Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Dia Sedang Bersenang-senang


__ADS_3

Berjalannya hari, Veron seakan sudah biasa dengan kehidupannya. Meski awal dilakukan dengan terpaksa tapi dirinya sudah tidak mengeluh lagi. Terkadang jadi tukang pijat Runi, jadi pekebun. Berjalannya hari, Veron yang sudah menerima nasib di lapas pun tak diminta pijatan lagi oleh Runi, paling hanya seloroh ucapan konyol saja, entah dari Runi atau pun dari yang lain. Dan itu sedikit membuat Veron heran.


"Mak Runi itu paling sebel kalau lihat penghuni baru menghabiskan waktu hanya untuk bengong dan bermuram durja. 'Sepet lihatnya', gitu kata dia. Tapi menurut aku sih, Mak Runi sengaja bersikap demikian supaya kesedihan penghuni baru teralihkan dengan kesibukan yang ia berikan. Jadi Mak Runi tu niatannya baik."


Dari Susi, Veron akhirnya tahu. Ternyata tidak semua orang yang ada dalam penjara itu jahat. Tidak seperti yang digambarkan dalam film-film.


"Oh iya. Aku senang akhirnya kamu mulai terbiasa disini," ucap Susi pelan.


"Aku boleh tanya, Sus? Kenapa kamu bisa begitu hidup santai disini. Apa kamu tidak merindukan keluargamu?"


"Aku lupa dengan semua. Terlalu banyak kejadian disini. Terlalu banyak drama, seperti hiburan dari penghuni baru, igauan si wanita saat tidur, belum lagi kalau ada yang berseteru. Kejadian yang selalu terjadi di depan mata tidak sengaja mengalihkan rasa sedihku yang jauh dari keluarga."


"Kamu jahat," celetuk Veron.


"Hahaha .... setiap orang kan berbeda, kebetulan aku belum berkeluarga, sebelumnya juga kerja jarak jauh dari keluarga. Jadi tidak terlalu berat untukku. Dan yang penting aku tidak suka klayapan. Mungkin kalau aku suka, aku sudah stres karena nggak bisa kemana-mana."


"Oya, apa kamu sudah punya anak?" ucap Susi kemudian.


"Belum."


"Ah, aku salah bertanya. Seharusnya aku tanya apa kamu sudah menikah. Kamu sudah menikah belum?"


Veron tersentak, terdiam cukup lama hingga akhirnya senyum kecut keluar dari bibirnya.


"Kenapa? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu? Suamimu jahat?"


"Bukan, bukan seperti itu," ucap Veron.


"Suamiku baik, keluarga suamiku baik. Hanya saja, pernikahanku yang tidak baik-baik saja. Kami terpisah karena minimnya waktu untuk menerima kekurangan satu sama lain." Veron menghela nafas kasar. Tatapannya jauh dan kosong.


***

__ADS_1


Dengan tekad bulat Zello kembali ke ibu kota. Perasaannya kacau, dirinya hanya bisa berharap kalau semua belum terlambat.


Zello telah sampai di rumah sederhana milik Dave, rumah yang tidak terlalu besar, dengan pelantaran yang tidak luas juga. Tapi siapa sangka, Dave yang pecicilan dengan rumah yang sederhana tapi sebenarnya punya kuasa yang kuat.


Tidak peduli siapa Dave, Zello memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Bahkan dari tempat peninjauan dari luar kota, ia langsung ke rumah Dave, melewatkan Kediaman Hanif yang seharusnya ia singgahi terlebih dulu.


Dengan mudah Zello bertandang ke rumah Dave.


"Hallo, Tuan Zello," sambut Dave tanpa berdiri dari kursinya. Kakinya menopang di kaki satunya.


"Aku ingin bertemu dengan Lilie," ucap Zello langsung tanpa berniat duduk.


"Untuk?" Dahi Dave berkerut dalam.


"Dia masih istriku."


"Setahuku kamu sudah melepasnya. Apa itu bisa disebut ma-sih istri-mu?!" cibir Dave menekan kalimatnya.


"Hah." Dave membuang nafas kasar. Posisinya masih tetap sama.


"Mana Lilie?" ucap Zello kesal, kakinya melangkah cepat menelusuri setiap ruangan.


"Sudah, biarkan!" larang Dave ke anak buahnya yang ingin bertindak ke Zello.


Langkah kaki Zello tak luput menelusuri kamar-kamar yang ada di sana. Dari lantai dasar sampai lantai dua. "Lilie!"


"Lilie." Panggil Zello dengan langkah-langkah lebar. Hatinya gelisah, berdetak tak beraturan. Dirinya yang sudah menelusuri semua rumah itu dengan mata kepalanya sendiri mulai menciut. Sudah terlambatkah ia? Disembunyikan dimanakah istrinya?


"Lilie ....!" Zello berlari keluar menelusuri pelantaran rumah. "Ahh," nafas Zello terengah-engah, "apa Lilie sedang keluar?" gumam Zello.


Zello kembali berlari menemui Dave. "Dave, katakan! Dimana Lilie!" bentak Zello.

__ADS_1


"Berani kamu berbicara lantang seperti itu ke Tuan Dave?!" hardik balik bawahan Dave.


"Ssst.... kamu!" tunjuk Dave ke orangnya. "Jangan ikut campur!"


"Maaf, Tuan."


Hah, Dave dengan berat berdiri dari duduknya. Berjalan dimana Zello berada. Menatap Zello dengan menyungingkan senyum di bibirnya.


"Dia sedang bersenang-senang ke luar negeri untuk menghilangkan penat. Dan mungkin... untuk melupakan kamu juga."


"Bug."


Dave tersungkur tidak menyangka dengan serangan tiba-tiba Zello.


"Tuan." Orang Dave siap mendekat tapi langsung dapat penolakan dari Dave lewat tatapan matanya.


"Terserah mau percaya atau tidak. Dia sedang bersenang-senang. Lebih baik kamu juga bersenang-senang. Datanglah ke clubku malam ini, banyak perempuan sexy seperti Veron."


Layangan tinju yang kedua sudah dipelupuk mata Dave. "Buat aku mati! Maka kamu tidak akan pernah tahu dimana Veron," ucap Dave dengan menyeringai.


Kepalan tangan Zello sedikit mengendur, nafas Zello memburu karena emosi. "Bug."


"Aku tahu siapa kamu, jangankan satu pukulan. Sepuluh pukulan tidak ada artinya buat kamu," ucap Zello.


"KATAKAN DIMANA, LILIE?!"


"Bug." Zello tersungkur. Bibirnya pecah.


"Dasar keras kepala!" ucap Dave menatap dingin ke Zello.


"Seret dia keluar!!"

__ADS_1


****


__ADS_2