Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Seminggu Lagi?


__ADS_3

"Nggak perlu, lepaskan!"


Dengan kasar Zello melepaskan tangan Veron. "Maaf, aku nggak bermaksud," ucap Zello lagi datar.


Zello langsung melangkah dan mendudukkan pantatnya di ranjang dengan kasar.


"Mm ... nggak masalah. Aku juga kadang gitu kok. Suka emosional, menjelang pms hahaha. Aku minta baju, bisakah baju yang kamu beli buat Rossa aku pinjam. Nanti aku ganti," ucap Veron cepat.


"Ambil!" Dagu Zello menunjukkan sofa di kamar itu. "Kamu yang bawahan celana," imbuh Zello.


"Ok. Thanks," ujar Veron dan langsung mengecek pakaian itu.


"Bersiaplah! Aku tunggu sarapan."


"Ok."


***


Di meja sarapan sudah Hanif dan juga Zello. Zello menggelengkan kepalanya menantikan Veron nggak kunjung turun untuk sarapan bersama.


"Ayo Kek. Kita sarapan saja dulu. Dia memang paling lama kalau merias diri," ujar Zello.


"Mungkin sebentar lagi," bela Hanif.


Tap tap tap. Suara langkah sepatu mengheningkan mereka sesaat. Veron tengah turun dari tangga, dan terlihat dari samping tempat meja makan.


"Bukankah dia sangat cantik," goda Hanif.


"Semua karyawan ku juga cantik."


"Kakek, Zello. Maaf menunggu lama." Veron yang melihat piring mereka masih kosong segera berinisiatif mengambilkan salad.


"Mari Kek. Dinikmati!"


"Terima kasih," sahut Hanif.


Karena menu sarapan mereka sangat simple, nggak butuh waktu lama mereka menyantap makanannya.


"Lie, bagaimana? Kapan fifthing baju?"


"Mm, secepatnya Kek."


"Baguslah. Kakek ingin paling lama satu bulan kalian sudah menikah."


"Lilie nurut waktu senggang Zello aja Kek."


"Ya, Zello kosongkan jadwal untuk mengatur semuanya. Serahkan saja tugas kalian ke Zico."


"Iya Kek."


Zello menatap Veron yang sudah selesai menikmati saladnya. Veron yang merasa di tatap Zello pun paham dan segera menyudahi sarapannya dengan segera minum air jeruk hangat.


"Ayo Zello!" ucap Veron sembari berdiri dari duduknya, dan langsung mencium punggung tangan Hanif.


"Berangkat ya Kek."


"Hati-hatilah," sahut Hanif hangat.


"Berangkat dulu Kek," ucap Zello.


"Hm."


Zello dan Veron jalan beriringan keluar dari rumah Hanif. Dan langsung masuk ke mobilnya yang sudah tepat di muka pintu persis.


"Maaf Tuan. Ini kuncinya," ucap sopir.


"Makasih," sahut Zello dan langsung meraih kunci itu.


"Zello, antar ke apartemen dulu ya." Dengan sigap Veron memasang sabuk pengamannya.


"Untuk apa?"


"Ada deh," sahut Veron.


"Aku sudah terlambat," ucap Zello.


"Terus gimana dong?"

__ADS_1


"Gimana apanya?"


"Zello - sebenarnya nggak hanya pakaian aja yang kubutuhkan. Kamu juga tahu bukan? Anterin ya," mohon Veron.


Zello nampak berfikir, mencerna ucapan Veron. "Ehem, beli saja sekalian di jalan."


"Ck. Yaudah deh, nanti biar aku cari dekat butik Anita," ucap Veron akhirnya.


"Kamu mau kesana?"


"Tentu saja. Kamu pikir aku naik mobil kamu buat apa. Bukankah kamu ingin mengantarkan aku bukan ke butik?!" Veron menatap Zello kesal.


"Kamu harus ikut aku ke kantor," ujar Zello.


"Buat apa?" ucap Veron terkejut.


"Menurutmu?"


***


"Ayo!" ucap Zello yang sudah membuka pintunya sendiri.


"Emh ... iya," ucap Veron, tangannya berusaha membuka sabuk pengaman namun sayangnya terasa sulit buat dia. "Biasanya kan gampang, apa aku terlalu ketakutan," gumam Veron.


"Lilie," ucap Zello geram. "Kenapa?" tanya Zello yang melihat Veron nggak kunjung turun. Zello dengan inisiatif membukakan pintu buat Veron.


"Ck, sini." Dengan cepat Zello membukakan seatbeltnya.


"Terima kasih," ucap Veron pelan.


"Kenapa? Kamu seperti wanita yang akan di kenalkan dengan calon mertua saja," ujar Zello.


"Aku-"


"Apa kau demam panggung? Ayo nggak apa," ucap Zello lembut. Zello mengulurkan tangan memberi kekuatan buat Veron.


'Aku demam panggung? Aku cuma takut ada yang mengenali aku disana.'


Zello mengaitkan jemarinya di sela jemari Veron dan menuntun memasuki kantornya. Genggaman tangan Zello yang begitu hangat untuk pertama kalinya ke seorang wanita, membuat semua orang kantor mencuri pandang dan berbisik.


Veron yang menyadari akan hal itu hanya bisa berharap nggak ada lelaki yang mengenal identitasnya. Karena Veron memang jarang keluar, terlebih kalau keluar dulu hanya dikenalkan sebagai kekasih. Andai sekarang dia kenalkan sebagai calon istri, bukankah akan sangat menyedihkan buat si pria, calon suaminya. Karena pikirannya nggak terasa ada embun kristal keluar dari sudut mata Veron.


