
"Lilie."
Maria masuk kedalam kamar dan langsung duduk di samping Veron, tanpa menyadari pergerakan tangan Veron yang tengah menghapus air matanya.
"Iya, Mah."
"Ini oleh-oleh buat di sana ya. Sudah mama borongkan banyak parfum buat teman-teman kamu. Dan ini, buat papa dari kami."
Veron membuka tas belanjaan, mengagumi semua isi dalam tas itu. "Mama nggak salah? Ini banyak sekali."
"Iya, nggak apa."
"Lilie sudah belanja juga buat mereka." Ucap Veron.
"Sudah biarin aja. Itu namanya rezeki mereka."
"Makasih ya, Mah. Mama baik banget. Mama the best." Veron memeluk Maria erat, mendekapnya lama.
"Aku nggak di peluk juga." Celetuk Zello.
"Sini!" Maria menarik tubuh Zello untuk bergabung.
Berpelukan bertiga dengan ulah Zello yang meniup-niup area rambut Veron.
Veron yang tidak memberikan respon membuat Zello beralih meniup area wajahnya.
"Lilie." Ucap Zello pelan. Merasa ada yang aneh dengan raut wajah Veron.
"Sudah, hentikan!" Veron mendorong wajah Zello karena merasa terganggu.
"Mama keluar dulu deh. Takut ganggu kalian." Maria melepas rangkulannya dan berdiri dari ranjang.
"Ngga, Mah." Ucap Veron.
"Andai Zello yang bilang, mama akan percaya," ucap Maria dengan senyum menggoda.
Ucapan Maria membuat Veron menoleh ke Zello yang ternyata sedang menatapnya. Sementara Maria langsung beranjak keluar dari kamar mereka dengan senyum geli karena melihat putranya yang seakan sedang di mabuk asmara.
"Kamu kenapa?" tanya Zello.
"Memang aku kenapa?"
"Kamu terlihat sedih."
"Aku pasti akan merindukan mereka."
Veron membuang nafas kasar, menunduk sesaat sembari menghapus embun di sudut matanya yang muncul lagi.
"Aku sudah menduganya." Zello merengkuh tubuh Veron ke dalam pelukannya dan menghapus air mata Veron dengan lembut.
"Kita akan kesini lagi lain waktu." Hibur Zello dengan tangan yang sibuk merapikan rambut Veron yang sedikit berantakan.
'Zello, perlakuan manismu menyiksaku'
Veron merenggangkan jarak dan mengangguk lemah.
"Sekarang istirahatlah. Nanti sore kita berangkat."
"Iya." Ucap Veron nurut dan langsung rebahan di tempatnya. Nggak lama Zello memberikan kecupan lembut di keningnya.
"Aku keluar dulu ya."
"Iya."
"Kamu terlalu nurut kalau sedang sedih." Zello mencubit hidung Veron gemas dan berganti dengan mengecupnya.
"Zello." Pekik pelan Veron. Meski begitu, wajahnya bersemu merah.
"Aku keluar." Ucap Zello lagi.
"Iya ...."
"Aku pikir kamu akan menahanku. Dasar, tidak romantis." Gerutu Zello mendrama kesal sembari melangkahkan kaki keluar kamar.
Sementara Veron tertegun di tempatnya. Meresapi rasa aneh yang kemarin indah namun sekarang perlahan terisi rasa sakit di dalamnya.
***
Sesampai Jakarta, Indonesia. Rutinitas mereka kembali seperti biasanya. Keadaan perusahaan yang sedang ada sedikit masalah membuat Zello lebih sibuk dan sering pulang larut malam.
Pintu kamar Veron terbuka sempurna, Zello melangkahkan kaki dengan pelan, tidak ingin mengganggu Veron yang tengah tertidur lelap.
Zello menyibakkan poni Veron yang mulai memanjang dan memberi kecupan di keningnya. "Mimpi indah, Sayang."
Lenguhan kecil keluar dari bibir Veron dengan mata yang perlahan terbuka. "Baru pulang?" tanya Veron parau.
