Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Baby Re


__ADS_3

****


Ruangan ankubatur ternyata tidak jauh dari ruang perawatan Veron. Membuat Veron sangat senang karena bisa sesering mungkin melihat putranya meski terkadang harus dari luar ruangan karena prosedur dari rumah sakit.


Perlahan Zello memindahkan tubuh Veron ke ranjang dan memastikan kenyamanannya juga.


Suara pintu terbuka membuat Zello dan Veron menoleh ke arah pintu. Hanif bersama Beni memasuki ruangan itu mendekati ranjang Veron.


"Istirahatlah! Kakek mau pulang dulu!" ujar Hanif.


Bibir Veron mengembang dengan matanya yang berkaca-kaca mendengar perhatian dari Hanif. "Iya, Kek. Hati-hati!"


"Tentu, Nak. Ayo Beni!" Beni mendorong kursi roda Hanif hingga hilang dibalik pintu tak terlihat oleh pasutri yang masih ada dalam ruangan itu.


"Lihatlah! Setelah kehadiranmu kakek langsung melupakan aku. Bisa-bisanya kakek hanya pamit denganmu," ujar Zello dengan ekor mata memicing ke Veron. Veron tergelak melihat ekspresi suaminya. Zello benar-benar terlihat sangat menggemaskan.


"Sst, jangan tertawa lebar seperti itu."


"Kenapa?"


"Kamu baru saja operasi. Tidak bagus untuk perut dan jahitanmu."


"Ohh, tapi perutku tidak sakit," ucap Veron keheranan.


"Sepertinya karena reaksi obat biusnya masih ada."


Veron mengangguk kecil menatap balik tatapan suaminya.


"Ranjangnya muat untuk satu orang lagi," ucap Zello dengan senyum simpul. Sedangkan Veron hanya terdiam dengan wajah memerah.


Tok tok. "Permisi." Perawat dengan meja dorong dengan isi menu makanan langsung memasuki ruangan Veron. Menaruh menu yang disiapkan khusus untuk pasien.


"Jangan lupa di makan ya!" ujar perawat.


"Terima kasih, Sus," ucap Zello


Dirinya beralih membantu Veron duduk bersandar dengan nyaman. Yang kemudian mengambil makan siang istrinya.


Veron dengan lahap menerima setiap suapan dari Zello.


"Enak?" tanya Zello.


"Lapar."


Zello terkekeh kecil dengan tangan yang masih setia menyuapi istrinya. Belum habis nasi Veron terdengar ketukan lagi dari luar.


"Masuk!" sahut Zello dingin.


Dengan sedikit gugup Dahlia melangkahkan kaki dan menaruh buah yang ia bawa. Dahlia terdiam di tempatnya setelah menaruh buah itu di meja. Tidak selang lama, tubuh Dahlia bergetar dengan isak tangis. "Nona, Tuan. Maaf .... gara-gara saya, nona jadi masuk rumah sakit."


"Tidak Dahlia, itu bukan salah kamu. Aku yang memintamu keluar," ujar Veron. Sementara Zello enggan menanggapi ucapan Dahlia. Untung istrinya selamat andai terjadi sesuatu dengannya, hah....Zello mendengus kesal.


"Lebih baik kamu sekarang keluar! Kami sedang tidak ingin diganggu," ucap Zello ketus.


"Ah, iya Tuan." Tubuh Dahlia gemetar mendengar nada kalimat dari bibir tuannya. Dengan kekuatan yang masih ada Dahlia keluar dari ruangan itu. Dirinya benar-benar merasa takut.


"Mas, bukan salah dia." Ucap Veron.


"Terus salah siapa?" Zello menyendokkan nasi dan menyuapi istrinya.


Veron memilih nurut dengan membuka mulut menerima suapan dari suaminya yang wajahnya berubah geram.


"Mm,.... " Veron termenung sesaat. Melihat Dahlia yang masuk keruangannya membuat ia teringat dengan Dave. "Dave?" sambung Veron yang membuat Zello terdiam sesaat.


