Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Mata Zico mendelik kesal ke Dahlia yang tak bisa menjaga mulutnya di tempat umum.


"Tuan Zein. Apa ada yang terlupa?" Dalih Zico.


"Siapa yang jadi istri sewaan?" ulang Zein.


"Mungkin Anda salah dengar Tuan."


"Ck. Jelas-jelas aku tadi mendengarnya."


"Istri sewaan? Mungkin maksud Anda pacar sewaan," sela Dahlia. "Eh, maksudku." Dahlia langsung menutup mulutnya pura-pura keceplosan.


Sementara Zico mendelik kesal dengan ulah Dahlia. Dirinya berusaha menutup rahasia bosnya, tapi Dahlia seakan sebaliknya.


Sedangkan alis Zein bertaut mendengar dan melihat tingkah Dahlia.


"Mm, karena sudah terlanjur keceplosan. Saya mau bilang. Tapi, Anda harus jujur jangan bilang siapa-siapa."


"Dahlia.... kamu itu ngomong apa?" tanya Zico berusaha pelan supaya tidak menambah curiga Zein.


"Sudah, tidak apa-apa Zico. Aku rasa Tuan Zein bisa di percaya. Iya kan Tuan?"


"Hm." Zein menjawab datar.


"Jadi sebenarnya memang ...."


"Dahlia." Sergah Zico.


"Aku dan dia." Dahlia menunjuk Zico. "Sedang membahas pacar bohongan. Pacar sewaan Tuan. Karena tidak mungkin acara pesta perusahaan nanti aku hanya sendirian. Sementara nanti ada acara dansa berpasangan. Dan juga untuk menutup mulut nonaku itu. Aku kesal sekali dengan nona Lilie. Dia selalu meledekku jomblo. Jadi, karena itu aku memohon Zico untuk menjadi pacar bohonganku."


Dahlia berucap pelan untuk meyakinkan, dilihatnya Zico yang syok, tangannya berada di dada dan yang kemudian beralih memegang kepala. Rasanya, tawa Dahlia ingin meledak melihat Zico yang tengah syok. Zico terlihat lucu. Eh.


"Tapi Tuan. Janji jangan bilang siapa-siapa ya. Bisa dibully nanti aku sama nona dan tuan. Dan kamu Zico, tenang saja! Aku bakal bayar kok."


"Apa aku seperti kekurangan uang."Cebik Zico.


"Kamu tahu kan Zico. Aku ini tidak punya teman. Tega kamu."


"Pilihlah pria di kantor ini. Aku akan membicarakannya nanti."


"Semua B. Kamu kan tampan."


"Apa-apa?" cecar Zico.


"Sudah, lanjutkan pendekatan kalian. Aku mau kembali. Ini Zico, aku terlupa untuk memberi ini. Ini isinya video beberapa tempat untuk di jadikan pilihan. Rencana tadi mau membahas sekalian dengan bosmu. Tapi nyatanya dia lagi ngga bisa diajak kompromi."


"Mm, baiklah Tuan. Nanti saya akan sampaikan. Maaf soal sikap bos hari ini."


"Hm." Kaki Zein melangkah mantap beranjak meninggalkan mereka yang tengah rusuh.


Perginya Zein membuat Zico juga langsung ingin pergi dari sana. Terlebih ada Dahlia. Kepala rasanya mau pecah.


"Eh, Zico." Sergah Dahlia.


"Kenapa?"


"Terus aku harus kemana?"


"Susul saja Nona Lilie."


"Dia kan sedang berduaan."


"Kirim pesan saja."


Dahlia mengetik pesan untuk Veron dan nyatanya tidak kunjung di balas.


"Ah kelamaan," Gerutu Dahlia. Dirinya beralih melakukan panggilan. Diliriknya Zico yang masih di menungguinya.


'Ah ternyata dia baik juga ' batin Dahlia.


"Siapa." Suara dari ponsel Veron.


