Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Salah Membawa Perempuan


__ADS_3

Pria yang masih menyandang suami Veron itu berdiri dengan tangan terkepal. Rahangnya mengeras. Menatap penuh kecewa ke Veron. Bagaimana tidak, di nomor yang berhasil Zico retas menunjukkan kalau mereka dulu tidak hanya bos dan bawahan, tapi juga partner ***. Siapa yang tidak sakit melihat melihat istrinya demikian.


Dengan langkah lebar dan tatapan nyalang, Zello sudah berada di depan Veron. Matanya memindai seluruh yang ada di depannya. Mereka yang saling berdekatan dan tangan Dave yang merangkul bahu Veron.


Zello dengan paksa menarik tangan Veron, membawa jauh dari Dave.


"Zello!" pekik Dave.


Suara yang tak digubris oleh Zello dan Veron sendiri. Veron tergagap melihat wajah Zello. Veron paham apa yang dirasakan Zello. Pasti Zello sudah salah paham. Tapi apa yang harus ia jelaskan?!


"Aku hanya akan memohon satu kali darimu. Dan aku tidak akan mengulangi lagi."


Veron menelan salivanya, dadanya berdegup kencang. Rasa takut tapi juga Rindu. Rindu, sangat rindu, terlebih saat melihat mata Zello. Matanya yang tajam tapi terlihat menghiba di dalamnya.


"Pulanglah!" ucap Zello.


Mata Veron memerah mendengar permohonan Zello, rasa haru dan bahagia. Tapi nyatanya dirinya tidak bisa.


Veron menggigit bibir bawahnya, menggeleng lemah.


"Katakan dengan benar!" Zello mencengkeram bahu Veron.


"Aku nggak mau pulang, Zello. Aku lelah."


Tangan Zello mengendur, matanya menatap benci dan kecewa.


"Kamu tidak sanggup karena sikap kakek? Tapi kamu sanggup untuk kembali ke Dave. Apa kamu ingin kembali ke jatidiri kamu? Hah?" cibir Zello.


"Terserah Zello. Anggap saja pemikiranmu itu benar adanya." Veron melangkah keluar restoran.


Zello membeku di tempatnya.


Dia begitu pintar mencuri hati, tapi juga pintar membuangnya.


****


"Veron....!" Dave dengan cepat mencekal tangan Veron.


"Lepaskan!!" tepis Veron kasar. Mata Veron memerah, marah dan benci. Marah dan benci ke Dave.


'Ini semua karena kamu, Dave. Kamu sengaja melakukan semua. Kamu licik, Dave.'


"Veron hai," ucap Dave menghadang Veron di depannya.


"Kamu pergi bersamaku, jadi harus pulang bersamaku juga. Ku antar ya!"


"Terserah!" teriak pasrah Veron. Dave tidak pernah mau dapat penolakan. Menolak Dave hanya akan membuat diri Veron tambah lelah.


"Ok, ayo!"


***


"Ini, kost-kostan kamu?" tanya Dave.


"Iya."


'Jangan pura-pura tak tahu kamu, Dave'


"Oya, Dave. Kamu kan yang mengirim foto ke rumah?"


"Foto apa? Sumpah, aku tidak paham apa yang kamu ucapkan."


Veron tak berucap, hanya matanya menatap benci ke Dave.


"Jangan seperti itu. Oya, kalau kamu butuh bantuan hubungi aku saja. Oke!"


Veron mengangguk, meng-iyakan ucapan Dave itu jauh lebih bagus.

__ADS_1


****


"Kebakaran ..... kebakaran...."


Ahhh, dengan nafas tersengal karena sesak Veron terbangun dari tidur.


"Kebakaran.... kebakaran ...."


Dok dok dok. Veron terlonjak. Ketukan keras di pintunya membuat dirinya sadar kalau yang di dengarnya bukan mimpi.


Ceklek. Dengan sigap Veron membuka pintu, matanya tertuju sekilas ke atas plafon, kost-kostan yang baru saja di tempati belum genap 24 jam mengeluarkan asap dari celah plafon.


Dengan sedikit pucat Veron keluar, mengamati dari luar yang ternyata sudah ramai. Asap mengepul dari atas genting yang baru saja Veron huni.


"Dompetku," pekik Veron.


"Mbak, jangan!" baru Veron melangkahkan kaki ingin masuk mengambil dompet tangannya dicekal oleh penghuni kost-kostan lain.


"Bahaya."


"Tapi dompetku di dalam." Teriak Veron.


"Biar saya ambilkan." Pria asing tadi langsung masuk tanpa menunggu jawaban Veron. Sudah sekian menit orang tadi tak kunjung keluar. Sementara asap sudah masuk ke ruangan kostan.


Setelah sekian lama, dengan nafas tersengal pria tadi menemui Veron.


"Mana dompetku?" todong Veron langsung.


"Dih sudah ditolongin, yang ditanyain dompetnya dulu." Cibir yang lain.


"Mbak, maaf nggak ketemu."


