
[Pukul 04.30]
"Astaga Nona." Pekik Dahlia yang mendapat kiriman foto Veron. Awalnya Dahlia ingin mengecek ponselnya karena ingat pesan nonanya semalam. Apakah nonanya akan berterima kasih atau malah bertambah marah dengan menuruti sarannya.
Dahlia melihat waktu yang tertera pesan yang ia terima, pukul 04.30. Dan sekarang pukul 04.30.
Sudah di pastikan Veron terus menatap layar ponselnya menunggu balasan dari Dahlia. Tapi apa yang sudah Dahlia lakukan. Dahlia malah tidur nyenyak di kasur sementara nonanya tidur di atas dudukan closet.
Bagaimana tidak syok dengan kiriman foto terakhir. Veron duduk di atas kloset dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan. Benar-benar seperti penampakan.
"Anda benar-benar keras kepala." Dahlia dengan cepat turun dari kasur dan membasuh wajahnya.
"Matilah aku," gumam Dahlia lagi.
***
"Dia masih marah padaku atau memang belum bangun." Zello mematikan kompornya, sayur sopnya sudah siap untuk di hidangkan. Belum munculnya Veron, dirinya berinisiatif membuat teh untuk mereka berdua.
Teh sudah tersaji sejak lima belas menit di atas meja. Namun Veron belum juga muncul membuatnya penasaran dan beranjak menuju kamarnya.
Tok tok. Zello mengetuknya berulang, namun tak ada sautan dari dalam kamar. Diraihnya handle dan langsung terbuka dengan mudahnya.
"Lie ... " Zello melongokkan kepalanya ke kamar. Disapunya kamar Veron dengan matanya, yang tidak nampak Veron sama sekali. "Sedang di kamar mandi," terka Zello. Tahu Veron di kamar mandi dirinya keluar dari kamar Veron.
Zello duduk di meja makan sembari menikmati tehnya, dan melihat kepulan asap dari sayur yang berada di atas meja dengan pikiran menjalar kemana-mana.
Hm?
Pikiran Zello buyar adanya alarm tamu. Siapa? Dahlia jam segini? Atau ... Rossa?
Zello menerka dengan cemas. "Tapi andai Rossa mungkin akan lebih bagus, karena semakin ia cepat datang berarti akan semakin bagus."
Zello terpaksa beranjak dari duduknya dan melihat tamu pagi-pagi bukanya.
'Dahlia? Sepagi ini?'
Sudah berdiri Dahlia dengan kantong di tangannya.
"Tuan."
"Tumben pagi sekali." Zello beranjak dari daun pintu yang kemudian di susul Dahlia masuk ke apartemen.
"Iya. Saya di suruh nona, Tuan. Saya permisi buat masuk ke kamarnya." Dahlia membungkuk sedikit dan langsung jalan cepat ke kamar Veron.
"Memang kenapa dengan Lilie?" tanya Zello. Dirinya ikut melangkah lebar menuju kamar Veron.
Dengan cepat Dahlia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Nona ...!" Dahlia memanggil tepat di depan kamar mandinya.
"Kenapa Lilie? Apa dia pingsan di kamar mandi?"
"Eh Tuan." Dahlia terkejut dengan adanya Zello yang sudah ada di belakangnya.
"Ada apa dengan Lilie?" tanya Zello lagi.
"Iya sebentar." Suara frustasi Veron dari kamar mandi.
"Tuan. Ini urusan perempuan. Nona Lilie hanya sakit mulas-mulas saja. Mangkanya dia mengurung dirinya di toilet," jelas Dahlia.
"Kenapa dia tidak memberitahuku. Aku bisa membelikan obat di apotek buatnya." Zello berucap kesal.
"Itu .... "
Ceklek. "Dahlia." Veron membuka pintu sedikit dengan tangan terulur keluar. Dahlia yang paham maksud nonanya langsung memberikan kantong ajaibnya ke Veron. Sementara Zello yang melihat hanya mengerutkan kening karena tidak paham.
__ADS_1
Ceklek. Pintu kamar mandi terkunci lagi dari dalam.
"Mm ... Tuan. Lebih baik kita menunggu di luar," ucap Dahlia. Sementara Zello enggan menjawab, malahan menatap tidak suka ke Dahlia.
"Kamu keluarlah. Aku ingin bicara serius dengan istriku."
