Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Tidak Mencintaimu


__ADS_3

***


"Lie, dari mana?" tanya Zello.


"Zello, kamu sudah pulang? Aku ada perlu sama teman tadi. Sudah lama pulang ?"


Veron duduk di sofa ruang tamu, dilihatnya jam di tangannya, jam dua siang.


"Sedari jam sepuluh. Teleponmu nggak aktif, aku telepon ke rumah Kakek mereka bilang kamu nggak kesana."


"Iya, aku kan memang nggak kesana. Aku bertemu dengan teman lama tadi." Semenjak perginya dengan Desy tadi, Veron merasa sedikit lega, apalagi setelah melihat Desy menyanyi kaya orang kesurupan di sana. Itu membuatnya sedikit terhibur.


"Apa kamu belum makan. Aku akan ...."


"Akan apa?" Zello mengulas senyum di bibirnya.


"Akan... memasak untuk kamu."


"Benarkah?"


"Iya ... tapi aku bingung mau masak apa," ucap Veron dengan wajah bersemu merah.


"Iya, aku tahu," ucap Zello dengan tawa kecil. Zello memandang aktivitas Veron dalam diam. Mengingat yang terjadi tadi pagi, ungkapan perasaannya yang tidak langsung. 'Apakah dia mengerti maksudku?'


"Kamu biasanya belum pulang." Ucap Veron.


"Kan, aku sudah bilang akan segera menyelesaikannya." Zello menuju dapur dan membuka isi kulkasnya. "Nggak ada apapun," ujar Zello.


"Hehehe, kamu selalu nggak sempat sarapan. Jadi ...."


"Nggak sempat masak." Ralat Zello.


"Iya iya. Aku salah." Ucap Veron kemudian.


"Delivery saja." Saran Zello.


"Kamu selalu berangkat lebih awal, bagaimana aku bisa memasak kemarin."


"Iya, siapa juga yang nyalahin kamu. Ayo, delevery! Aku sudah lapar." Zello tersenyum lucu menertawakan Veron.


Mendengar ucapan Zello, Veron melangkahkan kaki menuju kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya Zello.


"Delevery. Ponselku kehabisan baterai." Veron menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


Sesampai kamar, Veron tersadar Zello ikut masuk ke kamarnya dan sudah duduk di ranjang.

__ADS_1


"Mau pesan apa?" tanya Veron.


"Apapun, seperti biasanya."


"Ok."


Tidak butuh waktu lama Veron melakukan pemesanan, yang kemudian ia menaruh ponselnya lagi.


"Ayo keluar, kita nunggu di depan," ucap Veron.


"Sini dulu!" Zello menepuk ranjang, supaya Veron duduk di sebelahnya.


Hati Veron sedikit berbunga mendengar permintaan Zello, namun dirinya tidak lupa untuk memberi sedikit jarak ke Zello.


Veron duduk di bibir ranjang persis sebelah Zello.


"Zello."


Sedikit tekanan di dada Veron yang diberikan Zello membuat tubuh Veron terbaring, dengan kaki menjuntai.


Saling menatap satu sama lain dengan posisi sama-sama terbaring. Perlahan dengan lembut, Zello memberikan belaian di wajah Veron yang masih tergugu.


"Aku merindukanmu," ucap Zello pelan.


Rasanya Veron ingin memberontak yang tengah ia rasakan. Perasaan yang indah bercampur dengan rasa kesedihan. Veron menelan salivanya dengan berat dan mencoba untuk bangun dari tidurnya.


Memeluknya dengan hangat dan juga gairah.


"Zello," elak Veron dengan memberikan dorongan ke tubuh Zello.


"Kenapa? Bukankah aku sudah mengatakan tadi pagi. Apa kamu nggak paham tentang semua yang aku ucapkan?" tanya Zello lembut.


"Mm aku ... aku ingin menjalani kehidupan kita seperti biasanya, tidak lebih, Zello."


"Apa kamu masih berstatus kekasih orang?"


"Tidak. Iya," sahut Veron serba salah.


"Tidak atau iya? Kamu yang bilang sudah mengakhirinya."


"Zello. Aku ingin menjalani kehidupan pribadi seperti yang kuinginkan."


"Kehidupan yang seperti apa? Aku akan memberikannya."


"Tidak, Zello. Kamu nggak paham maksudku." Veron bangun dari tidurnya dan duduk di bibir ranjang.


"Bagaimana caranya supaya aku paham." Zello duduk mengikuti Veron.