"Iya. Apa aku mengganggu tidurmu?"
Veron menggeleng lemah. "Mau kusiapkan makan?"
"Aku sudah makan tadi bersama rekan. Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah makan sesuai perintahmu."
"Pinter. Tidurlah lagi! Aku juga mau istirahat."
"Makin hari kamu makin sibuk."
"Iya. Karena aku tidak hanya puas dengan completion, i want completely perfect."
"Mirip banget sama papa."
"Aku akan segera menyelesaikannya."
"Harus, kamu sangat kurang istirahat."
"Lelahku hilang saat melihatmu."
"Hm." Sahut sederhana Veron. Dahinya berkerut sekilas.
"Aku tidak membual."
"Iya, aku percaya."
"Aku akan segera menyelesaikannya. Tidurlah!" Zello merapikan selimut Veron, menyelimuti sampai dadanya.
"Kamu sudah bilang yang kesekian, jadi buktikanlah!"
"Apa kamu merindukanku?"
"Apa dilarang?"
"Aku juga merindukanmu." Zello membenamkan wajahnya ke leher Veron. "Apa kamu tidak ingin menahanku di kamarmu ini, Lilie," ucap Zello yang berubah parau.
Veron terdiam sesaat, menelisik penampilan Zello yang semua masih lengkap bertengger di tubuhnya, dasi, jam. Yang sudah di pastikan sesampai apartemen, kamarnya adalah tempat pertama yang Zello tuju. Sikap dan perlakuan Zello benar-benar membuat Veron merasa di awang-awang. Namun, benteng tinggi membuat dirinya tidak bisa menerima perlakuan lebih dari ini.
"Zello, keluarlah! Dan istirahatlah yang nyenyak."
***
Veron yang di dapur segera membuat roti selai. Semenjak sibuknya Zello, dirinya belum merasakan masakan Zello lagi. Roti selai yang praktis jadi andalannya, karena Zello juga akan berangkat jauh lebih awal.
"Sayang," ucap Zello yang langsung mendekap Veron dari belakang.
"Ayo, makan sarapanmu!" Veron merapikan sisa-sisa berantakan yang ada di depannya. Yang kemudian melepaskan dekapan Zello dengan perlahan, dan menuntunnya ke meja makan.
Veron menyodorkan roti itu langsung ke bibir Zello. Ada binar di wajah Zello yang bisa Veron lihat di tengah aktivitas mulutnya.
"Kamu terlihat senang."
__ADS_1
"Apa sangat terlihat?"
"Lumayan. Dan matamu terlihat lebih parah dari semalam. Apa ... kamu kembali meski sudah di rumah?"
"Aku tidak bisa tidur, jadi ...."
"Zello." ucap kesal Veron.
"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri. Andai kamu menahanku semalam. Aku pasti akan tidur dengan cepat dan pulas."
Ting. Notif pesan di ponsel Zello yang membuat mereka berdua diam sejenak.
[Muahh, tidak sabar untuk segera bertemu. Love you.]
Pesan manis terpampang jelas di layar ponsel Zello.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Zello yang melihat Veron tergugu di tempatnya.
"Aku? Memang apa yang harus aku pikirkan?"
Veron mengambil jas yang berada di sandaran kursi dan memakaikan perlahan ke Zello.
"Semua tidak seperti yang kamu lihat." ucap Zello.
"Sudahlah, Zello. Kamu tidak perlu menjelaskan itu. Itu hak kamu." Veron mengancingkan jas tanpa berniat menatap balik tatapan Zello.
"Lilie." Zello merengkuh tubuh Veron mendekapnya erat. "Percayalah!"
"Iya." Veron merenggangkan tubuhnya namun dapat penolakan dari Zello. Zello semakin erat mendekapnya. "Lepaskan!" ucap kesal Veron. Dadanya naik turun menahan emosi.
Bagaimana Zello mau melepaskan dekapannya, wajah gelisah Veron membuat dirinya ikut gelisah.
