
Jam cepat berlalu, hingga waktunya makan malam. Semua anggota keluarga baru bisa berkumpul. Karena Panee tadi menyempatkan ke perusahaan Hanif. Dan jangan lupakan juga ada Rossa disana. Hanya satu dua kata yang keluar saat ritual makan malam itu, detak dentingan garpu dan sendok yang saling bersautan. Berbeda saat piring telah kosong, suasana hangat begitu cepat menjalar.
"Lilie, apa ini masakanmu. Kakek tadi lihat kamu di dapur." Hanif mulai buka suara.
"Lilie tadi sekedar membantu Kek. Keahlian masak Lilie baru tahap belajar." Jujur Veron.
Kekehan kecil Panee menyela obrolan mereka, "tidak masalah, mama Zello saja sampai sekarang masih tahap belajar bila di bidang memasak."
"Kamu yang membuatku tidak bisa masak sampai sekarang." Ketus Maria.
"Kamu tahu Lilie?! Setiap mama masak papa kamu jarang memakannya." Gerutu Maria menjeda.
"Bahkan, papa Zello lebih senang kalau makan di luar."
"Dasar nggak pengertian," imbuh Maria.
"Bukan tidak pengertian, tapi romantis. Seharusnya kamu senang tiap malam diajak makan romantis," bela Panee.
"Iya, terserah kamu saja," sahut Maria akhirnya.
"Nggak apa, Mom. Yang penting makan diluarnya ngajak Mommy," ucap Veron dengan senyum tipis terulas di bibirnya.
"Menantu ku baik sekali, terima kasih pembelaannya Sayang," ucap Panee.
Veron hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mertuanya.
Di lain sisi, Rossa sedikit jengah berada di antara mereka, melihat keluarga Zello bersikap hangat terhadap Zello. Meskipun Rossa tahu, memang keluarga Zello tipe orang yang hangat kepada siapa saja. Namun tetap saja membuat Rossa tidak suka.
"Oya, Rossa. Kamu katanya mau bermalam di sini?" tanya Panee kemudian.
"Iya, Om. Kebetulan pemotretan masih semingguan lagi. Jadi saya ada waktu luang untuk mengobrol sama Om dan Tante."
"Oh ... dan keluarga kamu? Maksudnya mama papa kamu bagaimana kabarnya?"
"Baik semua Om." Senyum canggung tidak bisa Rossa tutupi, yang akhirnya dia memilih minum berusaha untuk mengalihkannya.
"Hm, baiklah. Buat dirimu nyaman."
Rosa dan Zello dekat sedari kecil karena memang rumah mereka dulu tidak terlalu jauh. Berbeda dengan kedua orangtua mereka, meskipun anaknya dekat. Namun tidak dengan orangtuanya karena orang tua Zello maupun orang tua Rossa sama-sama gila bisnis. Sehingga tidak akrab satu sana lain. Orang tua Zello dominan ngurus bisnis di luar negeri, sedangkan orangtua Rossa pebisnis dalam negeri. Namun pada akhirnya, kedua orangtua mereka melihat kedekatan antara mereka berdua. Namun sayangnya, Zello dan Rossa selalu mengungkapkan hubungan dekat mereka sebatas sahabat. Terlebih mereka memilih fokus belajar ketimbang cinta monyet. Saat mereka sudah mulai menginjak karir dan terbentangnya jarak karena Rossa sering mendapatkan kontrak pemotretan di luar kota bahkan luar negeri, baru ada rasa kehilangan dan juga rindu di antara mereka, yang memperluas jadi rasa cinta. Tiga tahun lamanya mereka terikat status kekasih karena adanya cinta, namun sayangnya Rossa memilih untuk merahasiakan hubungan mereka karena belum kepuasan dia dalam mencapai karirnya.
"Apa dampaknya hubungan kita dengan karirmu?" tanya Zello ke Rossa waktu itu.