__ADS_1


Veron duduk sedikit menunduk dengan jemari yang mengepal yang ia sembunyikan di balik baju, menutupi perasaannya yang tidak nyaman. "Zello, kamu berbicara demikian hanya untuk memuaskan hatimu sendiri, tanpa ingin mengetahui isi hatiku terlebih dahulu. Seolah-olah kita mempunyai rasa yang sama."


Ucapan Veron yang lembut namun yang mampu membuat Zello tersenyum masam. Wajah Veron yang memerah setiap dapat belaian lembut darinya, wajah Veron yang bersemu merah malu ketika dirinya melontarkan kata manis, wajah Veron yang memerah karena dapat ulah jahil darinya. Salahkah, Zello berfikir, bila istrinya juga menyimpan rasa untuknya.


Zello menatap Veron dengan perasaan yang tidak menentu. "Lanjutkan!" ucap Zello dengan perasaan yang tak tahu arah.


"Aku ...-"


"Lihat aku!"


Sorot mata tajam Zello yang baru saja Veron lihat, membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Aku tidak mencintaimu," ucap Veron pelan. "Maaf, Zello. Tapi itu memang kenyataannya." Imbuh Veron dengan menatap manik Zello.


Dengan sorot mata kecewa, Zello menatap Veron lama dalam diam. "Baiklah," ucap Zello akhirnya.


Zello berlenggang keluar dari kamar Veron. Bersandar di sandaran sofa ruang tamunya. Yang tidak lama, Veron duduk di sebelahnya dengan canggung.


Duduk berdua sama-sama larut dalam keheningan yang yang baru pertama kali mereka rasakan. Perasaan gemuruh yang hanya bisa mereka utarakan dalam kebisuan.


Sesampai makanan mereka, Zello langsung menyantapnya. "Kamu hanya pesan satu," ucap Zello.


"Iya, habiskan! Aku sudah kenyang," sahut Veron pelan.


Aktivitas mulut Zello terhenti sesaat mendengar ucapan Veron. Biasanya mereka akan menghabiskan satu porsi bersama dengan manis.


"Minum!" pinta Zello. Dan langsung dapat sodoran minum dari Veron.


Zello menaruh makanannya, dan segera berdiri untuk beranjak.


"Zello, makananmu belum habis," ucap Veron.


"Aku sudah kenyang. Aku mau istirahat dulu," sahut Zello datar. Dan langsung melanjutkan langkahnya.


Veron yang tinggal sendirian di sana menghela nafas panjang. Veron menyemangati diri sendiri, bahwa dirinya mampu dan lambat laun Zello akan kembali seperti dulu, bersikap manis seperlunya ke dirinya.


Di lain sisi, Zello yang sudah berada di kamar nya langsung terbaring dengan mata terpejam, meski begitu pikirannya tidak bisa untuk diam begitu saja. Apa yang ia lakukan sekarang? Terlebih keluarganya sudah sangat menyayangi Veron. Dan hatinya? Hatinya berdenyut sakit mengingat ucapan Veron tadi. Tapi bayangan senyum Veron dan sikap manjanya menutup rasa sakit itu. Terlebih baginya, dari awal pernikahan mereka bukanlah suatu permainan. Perjanjian itu juga tidak pernah ada. Dirinya tidak mungkin menyerah begitu saja bukan?


***


(Malam Hari)


Setelah makan malam, selayaknya teman biasa. Mereka langsung masuk kamarnya masing-masing. Veron yang berada dalam kamar dalam suasana gundah, berbeda dengan Zello yang menyibukkan dirinya dengan laptop yang tengah ia pangku.


Malam yang semakin larut, sudah berhasil membawa Veron ke dunia mimpi. Sementara Zello baru saja menyelseikan pekerjaannya.


Seakan kembali ke perjuangan awal, Zello menuju ke kamar Veron dengan langkah pelan. Karena Zello merasa, dirinya akan dapat penolakan bila Veron menyadari kehadirannya.


Sesampai depan kamar Veron, Zello juga menukikkan handle pintu dengan perlahan. Berusaha tidak menimbulkan suara kuncian hendle, dan setelah sekian mencoba membuka perlahan, namun pintu Veron tidak bisa ia buka. Bahkan, dirinya sudah menambah tekanan di handle itu namun hasilnya sama.

__ADS_1


Tangan Zello mengepal erat dapat penolakan sejauh ini. Berdiri di depan kamar Veron dengan perasaan gemuruh, dan nggak lama meninggalkan kamar Veron dengan hati yang berdenyut nyeri.


__ADS_2