Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Pesan Dari Zico


__ADS_3

"Hai Zello." Sapa Dave.


"Hai."


"Mm, dimana Lilie?" tanya Dave langsung.


Rahang Zello mengeras, tapi dia juga tidak mau gegabah.


"Jangan salah paham. Aku hanya bertanya sebagai temannya," sambung Dave.


"Oh. Lilie tidak sedang ingin bertemu dengan siapapun. Kamu juga jangan salah paham. Biarkan Lilie dengan pilihannya. Aku takut nanti dia akan kabur lagi," sindir Zello.


Dave tersenyum miris, "kabur dari siapa? Dariku atau darimu? Setahuku sebelum kabur dariku dia kabur darimu," ucap Dave penuh kemenangan.


Zello menggeleng dengan raut mencibir. Jelas berbeda. Veron kabur dari dirinya karena sebuah ancaman, berbeda kabur dari Dave karena ketakutan. Dan awas saja bila ancaman itu ternyata dari Dave.


"Lilie sedang tidak ingin di ganggu. Tenang saja, nanti Lilie bakal menemuimu."


Untuk membahas Anita. Sambung Zello dalam hati.


"Maaf aku harus ke kamar dulu," ujar Zello sembari melangkah meninggalkan Dave dan Hanif.


Zello menaiki tangga menuju kamarnya. Mengambil ponsel Veron dan laptop miliknya segera mungkin. Setelah dapat benda kedua itu Zello langsung turun ingin segera keluar dari rumah Hanif.


"Mana Dave, Kek?"


"Sudah keluar barusan."


"Apa?" Zello setengah berlari menuju dimana mobilnya. Jangan sampai Dave melihat istrinya. Tapi nyatanya semua sudah terlambat. Terlihat Dave tengah berbicara dengan istrinya yang masih duduk di kursi mobil dalam keadaan jendela yang terbuka.


Segera Zello mengayunkan kaki, rahangnya mengeras.


"Aku tidak ingin Zello salah paham karena aku terus bersamamu, Dave. Mangkanya aku pergi," ujar Veron.


"Kamu tidak pergi, tapi kabur."


'Karena kamu tidak membiarkan aku untuk pergi dari sisimu. Terbukti dengan kamu yang membakar kost-kostan yang pernah aku tempati. Kamu ingin menjeratku untuk selalu di sisimu.' Batin Veron.


"Aku hanya ingin sendiri waktu itu," ucap Veron. Rasanya Veron sudah ketakutan melihat sorot mata tajam Dave. Dia tidak ada pilihan lain selain menjawab dengan lembut sekarang. Veron takut Dave nekat dan akan berimbas dengan Zello dan Hanif.


Dave mendengus kesal. "Apa aku pernah menyakitimu? Apa aku pernah menuntutmu?"


'Tidak pernah secara langsung Dave, tapi selalu dengan licik.' Batin Veron.


"Semua tidak berkaitan dengan itu. Aku memang ingin sendiri."


"Dave, tolong hargai istriku! Apa kamu tidak lihat istriku yang tengah hamil besar?!" ucap Zello dengan mimik mencibir Dave. Langkah kakinya dengan pasti menuju kursi kemudinya. Duduk di sebelah istrinya dan langsung menyalakan mesin mobil.


"Kalau kamu tidak nyaman dengan keadaan yang ada kamu bisa menarik aset yang sudah kamu tanam," ujar Zello. Dirinya langsung tancap gas meninggalkan Dave begitu saja.


Pikiran Veron kacau, bicara baik-baik tidak akan membuat Dave puas tapi bila ia meluapkan semuanya akan memancing keributan. Veron berniat kabur untuk hilang dari semuanya, termasuk dari Zello karena ancaman itu. Tapi pesona Zello dan kehamilannya membuat dirinya tak bisa mengendalikan hati yang berontak ingin kembali bersanding di samping suaminya. Dan itu pasti memicu sengit Dave. Dave yang merasa dibohongi, tidak dianggap, dan merasa dihina.

__ADS_1


Dave menatap nanar kepergian Veron dan Zello. Harga dirinya sudah di injak-injak oleh Veron. Dirinya yang selalu ada buat Veron. Melakukan apapun deminya. Tapi nyatanya semua tidak berarti bagi Veron.


Mata tajam Dave terkikis saat mobil lain berganti menggantikan mobil Zello yang sudah menghilang.


Zico dengan tas kerjanya langsung turun dari mobil. Dahinya berkerut melihat Dave tidak jauh dari tempatnya.


"Tuan Dave. Anda disini?"


"Hm." Dave acuh dan beralih masuk ke mobilnya. Meninggalkan pelantaran rumah Hanif dengan dada bergemuruh hebat.


Tidak mau ambil pusing dengan Dave, Zico masuk ke dalam rumah Hanif. Menemui Hanif yang ada di ruang tamu.


"Tuan Besar," ujar Zico.


"Zico."


Hanif mengambil map yang sudah disodorkan Zico. Memberi tanda tangan semua dengan teliti.


"Makanlah disini!" ucap Hanif sembari mengembalikan mapnya.


"Baik Tuan." Selain belum makan, Zico juga tidak bisa menolak Hanif yang hanya akan makan malam sendirian. "Tadi saya lihat Dave di depan."


"Ah iya. Dia mencari Lilie. Apa kamu juga berpapasan dengan Zello?"


"Bos? Nggak."


'Dave bertemu Zello? Pantas Dave terlihat sangat menyeramkan. Pasti karena berkaitan dengan Lilie yang sudah ditemukan.'


"Saya permisi kebelakang untuk cuci tangan, Tuan." Pamit Zico.