"Kok bisa?!" bukan apa-apa, Veron tak ada pegangan lain selain uang yang ada di dompetnya. Bahkan, ponselnya saja dia sekarang tidak punya.


"Sudah mbak, nanti bisa dicari lagi. Sekarang kita menjauh, apinya sudah gede. Sudah panas ihh." Ujarnya dengan tangan menarik lengan Veron. Dengan terpaksa Veron ikut pria tadi.


Veron menatap cewek tomboy yang sedari tadi mengomel. "Itu kecelakaan, bukan dariku. Kebukti kan dari plafon, pasti konsleting listrik," ujar Veron.


"Apapun itu bantuin gotong air."


"Iya iya. Kamu sedari tadi nyolot terus. Ngga ngangkat air," gumam Veron.


Berbekal dua ember, Veron ikut mengambil air untuk meminimalisir kebakaran supaya tidak merembet.


"Sudah, Bos Dave."


Suara sayup-sayup berhasil menghentikan langkah Veron. Dirinya berhenti, mencari sumber suara sayupan itu.


"Sudah, Bos. Doni sudah mengamankan dompet Veron. Jadi Veron tidak punya apa-apa."


"Nggak ada ponsel Bos. Hanya dompet saja."


Ah, pria tadi menghela nafas kesal.


"Tapi saya pastikan Veron juga tidak bawa ponsel saat keluar kostan. Jadi aman buat Bos."


Dada Veron naik turun karena emosi, Veron berdiri tidak jauh darinya yang hanya terhalang pintu kostan, jelas bisa mendengar suara itu.


Veron menaruh kedua embernya asal, perlahan pergi dari sana. Berusaha keluar dari kost-kostan sebelum Dave menemukannya lagi. Membelah kerumunan penonton api dadakan.


Ah, 'Dave?'


"Veron."


"Dave." Veron berhambur di pelukan Dave. Veron Melirik ke arah ponsel yang tengah di pegangnya.


"Kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya."


"Syukurlah!"


"Kamu kenapa bisa ada disini, Dave?"


"Aku tidak bisa tenang membiarkan kamu hidup sendirian di luar. Aku sengaja menyuruh anak buahku untuk menjagamu dan karena kejadian ini dia langsung menghubungiku."


"Benarkah? Lalu kenapa dia tidak menolongku? Malah terus bersembunyi."


"Ah, entahlah. Akan kuberi dia pelajaran nanti," ucap Dave.


Veron melepaskan pelukannya. Menatap mata licik Dave.


"Kenapa?"


"Aku ....tidak punya duit. Aku pinjam ponselmu ya. Ponselku terjebak di sana. Aku ingin pinjam Anita duit.""


"Astaga, Veron. Kamu bicara apa? Aku akan memberikan berapa pun yang kamu minta."


"Tapi, aku tidak bisa mau bekerja seperti dulu lagi Dave."


"Tidak Veron, tidak."


"Sungguh?"


"Iya." Dave menatap dalam Veron. Mengulas senyum tipis yang sangat manis.


"Mau sarapan atau mau kemana dulu?" tawar Dave.


"Boleh, tapi di rumah mu saja. Aku masih tegang."


"Ah, baiklah ayo!"


Dave merangkul kepala Veron menenggelamkan di dadanya. Menuntun Veron dengan cara hangat.


****


Di kediaman Hanif, di jam berbeda.


"Kenapa dia pergi?! Aku kecewa bukan berarti tidak bisa memaafkan."


Zello diam, hatinya berdenyut sakit mengingat Veron.


"Zello, suruh dia pulang! Dia akan senang saat kamu menjemputnya."


Zello masih membisu, tapi pikirannya hanyut saat Hanif demikian. Andai, Zello mengatasnamakan Hanif, kemungkinan Veron mau kembali. Tapi, apa pantas Veron untuk kembali. Nyatanya Veron memilih untuk kembali ke Dave.


"Tidak perlu, Kek. Dia sudah nyaman di tempatnya yang sekarang. Sudah kembali ke habitatnya."


"Maksudmu?"


"Maaf Tuan, ponsel Anda bunyi."


Beni menyodorkan ponsel yang terus berada di sakunya.


Semalam Hanif menyuruh orang untuk mencari keberadaan Veron. Dan panggilan di ponselnya dari orang suruhannya.


"Iya." Antusias Hanif menerima panggilan, meski suaranya masih sedikit lemah.


"Tuan, saya akan mengirim foto tentang Nona Lilie."


Tanpa mematikan sambungan telponnya, Hanif membuka aplikasi berlogo hijau. Melihat pesan beruntun yang masuk ke logo hijaunya.


[Veron yang dipelukan Dave, mereka yang terlihat bercengkerama mesra, masuk ke mobil bersama, dan masih banyak foto lain yang masuk ke pesannya. Yang terakhir foto mereka berdua memasuki rumah minimalis modern, rumah Dave.]


"Maaf, Kek. Zello salah membawa perempuan ke rumah ini," ucap Zello. Mata Zello memanas melihat foto di ponsel Hanif.

__ADS_1


__ADS_2