
***
Di meja makan, semua menikmati sarapan dengan nikmat. Terlebih Zello. Wajahnya berseri penuh binar. Pandangan matanya tak jarang ke wajah Veron, yang membuat Hanif ikut merasa senang.
Hari ini mereka sarapan nasi goreng ati. Sarapan simple tapi bisa dinikmati semua tak terkecuali dengan pelayan rumah.
"Punyaku sudah habis," ucap Zello. Dirinya langsung meneguk air putih yang sudah disiapkan. Diliriknya nasi di piring Veron yang hampir habis. "Mau nambah?"
"Seharusnya aku yang tanya. Mau nambah?"
Zello menggeleng dengan bibir tersenyum manis.
Veron meletakkan garpu dan sendoknya. Sarapannya sudah ludes dengan sempurna.
"Kakek. Aku mau langsung berangkat ya?!" ucap Zello sembari berdiri dari duduknya.
Hm. Hanif mengangguk sembari mengunyah sarapannya.
"Sayang, nanti jam makan siang ke kantor ya!" pinta Zello.
Huk huk huk. Nasi dari mulut Hanif sedikit tersembur karena tersedak.
"Tuan. Silahkan minum!" ucap Beni.
"Hati-hati makannya, Kek." Veron berdiri karena cemas.
"Sudah. Tidak apa." Hanif menginsyaratkan supaya Veron kembali duduk.
"Beginilah kalau orang tua, dikit-dikit batuk. Apalagi kalau mendengar kata tak terduga."
"Aku berangkat ya, Kek!" potong Zello karena malu.
"Tadi kamu sudah pamit."
"Lilie mengantar Zello sampai depan dulu ya Kek."
Kakek bukannya menjawab tapi malah ngasih acungan jempol dengan mimik menggoda.
Dengan wajah sedikit memerah Veron berusaha menyusul Zello yang sudah keluar rumah duluan.
"Ah, sepertinya sebentar lagi aku akan punya cicit." Hanif terkekeh kecil. Sesaat pandangan matanya ke arah tas laptop Zello.
"Beni, coba antar laptop Zello ke depan. Lilie lupa membawakannya."
"Baik Tuan." Dengan cepat Beni mengambil laptop Zello. Dan menyusul secepat mungkin ke depan takut tuan mudanya keburu tancap gas.
Bug. Dengan wajah memerah Beni mengambil laptop yang tidak sengaja terlepas dari tangannya.
Tidak jauh dari sana, berdiri Veron dengan wajah memerah karena malu. Berbeda dengan Veron yang memerah karena malu, wajah Zello memerah karena kesal.
Dengan sedikit gemetar Beni mendekat di mana berdirinya Zello. Beni rasanya sudah mau pingsan saja. Karena tidak sengaja melihat Tuan dan Nonanya melakukan ritual kiss morning. Andai melakukannya di kening, Beni tidak syok untuk melihatnya. Tapi ini di bibir. Sangking terkejutnya tangan Beni sampai melemas dan laptop yang tengah dipegangnya meluncur begitu saja ke lantai. Mengganggu ritual manis tuannya dan juga menjatuhkan laptop. Hati Beni sudah menangis uring-uringan tidak jelas.
"Buka!" Titah Zello.
Dengan hati-hati Beni membuka tas yang berisi laptop itu. Dan langsung mengecek laptopnya juga. Dengan sedikit gemetar Beni menekan on/offnya.
Huuzf. Beni menghela nafas lega. Laptopnya langsung menyala saat ia nyalakan. Dengan segera dia menunjukkan ke Zello. Setelah mendapatkan anggukan dari Zello baru Beni memasukkan lagi ke tas.
"Lain kali kerja yang benar!" geram Zello. Sementara Veron langsung mengambil alih laptop dari tangan Beni.
"Sudah. Yang penting kan tidak rusak."
"Bukan masalah itu."
"Lalu?"
"Beni, kamu kembalilah!" titah Zello.
Sedikit menunduk Beni kembali masuk ke dalam rumah.
"Berani-beraninya dia mengganggu ritual kita." Zello menatap Veron yang kemudian melangkah menuju mobilnya. Zello langsung membuka mobil dan masuk ke dalam. Dan menerima uluran laptop dari tangan istrinya.
"Bukan mengganggu, tapi kamunya yang tidak tahu malu."
"Oh, jadi kamu berani membela pria lain ketimbang suamimu ini."
"Sudah, jangan kebanyakan drama. Sana pergi!"
"Kamu mengusirku?!"
"Bukaaaan, aku menyuruhmu kerjaaa ... Sayang ..."
"Kenapa?"
"Kenapa?! Tentu saja karena aku suka uang."
Zello terkekeh mendengar ceplosan Veron.
"Ohh ... selain uang kamu sukanya apa?"
"Aku, aku sukanya kamu."
***
Di lain tempat, Rossa dengan santai memasuki perusahaan Golden Group. Karena memang tidak sedikit orang perusahaan mengenal dirinya, termasuk security perusahaan.