Langkah Zico terhenti sesaat saat melihat ada Dahlia ada di sana. Hatinya merasa hangat sekaligus tergelitik. Kebetulan Dahlia juga sedang cuci tangan di wastafel.


Tubuh Dahlia yang sudah berbalik membuat Zico dan Dahlia bersitatap. Saling melempar senyuman kecil.


"Sudah mandi?" tanya Zico.


Hah? Dahlia melongo. Apa dirinya kucel? Apa dirinya bau?! Dahlia mencium aroma tubuhnya, dari ketiak kiri kanan sampai depan dadanya untuk memastikan aroma tubuhnya.


"Kamu kenapa?" tanya Zico terheran.


"Apa aku terlihat sangat kucel. Ini sudah malam. Tentu saja aku sudah mandi," gerutu Dahlia.


Oh. Zico mengelus hidungnya karena salah tingkah. "Maksudku - kamu- sudah makan?"


Bisa-bisanya mulutnya keseleo mengucapkan sudah mandi, padahal Zico berniat membuka obrolan saja. Tapi kenapa harus kalimat itu.


"Belum. Sebentar lagi," sahut Dahlia. Dahlia menatap lekat pria yang ada di depannya. Karena pria di depannyalah dirinya berani menolak ajakan taaruf dari ustaz kondang di kotanya.


"Kamu mau taarufan sama pilihan orangtuamu?" tanya Zico waktu itu.


"Mm, tergantung."

__ADS_1


"Tergantung apa?"


"Tergantung dengan pria yang ada didepanku ini," ujar Dahlia dengan tatapan yang membuat pertahanan Zico pertama kalinya roboh. Pria yang biasanya tidak bisa tersenyum dengan wanita tapi malah bisa tersipu dengan lontaran kata Dahlia.


"A-agamaku juga islam," ujar Zico dengan semburat merah di wajahnya yang kemudian berlalu dengan cepat.


Masih teringat dengan jelas percakapannya dengan Zico beberapa bulan yang lalu oleh Dahlia. Dirinya diberi peluang? Benarkan? Apa dirinya terlalu percaya diri ambil kesimpulan?!


Sampai sekarang rasanya Dahlia tidak percaya. Rasanya seperti mimpi. Zico yang selalu irit bicara. Tapi senyum yang diberikan Zico sudah membuat dirinya yakin kalau itu kode lampu hijau darinya.


"Makanlah yang banyak!"


"Aku akan makan nanti."


"Oh ... Ok." Zico membasuh tangannya di wastafel. Senyum tipis masih bertengger di bibirnya.


"Zico!" panggil Dahlia.


"Hm." Zico menoleh. Kembali menatap wajah Dahlia yang sekarang memerah dengan jemari memilin ujung kaos yang tengah dipakainya.


"Tahun depan umurku sudah 25. Kalau belum nikah juga aku akan dapat julukan perawan tua." Dahlia menggigit bibir bawahnya. Berlalu dari sana meninggalkan Zico yang tiba-tiba membatu.


Ting. Bunyi ponsel menyadarkan Zico dari diamnya.


Zico mengambil ponsel dan membaca pesan yang ternyata masuk di emailnya. Di email biasanya selalu berkaitan dengan perusahaan.


Perasaan Zico tersentil dengan kabar buruk yang telah dibacanya. Meskipun ia dan Zello sudah menduga dan mawas akan mengalaminya. Tidak menunggu lagi, Zico langsung menyampaikan pesan email ke bosnya.


Di lain tempat, Zello mengacuhkan bunyi notif di ponselnya. Ia memilih fokus dengan istrinya yang tengah terlihat luar biasa cemas.


"Yang penting secepatnya kamu kembali ke rumah kakek. Disana kamu akan aman. Tidak hanya aku yang akan menjagamu," tutur Zello.


"Iya, Mas. Satu minggu."


Zello mendengus cemas, satu minggu baginya sangat lama. Zello tidak mungkin 24 jam di sisi istrinya.


Teramat cemas dengan istrinya ditambah bunyi ponselnya yang berubah panggilan telepon yang terus berbunyi.


"Angkat, Mas. Berisik!"


"Iya, Sayang." Zello meraih ponselnya. Melihat pesan dari asisten membuat dia tidak perlu mengangkat telponnya. Biasanya Zico menelpon hanya untuk kode supaya dirinya cepat membuka pesan yang sudah ia kirim, dan biasanya bersifat private.


Dua perusahaan membatalkan kerja sama, foto istrinya dengan Zein dan pesan broadcast tentang indentitas masa lalu istrinya.


Zello memukul stirnya, dadanya bergemuruh hebat. Marah, cemas menjadi satu.


Meski pukulan di stir mobil tidak mengenai klakson tapi berhasil membuat istrinya terkejut bercampur heran.


"Kenapa?" tanya Veron.


"Ah tidak apa-apa. Ada masalah di perusahaan," sahut Zello. Zello tidak bisa membiarkan istrinya tahu tentang semuanya. Istrinya tengah hamil, tidak akan bagus untuk kehamilan dan kesehatan istrinya sendiri.

__ADS_1


Zello belum sempat membicarakan hal inti yang membuat Veron keluar dari rumahnya dengan Hanif. Tapi peneror itu dengan cepat mengambil tindakan. Itu artinya peneror itu sudah tahu kalau istrinya sudah kembali. Dave? Atau ada kemungkinan yang lain?


Helaan nafas kasar keluar dari hidung Zello, entah apa yang akan ia jelaskan dengan Hanif. Dan bagaimana cara supaya istrinya tidak tahu dengan yang sudah terjadi?


__ADS_2