
****
Satu bulan Zello berada di luar negeri. Lama. Sangat lama yang Veron rasakan.
Lamanya tidak bertemu, ditambah Zello pergi dalam keadaan marah. Bukankah itu semakin mengikis rasa Zello untuk dirinya?
Hah, Veron tersenyum miris. Beginikah nasip pernikahan yang sudah lama ia idam-idamkan.
***
Kabar bahagia yang membuat Veron gelisah. Zello akan kembali hari ini. Entah bagaimana seharusnya perasaan Veron sebagai istri. Ditinggal dalam kurun waktu lama tanpa komonikasi, siapa yang tidak akan kecewa.
Sekarang, Veron tengah bersandar di headboard ranjang. Setelah makan siang dirinya memang memilih untuk istirahat sejenak di kamarnya.
"Nona." Suara pelayan yang diiringi ketukan di pintu.
"Iya."
"Anda di suruh keluar oleh Tuan Besar guna menyambut kepulangan Tuan Zello."
"Tapi tuan Zello tidak membutuhkan sambutanku," ucap spontan Veron. Meski begitu dirinya turun dari ranjang. Bercermin sekilas, menatap tampilannya di cermin.
"Biarkan saja begini," gumam Veron acuh dengan penampilannya.
Veron merapikan rambutnya yang mulai panjang dengan sisirnya, tidak lupa memakai parfum dan polesan bedak serta liptint. Niatnya cukup merapikan rambut saja, entah kenapa hatinya terus menuntut untuk melakukan semua itu.
Selesai bersiap Veron keluar dari kamarnya. Bergabung dengan Hanif yang sudah berada di ruang tamu.
"Kek," ucap Veron sesampai sana.
"Duduklah! Kita tunggu sini saja. Kakek rasa sebentar lagi Zello akan sampai."
Veron mengulas senyum tipis, dadanya berdetak lebih kencang karena terlalu gelisah atau terlalu senang. Entahlah, Veron tidak paham dengan yang ia rasakan sekarang.
Lima belas menit menunggu, sebuah mobil mewah yang sangat ia kenal masuk ke pelataran dan berhenti tepat di depan pintu. Dan langsung terbukanya pintu mobil dengan susulan kaki jenjang Tuan Rumah yang sedari tadi di nantikan.
Brakk. Pintu tertutup sempurna, menyisakan Zello terdiam sesaat di tempatnya.
Tidak ada yang berubah dari diri Zello. Wajah yang berparas kokoh tegas berupawan membuat Zello sangat berkharisma.
"Kek," sapa Zello sembari memeluk Hanif. Dirinya ikut duduk di ruang keluarga. Begitu juga Veron yang tadinya berdiri ikut duduk.
Hanya ada obrolan dari dua suara. Veron memilih diam, tidak berani berucap. Acuhnya Zello selama sebulan seakan hukuman buat Veron, yang membuat dirinya tidak akan pernah lupa, sekaligus menyadarkan posisinya bagi Zello sekarang.
Setelah tak seberapa mengobrol, Hanif menyuruh Zello untuk istirahat.
"Zello istirahat dulu, Kek," pamit Zello.
"Iya istirahatlah! Kamu sudah sangat bekerja keras. Kamu pasti lelah."
Kaki Zello terayun meninggalkan ruangan itu menyisakan Hanif dan Veron di sana.
"Nak, kamu ikutlah suamimu ke kamar!"
Veron terhenyak di duduknya, meski begitu akhirnya dia mengangguk dengan senyum kecil menuruti titah Hanif.
Zello yang sudah jalan duluan tentunya membuatnya sudah beberapa langkah di depan Veron. Veron sendiri melangkah pelan, tak berniat untuk mensejajari langkah suaminya. Memilih untuk terus berjalan di belakangnya dengan memberi jarak. Rasanya Veron ingin segera berhambur memeluk punggung Zello yang kokoh, namun hatinya menciut, belum siap dapat penolakan lagi dan lagi dari Zello.
