
Abi Dahlia menepuk pundak Zico. Senyum terbit dari bibir Zico, gugupnya memudar, terlebih di belakang Abi muncul Dahlia dengan senyum malu-malu. Membuat gugup Zico lenyap, yang ada rasa gemas ke Dahlia.
"Hem. Makasih Bi."
Tidak hanya mendengar suara adzan Zico. Bahkan mereka satu barisan saat melakukan sholat maghrib di musholla yang sama. Wajah asing dan tampan Zico yang tidak pernah kelihatan sebelumnya memang sempat mencuri perhatian orang-orang lain yang ada di musholla, termasuk Abi Dahlia. Terlebih sebelum sholat, Zicolah yang mengumandangkan adzan. Tentunya Abi Dahlia sangat mengingat wajah Zico.
****
Untungnya Zello membawa bahan makanan juga. Selain antusias menyambut tahun baru, kerabat Dahlia juga antusias menyambut calon keluarga mereka, menjadikan tempat Dahlia semakin ramai, karena kerabat yang hendak malam tahun baruan diluar pun jadi belok ke rumah Dahlia.
Sesuai tradisi di rumah Dahlia, tahun baruan mereka cukup bakar-bakar alias makan-makan dan kumpul bersma keluarga besar. Tanpa ada kembang api yang menggelegar. Karena Abi-Umi memang tidak suka dengan tradisi pesta kembang api.
****
-Beberapa minggu demikian- Di kediaman Hanif-
"Apa?" Ayunan kaki Zello terhenti saat dirinya menerima panggilan di ponselnya. Zello dan Zico baru saja pulang dari perusahaan dan mereka baru saja menginjak lantai teras.
"Ada apa, Bos?"
"Dave.... Dave meninggal."
"Apa?" Anita yang memang kebetulan duduk di ruang tamu tidak sengaja mendengar ucapan Zello. Karena Anita duduk di kursi tepat di samping pintu masuk.
Seakan tidak puas dengan pendengarannya, Anita keluar dimana Zello dan Zico tengah berdiri di teras. Zello dan Zico saling pandang sesaat, yang kemudian menatap Anita.
"Dave.... meninggal," ucap Zico akhirnya.
Lemas sudah tubuh Anita. Dirinya sangat berharap akan kesembuhan Dave. Tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain. Air matanya luruh dengan cepat ke pipi. Sudah tidak ada harapan lagi untuk dirinya.
Setelah kematian Dave, Anita selalu berusaha untuk mengikhlaskan, meski sulit, hingga dirinya seakan acuh dengan kehamilannya. Untung Veron selalu ada untuk dirinya. Hingga obat dan vitamin tidak pernah absen untuk dikonsumsi oleh Anita. Dan untungnya kehamilan Anita sudah trimester ke 3, yang artinya kandungannya sudah tidak rentan lagi untuk mengalami insiden yang tidak di inginkan.
Berjalannya hari, kandungan Anita yang sudah menginjak 9 bulan lebih membuat gerakan di perutnya sangat terasa sampai meninggalkan rasa ngilu saat gerakan dalam perutnya berlangsung. Saat itu pula Anita menyadari, betapa lemahnya dia yang hampir frustrasi karena kematian Dave. Merasa buruk jadi seorang ibu. Padahal anak yang ada dalam kandungan sangatlah menggemaskan.
'Belum lahir saja sudah sangat menggemaskan.' Batin Anita saat gerakan kencang di perutnya berlangsung.
Beberapa hari kemudian, Anita yang terus mengerang kesakitan di ruang bersalinnya terus mencekram tangan Veron. Semakin bertambah pembukaan jalan lahirnya semakin kencang erangan Anita. Tidak hanya Anita yang bercucuran keringat. Veron pun juga demikian. Buliran keringat memenuhi dahinya. Veron kemarin melahirkan secara caecar, saat melihat ruangan Anita yang demikian dirinya tak hanya panik, tapi juga takut.
"Kamu pasti bisa Nit." Ucap Veron menenangkan. Raungan kencang Anita membuat dokter dan perawat lainnya segera waspada dan bersiap.
"Sudah waktunya," ujar Dokter setelah memeriksa keadaan Anita.
"Kalau Anda tidak kuat Anda boleh keluar Nyonya," ucap Dokter ke Veron.
__ADS_1
Di tengah rasa sakitnya Anita menggeleng. "Jangan tinggalin aku Lie!"
"Iya, aku disini. Aku disini. Dokter, izinkan saya disini"
Dokter mengangguk memperbolehkan. Semua yang bertugas sudah bersiap di posisinya dan dokter mulai memberikan arahan.
"Hitungan ketiga mengejan Nyonya. 1 2 3! "
"Aaaa.... "
"Iya cukup. Sekarang lagi!"
"Aaaa.... "
"Iya bagus. Lagi!"
"Aaaaa.... "
"Ayo, sudah kelihatan kepalanya. Sekali lagi Nyonya."
"Aaaa...... "
Oeekkk Oeekkk...
****
Mereka tengah duduk di ruang keluarga. Dan baru saja selesai makan malam. Kini mereka tengah dalam keadaan bersantai. Kehadiran baby A tentunya menambah ramai di kediaman Hanif. Terlebih jarak umur Baby Re dengan Baby A hanya selisih 5 bulan membuat benar-benar suasana ramai kala mereka menangis bersamaan.