"Dia baik-baik saja." Sahut Zello.


Benarkah? Rasanya Veron ingin menanyakan itu. Mengingat Dave yang terjatuh dari ketinggian. Tapi nyatanya mulutnya hanya bisa mengunyah makanan tanpa mengeluarkan suara lain.


Zello menaruh piring yang telah kosong, berganti mengambil minum untuk Veron. Dengan tangannya, Zello membantu istrinya untuk minum, memastikan supaya istrinya benar-benar sudah merasa cukup.


"Terima kasih," ucap Veron.


Sedangkan Zello menatap intens wajah istrinya dan membelainya lembut.

__ADS_1


"Dave ...." ucap Zello menggantung. Ragu untuk memberi tahu atau tidak ke istrinya.


"Dave kenapa?" tanya Veron.


"Mm, Dave koma."


"Tadi bilangnya baik-baik saja," ucap Veron.


"Dia mendapatkan apa yang harus ia dapatkan. Aku percaya kamu tidak bersalah."


Veron menatap kedua telapak tangannya, dengan kedua tangannya ia berhasil melindungi dirinya sendiri tapi malah membuat Dave terjatuh. Apa semua akan baik-baik saja. Bagaimana kalau Dave nanti mati, apa dirinya akan disebut pembunuh.


Pandangan Veron beralih ke Zello, menatapnya intens. "Dave koma karena kedua tanganku," ujar Veron. Dirinya khawatir semua akan berimbas buruk. Untuk dirinya, dan keluarga Hanif.


"Apa kamu menyesal?!"


Veron merenung. Apa dirinya menyesal? Andai dirinya tidak melakukan perlawanan, entah apa yang akan terjadi. Sudah pasti dirinya akan lebih menyesal, meski dulu Dave pernah jadi partner ranjangnya. Tapi tentu saja itu tetap membuat Veron ketakutan, jangan sampai dirinya terjerumus dan terperangkap oleh Dave lagi.


Perlahan Veron menggelengkan kepalanya, membuat Zello mengulas senyum di bibirnya. "Itu baru pintar." Zello memajukan wajahnya, mencium kening istrinya dan kemudian mengacak rambutnya pelan.


Sementara raut tidak tenang masih tergambar di wajah Veron.


"Ada apa lagi?" tanya Zello lembut.


"Dave bilang dirinya sudah membuka identitasku ke semua rekan kerjamu. Apa benar? Apa perginya Mas semalam dan pagi-pagi sekali berkaitan dengan hal itu?" cecar khawatir Veron. Terlebih Zello yang mengangguk pelan, membuat pikiran Veron semakin tak karuan.


"Tenang saja, semua sudah teratasi." Zello tersenyum gemas melihat wajah istrinya.


"Selalu saja seperti itu jawabannya." Veron mencebik dengan mata malas.


"Beneran. Kalau tidak percaya nanti buktikan saja."


"Buktikan bagaimana maksudnya?"


"Ya buktikan saja dengan berjalannya waktu. Pasti semua baik-baik saja seperti apa yang kita harapkan."


Veron mendengus, suaminya sangatlah pintar merangkai kata. Veron yakin kalau Zello hanya ingin membuat dirinya merasa tenang.


"Selama kakek dan suami kamu selalu ada di samping kamu. Mereka akan menganggap semua itu hanyalah akal-akalan dari pesaing bisnis saja. Ya, mungkin mereka akan membahas selama satu dua hari. Biarkan saja. Yang penting kita fokus dengan apa yang kita miliki sekarang, paham?! Bukankah kamu selalu menginginkan semuanya, 'keluarga'. Kenapa sekarang tidak kamu nikmati saja. Buang jauh-jauh yang menjadi beban kamu."


"Dan sebenarnya.... " kalimat Zello terjeda karena helaan nafas di tengah isaknya. Tangannya langsung menyeka air matanya yang tumpah.


"Hm." Parau Veron, tangannya juga menyeka wajahnya yang bersimbah air mata.


"Sebenarnya -hari ini adalah hari ulang tahunku."