"Lilie." Tegas Zello, karena Veron bersikeras lepas dari dekapannya. "Lihat aku!"
"Nggak mau."
Zello mencubit dagu Veron yang membuat wajahnya sedikit mendongak dan bisa dilihat. Tanpa Veron sangka Zello langsung mencumbu area lehernya.
"Zello." Veron berucap kesal sembari mendorong tubuh Zello.
Zello menatap manik amarah Veron. "Tenang saja, aku tidak akan melakukan lebih jauh lagi kalau kamu tidak mengizinkan. Tapi aku minta sama kamu untuk percaya sama aku, Lie."
Veron tertegun dengan ucapan tegas Zello. Mencoba berani menatap manik Zello yang tersirat amarah dan juga harapan disana.
'Apa maksudnya?'
"Kamu percaya, kan?" Tuntut Zello pelan. Sementara Zello masih belum berani mencerna maksud ucapan Zello.
'Apa yang harus aku percaya'
"Lie."
Veron mengangguk lemah dengan dada berdegup kencang menerka maksud Zello.
"Aku harus ke perusahaan sekarang," ucap Zello.
"Iya. Pergilah!" Veron memejamkan mata menerima kecupan di keningnya.
Sepeninggal Zello, Veron terduduk lemah di kursinya. Tidak hanya gelisah tapi seakan ada beban yang begitu besar yang tengah ia pikul.
***
"Desy." Panggil Veron.
Desy yang baru saja masuk restoran langsung menuju suara itu berasal.
"Ayo, ayo. Aku siap menerima traktiran." antusias Desy dan langsung duduk di kursinya. " Bagaimana kabarmu?" tanya Desy kemudian.
"Baik."
"Kamu nggak pesan makan? Atau sudah selesai makan?"
"Wah, manis sekali."
"Hm."
Desy langsung memberi kode ke waittress.
"Veron. Kamu mau makan apa?" tanya Desy.
"Samain aja."
Veron menyodorkan paper bag kecil di depan Desy.
"Wah, apa ini?"
Desy dengan antusias melihat isi paper bagnya.
"Itu oleh-oleh dari Paris."
"Ahh, tiga parfum mahal." Pekik Desy.
"Sstt."
Desy dengan antusias juga mencoba mencium semua aroma psrfumnya. "Aaaa, ini sangat menakjubkan."
Diambilnya lagi barang yang masih ada dalam paper bag. "Dompet kitty." Pekik Desy.
Veron mendesah kecil sembari menggeleng melihat hebohnya Desy.
"Syal," ucap girang Desy.
Veron meraih benda itu dengan cepat.
"Eh." Protes Desy.
"Ada gunanya aku bawakan ini." Dengan cepat Veron memasangkan syal itu ke leher Desy. "Dasar nggak tahu malu."
"Hehehe. Makasih."
"Hm."
"Oya, habis ini kita mau kemana?" tanya Desy.
"Mm ... kemana ya ... sebenarnya aku ingin bicara penting."
"Penting?"
"Masalah pribadi maksudnya."
"Kenapa nggak sekarang saja."
"Aku takut nggak bisa makan," sahut Veron pelan.
"Astaga, sepertinya ini masalah serius." Desy menatap Veron serius. Secara status Veron adalah istri kontrak, dan ucapan Veron barusan benar-benar berhasil membuat dia penasaran.
"Yaudah kita makan dulu. Itu sudah datang." Ucap Desy sembari tersenyum manis ke pramusaji tampan di restoran itu.
"Silahkan!"
"Terima kasih," sahut Desy dengan senyum menggoda.
"Sudah ayo makan." Tegur Veron.
"Ayo, aku sudah lapar." Desy menyantap dengan nikmat, dua porsi makanan beda menu dengan cepat berpindah ke dalam mulutnya.
"Ah, sarapan yang memuaskan." Ujar Desy. Sembari menoleh ke piring Veron yang terlihat masih separo lebih. "Kamu kaya ngga k doyan makan."
