jeda. Erangan keluar dari kedua bibir mereka. Munafik bila Zello tidak menikmati. Begitu Veron yang suka dengan kasarnya Zello. Sangat kasar tanpa ampun yang membuat sakit dan nyeri di bagian tertentu milik Veron yang membuatnya merintih sakit disela nafasnya yang naik turun.


Tetesan keringat Zello terus jatuh di tubuh Veron. Kasarnya Zello dan posisi yang tidak nyaman hingga waktu lama membuat ************ Veron sakit. Tidak bisa berbuat apa-apa. Veron pasrah dengan tindakan Zello. Masih bersyukur Zello mau menyentuhnya.


Setelah sekian lama membiarkan Zello berpacu dengan brutal, akhirnya mereka menegang dan bergetar dengan hebat secara bersamaan.


Selesai menumpahkan miliknya, dengan nafas masih tersengal, Zello langsung turun dari ranjang. Ada rasa sedikit bersalah telah melakukannya dengan sangat kasar. Dengan sisa bayangan yang terlihat di gelapnya kamar mereka, Zello meraih selimut yang teronggok di lantai, menutup tubuh istrinya.


***


Di bawah selimut yang tebal, kepingan tak tahu malu dirinya terus berputar. Mata Veron masih terpejam, memilih pura-pura masih tidur. Menerka aktivitas Zello dari suara dalam kamar mereka.


Suara kamar mandi terbuka, tertutup, almari yang terbuka dan hingga suara pintu kamarnya yang tertutup rapat.


Veron sengaja menunggu Zello keluar kamar baru dirinya beranjak dari kasur. Selain malu, nyeri di selangkangannya pasti akan membuat jalannya sedikit berbeda.


Dengan jalan perlahan, Veron menuju kamar mandi, berandam di bathup untuk mengurangi nyeri di pinggang dan daerah selangkangannya.


****

__ADS_1


Setelah beberapa hari terjadinya ritual panas tanpa ampun itu, seakan tidak ada nilainya bagi Zello. Dirinya masih acuh dengan Veron.


Veron yang awalnya selalu mengemis maaf pun menjadi sedikit diam. Malu tapi juga kecewa membuat Veron enggan untuk terus merajuk ke Zello. Karena itu akan semakin membuat hati Veron nelangsa.


Denting sendok dan garpu mengisi aktivitas malam hari mereka di meja makan.


"Zello, ajaklah Lilie ke Singapura, sepertinya menyelesaikan permasalahan perusahaan yang di sana akan memakan waktu."


Veron dan Zello sama-sama terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Tidak perlu, Kek. Biar Lilie disini menjadi teman mengobrol kakek."


Hanif menghela nafas kasar. Tidak berucap lagi, memilih melanjutkan makannya.


***


Tidak adanya ucapan Zello yang keluar dari bibirnya. Entah berangkat kapan, berapa hari dan yang terakhir pamit dengan sekadarnya 'titip kakek' membuat Veron nelangsa.


Seakan kembali ke masa kecilnya. Veron yang ditinggal Zello pergi merasa hidupnya suram, kosong dan tidak bermakna lagi. Sudah dua minggu Zello berada di Singapura, namun Zello tak pernah ada kabar. Veron yang masih berharap maaf dari Zello beberapa kali melakukan panggilan dan mengirim pesan namun tak ada satupun yang dibalasnya. Membuat wajah Veron sedikit tirus dari wajah biasanya.


"Tuan Besar. Nasi di kamar Nona masih utuh," ujar Dahlia. Dirinya baru saja dari kamar Veron, mengecek makanan yang sudah ia siapkan di kamar. Di tengah rasa sedihnya, membuat Veron hanya makan sangat sedikit, dan Hanif yang melihat demikian berinisiatif menyiapkan makan di kamarnya lagi.


"Buatkan jus untuknya!"


"Baik, Tuan."


Tidak selang lama, Veron keluar dan bergabung bersama Hanif. Meski sedih, namun Veron tak pernah melupakan Hanif.


Selalu bersikap manis dan seakan baik-baik saja. Padahal dengan jelas wajahnya menirus setelah kepergian Zello. Itulah yang membuat Hanif merasa haru.


Tapi Hanif juga tidak memberitahu keadaan Veron ke Zello. Hanif ingin nanti Zello menyesali sikapnya yang telah membuat Veron demikian.


***


Sakitnya Veron diacuhkan Zello terus menerus, membuat dirinya terkenang dengan dirinya saat masih kecil. Sedih yang tidak bisa ia utarakan. Rasa sedih bercampur kecewa membuat dirinya selalu menangis menjelang tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2