Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Menyadap


__ADS_3

***


Sepeninggal pria yang memberikan informasi tadi. Zico tahu akan satu hal. Veron licik seperti Rossa. Yang harus ia lanjuti sekarang adalah masa lalu Veron. Apa benar yang diucapkan Rossa?


Bergantinya jam. Waktu sudah larut. Rasanya ingin ke club itu sendiri. Tapi dirinya tidak pernah menginjak tempat itu. Yang ada malah akan membuat Dave curiga. Menyuruh orang pun juga mustahil, entah bagaimana caranya supaya tahu kebenaran itu.


'Hah, rasanya kepalaku mau pecah.'


Zico memgacak rambutnya kasar. Terlalu lelah, Zico memutuskan untuk tidur. Hari esok masih menunggunya.


***


Kepergian Zello dan Zico kemarin yang sama-sama pergi ke LA, menyisakan tugas kantor yang sudah menumpuk.


Jalan yang buntu untuk mengorek kebohongan Veron dan tugas kantor yang menumpuk membuat pikiran Zico teralihkan ke pekerjaan kantor.


Sudah beberapa hari ini zico dan bosnya selalu lembur. Di lemburnya Zello membuat Veron sering ke kantor. Bahkan kadang menemani Zello sampai pulang larut. Zico sangat menyayangkan tentang kebohongan Veron dengan identitas yang dia sembunyikan.


Identitas Veron yang belum terkuak membuat Zico selalu tidak bisa tidur nyenyak.


***


"Nona, aku ke cafe seberang ya. Kalau Nona ada perlu telpon saya saja!"


"Baiklah. Nanti kalau sekiranya aku ingin pulang sama Zello aku akan kabari kamu."


"Siap, Nona." Dengan semangat Dahlia masuk ke mobil lagi. Melambai kecil ke Veron yang masih berdiri di sana.


Veron melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam 10. Sekarang dirinya memang lebih sering ke kantor.


Zein? Entahlah, perlakuan manis Zello kedirinya mengalihkan tentang kematian Zein. Dalam pikirannya sudah penuh dengan Zello dan keluarganya.


Veron yang sudah di depan pintu Zello pun mengetuk pintu.


"Masuk!"


"Sayang," ucap Veron.


"Hai, sini!" tangan Zello reflek melonggarkan dasinya setiap ada istrinya.


Veron mendekat dan melingkarkan tangan ke leher Zello dari belakang kursi kebesarannya dan kepala Veron sendiri bertumpu di bahu Zello. Sehingga pipi mereka saling bersentuhan hangat.


"Mau ke ranjang?!" tawar Zello.


"Tidak perlu. Aku tidak mau mengganggumu."


"Mm, baiklah kalau begitu ranjang rumah saja. Kebetulan aku pulang cepat hari ini."


"Oh ya?! Tahu gitu aku tidak kesini," ujar Veron.


"Memang kenapa kalau kesini. Aku senang kamu kesini." Zello memberikan belaian lembut di rambut Veron.


"Oya, kalau gitu aku kabari Dahlia dulu."


"Memang dia dimana?"


"Di cafe sebrang."


"Ohh. Lihat apa yang bisa aku lakukan."


Veron beralih duduk di kursi depan yang berhadapan dengan kursi kebesaran Zello. Veron sibuk chat Dahlia, sementara Zello sibuk menghubungi Zico.


"Zico, tolong belikan kopi favoritku di cafe seberang!"


"Tugas numpuk, Bos."


"Terus?"


"Ah iya iya."


Zello menaruh ponselnya kembali dan beralih menatap istrinya yang masih sibuk dengan ponselnya. "Kenapa tidak telpon saja?" gerutu Zello. Dirinya tidak mau di abaikan oleh Veron meski sesaat.


"Aku suka via chat, Sayang."


Ck.


***


Sembari menunggu pesanan kopinya datang, Zico duduk santai sembari memainkan ponselnya.


"Dahlia haiii."


"Siapa ya?!"


"Masa nggak kenal? Aku Robert."


Tanpa sungkan pria yang mengaku Robert langsung duduk di samping Dahlia.


"Jangan dekat-dekat ah! Nggak kenal juga."


"Masa?" Dengan cuek Robert memajukan wajahnya hingga tepat di depan wajah Dahlia.


"Apaan sih." Geram Dahlia. Dengan langsung menoyor kepala Robert.


"Kamu masih pendek saja, Lia hahahha."