"Apa?" suara parau pelan Veron.


"Iya, aku tidak menyangka. Kalau akhirnya kami lahir di bulan dan tanggal yang sama." Zello menatap istrinya yang mematung dengan deraian air mata lagi. Zello menghapus air mata istrinya. "Kamu kenapa mengeluarkan air mata lagi? Pasti iri ya sama aku."


"Kamu juga menangis."


"Mau bagaimana lagi. Terima kasih untuk hadiahnya." Bibir Zello mengecup kening Veron dalam dan lama. Perasaannya bergemuruh hebat. Entah seperti apa wajahnya saat ini. Dirinya tidak pernah menangis di hadapan istrinya sebelumnya, tapi perasaannya ini sungguh tidak bisa ia tutupi. Tapi yang jelas, mereka berdua saat ini sangat bahagia.


***


Setelah tiga hari di rumah sakit, akhirnya Veron diperbolehkan untuk pulang. Meski tanpa putranya. Apa boleh buat. Umur putranya baru saja menginjak 29 minggu dengan berat baru 1,6 kg. Membuat dirinya harus tertahan di rumah sakit untuk tetap mendapatkan penanganan dan perawatan intensif secara berkala.


Dan tentunya Veron dibawa pulang ke kediaman Hanif. Mereka sampai di kediaman Hanif sore hari. Seakan tak pernah habis kejutan buat Veron. Di ruang tamu, yang tak terlihat oleh Veron sebelumnya, tidak hanya Hanif, disana juga sudah ada Maria dan Panee yang memberikan kejutan.


"Surprise!!" teriak Maria langsung berhambur memeluk Veron.


"Mah, hati-hati, Lilie habis operasi!" tekan Panee.


"Iya, Pah." Sungut Maria sesaat.


"Mama kapan sampai?" tanya Veron kikuk. Apa mertuanya tahu tentang semua kejadian yang telah terjadi, termasuk mengetahui identitasnya juga? Sekelibat perasaan tidak nyaman hinggap dalam dirinya. Huh, Veron menghelan nafas. Harus menikmati apa yang ia miliki sekarang! Dirinya tidak boleh terus dihantui perasaan semacam itu lagi. Itu masa lalu. Dia sudah mendapatkan semua. Jangan sampai semua perasaan tidak nyaman itu menghalangi rasa suka citanya saat ini dan seterusnya. Seperti apa yang pernah suaminya ucapkan, 'fokus dengan apa yang kita miliki sekarang'.


"Belum lama Sayang. Tadi niatnya mau sekalian jemput kamu di rumah sakit. Tapi kata Zello kalian sudah di jalan. Yaudah kita langsung kesini juga." Jelas Maria. Maria dengan telaten menuntun Veron untuk duduk ke ruang keluarga.


Dengan hati-hati Maria membantu Veron untuk duduk di sofa.


"Sebentar ya, Sayang. Bibi sedang mengganti spreinya. Maklum, pada nggak paham. Masa kamu habis operasi harus naik turun tangga. Mangkanya mama suruh rapiin kamar tamu yang dibawah untuk sementara waktu buat kalian."

__ADS_1


"Terima kasih Ma. Mama pengertian sekali."


"Rencana tadi mau dibikin lift. Tapi ternyata sudah nggak sabar baby boynya." Tampik Zello.


"Halah, kamu alasan. Kemarin kemana aja. Seharusnya dari dulu sudah mulai bikin. Lagian kan nggak lama bikinnya."


Zello memijit pangkal hidungnya, boro-boro mau kepikiran buat bikin lift waktu itu. Yang ada otaknya sudah kelimpungan duluan mencari keberadaan istrinya.


"Sudah, yang penting sekarang sudah ada solusinya." Panee menyela sembari menyeruput teh yang sudah ada di meja.


"Oya, Sayang. Tapi semua baik-baik saja kan?!" tanya Maria ke Veron.


"Semua baik, Mah. Berkat doa mama dan semua."


