Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Lilie, My Wife


__ADS_3

***


Veron menatap langit-langit kamarnya, bibirnya tak jarang mengulas senyum teringat dengan acara pesta tadi. Tidak ada rasa lelah sama sekali yang ia rasakan di tubuhnya.


"Belum tidur?"


Zello memang memilih menemani para tamu sampai acara selesai. Berbeda dengan Veron yang sudah dua jam yang lalu berada di kamar.


"Belum ngantuk," sahut Veron menatap Zello sekilas.


"Aku mau membersihkan badan dulu," ucap Zello menuju ke kamar mandi.


Ketika Zello tengah di kamar mandi, Veron memilih untuk menarik selimut dan memejamkan matanya sesegera mungkin untuk cepat bisa tidur.


Sudah berbagai posisi tidur Veron coba tapi dirinya tak kunjung tidur.


Tepat Veron dalam posisi tidur membelakangi tempat Zello, pintu kamar mandi terbuka. Veron menutup matanya sempurna, pura-pura terlelap. Bagaimana bisa ia berhadapan dengan Zello sekarang. Terlebih di kamar dan seranjang setelah yang ia lakukan di pesta.


Gerakan di ranjang membuat dada Veron berdegub tak beraturan kembali.


"Kamu sudah tidur?" ucap Zello. "Atau pura-pura tidur?" sambungnya.


Dahi Veron bertaut mendengar pertanyaan konyol Zello. Bisa-bisanya Zello mengucapkan kata itu. Apa itu artinya dirinya sangat terlihat j sedang pura-pura tidur, atau Zello hanya sekedar menebak karena dirinya pernah pura-pura tidur. Veron yang memang berniat untuk tidur jadi semakin sulit untuk tidur.


"Lilie."


Zello menyentuh bahu Veron dengan jarinya, memainkannya di sana yang menjalar sampai punggung. "Lilie." Panggil Zello lagi.


Jemari Zello masih menari-nari di punggung Veron, membuat gambar dan tulisan di sana.


'Lilie, My Wife' tulisan yang bisa Veron baca dari gesekan jari Zello di punggungnya.


'Dasar, laki-laki tidak pernah puas dengan satu wanita'. Batin Veron. 'Dan bodohnya aku terbawa perasaan karena sikap manisnya'.


Zello masih dengan usil memainkan jari telunjuknya, memberi tekanan-tekanan lembut di punggung Veron.


"Zello, kamu mengganggu tidurku." Keluh Veron pelan tanpa pergerakan di tubuhnya.


"Bagaimana aku bisa menganggu tidurmu kalau kamu sebenarnya tidak tidur."


"Aku memang tidak tidur, tapi aku berniat ingin tidur." Veron menoleh sesaat ke Zello dengan wajah kesal.


"Mm ... aku hanya ingin melakukan rutinitasku. Kalau kamu memunggungiku, bagaimana caranya aku bisa mencium keningmu."


Oh. Veron termangu sesaat yang nggak lama ia membalik tubuhnya dan saling berhadapan dengan Zello.


Veron memajukan kepalanya, menyodorkan dahinya ke Zello sementara matanya sudah tertutup sempurna. "Ayo!"


Sudah lumayan lama Veron menyodorkan dahi tapi tidak ada rasa kecupan lembut di dahinya. Padahal hatinya sudah bertabuh dengan riuh menanti rutinitas yang ia mulai sukai.


Tidak kunjung merasakan bibir lembut Zello membuat Veron membuka matanya, dan dilihatnya Zello berwajah gemas dengan menahan tawa.


"Kalau nggak mau ya sudah," ucap Veron kesal dan berniat membalik tubuhnya.


"Sini." Zello menahan tubuh Veron bergerak lebih lanjut, yang membuat posisi tetap bersitatap dengannya.


"Maaf bercanda," ucap Zello kemudian yang kemudian memberikan kecupan lembut di kening Veron. Selesai memberikan kecupan lembut di kening, Zello beralih menatap wajah ayu Veron, mata Veron yang terbuka membuat mereka saling bersitatap dan larut dalam suasana hangat, hawa panas seakan mulai menjalar ke diri mereka.


"Lilie." Ucap Zello pelan. Hawa panas yang tengah dirasakan Veron membuat suara Zello terdengar sangat sensual. Dada Veron membusung dengan sendirinya siap menyambut perlakuan lebih dari Zello.


Mata Veron terpejam saat Zello semakin mengikis jarak wajah mereka.

__ADS_1


"Zello."


Bukk.


Suara tubuh Zello terkapar di ranjang karena dorongan dari Veron yang lumayan kuat.


Zello tergugu di posisinya, seakan baru saja terganggu di saat sedang mimpi indah. Dan masih bisa merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Wajahnya pun merona tidak menyangka mereka berdua akan sejauh ini.


Bibir Zello tersenyum tipis mendapati Veron yang sudah memunggunginya lagi yang ia yakini karena malu.


'Bagaimana cara aku mengatakannya? Cara memulainya? Apa dia akan percaya denganku, sementara aku sudah buruk di matanya'. Zello mengacak rambutnya kesal.


"Lie."


Zello memeluk Veron dari belakang, mengulurkan tangan ke wajahnya. Memberikan sentuhan dengan perlahan dan lembut di setiap bagian wajah Veron, alis, kelopak mata, hidung dan ... bibir.