Zello sudah hilang dari pandangan, sedangkan dirinya sendiri masih di anakan tangga, sesaat Veron menoleh kebelakang. Tidak adanya Hanif di bawah membuat Veron dengan cepat menaiki tangga, segera memasuki kamar. Namun bukan kamar miliknya. Melainkan kamar tamu.
Veron memilih menyendiri, duduk di ranjang. Menyibukkan diri dengan ponselnya beberapa saat untuk menghilangkan suntuk.
Lima belas sudah Veron di kamar tamu, rasanya itu sudah cukup. Veron mengantongi ponselnya dan turun dari ranjang dengan pelan.
Tidak ada suara aktivitas di depan kamar itu membuat Veron membuka pintunya, keluar perlahan dari sana. Mata Veron melirik kamarnya sekilas yang sedikit terbuka.
***
"Kamu tidak istirahat juga, Nak." ucap Hanif yang hendak masuk kamarnya.
"Belum Kek. Lilie sedang ada perlu dengan Dahlia."
"Oh, baiklah. Kakek juga mau istirahat."
"Iya, Kek."
Sesampai kamar Dahlia, Veron langsung mengetuk pintu. Terlihat Dahlia yang tengah berbaring di ranjang. Melihat kedatangan Veron, Dahlia spontan langsung turun dari ranjang.
"Nona ada perlu apa? Kenapa tidak telpon saja?"
"Aku memang sedang ingin main ke kamarmu."
Dahlia termenung, mengingat Zello sudah di rumah tapi nonanya malah masuk ke kamarnya. Membuat Dahlia yakin kalau nona dan tuannya belum akur juga.
"Yasudah sini, Nona! Silahkan duduk!"
Dahlia mempersilahkan Veron untuk duduk di ranjangnya. Sembari duduk mata Veron menelisik kamar sederhana Dahlia. Sederhana tapi rapi. Ada kain lebar berwarna putih bertengger dekat ia duduk.
"Itu namanya mukena, Nona."
Ucap Dahlia. Sedangkan Veron hanya mengangguk dengan senyum tipis. "Bagus," ucap Veron.
"Mm, nona apa perlu sesuatu? Aku ambilkan buah ya? Atau mungkin buatkan jus."
"Tidak perlu aku hanya butuh tempat istirahat, sekaligus teman mengobrol."
__ADS_1
"Ah yasudah terserah, Nona. Tapi, Nona, saya pintar memijit," tawar Dahlia.
"Wah, kamu benar-benar menantu impian."
"Hehe bisa saja, Nona. Nanti kalau saya punya mertua, bakal Dahlia pijitin setiap hari."
"Kepala saja, Dahlia," pinta Veron.
"Ah, baiklah." Dengan sigap Dahlia duduk di belakang Veron. Memberi tekanan-tekanan yang lembut di kepala nonanya.
"Enak sekali, aku rasa akan tertidur bila terus seperti ini," ujar Veron.
"Ah, apa tidak masalah. Dahlia tidak akan kuat untuk memindahkan Nona nanti."
"Biarkan saja aku tertidur disini."
"Ah, rasanya aku tidak e-nak."
Dahlia yang tengah memijit Veron melirik ponselnya yang tengah berdering.
"Siapa? Angkat saja dulu tidak masalah," ucap Veron.
"Ah, ini dari Umi."
Dahlia menatap layar ponselnya, "Nona, saya angkat sebentar ya."
"Hm."
Sudah dapat izin dari nonanya, Dahlia sedikit menjauh dari Veron agar leluasa.
"Waalaikum salam," sahut Dahlia. Dahlia terdiam beberapa saat, mendengarkan dengan intens lawan bicara.
"Apa ta'aruf," pekik Dahlia. Dahlia yang sadar akan suaranya yang memenuhi ruangan langsung membungkam mulutnya.
"Bagaimana bisa Umi. Dahlia tidak akrab sama putra Haji Saleh, apalagi suka. Bagaimana bisa."
Dahlia terdiam cukup lama, fokus untuk mendengarkan ucapan dari sebrang telpon.
"Baiklah, Umi."
Selesai bicara di telpon Dahlia kembali dimana Veron duduk.
