
***
"Ok. Jadi kita akan survey tempatnya nanti."
"Siap. Saya akan hubungi Zico untuk mengatur jadwalnya," ujar Zein.
Zello dan Zein sama-sama keluar dari ruang rapat jalan beriringan.
"Mau makan siang diluar?" Tawar Zein.
"Mm ... boleh."
***
"Dahlia, ponselku sepertinya tertinggal di jok mobil," ucap Veron. Veron dan Dahlia baru saja memasuki perusahaan Zello. Dan ucapab Veron barusan membuat Dahlia tepok jidat.
"Astaga Nona-"
"Jangan ngeluh, sana ambil!"
"Ah iya. Oya ini." Dahlia menyodorkan kotak makan ke Veron.
"Apa kamu suruh aku bawa ini." Keluh Veron. Andai dirinya tidak sedang kesal dengan Zello pasti mau untuk membawanya. Tapi Zello sudah membuatnya kesal, yang membuat dia malas untuk membawanya.
"Ah nggak Nona. Biar saya saja yang bawa." Dahlia pasrah dengan kesalnya Veron. Karena Namanya nggak tahu kalau bakal di suruh masak buat Zello lagi. Ucapan makanan kesukaan Hanif itu adalah karangan saja dari Dahlia.
Dengan langkah cepat, Dahlia melangkahkan kaki menuju keluar perusahaan mencari mobilnya yang sudah di area parkir.
Pandangan Veron sendiri yang sudah di tinggal oleh Dahlia tertuju ke dua pria yang melangkah ke luar perusahaan alias ke dirinya juga. Zello dan Zein.
Zein?
Veron menelan salivanya dan sekian menit ia tersenyum manis ke arah mereka yang sudah semakin dekat.
Dilihatnya dua pria itu yang sama-sama berbalut pakaian kantor dengan model jas modern. Sama-sama menatap Veron dengan mata yang sama, mata yang seakan penuh damba di dalamnya. Kalau Zein memang pernah bilang cinta, tapi apa di mata Zello itu artinya juga cinta?
"Lilie, kamu di sini?" tanya Zello.
"Iya."
"Nona -" ucap Zein.
"Lilie." Jelas Veron ke Zein. Dada Veron sedikit gugup dengan tatapan dalam dari Zein terus-menerus.
"Apa- itu sudah ada dari lahir?" tanya Zein.
Hah? "Iya," sahut Veron, menyadari yang di maksud adalah tahi lalat kecilnya yang di area bawah telinganya.
Zein mengangguk dengan mata masih menatap penuh heran ke Veron.
"Lilie, apa kamu bawa makanan?" sela Zello.
"Ah ...nggak."
"Oh, yaudah sana kamu ke dalam!"
"Apa Nona Lilie sudah makan, kalau belum kita bisa -" ucap Zein.
"Lilie, keruanganku!" potong Zello.
"Iya, tentu saja. Aku juga lelah," sahut Veron cepat. "Permisi," sambungnya.
"Wajah Anda mengingatkanku dengan seseorang," ucap Zein seketika.
"Hanya saja dia berambut panjang," sambungnya.
Meski sedikit terkejut dengan ucapan Zein, Veron tidak ada pilihan lain selain tertawa kecil menutupi kegugupannya.
"Wah, andai aku masih berambut panjang Anda pasti akan merasa saya ini adalah teman Anda. Karena dari tatapan Anda ke saya sangatlah membuat saya canggung."
"Ah, maaf. Saya tidak bermaksud." Zein berucap dengan tulus.
"Tidak masalah, permisi."
Veron beranjak dari sana, meskipun begitu tidak membuat dirinya merasa lega. Zein adalah pria yang sering menyewanya sampai pagi hari. Membuat dirinya merasa was-was.
Di lain sisi, Zello yang masih bersama Zein mengurungkan niatnya untuk makan siang bersama.
"Maaf, sepertinya istri saya sengaja kesini untuk makan bersama dengan saya. Saya harap Anda mau memakluminya," ucap Zello datar.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Saya juga punya istri, saya bisa paham," ucapnya dengan kekehan kecil.
Ck. Cemohan kecil keluar begitu saja dari bibir Zello.
Hm? Kening Zein berkerut dengan sikap Zello.
"Hah, seharusnya kalau kamu sudah punya istri, kamu bisa menjaga matamu." Cetus Zello.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak perlu mengamati istri orang sampai sebegitunya." tandas Zello.
"Oh." Zein benar-benar terkejut dengan sikap Zello.
"Permisi." Zello menepuk bahu Zein kasar dan berlalu dari sana, menyusul Veron.
Sesampai ruangannya, Zello langsung menemukan Veron yang tengah duduk di sofa panjang.
"Kenapa tidak di ranjang saja," ucap Zello.
"Aku akan tertidur bila istirahat di sana." Meski Zello duduk di kursi kebesarannya, namun pandangannya terus ke Veron.
Tok tok tok.
"Tuan, Nona." Dahlia masuk dan mendekat tempat duduk Veron.
"Nona." Dahlia menaruh kotak masakannya di depan Veron.
"Kok taruh sini? Taruh sana!"
"Tapi-"
"Kamu bawa itu buat siapa?" tandas Veron pelan.
"Buat Tuan."
"Yaudah kasih!"
"Tapi Nona kan istrinya."
"Kamu tahu kan, aku istri apa. Sudah siapkan buat dia!" Veron beralih sibuk dengan ponselnya.
Tanpa mereka sadari Zello yang melihat perdebatan mereka perlahan mendekat ke arah mereka.
"Itu apa?" tanya Zello.