"Tapi Tuan."
Zello tidak menjawab, yang artian tidak mau dibantah.
"Baik Tuan." Dahlia keluar kamar Veron dan langsung mengirim pesan ke Veron. "Semoga saja nona membacanya dan tidak akan menyalahkanku lagi."
Di lain sisi, Veron yang sudah selesai dengan urusannya langsung menuju wastafel untuk menggosok giginya sekalian membasuh wajahnya, mengingat sekarang sudah sangat siang. Veron menatap bayangannya di cermin yang terlihat memprihatinkan. Veron menyentuh dadanya, " aku kapok."
Dengan segera Veron keluar dari kamar mandi, rasanya ingin cepat-cepat istirahat karena tidak tidur semalaman.
Tapi dia harus membereskan Dahlia dulu. Benak Veron.
Ceklek.
"Zello." Veron benar-benar tidak menyangka dengan adanya Zello di kamarnya. Dilihatnya Zello yang tengah mengamati pergerakannya , matanya tertuju dengan perut yang tengah Veron sentuh.
"Masih sakit?" tanya Zello.
"Apa?" sahut dungu Veron.
"Kata Dahlia kamu sakit perut."
"Oh iya. Tapi sudah mendingan. Mana Dahlia? Aku ingin bicara sebentar."
"Ada di luar."
"Oh ...." Veron paham dan langsung melangkah pelan keluar dari kamarnya mencari Dahlia. Dahlia langsung dapat Veron temukan tepat di depan pintunya.
"Dahlia," ucap Veron. Sementara Dahlia sedikit tergugup dan juga menelan salivanya.
"Eng ... saya cuma takut Nona kenapa-napa. Serius Non." Dahlia sedikit bergetar, melihat wajah marah Veron.
"Dahlia!" ucap Veron geram. Matanya menatap tajam tidak suka dengan Dahlia.
"Iya, Nona." Lirih Dahlia. wajahnya sedikit menunjuk karena takut. Tidak menyangka Nonanya bisa semenakutkan itu.
"Aku liburkan kamu, sampai waktu yang kutentukan." Veron menatap malas ke Dahlia. Benar-benar marah karena tidak bisa diandalkan saat dirinya butuh pertolongan darinya.
"Nona.... " ucap pelan sesal Dahlia.
"Tunggu apalagi?! Aku sedang ingin bermesraan dengan suamiku. Bukannya itu maumu juga?!" Hardik Veron.
"Ah iya. Saya libur mulai hari ini. Maaf untuk semalam Nona. Huhu.... " Dahlia terisak dengan tangan menyapu air matanya. Berjalan perlahan keluar dari apartemen.
"Lilie! Sebenarnya ada apa?" tanya Zello.
"Bukan apa-apa Zello."
"Wajahmu pucat."
"Iya, tapi sekarang sudah mendingan."
"Sarapan dulu ya." Tawar Zello.
Veron terus melangkahkan kakinya ke kamar, perutnya yang nyeri dan tidak tidurnya semalaman membuat dia ingin segera istirahat.
"Lilie." Panggil Zello.
"Please Zello. Aku ingin tidur," ucap kesal Veron.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku akan bangunkan kamu." Zello dengan kecewa menuju dapurnya. Teh mereka juga sudah dingin.
Zello duduk di kursi itu dalam keadaan lama. Tahu sayurnya juga sudah dingin, ia segera menghangatkannya.
Semua yang di meja sudah rapi, piring dan dua mangkok untuk mereka berdua. Setelah selesai menyiapkannya, Zello masuk ke kamar Veron lagi. Veron tidur sangat pulas, tapi dia bertekad untuk membangunkannya supaya Veron bisa cepat sembuh.
"Lie." Zello menusuk-nusuk pipi Veron berulang. Dan tidak seperti biasanya, Veron langsung terbangun. Membuat yakin kalau Veron memang lagi kurang sehat.
Disambutnya Veron dengan senyum manis di bibirnya. "Ayo sarapan!"
Hm? "Zello aku belum lapar. Aku masih ingin tidur." Meski tidak tidur dengan pulas, tapi dia memang lagi ingin bermalas-malasan. Perutnya masih terasa sangat nyeri.
"Sarapan dulu nanti tidur lagi."