"Aku tidak asing dengan kata ta'aruf Dahlia."
"Eh, iya Nona. Ta'aruf itu upaya dua insan untuk saling mengenal dengan tujuan yang pasti, yaitu pernikahan."
"Kamu di lamar?" tanya Veron serius.
"Mm, apa ya kata yang pas?!" Gumam Dahlia.
"Lalu kamu bagaimana?"
"Karena kamu belum meng-iyakan?! Kalau kamu bilang iya. Berarti sama saja kamu sudah milik orang."
"Mm, ya sepertinya begitu, Nona."
"Kamu kenal? Tertarik?"
"Ta'aruf tidak harus saling tertarik l, Nona. Yang penting kita tahu siapa orang yang berniatan baik dengan kita. Cinta akan datang seiring waktu. Kata Umi, Nona, kata Umi," ucap kacau Dahlia. Karena sebenarnya Dahlia ragu untuk menerima niatan baik dari orang yang baru saja berkunjung ke rumah orangtuanya. Tapi ucapan Uminya masih terngiang-ngiang dengan baik. Dari kalangan atas mengutarakan niatan baik dengan mengajak ta'arufan dengan keluarganya. Buat orang kampung, itu sangatlah tawaran yang menggiurkan.
"Nona, bukankah dulu Nona menikah juga tanpa cinta."
"Iya, dan ternyata semua.... " lirih Veron.
"Ah, ternyata tidak enak kan. Buktinya Nona sama tuan bertengkar nggak akur-akur," ceplos Dahlia. "Eh, maaf Nona."
"Tidak masalah. Itu karena tidak adanya perkenalan sama sekali. Beda denganmu kan? Terlebih tadi yang menelpon keluargamu sendiri. Berarti sudah dari keluarga ke keluarga," ujar Veron.
"Iya, Nona benar. Entahlah, saya diberi waktu satu minggu untuk memikirkannya." Dahlia menghela nafas.
"Dahlia aku ngantuk, biarkan aku tidur di sini ya."
"Nona serius?"
"Iya. Aku sudah sangat mengantuk." Veron menguap beberapa kali. Dirinya sangat ngantuk, selain jamnya tidur, tapi pijatan Dahlia memang sangat nyaman.
"Baiklah, Nona."
****
Veron yang baru saja masuk kamarnya langsung tertuju dengan Zello yang tengah memberikan sentuhan-sentuhan kecil ke alat-alat makep miliknya yang berada di atas meja rias.
Zello yang masih tidak sadar dengan kehadiran Veron masih berada di tempatnya, menatap dengan benda-benda kecil milik istrinya.
Tatapan dalam yang Veron lihat, tapi tidak berani Veron simpulkan.
Langkah Veron yang melewati diri Zello membuat Zello terkesiap.
Veron yang ingin mandi fokus mengambil pakaiannya dalam almari. Tanpa kata bosa basi ke Zello, dirinya melangkah masuk kamar mandi.
****
Setelah sekian lama tidak makan malam bersama, sekarang Zello bisa hadir lagi di tengah-tengah mereka.
"Lilie makanlah yang banyak! Sekarang wajahmu sangat tirus," ujar Hanif.
__ADS_1
"Iya, Kek."
Sementara Zello melihat sekilas wajah Veron yang berada di sebelahnya. Penampilan dan wangi yang sama, tetap cantik di mata Zello. Hanya saja memang wajah Veron sedikit tirus sebelum dirinya pergi ke Singapura.
Veron sudah selesai dengan makannya, karena memang dia hanya menyendok sedikit nasi.
Merasa sungkan meninggalkan meja makan terlebih dahulu, Veron berinisiatif menikmati buah yang ada di sana. Menikmati buahnya tanpa menghiraukan yang lainnya, terlebih Zello.
****
Tak lelah rasanya Zello untuk terus mengamati wajah istrinya yang tengah tertidur pulas. Paras ayu, hidung mancung, dan bulu mata yang lentik menyempurnakan fisiknya.
Wajah cantik namun tirus, tangan Zello terulur untuk menyentuh. Memberikan usapan lembut di wajah istrinya.