"Bukan nggak doyan, tapi aku memang nggak biasa sarapan dengan porsi banyak." Dalih Veron.
__ADS_1
"Halah, aku sudah mengenalmu dari dulu." Cetus Desy.
Veron menaruh sendok dan garpunya kasar. Dia memang sedang tidak selera untuk makan.
"Nah, gitu. Kita itu harus melepaskan penat kita." Desy berucap sembari berdiri. "Itu jauh lebih baik. Oya, aku ke toilet dulu ya."
Tidak adanya Desy, Veron terduduk lesu lagi di kursinya. Veron meremas jemarinya karena gelisah. Ucapan Zello seakan terus menggema di telinganya. Veron merutuki dirinya sendiri yang terjerumus dalam perasaan yang tidak semestinya. Semua sudah terlanjur, dan apa yang akan dirinya dapat. Zello tidak, kebahagiaan juga tidak.
"Veron."
"Hm." Veron mendongak lemah menatap Desy.
"Mau ngomong di sini atau di mana?"
"Ayo cari tempat yang enak!"
"Mm, disini juga enak sih. Masih sepi. Amanlah buat kamu buka aib hahaha."
"Desy ...."
"Iya iya. Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke?!"
"Aku lagi sedih, tapi kamu malah mengajakku kesana."
"Justru itu, kamu akan happy kalau di sana."
"Yaudah, terserah." Veron melangkahkan kaki mengiringi Desy.
"Pasti soal pernikahan kamu kan?" Terka Desy.
"He em."
Mereka ke tempat tujuan pergi dengan menaiki motor Desy. Udara yang menerpa wajah Veron langsung membawa Veron ke ingatannya bersama Zello dulu saat mereka bersepeda bersama. Veron memeluk erat Desy tanpa sadar, seakan Desy adalah Zello. Memeluk dengan erat dan hangat.
"Kalau ada yang melihat kita seperti ini. Pasti bakal dikira belok," ucap Desy.
Mulut Veron terbuka sesaat mendengar ucapan Desy, dan segera melonggarkan pelukannya.
"Desy, menurutmu bagaimana Zello?"
"Zello? Suamimu?"
"Iya, siapa lagi." Gerutu Veron.
Veron turun dari motor Desy, melangkah lebih awal di mana mereka akan menghibur diri.
"Veron ... tunggu ... !" Desy setengah berlari menyusul Veron yang sudah jauh dari pandangannya.
Veron menoleh sekilas dan memperlambat jalannya, "kebiasaan teriak-teriak terus."
"Kamu yang kebiasaan, tidak pernah setia dengan pertemanan."
"Ngawur." Veron merangkul pundak Desy dan melangkah bersama dengan berirama.
"Maksudnya? Kamu benar-benar menaruh hati dengan suamimu itu," ucap Desy sembari masuk ke ruang karaoke mereka.
Desy langsung memilih-milih lagu di sana. Sementara Veron duduk termenung melihat Desy dengan tatapan kosong.
"Ayo, ceritakan!" ucap Desy.
"Bagaimana menurutmu tentang Zello?" ucap Veron yang kesekian.
"Menurutku? Aku kan tidak mengenal. Mengobrol saja tidak pernah." Cetus Desy.
"Iya, sepertinya aku sudah salah memilih teman mengobrol."
"Tapi intinya, kamu memiliki rasa untuknya dan dia pun begitu. Itu yang membuatmu bimbang. Begitukan?" Terka Desy.
"I-iya."
"Ah, aku penasaran bagaimana dia mengungkapkannya, sementara hubungan kalian sebatas pernikahan di atas kertas."
"Ungkapan? Dia menyuruhku untuk mempercayainya," tutur Veron pelan.
"Maksudnya?"
"Dalam artian dia akan lebih memilihku ketimbang kekasihnya."
"Benarkah?"
"Iya."
"Dan- kamu percaya?!"
"Apa maksudmu bicara seperti itu."
"Wah, kamu berpihak padanya," cibir Desy. "Veron, apa kamu lupa kita ini siapa, dan bagaimana watak para pria. Apa kamu yakin Zello tidak menjadi bagian dari mereka," ucap Desy.
