Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Aku Senang bisa Merasakan Detak Jantungnya


__ADS_3

Veron menatap lekat benda yang dipegangnya. Belum mencoba, belum mengetahui hasilnya, tapi Veron sudah menitihkah air mata.


Pikirannya berkecamuk, bertanya-tanya kapan terakhir haidnya. Apa benar ada kemungkinan dirinya tengah hamil?


"Lilie!"


Dok dok dok.


"Kamu kencing air atau kencing batu?! Lama sekali." Gerutu Susi. Dirinya hilir mudik di depan pintu toilet.


"Ah, kenapa dadaku malah berdebar-debar," gumam Susi.


"Lilie!" teriak Susi lagi.


****


Garis satu terlihat di tespect yang tengah dipegang Veron, perlahan yang disusul garis lain. Garis dua.


Seketika tubuh Veron lemas tak bertenaga, tespectnya terlepas dari tangan. Dadanya sesak, pikirannya linglung, tubuhnya sedikit gemetar.


Tubuhnya merosot ke lantai dengan tatapan kosong, air mata terus tumpah ke pipinya. Veron memeluk lututnya, membenamkan kepalanya di sana. Tangisnya yang semakin menjadi membuat tubuhnya terus bergemetar.


Dengan sedikit keberanian Veron melihat tespect yang teronggok di dekat kakinya. Lelehan mata semakin deras, membuat pandangannya buram berganti gelap, tak sadarkan diri.


****


"Lilie!"


"Astaga, kamu kenapa? Kenapa sedari tadi tidak menyahutku?" ujar Susi mulai kesal.


"Lilie!"


Dok dok dok. Susi menggedor sangat kencang. Sekian detik Susi langsung berlari.


"Tolong.... "


Susi dengan cepat menuju ke petugas lapas untuk meminta bantuan.


Dengan dua kali gebrakan tubuh petugas, pintu toilet terbuka lebar. Memperlihatkan Veron yang luruh di lantai tidak sadarkan diri.


"Lilie!" pekik Susi.


Petugas dengan gerakan cepat langsung mengangkat tubuh Veron. Berlari kecil menuju ruang pertolongan pertama di lapas.


Disana Susi berinisiatif mengoleskan minyak kayu putih di antara hidung Veron.


"Ada apa?" petugas kesehatan yang dipanggil langsung memeriksa tubuh Veron. Dan di saat itu pula Veron membuka matanya perlahan.


"Lilie!" pekik tertahan Susi.


Veron menatap langit-langit ruang itu, air matanya kembali menitih mengingat yang baru saja ia lihat.


"Ingat terakhir haid ngga?" tanya petugas kesehatan.


Veron menggeleng, sembari menggigit bibirnya kuat untuk menahan tangisnya.


Petugas kesehatan itu menatap iba, seakan tahu apa yang tengah dirasakan Veron.


"Kamu hamil, perkiraanku sudah tiga bulanan." ucap petugas. "Nanti aku akan kirim obatnya ya, biar kesehatan kalian berdua terjamin."


Bibir Veron terkunci, namun begitu, tenaga medis tetap memberikan senyuman dan support.


Sepeninggal tenaga medis, Susi langsung menatap lekat teman satu selnya yang terus menangis itu. Wanita mana yang mau hamil di penjara.


"Lilie, sudah kamu jangan terlalu fikirkan. Kamu minum dulu ya!" Susi menyodorkan minuman namun langsung dapat gelengan dari Veron.

__ADS_1


"Ayo, balik ke sel!" ujar petugas sel.


"Lilie, ayo!"


Veron menoleh, mengangguk kecil di sela tangisnya.


"Saya minta waktunya sebentar untuk membersihkan wajah ya, Pak?"


"Oh yauda."


"Susi kamu duluan aja ya, nggak usah nungguin aku!"


"Kamu nggak apa-apa sendirian?"


"Nggak papa!" ucap Veron pelan.


