Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Licik


__ADS_3

Zello melepaskan cekalannya dengan kasar. Matanya tajam bak elang. Dadanya naik turun karena emosi.


Dengan hati yang bergemuruh Zello memainkan mousenya.


Beg. Zello menghentakkan kasar mouse yang dia pegang.


"Zico, sini!!" hardik Zello.


Zico melangkahkan kaki, dirinya menelan salivanya dengan berat melihat betapa emosi bosnya.


"Jelaskan! Apa yang kamu ketahui dari ini?!" nada bicara Zello yang pelan tapi begitu tajam. Membuat Zico tak berkutik. Mungkin ini saatnya dia berbicara apa yang dia ketahui.


"Ini nomor Zein. Bermula aku meretas nomor .... nona Lilie tidak dapat apa-apa. Begitu juga dengan nomor Rossa yang berkaitan langsung dengannya. Maka dari itu aku mencoba meretas nomor Zein. Mengingat Zein menyimpan foto Lilie."


Tak ada yang keluar sama sekali dari bibir Zello. Matanya tak berkedip. Yang ada hanya sorot tajam penuh emosi melihat layar yang ads di depannya.


"Dan, ternyata itu hasilnya."


Dug. Zello membanting mousenya. Berdiri. Menarik lengan Zico, memaksanya berdiri tepat depan laptopnya.


"Apa yang tidak aku ketahui Zico dan apa saja yang kamu tutupi dariku, hah??"


"Aku tidak menutupi darimu. Aku hanya memerlukan bukti untuk membuatmu percaya nanti."


Zico menatap iba sekilas ke Zello. Lalu tangannya beralih membuka pesan Mr D disana. "Aku juga menemukan kontak Mr. D di kontak nomor Lilie. Ini nomor Dave. Kamu..."


Zello langsung membaca pesan beruntun Zein-Dave itu. Puas dengan sudah membaca Zello memejamkan matanya. Sakit. Satu kata mewakilkan perasaannya ini.


"Bagaimana bisa, Zico! Kamu sendiri yang mencari informasi tentang Lilie."


"Maaf, Zello. Aku benar-benar kecolongan. Mungkin karena... Dave membantu Lilie. Lilie berlindung ke Dave."


Tangan Zello mengepal. Pikirannya mencerna ucapan Dave. Terdiam mempercayai ucapan pria yang sudah lama menjadi asisten sekaligus temannya itu.


"Lalu, atas dasar apa kamu meretas nomor Lilie? Tidak mungkin tanpa alasan, kan?"


"Karena ucapan Rossa. Dari awal aku tidak suka Rossa. Aku merasa Rossa dengan membawa waittres club sudahlah buruk. Tapi aku tidak menyangka, Rossa membawa wanita malam. Dan... juga karena foto Zein dan Lilie yang Rossa kirim.


"Apa? Dan kenapa kamu tidak memberitahu ku?!" lantang Zello.


"Mm-"


"Mana fotonya!!"


"Sudah .... saya hapus Bos."


"Oh, di ponsel. Sini ponsel kamu!"


"Bos."


Zello mengadahkan tangan.


"Fotonya-"


"ZICO!!!"


Zico membuang nafas kasar, pasrah apa yang bakal terjadi. Sebenarnya foto itu belum dia hapus.


Dengan cekatan Zello mengobrak abrik galeri yang berada di ponsel Zico. Hatinya kian meradang melihat foto tak senonoh dua insan yang menempel erat itu.


Zello lihat wajah perempuan nampak terlelap. Terlelap nyaman di bahu kokoh milik Zein. Menempel seperti prangko tanpa sehelai kain pun diantara mereka.


"Zein mengambilnya diam-diam. Sepertinya ketentuan prosedur untuk melarang mengambil gambar. Dan pantas saja aku sulit untuk menemukan wajah Lilie di antara banyak foto yang ditawarkan di sana. Ternyata Dave sendiri yang menawarkan Lilie ke orang yang menurutnya pantas."


"Dan, aku penasaran dengan obrolan di nomor Lilie yang ini," Zico mendetail nomor kontak my veron di nomor Zein.


Seperti yang Zico bilang, ia langsung meretas nomor Veron. Tidak sampai sepuluh menit semua pesan menempel di layar laptopnya.


Banyaknya pesan yang terdiri dari para hidung belang. Menjijikkan. Tidak ada niat Zello membacanya. Jijik dan tidak mampu.

__ADS_1


Mr. D. Satu pemikiran dengan Zico. Saat menemukan kontak itu mereka langsung intens membaca.