"Oh. Ini makan siang buat Tuan."
"Kata Lilie dia tidak bawa," ujar Zello, yang pandangan awal ke kotak makan beralih ke Veron, menuntut sebuah jawaban darinya.
"Aku memang nggak bawa. Dahlia yang bawa." Veron berucap dan melihat Zello sekilas dengan datar.
Zello membuang nafas kasar mendengar jawaban Veron. Dilihatnya Veron yang masih dengan muka di tekuk-tekuk setiap bicara dengan dirinya.
"Kamu yang masak?" ucap Zello lagi.
"Dahlia yang -"
"Iya Tuan. Nona tadi sangat semangat memasaknya," ucap Dahlia semangat.
Hembusan nafas kasar berganti keluar dari hidung Veron. Teringat dia sudah di bohongi oleh Dahlia.
"Baiklah, aku akan memakannya." Zello duduk di dekat Veron dengan sofa yang sama.
"Siapkan!"
"Ah, baik." Dahlia dengan sigap membuka kotak makanan yang ia bawa.
"Stop Dahlia! Bukan kamu."
"Oh." Dahlia terbengong dan seketika melepaskan tangannya dari makanan itu.
"Kamu boleh keluar," sambung Zello.
"Baik." Dahlia dengan cepat keluar dari ruangan itu dengan senyum kemenangan ke arah Veron.
Asisten nggak ada etika (batin Veron)
"Lilie."
__ADS_1
"Hm?"
"Siapkan!"
"Ah iya." Dengan santai Veron menyiapkan makanan di depan Zello persis.
"Kamu nggak makan?" Zello meraih kotak makan itu menyendok dengan isian penuh.
"Sudah makan dari rumah," ucap Veron berbohong. Tadi niatnya makan di rumah, tapi di larang oleh Dahlia yang pasti biar bisa makan bareng Zello di kantor.
"Oh." Pergerakan tangan Zello terhenti. Bibirnya tersenyum licik. "Berarti tangan kamu menganggur," ucap Zello kemudian.
Hm? Mata Veron akhirnya tertuju dengan pria yang di sampingnya. Menatapnya lumayan lama dan akhirnya meraih makan siang Zello. Menyuapinya seperti balita.
"Minum!"
"Ini," Veron menyodorkan gelas ke Zello.
Namun Zello hanya terdiam, dengan mata masih Veron penuh arti.
Veron menggeleng malas sembari meraih gelas itu, menyodorkan gelas itu ke bibir Zello.
Glegek. Glegek.
"Terima kasih," ucap Zello kemudian. "Kamu jadi sangat patuh kalau sedang marah," imbuh Zello.
Veron enggan menjawab ucapan Zello. Seingat Veron, dirinya selalu patuh dengan Zello. Hanya saja Veron lebih hemat dalam berbicara dengan Zello karena malas.
Pandangan Zello yang ke wajah Veron menjalar ke leher Veron. Yang ada tahi lalat kecil di sana, meski begitu terlihat sangat jelas karena putih dan jenjangngnya leher Veron.
"Kenapa?" tanya Veron yang sadar dengan tatapan Zello. Veron mengangkat rambutnya ke atas dan mendekatkan wajahnya ke Zello, hingga Zello pun akan lebih puas melihat tahi lalatnya.
Dekatnya wajah Veron membuat Zello tertegun sesaat. Aroma parfum dan tubuhnya berhasil membuatnya menelan salivanya.
"Nggak. Banyak orang mirip di dunia ini. kalau kamu bilang tidak kenal, pasti tidak kenal. Apa juga gunanya kamu berbohong. Hanya saja berhati-hatilah! Dia sudah punya istri."
"Iya aku tahu." Veron merapikan lagi rambutnya.
"Kamu tahu kalau dia sudah beristri."
Eh. "Tahu kalau harus berhati-hati maksudnya, bukan masalah dia belum atau sudah beristri."
"Oh."
"Aku keluar ya. Habis itu aku juga mau langsung pulang," ucap Veron.
"Kenapa terburu-buru," ucap Zello kesal.
"Aku tidak terburu-buru. Aku memang ada acara lain selain mengunjungi kantormu," cetus Veron.
"Lilie," ucap Zello.
Veron berdiri dari duduknya dan merapikan tas yang tengah ia bawa.
"Kamu masih marah karena aku menolak untuk tinggal di rumah Kakek lagi."
"Aku nggak marah. Titik."
"Sepertinya kamu sangat menyayangi Kakek. Kenapa kamu nggak menikah saja dengan dirinya."
"Apa?" Veron terdiam sesaat mendengar ucapan Zello. "Tapi - itu ide yang bagus. Setelah berakhir denganmu. Aku akan jadi istri Kakek."
"Sepertinya kamu akan sangat bangga nanti bila aku memanggilmu nenek." Zello terkekeh karena ucapannya sendiri.
Ck. "Terserah." Veron langsung beranjak dari berdirinya melalui tempat Zello duduk.
"Lilie." Zello mencekal tangan Veron langsung.
"Kenapa?" tanya Veron kesal.
"Keluarlah dan bersenang-senanglah!" Zello menatap dalam Veron, dadanya sendiri berdetak lebih kencang dan juga merasa berdesir hanya karena melihat mata indah istrinya.
"Zein sudah punya istri, dan kamu juga sudah punya kekasih. Kalian ini sama saja." Veron melepas cekalan Zello.
"Dia kekasih, dan kamu adalah istri."
"Hahahah lucu sekali." Veron tertawa garing dan berlalu dari sana.
"Iya. Hidup itu memang lucu." Gumam Zello.
__ADS_1