Baby Re tengah dalam timangan ayahnya. Sementara Veron duduk berdampingan dengan Anita yang tengah menimang Baby A.
"Lie, aku sudah putuskan. Lusa aku akan menyusul mama di singapura."
Ucapan Anita berhasil menyita semua perhatian yang ada di sana. Veron terdiam, seakan menatap Anita tidak percaya.
"Berjanjilah Lie, kamu akan selalu menyayanginya. Seperti janjimu."
Lagi-lagi Veron terdiam, matanya perlahan menatap sayu pada bayi mungil yang ada dalam dekapan Anita.
"Lie, katakan dengan jujur! Apa aku terlihat buruk di matamu!"
Veron menggeleng lemah dengan senyum paksa. "Kamu melakukan untuk kebaikannya. Kamu pun pasti berat untuk meninggalkannya. Anita, aku akan menjaga, membesarkan, dan membahagiakannya. Dan.... kamu boleh menengoknya kapan saja."
Andai waktu bisa diulang, rasanya Veron ingin berdoa setulus hati untuk kesembuhan Dave. Akan mengizinkan Anita untuk bersama Dave. Walau Veron sendiri yang menawarkan untuk menjaga anak Anita. Tapi entah kenapa diri Veron merasa pilu dan iba melihat baby A sekarang. Dia sudah jauh dari ayahnya, dan sekarang harus jauh juga dari ibunya.
__ADS_1
'Tenang Sayang. Kamu tidak akan kekurangan kasih sayang orangtua.' Tangan Veron terulur menyentuh pipi Baby A sedangkan matanya tertuju dengan suaminya yang tidak jauh darinya. Dilihatnya Zello yang mengangguk kecil dengan seulas senyum.
Tiba waktunya, Anita akan pergi meninggalkan kediaman Hanif. Anita memilih berangkat sendiri ke bandara.
"Kamu yakin nggak mau diantar?" tanya Veron.
"Nggak perlu, Lie. Terima kasih buat semuanya Lie."
Anita menatap dalam bayi yang ada dalam timangan Veron, bayi yang sudah susah payah ia lahirkan. Matanya yang sudah memerah perlahan mengeluarkan air mata.
Datangnya taxy membuat semua orang rumah menuju luar kediaman Hanif. Melepas Anita dengan mengantarkan sampai masuk ke taxy. Pelukan dan lambaian perpisahan terus Veron layangkan sampai taxy itu benar-benar hilang dari pandangan. Air matanya luruh.
****
Malam hari, ini adalah pertama kali Baby A berada di kamar pasutri Zello dan Veron. Baby Re memang belum di taruh di kamar secara terpisah. Karena Veron yang kekeh tidak mau menggunakan jasa baby sitter. Sehingga bila Baby Re menangis, mereka tidak bersusah payah untuk menuju kamar lain. Sekarang baby A yang ikut satu kamar bersama mereka membuat kamar pasutri itu benar-benar merasa penuh karena ada dua box baby di kamar mereka.
Tengah malam saat mereka tengah terlelap, tangis Baby Re langsung membangunkan semua yang ada dalam kamar, termasuk baby A. Tangisan Baby Re disusul tangisan Baby A membuat bibir mereka sama-sama tertarik sedikit ke ke atas.
"Yakin ngga mau pakai baby sitter?" ledek Zello yang menggoyangkan box baby A, sementara Veron memilih Baby Re untuk disusui.
Veron kekeh menggelengkan kepala sembari mengulum senyum. Kapan lagi dia menikmati momen ini. Rahimnya sudah diangkat. Sehingga ini adalah momen paling berharga, karena tidak akan kesempatan di lain waktu lagi, moment pertama dan terakhir melihat dan mendapatkan kerepotan dari baby-baby mereka.
Selesai menyusui Veron menaruh Baby Re di box. Bibir Veron mengulum senyum kembali yang sampai senyumnya hilang saat Baby Re kembali menangis, aroma busuk juga tercium oleh hidungnya.
"Hahaha, anak mama poop. Kebiasaan."
Diraihnya Baby Re untuk dibersihkan di kamar mandi. Veron dengan pintar membersihkan pakai air hangat supaya nyaman buat Baby Re karena sudah malam hari.
Baby Re yang sudah bersih dan anteng segera ia taruh dalam box dan rapikan pakaiannya. Sementara Baby A masih saja menangis. Dan Zello terlihat sibuk juga merapikan pakaian Baby A.
"Penuh?" tanya Veron.
"Poop," sahut Zello.
"Poop aja pakai barengan."
Hahaha...
********************End************************
Alhamdulillah end juga. Author merasa jahat, lama ngga nongol sekali nongol malah langsung end. Tapi memang sudah waktunya end kok. Bukan karena sepi komentar atau like hiks. Oya, sekadar cerita saja ya. Niatnya 'Wanita pilihan kekasihku' mau ku bikin sad ending, perkiraanku sih bakal sampai 120an episode. Tapi karena sudah terlalu banyak novel yang sad ending aku jadi belok happy ending.
Kok konfliknya datar banget thor? Memang alurnya begitu ya, Author ngga mau berat2 konfliknya. Takut episodenya terlalu panjang nanti. Yang ada Readers keburu ngantuk.
__ADS_1
Buat readers semua, saya ucapkan terimakasih sebelumnya ya. Terimakasih yang tak terhingga pokoknya. Buat yang sudah kehilangan cemestry karena updatenya ngga teratur bisa baca dari awal ya hehe. Love Toh All