Veron menatap Zello dalam, "bukankah kamu ingin aku menolak. Kamu malas kan dengan aku yang hanya bilang iya-iya terus. Sekarang aku bilang TIDAK. Aku belum lapar." Tekan Veron. Bahkan Veron langsung meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku sudah minta maaf soal itu," ucap Zello pelan. "Kesalahanku memang besar, wajar kalau kamu masih marah. Aku harap kita bisa seperti kemarin-kemarin. Meskipun tidak seperti -suami istri sungguhan, paling tidak kita bisa berteman," sambungnya.
"Karena ucapanku kamu sampai menyakiti dirimu sendiri. Menahan sakit sampai asistenmu itu datang. Sampai tidak sudi meminta pertolongan kepada diriku. Sejak kapan kamu menahan sakit itu sehingga kamu begitu marah dengan Dahlia?"
"Yaudah, gampang. Nanti tinggal delevery kalau kamu ingin makan."
Zello keluar dari kamar Veron, melangkahkan kaki pelan ke meja makan. Nafsu makannya sudah hilang entah kemana. Ditatapnya sayur itu, dan mengambil dengan kedua tangan. Menuang kuah sop itu di wastafel. Kepulan asab naik karena masih panasnya kuah.
"Zello." Pekik kecil Veron.
Veron sudah berdiri tidak jauh dibelakang Zello. Sebenarnya, dirinya merasa bersalah karena sudah membentak Zello. Dan juga ucapan Zello yang penuh penyesalan membuat marahnya berkurang.Terlebih, dirinya senang karena beberapa hari ini Zello memasak untuk dirinya.
Veron hanya bisa melihat sayur itu yang masih menggantung karena di pegang oleh Zello.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Veron cemas.
"Sayur tidak akan enak bila harus dipanasi dua kali. Nanti kita bisa mendapatkan yang baru," jelas Zello.
Zello menatap prihatin sayurannya itu. Dia memang bisa masak, tetapi jarang memasak. Keseringan sarapan di resto sebelum masuk ke kantor. Saat dia memasak untuk membuat sarapan dan nyatanya nggak ada yang makan itu terasa menyedihkan, terlebih Veron juga selalu mengacuhkan. Membuat dirinya merasa kesal namun tidak bertenaga dan melampiaskan ke sayuran itu sendiri.
Dengan membuang masakannya itu dia tidak bisa melihat lagi. Kesedihan karena tidak di hargainya masakan itu bisa ia alihkan sekaligus lupakan.
"Taruhlah di meja! Ayo sarapan." Veron merasa beruntung ke dapur tepat pada waktunya. Sangat tidak menghargai Tuhan bila membuang-buang makanan. Apalagi makanan utuh seperti itu.
"Apa kamu yakin?" tanya Zello kemudian.
"Ayo. Sebelum aku berubah pikiran." Veron menuju meja makan dan langsung duduk sembari melihat Zello yang ikut bergabung dan mengisi mangkok-mangkuk itu dengan sayur sop dan yang kemudian Zello juga beralih menyiapkan nasi.
"Tunggu Zello! Kenapa semua kamu yang menyiapkan?" Veron merasa tidak enak hati.
Zello terkekeh dengan ucapan Veron. Saat semua sudah rapi bisa-bisanya Veron baru menyadarinya.
"Semua sudah rapi, mau di apakan lagi?" ucap Zello, senyum tipis terbit di bibirnya, merasa kesal Veron sudah mulai mencair.
"Ayo makan!"
"Iya." Veron meraih nasinya, dan memulai menyantapnya bersama sayur. "Enak."
"Iya, sayuran kuah memang enak saat hangat seperti ini," ucap Zello. "Lie. Aku suapi ya?"
Hah? Veron tercengang dengan tawaran Zello. Belum menjawab nasinya sudah berpindah ke tangan Zello.
"Gantian, lagian kamu juga lagi sakit." Zello menatap dalam Veron yang masih terkejut.
'Kamu yang sakit. Sakit jiwa.' (batin Veron).
'Untuk apa menyuapiku? Hah, aku baru ingat, kan memang Zello suka modus.'
'Dimodusin? Nggak rugi juga sih. Mm ... seperti ucapannya tadi. Walau tidak bisa seperti suami istri, paling tidak bisa seperti teman.'
__ADS_1
BERTEMAN KEMBALI? Not bad.
"Yaudah." Veron tersenyum manis mengikuti kemauan Zello.