"Ada. Mereka, Bos besar tidak akan berani memberikan kontrak besar bila tahu modelnya punya kekasih, apalagi punya keluarga. Takut modelnya akan berhenti di tengah jalan karena alasan keluarga yang tak terduga," jelas Rossa.
Memori sekelebat itu melintas di ingatan Rossa. Membuat Rossa mengepalkan tangannya sendiri, berusaha memberi semangat dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Senyum mengembang terulas dari bibirnya. "Tidak masalah, aku cukup menahannya sebentar. Saat aku mendapatkan project besar dan sudah selesai kontraknya. Aku akan mendapatkan apa yang seharusnya akan aku dapatkan, yaitu 'Zello'," batin Rossa.
"Dan sepertinya bisnis Om selalu baik dan berjalan mulus," ucap Rossa.
"Ya, syukurnya. Om memang terbaik," ucap Panee bangga.
"Om the best," ungkap Rossa.
"Iya, dan terlalu keenakan buat Zello."
"Apa?" saut datar Zello.
"Kamu terlalu mudah untuk meraih semuanya. Karena kamu anak satu-satunya, rasanya tidak adil. Nanti kamu harus punya anak lebih dari dua, biar adil. Ada perdebatan, persaingan. Betul kan Pa?!"
"Hahaha tentu saja." Hanif tertawa lebar.
Rossa memandang Zello dan Veron bergantian, rasa bergemuruh hinggap di dadanya.
"Bagaimana Lilie?"
"Selama kekayaan Papa masih terjaga, jangankan tiga anak satu lusin juga tidak masalah Pa," seloroh Veron.
"Kamu ini. Jangan mau Lilie, kalau perlu kamu tunda dulu. Nanti setelah satu tahun baru program hamil," sela Maria.
"Mama ...." tekan Panee.
"Eh iya iya Pah. Terserah Lilie. Kalau dia mau segera ya nggak masalah. Bagaimana Lie? Kamu tidak keberatan kalau langsung hamil?" ujar Maria kemudian.
"Nggak masalah Mah. Sedikasihnya saja."
__ADS_1
"Ini baru cucu mantu Kakek." Hanif menatap senang ke Veron dan Zello.
"Kakek tenang saja, lagian Zello hot kok di ranjang. Kayanya nggak butuh waktu lama Kakek dapat cicit." Veron tersenyum malu dengan tangan menutup sebgaian wajahnya. Dalam hati Veron terus terkekeh dengan ucapan konyolnya, matanya mencuri-curi pandang ke arah Rossa yang tengah menatap kesal ke Zello.
***
Di kamar, Veron yang sadar diri nggak bisa tidur seranjang dengan Zello langsung mengambil selimut dan menuju sofa.
"Lillie, pindah kasur!" titah Zello.
"Hm?" Merasa tidak yakin dengan pendengarannya, mata Veron yang terpejam spontan terbuka.
"Lilie, pindahlah ke kasur! Jangan salah paham. Pantang buatku bersuka di atas kesusahan orang lain," jelas Zello.
Tercengang dengan pengakuan Zello, tapi tercengang dalam artian kagum dengan sifat Zello. "Wah, beruntung sekali Rossa bisa mendapatkanmu," celoteh Veron.
Dengan cepat, Veron menuju kasur. Membenamkan wajah di bantal yang empuk, dengan bibir mengulas senyum dengan mata terpejam.
Seperti makhluk indah yang tanpa beban, Veron tertidur dengan sangat nyaman. Bahkan dalam mimpi pun dia selalu mengulas senyum. Di dalam mimpi, Veron tengah bermain ayunan yang terus di ayunkan seseorang dari belakang. Veron yang dalam ayunan tidak fokus siapa yang telah mengunkan ayunannya, dia memilih menikmati apa yang ia rasakan. Setelah sekian lama ia menikmatinya, terulur sebuh bunga lili dari belakang dari seseorang yang mengayunkan ayunannya. Dari situ, Veron baru menolehkan pandangannya ke belakang. "Zello?" meskipun terkejut, namun Veron merasa senang. "Terima kasih Zello," imbuh Veron.
