
Usai sibuk dengan hadiah, mereka sibuk dengan Baby Re, yang mulanya di box sekarang jadi rebutan dari tangan ke tangan. Bagaimana tidak, Baby Re baru dua hari di rumah, mereka belum puas menimang, terlebih Panee yang kemarin sempat kembali keluar negeri dan tadi pagi baru tiba di kediaman Hanif.
Baby Re dalam timangan Panee dan Maria, dengan hebohnya mereka ambil gambar bertiga dalam jumlah yang banyak.
Veron yang tahu Panee tidak bisa berlama-lama di kediaman Hanif membuat dirinya membiarkan putranya berlama-lama bersama kakeknya itu. Senyum tipis selalu terulas di bibir Veron. Hari ini hari paling membahagiakan untuk dirinya.
Tatapan Veron yang selalu tertuju dengan Panee dan putranya teralihkan karena adanya belaian lembut di rambutnya, oleh Zello. Mata Veron beralih ke wajah suaminya yang tersenyum penuh binar, dengan perlahan tangan suaminya menangkup wajah Veron, mengadahkan sehingga Zello benar-benar puas untuk bisa memberi ciuman hangat di keningnya.
Ciuman yang hangat dan lama membuat Veron memejamkan mata, dadanya berdebar, bertalu-talu dengan hebohnya.
Usai sentuhan hangat Zello di kening, Veron langsung menenggalamkan kepala di dada bidang Zello. Menikmati debaran yang tak kalah meriah di dalam sana.
Puas menikmati debaran di dalam dada Zello, Veron melepaskan pelukannya. Memberi ruang suaminya untuk bergabung dengan teman bisnisnya.
"Nona." Ucap Dahlia menghampiri.
"Iya."
"Ada Nona Anita di depan gerbang. Saya suruh masuk dianya tidak mau."
"Oh, biar aku yang kesana," ucap Veron.
Veron melangkah menuju pintu kediaman Hanif, melihat Anita dari dirinya berdiri. Veron tersenyum tipis memyambut Anita, tapi Anita bukannya senyum atau mendekat malah berbalik seakan ingin meninggalkan kediaman Hanif yang membuat Veron bertanya-tanya.
"Anita!" panggil Veron. Dirinya melangkah lebar ingin menyusul Anita.
"Nona!" Sergah Dahlia panik. "Hati-hati!"
"Lilie!" panggil Zello dari dalam yang melihat istrinya terus melangkah lebar. Zello berlari menyusul Veron. "Apa yang kamu lakukan? Kamu baru saja operasi." gerutu Zello cemas.
"Mas, Anita." Tunjuk Veron.
"Aku akan menyusulnya untukmu. Kamu berhenti di sisi!" Zello langsung berlari ke arah gerbang, sementara tangannya memberi kode security untuk menahan Anita.
Hampir saja Anita masuk ke dalam mobilnya. Dengan nafas naik turun Zello menutup pintu mobil Anita yang sudah terbuka.
Tak peduli dengan Zello, tangan Anita meraih handle pintu mobil, tetap kekeh ingin masuk mobil.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Kamu tidak ingin bertemu dengan Lilie?" tanya Zello. Tangannya menahan pintu mobil supaya tidak terbuka.
"Lepas!" kesal Anita.
Zello menatap Veron yang berjalan pelan menghampiri mereka.
"Tunggulah sebentar. Kamu sudah jauh-jauh kesini, rugi bila langsung pulang. Lilie pasti sangat merindukanmu," ujar Zello. Mendengar ucapan Zello, Anita memilih diam dengan ekspresi datar yang kemudian menatap Veron dengan tatapan yang masih sama.
Semakin jarak mereka, Veron semakin tak paham dengan tatapan Anita. Tatapan datar yang lambat laun berubah tatapan marah.
Setelah sekian menit, mereka saling menatap satu sama lain tanpa kata.
"Puas kamu?" geram Anita.
Bibir Veron terkunci, enggan menjawab. Mata amarah Anita seakan menandakan ada luapan yang akan ia tunjukkan, membuat Veron memilih diam terlebih dahulu.
"Kamu bahagia kan sekarang? Punya anak, suami, keluarga. Tanpa peduli dengan nasibku sekarang."
"Anak kamu beruntung, punya orangtua lengkap, keluarga lengkap. Sedangkan anakku? Ayahnya sekarang terbaring koma. Itupun juga karena kamu!" Hardik Anita.
"Bukankah kamu juga tahu rasanya tidak punya keluarga? Tapi kenapa kamu malah membuat anakku bernasib demikian, sampai sekarang Dave masih koma. perutku sudah membesar. Kamu benar-benar egois Lie. Kamu bahagia di atas penderitaanku!"