"Dahlia."

__ADS_1


"Ganggu saja."


Dahlia bisa mendengar jelas percakapan kedua insan itu. Dirinya mendadak malu mendengar celoteh Tuannya.


Untung lewat telepon, andai Dahlia ke ruangan Zello langsung. Entah celotehan apa yang bakal ia terima dari Tuannya.


"Kenapa Dahlia?" tanya Veron.


"Nona sedang apa?" ceplos Dahlia. Seketika dia langsung menutup mulutnya.


"Aw." Pekikan Veron dari sebrang telepon.


Suara singkat Veron membuat otak liar Dahlia berkelana dan seketika mengigit bibir tipisnya sekilas.


"Nona. Saya masih diluar. Nona mau ditunggu atau ingin pulang bersama Tuan?"


"Mm, aku akan pulang bersama Zello."


"Ah, baiklah Nona. Kalau begitu saya akan pulang terlebih dahulu."


"Iya. Hati-hati."


"Siap Nona. Tuan nitip Nona!" pekik Dahlia.


"Bagaimana kamu bisa bilang nitip sedangkan dia memang punyaku." Suara Zello.


"Ah iya iya Tuan. Maksudnya jaga baik-baik Nona Lilie." Dapat balasan dari Tuannya, Dahlia merasa melayang dan mulai berangan. Andai dia punya pasangan seperti Tuannya.


'Fix. Sudah tidak ada yang namanya nikah kontrak lagi. Bisa-bisanya Nona tidak memberikan kabar bagus ini'


Mata Dahlia beralih ke Zico yang masih menungguinya. Entah kenapa Dahlia merasa sangat senang akal hal kecil itu.


"Aku pulang..." ucap Dahlia berseru.


Dahi Zico bertaut melihat gelagat aneh Dahlia. "Yasudah sana pulang."


"Kamu tidak mau ngomong apa gitu?" Dahlia refleks merapikan rambut dengan mimik aneh ke Zico.


"Bukannya sudah."


"YASUDAH, SANA PULANG!" Tekan Zico.


Issh, Dahlia mencebik kesal.


***


Sudah tiga hari Zello berada di rumah Hanif. Membuat Hanif merasa sangat senang. Tidak biasanya Zello berada di rumah Hanif bila tidak dalam keadaan terpaksa atau bila akan ada acara keluarga.


Rasanya Hanif ingin menanyakan perihal ini, tapi dirinya takut kecewa akan jawaban Zello nanti.


Hanif melihat jam yang bertengger di dindingnya. Sudah waktunya pulang kantor. Dirinya sudah berada di ruang tamu. Dan sudah beberapa hari ini dirinya punya teman untuk mengobrol selayaknya keluarga. Ada Zello, ada Veron.


Langkah Veron yang menuju di mana dirinya berada membuatnya senang. Mereka berdua sengaja berkumpul di ruang keluarga. Karena sekaligus untuk menunggui kepulangan Zello.


Tidak lupa menyalakan televisi untuk menemani mereka.


"Dulu kalau jam segini acara televisi selalu berisi berita. Tapi sekarang isinya sinetron semua."


"Sekarang jaman kan sudah berkembang, Kek."


"Perkembangan yang aneh."


Veron terkekeh. "Ada channel yang khusus isi berita, Kek."


"Iya. Lagi pembahasan soal kelonjakan harga pangan."


"Yasudah. Ini saja. Sinetron ini bagus nih. Sesuai umur Kakek. Isinya tentang keluarga."


Veron mengubah channel lele terbang dan dengan antusias Hanif menikmati acara itu.


"Kamu sudah mempersiapkan kebutuhan kamu untuk pesta perusahaan nanti?"


"Sudah Kek. Besok gaun tinggal diambil. Selebihnya beres."

__ADS_1


"Hm, baguslah."


"Sayangnya papa mama tidak bisa hadir nanti."