[Aku dapat proyek jadi kekasih sewaan - emot senang-]


[Kamu pasti langsung menyanggupinya]


[Kapan lagi bisa menikmati hidup yang sesungguhnya ]


[Siapa?]


[Kekasih dari seorang model, kalau tidak salah namanya Rossa]


[Tolak semua yang menginginkan kamu malam ini. Aku akan ke kamarmu]


"Sepertinya Lilie memang tidak suka berbicara via chat selama dia bisa bicara langsung," tutur Zico.


"Dan, kemarin saat kita ke panti asuhan. Aku benar-benar merinding mengingat Lilie. Zello, panti asuhan itu tidak ada. Beberapa hari sebelumnya aku kesana. Tidak ada apa-apa disana."


"Dan aku rasa kematian Zein dan Rossa ada kaitannya dengan.... "


"Tentu saja. Aku sudah mendengarnya," sahutnya tajam.


"A-apa?" Zico syok tercengang luar biasa.


"Kemarin aku mendengar dari mulutnya. Tapi aku hanya mendengar sebagian karena aku yang sangat terkejut tidak sengaja menyenggol vas. Takut ketahuan, aku pergi dari sana. Aku ingin mencari informasi itu. Tapi nyatanya tidak aku cari, semua sudah di depan mataku."


Zello menjambak rambutnya frustasi. "Keluar Zico," desis Zello.


Zico menatap Zello sebelum dirinya melangkah keluar. Zico sendiri juga sakit. Melihat bosnya tertipu hsbis-habisan karena seorang perempuan.


"Aarrrghh....." Brakkkkk. Tidak hanya kursi, meja Zico juga kena imbas emosi Zello.


Bug. Bug. Bug


Zello tak hentinya meninju dinding. Darah segar merembes dan mulai mewarnai dinding putih ruangan itu.


"Sialan. Kamu bodoh Zello!!" Bug. Bug. Bug.


Matanya yang nyalang tajam namun berbanding terbalik dengan hatinya yang hancur, rapuh tidak bersisa. Air mata tidak bisa ia tahan dari pelupuk matanya. Bagaimanapun dirinya hanyalah manusia biasa. Merasa dibohogi, ditipu, dijebak oleh wanita yang dia cinta.


'Benar-benar wanita ular' Zello teringat dengan Veron yang sangat pandai mengambil hati keluarganya.


"Hah, sekarang aku yakin. Kau tidak hanya pandai mengambil hati keluargaku, hatiku. Tapi juga begitu pandai mengambil hati banyak pria, bahkan pria yang beristri."


"Dasar ******.... "


"Mas," ucap pelan Veron. Tangannya membuka separuh pintu ruangan itu.


Beberapa saat yang lalu, Veron yang tidak mendapati Zello diruangkannya keluar. Dan beralih menuju ruangan Zico. Suara erangan frustasi yang Veron yakini keluar dari bibir suaminya dan berasal dari ruangan Zico. Semakin Veron memberanikan diri membuka pintu ruangan Zico.


Veron yang langsung melihat Zello terkesiap di tempatnya. Mata merah yang penuh amarah membuat Veron tidak berani berucap. Dirinya mematung sesaat di daun pintu.


Butuh waktu Veron tersadar di tempatnya. Zello yang masih menatapnya tajam, membuat Veron terdiam penuh terka.


Dengan keberanian yang tersisa Veron mencoba menyapu keadaan ruangan dengan matanya perlahan, kursi meja beserta isinya sudah berhambur memenuhi lantai, wajah tampan Zello yang berantakan dengan luka di tangannya. Tangannya terlihat sangat memprihatinkan. Seakan ada yang robek dari kepalan tinjunya.


Melihat Zello demikian sangat membuat Veron lemas. Dirinya melangkah penuh kehati-hatian. Dadanya berdetak tak beraturan. Untuk pertama kalinya Veron tidak sanggup melihat mata Zello lama-lama. Ada rasa takut bercampur was-was. Mata Zello tidak menunjukkan sama sekali Zello yang pernah ia kenal. Tatapan Zello membuatnya percaya dirinya luruh.


Zello tersenyum sinis melihat kehadiran Veron. Langkah Veron yang dinilainya terlalu lamban membuat dirinya geram. Tangannya yang kokoh menarik lengan Veron cepat dan langsung dilepaskan begitu saja. Hingga tubuh Veron hampir terjatuh terjerambah. "Mas... " ucap syok Veron.


Brak. Zello menutup cepat pintu dengan kakinya. Baru Zello mendekat ke Veron, menyapu penampilannya dari atas ke bawah.


Dahinya berkerut, "berapa tarifmu satu malam? Satu juta dua juta lima juta sepuluh juta," ucap Zello pelan namun penuh penekanan.