"Anita, kamu pikir andai Dave tidak koma apa aku akan tetap membiarkan kamu menikah dengannya. Aku sudah bilang, dia pria yang tidak baik." cicit Veron.
"Dia ayah anak yang ada dalam kandunganku. Apapun alasannya. Cukup aku yang sakit menjalani hidup dari keluarga broken home. Tapi lihatlah sekarang, ayah anakku entah kapan sadar dari komanya." Suara Anita yang menggebu-gebu berubah menjadi lirihan kecil. Air mata menetes di pipi mulusnya.
"Anita, mengertilah! Pertama, Dave bukan pria baik-baik. Kedua, aku hanya melakukan perlindungan pada diriku sendiri. Anita! Andai Dave berhasil menggauliku pun pasti kamu tetap menyalahkanku. Kamu sudah tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Kamu terlalu berambisi tanpa berfikir jernih."
"Bagaimana aku tidak berambisi. Anak ini butuh ayah. Aku tidak bisa membiarkan dia hidup sendiri tanpa identitas Lie. Aku tidak bisa."
"Apa harus kubunuh saja anak ini?!" Anita memukul-mukul perutnya, tangisnya meledak tak terkendali.
"Anita hentikan! Apa kamu gila?" Veron mencengkeram tangan Anita kuat.
"Sayang," suara pelan Zello cemas.
Seketika Veron menoleh, menatap Zello dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Sekian detik, pandangan Veron beralih ke Anita lagi. Berontakan Anita yang melemah membuat Veron mengendurkan cengkeramannya.
__ADS_1
"Izinkan kami jadi orangtuanya, Nit!" ucap Veron. Ucapan yang membuat Anita dan Zello sama-sama tercengang.
Anita menatap mata Veron, melihat kesungguhan di dalamnya.
"Kamu tidak bisa membesarkan dirinya tanpa memberi identitaskan bukan? Biarkan kami yang memberi identitas nanti," sambung Veron.
"Rahimku sudah diangkat. Aku tidak bisa hamil lagi. Biarkan anak kita jadi saudara."
Cukup lama Anita terdiam. Veron paham. Ibu mana yang rela melepas anaknya begitu saja. Tapi tidak ada yang bisa ia tawarkan selain itu.
"Lalu, bagaiamana dengan perutku?" tantang Anita.
"Kamu setuju atau tidak? Aku tidak membiarkan kamu memyakiti anak itu. Dia tidak bersalah."
"Aku ibunya."
"Kamu tetap ibunya, kamu bisa melihatnya kapan pun bila kamu mau."
Lagi-lagi Anita menatap dalam Veron. Melihat kesungguhan apa yang sudah Veron ucapkan.
"Kamu bisa tinggal di rumah ini. Sampai anak kamu lahir. Kami akan melindungi dan menjaga identitasmu."
Setelah sekian lama berfikir, akhirnya Anita mengangguk.
***
Tinggalah Anita di kediaman Hanif, sampai tidak terasa sudah dua bulan disana. Perutnya sudah membesar.
Seperti janji Veron, mereka melindungi identitas Anita. 'Suaminya sedang kelurga negeri, menikah di luar negeri', itulah kalimat yang selalu terlontar saat orang menanyakan identitas Anita.
Beruntung keluarga Hanif orang yang hangat, yang akhirnya bisa menolong dan menyambut Anita secara terbuka. Sehingga Anita sendiri tidak pernah merasa canggung tinggal di kediaman Hanif. Hanya saja saat Anita melihat mesranya Veron dan Zello membuat dirinya tersenyum getir. Andai Dave sembuh, tapi nyatanya sudah dibawa berobat keluar negeri tapi tidak ada kabar sembuhnya juga sampai sekarang.
Sore hari usai Anita tengah membuat kue bolu, dirinya hendak mencuci tangan di wastafel. Adonan kental yang sedikit bercecer di lantai membuat dirinya hampir jatuh.
"Hati-hati!" Dengan sigap Zello menahan tubuh Anita. Tangannya berada di antara pinggang dan lengan Anita, perlahan Zello membimbing Anita untuk duduk di kursi.
"Aku mau cuci tangan," ucap Anita.
__ADS_1
"Bersihkan saja pakai tissu sama handsanetizer!" Usai menyodorkan pembersih tangan itu, Zello menuju kitchen set. Ingin membuat jus mangga.
Tanpa Zello sadari, Anita terus menatap aktivitas Zello yang tidak jauh dari dirinya duduk.