Veron turun dari ranjang, dan langsung menuju toilet sendirian. Membersihkan wajahnya. Veron mematung sesaat, tangannya terulur memeluk perutnya. Seakan percuma membersihkan wajah, karena airmatanya kembali tumpah.


"Bagaimana kamu bisa hadir, kamu nggak punya siapa-siapa. Cuma punya aku. Dan sialnya aku seorang narapidana. Mengapa kamu belum lahir saja sudah bernasib sial."


"Seharusnya aku tidak memutuskan untuk bersembunyi disini. Tapi memutuskan untuk mati saja. Paling tidak nanti kamu tidak mengalami nasib sial sepertiku yang tidak jelas tujuan hidupnya. Cukup aku saja yang begini."


****


Veron yang kembali ke sel langsung menjadi pusat perhatian. Selain Veron pingsan, tapi kehamilan Veron pun sudah diketahui oleh mereka.


Veron duduk dengan lemas di tempatnya. Bersandar dinding terus memeluk perutnya tanpa sadar.


Tidak pernah ada yang mengunjungi dan sekarang seperti orang linglung. Terbaca dengan jelas bahwa Veron tidak menginginkan kehamilannya.


"Sudah! Jangan fikirkan!" ujar Runi.


Susi menatap iba ke Veron yang terlihat sangat muram. "Kamu tidak menginginkannya?" tanyanya pelan.


"Minta tolong aja sama Denad, dia kan tukang aborsi. Denad, bantuin tuh!" ujar yang lain.


"Aku sudah terancam penjara tujuh tahun, apa kamu ingin aku jadi di penjara seumur hidup?! Lagian dikira ngeluarinnya pakai tangan kosong."


"Minum saja obat xx x setiap hari, ditambah minuman xb. Nanti juga melemah," imbuh Denad.


"Obat apa?" tanya Veron pelan.


"Obat xx x."


"Ah, aku baru tahu kalau itu bisa dijadikan perontok kandungan," cetus Susi.


"Kenapa harus digugurkan?" sela Madu yang tak setuju.


"Eh, kamu anak kecil. Nggak usah ikut campur!" hardik Susi.


"Lilie, tenanglah! Nanti aku akan menyuruh keluargaku untuk membawakan obat itu!" timbrung Lana.


"Ah, bagus-bagus."


Apa teman-teman Veron jahat? Itu tergantung kesiapan atau keputusan Veron sendiri. Mereka hanya mendukung apa yang menjadi keputusan Veron. Karena mereka tahu, hamil di dalam sel tidaklah mudah.


Fakta yang baru saja Veron dapatkan membuat dirinya tidak berselera makan, dirinya juga tidak menyempatkan untuk merawat tanamannya. Hingga sore, dirinya hanya terus bersandar dinding dengan wajah putus asanya.


****


"Bos, makanlah dulu!" Zico menyodorkan sepotong roti dan juga kopi. Aroma kopi yang menyeruak dan menggiurkan namun tak kunjung bisa menarik perhatian Zello. Dirinya duduk di kap mobil menerawang jauh kenangan indah bersama istrinya.


"Makanlah dulu! Nanti kalau kamu mati tidak akan ada gunanya kita disini."


Dengan malas Zello menyambar rotinya, menggigitnya. Sementara hatinya merasakan sesuatu yang sangat perih dan sangat menyiksa karena tak kunjung sembuh ataupun berkurang. Getaran indah, desiran memabukkan, Zello merindukan itu semua. "Kamu dimana, Sayang?!" lirih Zello.

__ADS_1


*****


Sudah pukul sepuluh malam, Anita berkemas untuk meninggalkan butiknya. Karyawannya sudah duluan untuk pulang, karena gerimis yang membuat mereka terburu-buru untuk segera pulang. Sementara Anita masih harus merapikan beberapa barang yang harus ia bawa pulang.


"Veron." Suara berat pria membuat Anita membeku. Matanya terbelalak melihat Dave yang langsung masuk ke ruangannya.