"Rossa?" gumam Veron kemudian. Terlihat Rossa yang datang dan berdiri tepat di belakang Zello.
"Darl." Panggil Rossa manja ke Zello, seakan tidak mendengarnya Zello terus menggerakkan tangannya maju mundur mengaunkan ayunan.
"Zello, Rossa memanggilmu," ucap Veron. Entah ada apa dengan Zello, dia bukannya menoleh ke belakang ke Rossa tapi malah langsung memeluk Veron dengan erat.
"Zello," gumam Veron.
"Ehm." Deheman Veron karena tenggorokannya merasa kering, bersamaan juga dengan matanya yang mulai terbuka.
"Ehm." Deheman kering Veron lagi.
Untungnya semalam pelayan menaruh minum di atas nakasnya. Yang dengan langsung Veron meminum airnya.
Ehm. Dahi Veron juga sedikit berkerut, teringat dengan mimpinya barusan. "Pasti ini karma untukku karena sudah berani memimpikan Zello, pria yang sudah memiliki wanita."
Mengingat mimpinya, pandangan Veron teralih ke sofa kosong di kamar itu. "Kemana Zello? Bukankah semalam dia tidur di sofa," batin Veron.
Tangan Veron terulur menyentuh tenggorokannya yang masih saja kering. Yakin pelayan dapur sudah bangun, Veron turun dari ranjangnya, melangkah keluar kamar.
Veron berjalan mendekat ke Zello, "Zello, sudah bangun? Aku mau buat teh, apa kamu mau dibuatkan juga?"
"Mm ... terserah," sahut singkat Zello.
"Ok."
Dengan langkah santai, Veron menuruni tangga menuju dapur.
"Pagi Nona." Sapa pelayan dapur.
"Pagi."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Mm, ada obat untuk tenggorokan nggak? Tenggorokan ku lagi kering," jelas Veron.
"Ada Nona. Tapi saya bisa buatkan minuman herbal hangat buat Nona."
"Oh baiklah. Apa kamu pintar buat minuman herbal?"
"Bukan pintar Nona, tapi sekedar bisa."
"Sama saja. Oya, bikinnya nunggu aku ya. Aku mau tahu cara membuatnya. Sekarang kamu bisa bantu saya buat teh untuk suami saya nggak?"
"Bisa Nona. Mari!"
"Baiklah, ayo!"
"Tehnya kebetulan sedang saya rebus Nona. Karena Tuan Hanif sendiri lebih suka teh tubruk. Untuk teh Tuan Zello, hanya perlu tekaran gula saja sesuai seleranya."
"Ok. Jadi aku takar dulu gulanya. Nanti tinggal tuang," ujar Veron.
"Iya, Nona. Begitu juga bisa."
__ADS_1
Diambilnya gelas dan gula, menyendokkan setengah sendok gula. Sesaat kemudian, pelayan sudah siap dengan teh panasnya dan langsung menuangkan ke gelas Veron.
Dentingan sendok di gelas membuat suasana hatinya semakin hangat, sudah lama dia tidak melakukannya. Terakhir entah kapan saat di apartemen Anita.
"Sudah," ujar Veron bangga.
"Aku ke tempat Zello dulu," sambung Veron.
"Baik Nona."
Dengan hati-hati Veron membawa tehnya menuju tangga.
"Lilie." Panggil Hanif.
"Kakek sudah bangun?"
"Sudah, kamu bawa apa?"
"Lilie bawa teh buat Zello, Kek. Kakek aku buatkan juga ya. Tapi Lilie antar ini dulu," ujar Veron.
"Hahaha baiklah."