"Apa ini karena aku? Apa aku terlalu berat menghukummu?!"
"Zello... "Gumam Veron. Mata Veron terbuka lemah dengan dahi berkerut. Sesaat Veron membalikkan tubuhnya, kembali menyambut mimpinya.
Rasa haru menjalar di diri Zello mendengar istri menyebut namanya, meski hanya mengigau .
***
"Nanti siang ke kantorlah!" pamit Zello sebelum menutup pintu mobil. Matanya menatap teduh ke wajah istrinya.
'Untuk apa?' batin Veron.
batin Veron.
***
Cuaca yang sangat nyaman menemani Hanif dan Veron yang tengah bercengkerama bersama di taman. Angin sepoi dengan sinar matahari yang malu-malu memberi rasa hangat yang nyaman. Seperti karakter Hanif.
"Kamu melihat kakek tanpa berkedip." Ucap Hanif dengan lelehan kecil.
"Kakek sangat tampan walau usia sudah tidak muda."
"Untungnya kakek sudah tua, andai masih muda Zello akan kalah saing."
"Iya, tentu saja," ucap Veron dengan tawa kecil.
"Permisi, Tuan Besar. Ada kiriman dokumen penting," ucap pelayan yang baru saja datang.
"Dokumen penting? Tidak ada yang mengabari."
Map coklat di tangan dengan perlahan dibuka sendiri oleh Hanif.
"Tuan Besar," ucap Zico. Dirinya sudah berdiri tidak jauh dari Hanif.
"Zico, apa ada yang penting?"
"Sebenarnya bos meminta saya untuk meminta laporan perusahaan yang tersimpan di rumah."
"Oh iya, sebentar aku ambil." Hanif memberikan kode ke Beni untuk mendorong kursi rodanya. Ini hari pertama Zello ke kantor setelah dari perginya ke singapura. Membuat kemarin Hanif sering ke kantor, dan juga membawa dokumen pulang yang sekiranya penting.
Zello dengan sigap mengekor Hanif untuk mempercepat waktunya.
"Zico," ucap Veron.
"Iya."
Dilihatnya Veron yang ikut mengekor Hanif.
"Kamu muslim kan?"
"Iya, Nona. Kenapa?"
"Tahu ta'aruf?"
Dahi Zico berkerut, "maksudnya?"
"Dahlia mau diajak ta'arufan, dengan putra sahabat orangtuanya," bisik Veron.
Zico mematung sesaat, menatap wajah Veron yang terlihat serius.
"Zico!" panggil Hanif.
"Eh iya, Tuan." Zico melangkah lebar, menyusul Hanif yang masuk ke dalam kamarnya. Hanif memberikan dokumen yang sudah ia cek terlebih dahulu.
"Terima kasih, Tuan."
"Hm."
"Sebentar, siapa tahu ini juga harus dibawa ke kantor." Hanif membuka map yang dipangkuannya, yang baru saja ia terima. Mengambil dan melihatnya.
"Ahh." Hanif merintih sakit, map yang baru saja dibukanya terlepas dari tangan. Memegang dadanya yang teramat sakit. Mata Hanif menyipit dan perlahan terpejam.
"Tuan Besar!" Pekik Zico.
"Kakek!" ucap Veron syok.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit." Dengan sigap Zico meraih tubuh Hanif dari kursi roda.
Dengan mata berkaca-kaca dan dada berdetak kencang karena cemas Veron ikut melangkah lebar. Namun baru beberapa langkah kaki Veron terhenti, perasaannya tidak nyaman. Ia berlari masuk ke kamar Hanif. Memungut map yang tergeletak di lantai.
Mata Veron mendelik, air matanya luruh. Foto dirinya dan Zein.
__ADS_1
Dengan air mata berderai Veron meremas dan menyobek-nyobek foto itu. Membuangnya kasar ke tong sampah.
Hati Veron rapuh dan takut. Tapi Veron juga tidak bisa tenang melihat kondisi Hanif demikian. Dengan isak tangis Veron berlari menyusul Zico dan Hanif.