__ADS_1


"Apa? Ngomong sekali lagi! Memang apa bedanya sama kamu. Paling sampai sekarang kamu masih hobi yang sama, jajan cilok di pinggiran jalan."


"Hahahah." Robert langsung mengaitkan lengannya di leher Dahlia. "Katanya tidak kenal tapi ingat betul kebiasaan aku."


"Lepas ....!"


"Halah, dulu kita juga gini."


"Dulu ya dulu. Dulu kan masih bocah. Sekarang sudah gede, risih tahu."


"Kamu masih kecil nggak ada bedanya. Eh ada bedanya." Robert menatap lekat diri Dahlia dari samping.


"Sekarang kamu wangi. Issh, sudah pinter bersolek lagi."


"Diam ah!"


"Bagi nomornya dong, Lia! Please. Nanti aku masukin ke grub reunian sma kita. Mau kan?"


"Ngga usah deh. Aku nggak ada waktu buat gitu-gituan."


"Lia, please!"


Tangan Zico terkepal mendengar obrolan tak tahu malu dari dua bocah yang tidak jauh dari dirinya.


Posisi Dahlia memang berlawanan dengan Zico. Jadi memang Dahlua tidak sadar kalau sedari tadi Zico berada dibelakangnya.


"Kalau tidak mau jangan di paksa," sela Zico.


Dahlia syok dengan suara yang familiar baginya. Dilihatnya Zico yang berada di belakangnya, berdiri dan menuju mejanya.


"Ayo Dahlia!" ucap Zico.


"Memang dia siapa kamu, Lia?" tanya Robert.


"Ayo kemana?" tanya Dahlia tanpa peduli ucapan Robert.


"Balik ke kantor."


"Oh." Dahlia ikut berdiri dan tepat saat kopi Zico sudah siap.


"Dua-duanya dibungkus saja!"


"Ah, baiklah."


"Tadi kamu mau minum di sini?"


"Iya."


Robert yang sedari tadi duduk pun juga ikut berdiri. Menelisik penampilan Zico dari atas sampai bawah. Perfect sih. Tapi nggak kematengen?


Dahlia nampak berfikir sesaat, "teman."


"Oh, teman. Jadi, gimana? Bagi nomornya."


Dahlia sedikit paham dengan sifat teman lamanya itu. Kalau belum di kasih pasti tidak berhenti ganggu.


Sedikit malas, Dahlia mengeluarkan juga ponselnya. "Nomor kamu saja sini!"


"Ah, ok." Dengan cepat Robert menekan digit di ponsel Dahlia.


"Ok. Nanti ku kabari ya," ucap Dahlia.


Pelayan cafe menyela mereka, memberikan pesanan Zico. Datangnya pesanan Zico langsung memmbuat Dahlia dan Zico beranjak dari sana.


"Bye Lia." Teriak Robert.


Setelah keluar dari cafe, Dahlia langsung naik motornya. Begitu Zico, memasuki mobilnya dengan segera.


Sesampai depan kantor, Zico berdiri sesaat disana. Heran dengan Dahlia yang belum sampai juga. 'Seharusnya Dahlia sudah sampai, apalagi dia bawa motor'


Tak kunjung melihat Dahlia, Zico melakukan panggilan ke Dahlia.


"Halo."


"Sampai mana?"


"Jalan pulang."


"Pulang kemana?"


"Ke rumah Tuan, Zico."


"Nggak ke kantor?"


"Nggak, tadi nona bilang bakal pulang sama tuan."


"Oh. Ok."


Tut.


***


Zico yang sudah kembali keruangannya langsung membuka laptopnya. Ingin secepatnya menyelesaikan tugasnya. Namun baru membaca lampiran di layar, Zico berhenti sesaat. Teringat dengan Dahlia dan temannya bertukar nomor.


'Apa aku harus menyadap nomornya?'

__ADS_1


Zico menggaruk lehernya yang tak gatal. Merutuki kebodohannya yang terlalu mencampuri urusan Dahlia. Tidak penting sama sekali. Siapa Dahlia?


Zico menggeleng kepala karena kebodohannya hari ini.


'Nggak guna. Lebih baik aku. ..."


Zico terkesiap, ada untungnya juga dirinya punya kepikiran buat nyadap nomor Dahlia.


'Aku akan melakukannya. Nomor Lilie'


'Apa sopan, menyadap nomor istri bos? Tapi nggak ada pilihan lain.'