"Kami sangat senang saat papa Hanif memberi kabar. Mama sudah membeli banyaaaaak baju buat cucu mama. Oya, sudah disiapkan namanya belum. Siapa namanya?"


Veron dan Zello saling melempar pandang. Sama-sama mengulas senyum. "Revandra Joans Abraham," sahut Veron.


"Ah, gemesnya." Maria mencubit kedua pipi Veron, yang membuat Veron terkekeh geli kerena sudah diperlakukan seperti anak kecil.


Hanif mengangguk dengan senyum kecil, seakan puas dengan nama itu.


"Permisi, Tuan, Nyonya. Kamarnya sudah siap." Ucap Bibi.


"Ah, iya, Sayang. Ayo mama antar ke kamar."


"Baik, Ma." Veron berdiri di bantu Maria, Zello yang hendak membantu pun ditepis olehnya.


"Mama saja. Kamu nanti kalau di kamar."


Ucapan Maria membuat semua geleng-geleng kepala. Tapi tentunya semua itu disambut baik oleh Veron. Senyum Veron mengembang mendapat perhatian dari Maria.


Dituntunnya perlahan Veron sampai kamar, di dudukkan di bibir ranjang dan yang kemudian Maria ikut duduk juga.


"Kamu istirahatlah! Nanti kamu makannya di kamar saja biar nggak capek."


"Terima kasih sekali ya, Mah."


"Mama yang terimakasih sudah kamu beri cucu." Maria memeluk Veron dan mengusap kepalanya lembut. "Sudah. Mama mau istirahat juga." Maria melepas pelukannya dan yang kemudian berdiri. Sementara Zello sudah menggantikan peran Maria duduk di sebelah Veron.


"Permisi, ini minum buat Nona Lilie." ucap pelayan.


"Ah iya." Maria meraih minumannya dan menyerahkan ke Zello.


"Ssyang. Mama keluar ya!" ujar maria.


"Iya, Mah. Selamat istirahat."


Sekeluarnya Maria tinggal Veron dan Zello di kamar itu. Zello membantu Veron untuk meminum jus untuknya itu. Dirasa sudah cukup Zello menaruh minumannya di atas nakas. Yang kemudian beranjak dari sana menuju ke daun pintu, menutup dan menguncinya yang kemudian kembali lagi ke ranjang membaringkan istrinya dengan perlahan.


"Mas," sergah Veron menolak untuk dibaringkan.


"Aku ingin istirahat," ujar Zello yang ikut berbaring di samping istrinya.


"Terus kenapa aku dibaringkan!?"


"Ya, kamu kan harus menemaniku istirahat," cetus Zello.


"Hm," sahut Veron. Matanya memicing ke tangan suami yang menyikap blouse miliknya.


"Sudah keluar belum asinya?"


"Belum."


****


Seperti janji Maria, dirinya ikut ke rumah sakit untuk melihat kondisi Baby Re.


"Meski masih terlihat merah tapi gantengnya sudah kelihatan." Maria berucap antusias dengan mereka yang menunggu di depan ruang ankubatur. "Ah." Maria menyentuh dadanya yang berdebar karena haru. Dirinya melangkah dan memeluk Veron. "Terima kasih ya, Sayang." Sementara Veron hanya tersenyum, sudah berapa kali Maria berucap demikian. Dirinya pun juga sangat senang. Dan tanpa ragu membalas pelukan Maria dengan erat.


Setelah melepas pelukannya, Veron beranjak ke jendela, melihat Baby Re dari luar, tersenyum tipis melihat wajah damai pada sang pemilik.


"Nanti sore kita akan kesini lagi," ucap Zello yang sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


Hm." Veron meraih tangan Zello yang sudah ada pinggangnya, mencium buku-buku jemari Zello, "dia tampan sepertimu."


Hati Zello seakan meleleh mendapatkan perlakuan manis dari istrinya. Selain manja, istrinya juga pintar membuat hatinya selalu terbang ke awang-awang. Apa ini berlebihan? Rasanya tidak, karena memang itu kenyataannya. Selain manja, tapi istrinya juga sangatlah romantis


__ADS_2