"Sebentar ya Kek." Pamit Veron dan berlalu dari sana. Menaiki tangga menuju kamarnya dan langsung mendapati Zello yang tengah tertidur di ranjang. Senyum tipis melihat Zello yang tengah tertidur, baru kali ini Veron melihat Zello tidur. Tidur dengan wajah yang sangat nyaman, namun ternyata tidak, saat Veron mendekat ada kerutan sedikit di dahi Zello.
"Pasti dia sedang mikirin pernikahan yang rumit ini. Hahaha siapa suruh main-main sama pernikahan," gumam Veron. Diletakkan teh panasnya di atas nakas.
"Zello," ucap pelan Veron.
"Hm," sahut singkat Zello, matanya perlahan terbuka.
"Aku pikir tidur," ucap Veron.
"Nggak," sahut datar Zello.
"Ok. Tehnya disini ya," ujar Veron. Veron juga langsung melangkahkan kakinya berniat keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Zello. Zello sudah duduk bersandar di sandaran ranjangnya.
"Mau ngeteh sama Kakek di bawah," sahut Veron. Langkah kakinya berhenti sesaat. "Kenapa?" sambung Veron.
"Tidak apa-apa. Jangan lupa tutup pintunya."
"Ok."
Clek.
***
Mata Hanif menatap punggung Veron yang tengah mengaduk teh untuknya. Sudah sangat lama Hanif menginginkan ini, anggota keluarga yang bisa menemaninya mengobrol dan mengeteh di pagi hari maupun malam hari. Terlebih di usia senjanya.
Panee dan Maria dominan tinggal di luar negeri. Pulang bila hanya ada keperluan yang penting. Sebenarnya Hanif masih punya menantu, tetapi anaknya sudah lama meninggal. Yang akhirnya menantunya itu pun juga sudah lama tidak mengunjunginya. Hanif hanya memiliki Zello, namun Zello kemarin lebih memilih tinggal di apartemen. Seakan ingin hidup bebas, padahal Hanif selalu memberi kebebasan buat Zello. Zello memang akan mengunjunginya di weekend, tapi itu tentu saja nggak cukup buat Hanif. Dan sekarang Zello tinggal disini karena ada kedua orangtuanya. Hanif berharap pernikahan Zello akan menggiring Zello sendiri untuk tetap tinggal di rumahnya.
"Ini Kek." Teh manis dengan gula aren disajikan di meja oleh Veron.
"Diminum Kek. Jangan banyak melamun!"
Hanif dan Veron sama-sama tertawa kecil karena ucapan Veron sendiri.
"Terus kamu sendiri?" tanya Hanif.
"Aku ingin buat minuman herbal untuk pereda gatal di tenggorokanku Kek. Tenggorokan Lilie lagi kurang nyaman," jelas Lilie.
"Kamu terlalu sering minum minuman dingin," ucap Hanif.
"Iya, Kek. Kalau tidak langsung ditangani takutnya nanti jadi batuk. Nggak lucu kan Kek, masa pengantin baru perempuannya batuk."
"Hahaha. Astaga Lilie. Kamu bisa saja bikin kakek tertawa." Hanif menghapus sudut matanya dengan jari, ada setitik embun disana karena kata konyol Veron.
"Tapi kan yang Lilie omongin beneran Kek. Lilie balik ke dapur dulu ya Kek. Nanti kalau sudah selesai, Lilie kesini."
"Baiklah. Sana buat, sebelum radangmu menjadi batuk."
"Siap Kek."
__ADS_1
Dengan antusias Veron melanjutkan aktivitasnya di dapur. Dia sangat menikmati kegiatannya. Merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan ini. Menurut Veron, seburuk-buruknya pekerjaan seorang wanita, seperti pekerjaannya selama ini. Pasti akan mengharapkan tujuan hidup yang sesungguhnya, 'keluarga'. Veron yakin, semua temannya pasti juga berfikiran yang sama dengan dirinya. Tujuan akhir adalah hubungan keluarga, terlebih Veron sebatang kara. Di saat sekarang dia mendapatkan keluarga, entah bagaimana cara dia menggambarkannya. Veron terlalu bahagia.