***


Dengan bantuan temannya yang ahli di bidang IT, Zico meminta untuk memulihkan pesan dari nomor bosnya. Hanya itungan menit layar laptopnya sudah tertera pesan dari temannya. Salinan pesan dari ponsel Veron sudah terpampang jelas. Tidak terlalu banyak pesan yang ada dalam ponsel Veron.


'Seperti baru saja ganti nomor.'


Dengan perlahan, Zico membaca satu-persatu. 'Seharusnya bisa. Hanya ada beberapa kontak di ponsel Lilie'.


Yang utama, percakapan dengan Rossa. Siapa tahu bisa mendapatkan percakapan rahasia mereka satu sama lain.


Hanya beberapa pesan, yang dalam voice noite ingin mengadakan pertemuan. Yang intinya membahas tentang pacar sewaan. Artinya nihil, tidak ada sesuatu yang bisa kantongi di sana.


Nama-nama yang asing bagi Zico, dia baca terlebih dahulu. Desy, Tuan D. Hanya itu selebihnya nomor keluarga Hanif. Tidak terpikir dengan pesan bersama keluarga Hanif, apalagi dengan pesan dari bosnys.


Tidak ada percakapan berarti, semua inti dari pesan Veron hanya membuat janji di sebuah tempat.


'Tuan D? Siapa dia?'


'D apa artinya Dave?!'


Zico melihat nomor yang tertera, 'benar itu adalah salah satu nomor Dave.'


Tidak ada percakapan yang berarti semua sama.


Zico memijit pelipisnya, semuanya bersih. Tapi dirinya tidak mungkin menyerah. Satu bukti tentang panti itu sudah menjawab pertanyaan kalau Veron ada yang tidak beres. Tidak mungkin Zico berhenti untuk menelusuri semua.


Huufz.... Zico membuang nafas kasar. Lelah. Terlebih fakta yang Zico temukan tidak ada percakapan Rossa yang berarti di dalamnya.


Sudah pasti juga di nomor Rossa dia juga tidak akan menemukan apa-apa.


'Nomor Dave?'


Seperti yang ia lakukan dengan nomor Veron. Ketiga nomor Dave yang ia ketahui tak luput dari target Zico.


Beg. Zico mendaratkan punggungnya dengan kasar di kursinya. 'Tidak mungkin aku bisa membacanya. Terlebih disini. Pesan yang super menumpuk'


Sesaat mata Zico teralihkan dengan beberapa dokumen yang ada di atas meja. Tugas kantornya yang berbentuk dokumen kertas, belum yang berbentuk file. Kepala Zico benar-benar akan pecah sebentar lagi.


"Ah, sial, seharusnya di apartemen saja. Membuat tugas kantor terbengkalai."


***


Jam istirahat dengan malas Zico keluar dari ruangan. Masuk menuju ke ruangan Zello.


Tok tok.


"Masuk."


Dengan langkah mantap Zico menuju kursi yang berhadapan dengan kursi kebesaran Zello.


"Ini Bos. Sudah clear."


"Sisanya? Aku belum menerima email dari kamu?'


"Nanti sore, Bos."


"Kenapa, tidak biasanya?"


"Saya ketiduran tadi hehe."


Alis Zello bertaut, tidak biasanya Zico tidak berkompeten seperti demikian.


"Ah, yasudahlah. Aku akan pulang sekarang. Jangan lupa nanti sore kirim ke email."


"Siap, Bos."


Zico bangun dari duduknya, dilihatnya sekilas Veron yang tengah memainkan ponsel yang duduk di sofa panjang.


***


Keesokan hari, Zico yang tengah bersiap melihat pantulannya di cermin. Matanya yang cekung karena tidak tidur semalaman terlihat sangat mengerikan.


Sudah berdampak buruk ke penampilan dan kesehatannya. Tapi hasilnya nihil. Percakapan panjang kali lebar dari nomor Dave sama sekali tidak membuahkan hasil.


'Apa aku harus minta tolong, Bos?!'


Zico menggeleng cepat, tidak mungkin bosnya akan percaya dengan penuturannya.


'Hanya panti itu?'


Zico tersenyum penuh arti, mendapatkan ide yang akan menggiring Zello untuk curiga ke istrinya.


Zico beranjak dari tempat. Mengambil kacamata hitam dan langsung memakainya. Melihat pantulannya di cermin yang lumayan berjarak. Namun tetap terlihat jelas dalam pantulan itu. Dirinya yang terlihat semakin wiw dengan hanya tambahan kacamata.

__ADS_1


'Kira-kira bagaimana nanti reaksi Dahlia melihat penampilanku hari ini?'


__ADS_2