"Hm?" Veron menoleh ke Zello nggak paham.


"Itu rekan bisnisku," ujar Zello dengan mata lurus ke seorang pria yang seumuran dengan dirinya.


"Sepertinya aku melupakan jadwal yang penting," ucap Zello ke rekan bisnisnya.


"Nggak Tuan. Kebetulan aku lewat jadi sekalian ingin berbicara mengubah jadwal pertemuan nanti."


"Oh, baiklah. Kita ke ruangan ku. Zico akan mencari kan waktu luang," ucap Zello sembari melepaskan genggaman tangannya ke Veron.


"Ini siapa?"


"Kenalkan, dia calon istriku," sahut Zello hangat.


"Lilie," sambut Lilie mengulurkan tangan.


"James," sambutnya hangat.


"Ayo keruanganku!" ucap Zello, yang akhirnya mereka bertiga jalan beriringan.


"Zello, apa aku harus ikut masuk? Bukankah akan mengganggumu nanti," ucap Veron.


"Kamu nanti bisa menungguku di ruang istirahatku," ujar Zello.


"Nona Lilie, melihat Tuan Zello memperlakukan mu, dia pasti sangat mencintai mu," ujar James.


"Ngomong-ngomong, kapan kalian menikah?" imbuh James.


"Satu minggu lagi, Anda akan menerima undangannya nanti sore," sahut Zello.


Apa?


Langkah Zeron terhenti sesaat karena terkejut.


"Ayo ...." Zello meraih pinggang Veron erat.

__ADS_1


"Calon istri kamu ternyata sangat pemalu," goda James.


Ting. Dengan pasti mereka masuk lift yang tengah terbuka. Tangan Zello sendiri masih di pinggang ramping Veron.


"Aku seperti nyamuk sekarang," ujar James.


"Tapi kalian sangat cocok, yang satu pemalu yang satunya nggak tahu malu untuk mengimbanginya," celetuk James.


Saat sampai di ruang kerja Zello, mereka langsung disambut oleh Zico yang tengah duduk di kursi kebesaran Zello.


"Silahkan duduk di sini dulu! Aku akan mengantarnya sebentar," ujar Zello ke James.


Karena mereka ingin membahas sambil menikmati kopi, Zello sengaja menyuruh James duduk di sofa di ruang itu. Sementara Zello menuntun Veron ke ruang istirahatnya.


"Lilie, duduklah disini! Aku akan memesankan minum untukmu juga, atau kau mau makanan juga?"


"Tidak, terima kasih. Ngomong-ngomong apa kamu akan lama?"


"Tidak. Dia tidak akan mengganggu waktu kita," ucap Zello menggoda.


"Suasana hatimu berubah sangat cepat," ucap Veron.


"Hm. Buatlah dirimu nyaman!"


"Ngomong-ngomong apa benar kita akan menikah seminggu lagi?"


Zello menghendikkan kedua bahunya dan berlalu dari sana.


"Ih ngeselin," gumam Veron.


***


Veron tengah menikmati suasana ruang istirahat Zello dengan ditemani oleh minuman dinginnya dan juga ponselnya, dirinya masih duduk di ranjang itu dengan nyaman. Meskipun begitu, dirinya penuh tanda tanya, kenapa Zello begitu lama, bukankah tadi bilang cuma sebentar.


Veron yang hendak melihat ruang kerja Zello terhenti sesaat mendapati panggilan di ponselnya.


"Desy?" Veron menggumam dapat telpon dari teman clubnya.


"Ya hallo, Des. Kenapa?"


"Kenapa katamu? Aku kangen," sahut dari sebrang.


"Ayolah, aku sudah kesekian kali tinggal di luar. Dan kamu akan menelpon ku kalau hanya ada yang penting," ucap Veron.


"Zein, Zein terus mencarimu."


"Bilang saja aku dapat bookingan selama 5 bulan penuh di luar negeri," sahut asal Veron.


"Aku sudah bilang, tapi dia tidak percaya. Dia terus menyudutkanku."


"Mm, nanti aku akan minta tolong sama Dave," sahut Veron akhirnya.


"Baiklah, aku percaya sama kamu. Bye, selamat menikmati hidupmu," ucap Desy.


"Veron - apa kamu akan kembali ke tempat ini?" tanya Desy lagi pelan.


"Maksudmu?"


"Nggak- aku hanya teringat ucapanmu tempo lalu."


"Bisa iya bisa tidak."


"Oh, ok lah. Nanti kalau aku benar-benar merindukanmu aku boleh kan mengunjungi mu. Aku merasa-kamu tidak akan kembali. Apa-"


"Sepertinya kamu terlalu berharap jadi diva disana."


"Hahaha bisa jadi. Yaudah, aku tidur dulu, bye."


"Bye."


Veron mendesah kesal, bagaimana cara dia minta tolong sama Dave, bagaimana kalau -


"Ah pikirkan nanti saja," ucap Veron kesal.


Dengan langkah pelan, Veron melanjutkan kakinya menuju ruang kerja Zello.


"Huuh, pantesan suasana hatinya kembali membaik, pantesan juga lama ..."

__ADS_1


Dilihatnya sekilas sepasang kekasih yang memadu kasih di sofa panjang yang menyatu di ruang kerja Zello, memadu kasih dengan sama-sama tanpa sehelai benang pun.


***


__ADS_2