"Veron," ceracau Dave lagi.


Anita menelan salivanya, takut setengah mati melihat Dave demikian. Jalan sempoyongan, penampilan acak-acakan, dan ceracauan yang tidak jelas dari bibirnya. Dave yang mabuk berat sangat mengerikan. Anita tidak peduli lagi dengan barangnya, ia memeluk tas sembari terus melangkahkan kaki pelan dengan bersandar dingin, sebisa mungkin memberi jarak dengan Dave yang terus menatapnya dengan liar.


"Veron." Dave mencekal tangan Anita yang sudah diambang pintu.


"Aaaa.... lepas. Aku bukan Lilie!" teriak Anita. Anita terus berontak melepaskan cekalan Dave.


Tangan Dave yang kekar dengan mudahnya membuat Anita berada di pelukannya. Posisi yang berhadapan membuat aroma minuman dari mulut Dave menyeruak di hidung Anita.


"Lepas!" Anita berontak dan langsung membalikkan badan untuk segera kabur.


"Jadi sekarang kamu lebih suka posisi seperti ini?! Hm." Dave memeluk pinggang Anita erat. Tangannya tak tergeser sama sekali oleh Anita yang terus berontak ketakutan.


"Tolong..... " Teriak Anita. Anita menginjak kaki Dave bertubi-tubi. Posisi Anita yang demikian membuat dirinya tidak bisa banyak melakukan perlawanan.


Dave makin gencar mengunci tubuh Anita ke dinding, menghimpit dengan tubuh dan kepalanya. Dave menyibakkan rambut panjang Anita, menciumi tengkuknya dengan sangat liar.


"Aku mohon jangan lakukan!" Air mata Anita tumpah. Tubuhnya sudah lemas ketakutan di kuncian tubuh Dave.


Tangan Dave dengan cepat melorotkan celana Anita, yang kemudian melorotkan celananya sendiri. Sekali hentakan Dave berhasil melakukan penyatuan. Penyatuan yang liar dan buas hanya dengan satu posisi. Ceracauan nama Veron ikut menggema di ruangan itu. Hingga batas akhirnya, tubuh Dave bergetar hebat. Menumpahkan surgawinya.


Hah. Nafas Dave tersenggal. Tubuhnya jatuh ke sofa, lelah dengan penuh kenikmatan.


****


Ehhh, Dave mengadu pusing. Tangannya menopang kepala yang terasa sangat berat. Menyugar rambutnya dengan asal. Matanya yang mulai terbuka membuat dirinya heran. Diruangan yang asing, tapi seperti tak asing. Masih dengan kepalanya yang berat Dave berusaha mengumpulkan kepingan yang sudah terjadi.


"Ahh, sial. Apa dia semalam tidak bisa mengelak." Dave melihat ruangan itu. Hanya ada dirinya. Segera Dave membetulkan celananya yang melorot. Meneguk minuman yang ada di sana yang kemudian keluar dari ruangan Anita.


*****


Beberapa hari kemudian.


Seusai sarapan, Lana menghampiri Veron dan Susi yang masih duduk berdua di meja makan.


"Lilie!" bisik Lana.


"Hm."


"Ini, obatnya," Lana menyodorkan obat tablet ke Veron.


Veron menatap obat itu cukup lama, dan tersenyum tipis ke Lana. "Terima kasih, Lana. Tapi ... aku nggak mau minum itu."


"Apa?" ucap syok Susi.


"Mm, ya nggak masalah. Apapun keputusan kamu, kami pasti akan mendukungmu," ujar Lana.


"Terima kasih."


"Boleh aku bergabung dengan kalian?!"


"Tentu saja."


"Lilie, ada apa denganmu?" tanya Susi heran.


Veron tersenyum haru.


'Aku senang bisa merasakan detak jantungnya. Mengingatkanku dengan ayahnya, Zello'

__ADS_1


__ADS_2