Veron sekuat tenaga menahan nafas supaya dadanya yang bertalu kencang tidak terbaca oleh Zello. Menggigit bibirnya sendiri merasakan sentuhan jari sensual Zello di wajahnya. Sentuhan dan perasaan yang bersarang di hatinya membuat sentuhan itu terasa asing, sangat indah sangat memabukkan, seakan dirinya terbang melayang ke atas nirwana.


Jemari Veron meremas gaun tidurnya, perasaan indah yang tidak bisa ia singkirkan. Meskipun dirinya hanya istri kontrak, bukan wanitanya yang sesungguhnya.


Di tengah rasa indah Veron menyadari dirinya sudah seperti orang ketiga. Sangat mengagumkan perasaan ini meski jadi orang ketiga.


'Pantas banyak yang rela jadi orang ketiga' batin konyol Veron.


"Zello." Cegah Veron.


Veron merasa sudah sesak dan terpaksa puas, seharusnya ini lebih dari cukup, Veron tidak berani menerima lebih.


"Aku ngantuk," sambung Veron.


"Iya." Ada nada sedikit kecewa dari Zello, namun Zello cukup paham dengan situasi mereka. Tangan Zello beralih ke tangan Veron, menggenggamnya erat.


"Zello ... aku seperti orang ketiga. Bagaimana aku bisa jadi bagian dari pria hidung belang sepertimu."


"Hahaha konyol, tapi aku sudah menduga pemikiranmu." Zello mencium tengkuk Veron.


"Jangan lakukan itu lagi!" Tegas Veron.


"Iya ...."


***


Tidak terasa Veron dan Zello sudah satu minggu berada di Paris. Wajah berbinar-binar selalu terpampang di wajah Veron. Kecuali di malam hari saat bersama Zello di kamar. Wajah Veron yang putih kerap memerah karena ulah jahil Zello yang nggak jarang membuat hatinya menggebu-gebu ataupun menyebalkan. Meski menyebalkannya sifat Zello tetap saja akan menjadi flashback yang manis bagi Veron.


***


Veron yang duduk di ranjang tengah fokus melihat Zello yang nampak serius dengan gadgetnya. Meskipun wajah Zello menandakan raut keseriusan namun wajah Zello tetap terlihat tampan.


Dilihatnya Zello yang tengah jalan hilir mudik di depan Veron seperti setrikaan. Membuat Veron harus tergerak dan menutup mulutnya karena menahan tawa. Veron sendirian juga bingung dengan dirinya, Zello yang uring-uringan malah terlihat sangat menggemaskan.


"Akhirnya kamu angkat juga. Kemana saja kamu," Lantang Zello. Bahkan Veron yang awalnya ingin tertawa jadi diam terheran-heran. Terlebih suara Zello yang menggema di kamar itu, membuat Veron memegang dadanya karena terkejut.


"Kamu benar-benar nggak bisa di andalkan!" Suara Zello lagi yang terdengar nggak hanya keras tapi juga frustrasi.


"Sebenarnya apa saja kerjaan kamu? Baru di tinggal satu minggu kamu sudah berani menggangguku."


'Apa? Mengganggu' Veron membatin heran.


"Damn."


Zello menutup teleponnya dan langsung memijat pelipis dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Kamu di sini?" Sontak Zello.


"Kan, memang aku di sini sedari tadi," ucap Veron hati-hati. Takut kena dampak amarah Zello.


"Aku pikir kamu nggak bisa marah hehe." Sambung Veron.


"Maaf." Sesal Zello, yang kemudian duduk di samping Veron.


"Zello, apa ada masalah?"


"Sedikit."


"Perusahaan?"


"Iya."


"Zello, kamu memarahi yang di sana tapi seperti aku yang sedang di marahi. Kamu membuatku sedikit ... ketakutan."


"Iya, maaf. Aku benar-benar lupa kalau ada kamu di sini."


"Zello, mungkin pijatan di kepala akan mengurangi rasa kesalmu. Apa kamu mau kupijitin." Tawar Veron.


Zello tersenyum tipis dan mengangguk, duduk di bibir ranjang sementara Veron langsung memberikan tekanan dan pijatan lembut di kepalanya.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak, pijitan seorang istri memang selalu enak."


"Mulai membualnya."


"Aku serius."


"Iya, aku percaya. Pijitanku memang tidak ada yang bisa menandingi."


"Lie, karena urusan pekerjaan. Kita tidak jadi terbang ke Itali hari ini."


"Oh, tidak masalah. Lagian Itali itu kan keinginanmu. Keinginanku di sini bertemu mama papa."


"Menyebalkan." Gerutu Zello.


"Apa yang kamu bicarakan? Kamu belum puas berlibur? Kan bisa next time. Biasanya kamu gila kerja, kenapa harus marah-marah seperti itu."


Zello mendesah kesal, kecewa pada diri sendiri dan rencana yang sudah ia susun tidak bisa terlaksana.


Deringan gadget Zello, memecah suasana hening sesaat mereka. Terlihat Zello menatap layar gadgetnya dan langsung menerima panggilan itu.


"Darl!" Suara Rossa.


"Iya."


"Kenapa terdengar lemah sekali." Suara Rossa prihatin.


"Aku tidak jadi ke Itali."


"Kenapa?"


"Masalah perusahaan."


Tidak ada yang bisa Veron lakukan kecuali jadi pendengar di tengah aktivitas tangannya itu. Menunduk sembari menggigit bibirnya sendiri, merasakan tidak nyaman yang menyeruak dalam dadanya. Mendadak Veron menjadi cengeng, di sudut matanya mengalir buliran air.


***

__ADS_1


__ADS_2