Mendengar ucapan Desy yang masuk akal membuat Veron sedikit tersentil. Veron terdiam tanpa tahu harus bicara apa.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kamu jangan salah paham." Desy menatap serius Veron yang makin sayu di matanya.
"Aku tahu kamu bakal menaruh hati dengan pria setampan dia. Tapi aku harap kamu jangan terlalu dalam menaruh hati sampai membuatmu susah sendiri."
Veron menatap Desy sesaat dan yang kemudian membuang arah pandangannya.
"Sudah lupakan! Intinya kamu mencintainya dan yakin kalau dia mencintaimu. Apa begitu?"
"Tadi iya. Tapi setelah mendengar ucapan panjang kali lebarmu membuatku berfikir ulang."
Desy membuang nafas kasar. "Maaf soal itu."
Veron enggan menjawab, malah ikut membuang nafas kasar.
"Lilie, menurutku - kita akan susah mendapatkan pria seperti suamimu itu. Meski kita cantik, tapi wanita di luar sana banyak yang lebih cantik. Contohnya ... siapa nama kekasih suamimu itu?" ucap Desy mengingat.
"Rossa."
"Ah iya. Maksudku dia. Coba kamu fikir. Apa kamu yakin Zello akan memilihmu? Andai Zello memilihmu, apa Rossa akan diam saja. Tidak bukan? Lain cerita bila Rossa tidak tahu identitasmu," tutur Desy.
Veron menelan salivanya susah payah setelah mendengar ucapan Desy.
"Jadi, kemungkinan kamu mendapatkan Zello adalah satu persen. Kecuali kalau kamu membunuh Rossa untuk membungkus identitasmu. Tapi aku yakin, kamu tidak akan melakukan itu."
"Seperti nasihatku dulu, Veron. Kuraslah dulu hartanya sebelum kalian terpisah. Paling tidak bila kalian sudah berpisah kamu tidak akan rugi."
Ck, "kamu benar-benar tidak membantuku." Veron berdecak kesal.
"Veron, belum tentu dia benar-benar mencintaimu. Jadi, kamu jangan terlalu menganggap dia spesial. Dan jangan terlalu memikirkan dia secara berlebihan. Cukup kamu jalani saja peranmu."
Veron menyandarkan tubuhnya, mencerna ucapan Desy yang semuanya benar. Dan semakin membuatnya merasa tidak nyaman.
"Lilie." Panggil pelan Desy.
Veron bergeming tanpa suara, tidak peduli dengan ucapan Desy.
"Bagaimana, itu solusi terbaik kan. Intinya jangan terlalu memikirkan dia. Istilah lain jangan berfikir untuk mendapatkannya - 'PERCUMA'."
"Iya, kamu benar. Dia mencintaiku, aku tidak akan bisa bersamanya. Dia tidak mencintaiku sudah jelas sama pada akhirnya - ' tidak akan bersama'.
"Tapi - kalau dia benar-benar mencintaimu, kamu bentengi dirimu sendiri supaya tetap aman."
"Tapi, masalahnya aku -maksudnya- bagaimana caranya untuk menghapus perasaan ini, sedangkan aku bersamanya terus. Pasti akan sulit."
Desy menepuk bahu Veron, "kamu tidak kekurangan pria, Veron. Keluar dari rumah itu akan banyak pria yang bisa kamu jadikan 'partner ranjang'. Pasti dengan begitu kamu akan cepat melupakannya."
'Hah? Bagaimana bisa. Aku sudah berjanji tidak akan ke tempat terkutuk itu lagi bila sudah merasakan indahnya memiliki keluarga. Lagi pula aku ingin menjalani hidup yang seperti orang lain lakukan. Menjalani hubungan yang sehat. Dan, akan pergi sejauh mungkin untuk memulai hidup baru yang normal.' SEJAUH MUNGKIN.
'Jadi, intinya, Lupakan Zello '
__ADS_1