"Sudah, tidak apa-apa. Kan kalian baru saja dari sana."


Terdengar deru mesin mobil yang membuat mereka berdua terdiam sesaat. Seulas senyum terbit dari bibir Veron akan kepulangan Zello.


Veron berdiri guna menyambut suaminya. Belum melangkah Zello sudah memasuki rumah dan memberi kode ke istrinya untuk berdiam. Tapi Veron enggan dengan kode Zello. Dirinya melangkah menuju Zello dan langsung mengambil tas kerjanya.


Zello langsung memberikan ciuman hangat di kening Veron dan kemudian berjalan beriringan.


"Dimana kakek?"


"Biasa, sedang nonton televisi."


"Kek." Sapa Zello.


"Zello, lihatlah. Bayi itu lucu sekali. Kira-kira umur berapa bulan itu." Hanif menatap kagum dengan bayi yang berada di layar televisi. Sinetron yang scene menampilkan bayi imut dan menggemaskan.


Berakhirnya scene barulah Hanif melihat Zello. "Bagaimana kantor?"


"Seperti biasanya."


"Lilie."


"Iya, Kek."


"Bagaimana menurutmu tentang bayi tadi?"


Veron tersenyum kaku. Tidak hanya Hanif, bahkan Zello juga menatap dalam ke dirinya. Zello menggenggam tangan Veron dan meremasnya lembut. Andai tidak ada Hanif disana, rasanya Zello ingin mengecup buku-buku jari Veron.


"Sangat lucu dan menggemaskan. Pasti akan sangat menyenangkan bila mempunyai bayi selucu itu." Veron berucap pelan, meski begitu dia mengucapkan dengan binar.


Binar di mata Veron meredup. Teringat dengan masa kecilnya yang jauh dari kata layak. Andai dia punya anak, dirinya tidak akan membuat anaknya kesepian dan terlunta-lunta seperti yang ia alami dulu.


Zello yang awalnya merasa berbunga-bunga mendengar ucapan Veron mendadak nyeri melihat raut wajah istrinya.


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya teringat dengan masa kecilku."


Hanif membuang nafas kasar begitu dengan Zello semakin erat menggenggam jemari Veron.


"Kelak cicitku tidak akan mengalami yang namanya sendirian, apalagi kesepian.


"Iya, Kek. Terima kasih."


"Sekarang fokus dengan diriku saja. Maksudku dengan masa depan hehe." Hibur Zello.


"Benar kata Zello. Sekarang temani Zello ke atas. Kakek juga mau ke kamar dulu."


"Ayuk!" Zello menuntun Veron menuju kamarnya. Wajah murung masih terlihat di wajah Veron.


Sesampai kamar, Zello langsung menyudutkan Veron di dinding. Menangkup kedua pipi istrinya dengan gemas hingga bibir Veron lebih maju.


"Jangan pikirkan masa lalu!" ucap Zello.


'Bagaimana aku tidak memikirkan masa laluku, masa lalu yang membawa aku ke tempat penuh dosa.'


"Kamu tahu, biasanya orang yang suka terbayang masa lalu karena belum fokus memikirkan masa depan." Zello melonggarkan tangkupan di pipi istrinya. Dan beralih mencium bibir manisnya.


"Maksudnya?"


"Mm .... bulan madu?! Mau?!"


"A-apa?" Tubuh Veron menegang. Apa dia sudah siap melayani Zello? Sementara dirinya belum bisa jujur sampai sekarang.


"Orang akan merasa punya tujuan atau fokus dengan masa depan bila sudah mempunyai anak."


Zello mengangkat tubuh Veron ala bridaystyle dan memutarnya.


"Aku sudah memesan tiketnya," celetuk Zello senang.

__ADS_1


"Setelah acara perusahaan," imbuhnya.


Kepala Veron tidak hanya pusing karena ulah tangan Zello, tetapi juga karena ucapannya.


__ADS_2