"Tentu saja Zein tidak ingin melepaskanmu. Seperti aku yang candu. Dirinya pun juga candu dengan tubuhmu. Begitu kan?"


"Mas Zell."


"Sudah, tidak perlu memanggilku dengan sebutan manis itu! Kamu tidak pantas," ucap Zello tajam.

__ADS_1


Air mata Veron luruh mendengar ucapan Zello. Sekarang dirinya paham apa yang sudah terjadi. Dan benar-benar tidak menyangka secepat ini.


"Berani-beraninya kamu menipuku membohongiku. Memperdayai keluargaku. Dasar wanita ******."


"Zello, hentikan! Aku tidak bermaksud membohongimu."


"Pembohong, picik."


"Zello, percayalah! Itu masa laluku. Aku tahu aku salah. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Maafkan aku Zello!"


"Masa lalu? Baru kejadian satu minggu yang lalu kamu bilang masa lalu??! Hah?!!"


"A-apa maksudnya, Zello. Aku tidak paham."


"Aku sudah dengar semuanya, Lilie. Kemarin!Zein Rossa. Kamu di balik kecelakaan mereka."


"Zello, kamu berbicara apa? Aku tidak melakukan apapun."


"Kamu pikir aku tuli, hah??"


"Tidak. Tapi kamu sudah salah paham, Zello," lirih Veron.


"Hah! Kamu tidak hanya ******, tapi juga picik."


"Aku tidak berbohong Zello. Itu semua kemauan Dave sendiri. Aku sudah melarangnya."


"Jadi, aku harus percaya dengan ucapan dari bibir istriku ini. Bibir yang pintar memuaskan banyak lelaki," cibir Zello.


Dada Veron sesak, meski apa yang dikatakan Zello apa adanya. Air matanya semakin deras membasahi pipi kedua pipinya.


"Wanita ****** dan picik. Berani-beraninya masuk ke keluarga Hanif." Zello mencekram pipi Veron kuat. Rasa perih dan nyeri menjalar di rahang pipi Veron. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya pasrah. Siap untuk mendapatkan perlakuan Zello lebih lanjut.


Zello melepas cengkraman tangannya kasar. "Pulang, kemasi pakaianmu dan kembalilah kehabitatmu!"


Veron pasrah dengan perlakuan Zello, tapi dirinya tidak rela bila harus melepaskan semuanya.


"Zello, beri aku waktu untuk menjelaskan semua!"


"Apa yang kamu butuhkan hingga tidak bisa mau meninggalkan kediaman Hanif? Uang kan? Tenang saja. Aku akan memberikan banyak uang untukmu. Hingga kamu bisa mendirikan tempat pelacuran sendiri nanti."


"Zello!!"


"Kenapa marah, bukankah kamu menjajakan tubuh demi uang?!"


"Aku tidak akan keluar. Biarkan aku jadi cucu kakek. Tak apa bila kamu ingin mengakhiri semua."


"Hahaha lucu sekali. Tapi memang masuk akal. Kamu bisa mendapatkan kepuasan dari pria manapun."


Zello menuntun lengan Veron kasar, menarik ke daun pintu dengan cepat.


Beg. Benturan punggung di daun pintu yang kuat membuat Veron sedikit meringis.


"Kamu menyalahkanku?!" Veron menatap balik mata Zello.


"Siapa yang terus membujukku untuk menjadi istrimu?! Kamu. Aku sudah berulang kali aku menolak, aku nggak bisa. Apa kamu ingin mendengarnya. Apa kamu bisa mengerti?! Sakahku dimana? Apa aku salah, jatuh cinta dengan pria yang sudah jadi suamiku."


"SALAHMU KARENA TIDAK BICARA JUJUR!"


"Andai aku bilang jujur apa kamu mau menerimaku?! Hah? Tidak kan?!"


Veron mencekram jas Zello, menatap matanya dalam. "Katakan Zello. Andai aku mengakuinya kamu mau menerimaku?!"


"Itulah kamu. Selalu ketakutan sebelum berusaha."


Zello melepaskan cenkraman Veron. "Pulang dan pergi jauh!"


"Nggak." Veron menggeleng tegas. "Apa kamu tidak memikirkan kakek."


"Kamu tidak hanya murahan, tapi juga licik."

__ADS_1


"Iya, dan tidak tahu diri. Wanita seperti ku ingin terus di kediaman Hanif. Apa dayaku, Zello. Aku menyayangi mereka. Aku menyangimu."


"Bulshit." Zello menyingkirkan Veron dari daun pintu. Keluar ruangan. Meninggalkan Veron yang luruh ke lantai.


__ADS_2