__ADS_1
Tujuannya langsung di tempat kebesaran Zello. Meski ia tahu belum ada Zello di sana. Rossa tahu betul ini belum jamnya atasan berada di kantor. Tetapi beda dengan asisten sekaligus sekretarisnya itu, yaitu Zico. Memang sebelum kedatangan sang CEO, Zico selalu duduk di ruang bosnya. Dan selalu datang lebih awal dari bosnya, meskipun tidak ada hal yang penting atau ada yang perlu di kerjakan. Zico sudah terlanjur di mabuk dengan rutinitasnya itu.
Zico yang tengah berkutat dengan berkas-berkas mendongak ke wanita yang baru saja memasuki ruangan. Dengan langkah anggun langsung menghampiri dan duduk di depannya.
"Bos belum datang," ucap Zico datar. Zico memang tidak suka dengan Rossa dari awal. Terlebih semenjak tahu tabiat asli Rossa.
"Iya, aku tahu. Aku hanya-"
Helaan nafas jengah keluar dari bibir Zico.
"Aku kesini hanya ingin mengurangi beban pikiranku sekarang Zico." Rossa berucap lembut dan sendu. Meski sebenarnya dia sangat ingin meludahi pria di wajahnya.
Rossa tahu betul, keburukannya yang terkuak tidak jauh dari campur tangan Zico. Kalau bukan karena ingin melancarkan rencananya, Rossa tidak sudi untuk berbicara dengan Zico.
"Aku sudah berteman dengan Zello sejak kecil Zico. Sejak kecil." Mata Rossa sudah menganak sungai, namun Zico hanya melirik sedikit dan kembali fokus ke berkas-berkas pentingnya.
"Rasa nyaman yang tumbuh sedari kecil tidak akan bisa hilang begitu saja. Iya kan Zico? Tapi memang bodohnya aku. Aku sudah di butakan dengan obsesi menjadi model ternama. Aku bodoh Zico. Aku melakukan kesalahan untuk menggapai semuanya. Dan setelah aku mendapatkan karirku, apa yang aku dapatkan setelahnya? Zello meninggalkanku." Air mata mengiringi setiap ucapan Rossa membuat suara Rossa tenggelam dalam suara itu.
Tapi Rossa yakin Zico akan tetap paham dan malah akan iba dengan dirinya.
"Cinta masa kecilku meninggalkanku." Tangis Rossa pecah dan berhasil membuat Zico menatap Rossa.
Rossa menangis cukup lama hingga air matanya seakan sudah surut. Dengan gerakan kasar Rossa menghapus jejak basah di pipinya.
"Tapi aku menyadari semuanya sekarang Zico. Aku terlalu banyak melakukan kesalahan. Aku perempuan licik yang pernah ada. Aku memang tidak pantas untuk bersanding dengan Zello."
"Zico, dalam hatiku masih terlalu besar beban yang kurasa. Aku sudah melakukan kesalahan Zico. Tolong Zello, Zico! Kumohon!"
Zico terdiam, meski rasanya dia ingin bertanya maksud kalimat yang dilontarkan Rossa. Tapi pikirannya maju mundur takut itu hanya siasat licik Rossa.
"Zico. Aku wanita yang licik. Untuk mencegah Zello jatuh hati dengan istri kontraknya, aku mencarikan dia wanita malam. Seorang pelacur Zico. Seorang pelacur."
"Apa?" tanya Zico pelan. Namun wajahnya menunjukkan dia sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Iya Zico. Kamu tidak salah dengar. Lilie seorang pelacur. Maafkan aku Zico. Hukum aku Zico!" Tangisan keluar lagi di bibir Rossa.
Plak plak plak. Rossa menampar dirinya sendiri hingga pipi mulusnya memerah.
"Aku licik, aku hina, aku bodoh. Hukum aku Zico."
Tangan Zico mengepal, geram dengan yang di dengarnya. Rasanya dia ingin menampar beribu kali manusia yang ada di depannya hingga manusia minta ampun pun tidak akan dia hentikan.
"Katakan sekali lagi!" geram Zico. "Kalau kamu terbukti mengarang, kamu tahu akibatnya."
"Aku wanita bodoh Zico. Tolong Zello. Aku tidak rela Zello bersama dia. Tidak apa bila dia ingin bersama wanita lain, yang jelas jangan sama dia. Dia bukan wanita baik-baik. Aku tidak mau Zello terkena penyakit atau semacamnya. Aku mohon Zico. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Zello tidak mempercayaiku."
"Hukum aku Zico, hukum aku!"
Dengan tangannya yang kokok Zico mencengkeram pipi Rossa dan menghentakkan dengan kasar. "Keluar!"
"Rossa."
Suara Zico berhasil menghentikan langkah Rossa dan menoleh ke arahnya.
"Yang kuberikan ke Zello hanya beruba foto. Masih banyak video yang isinya penuh dengan kamu. Berhati-hatilah. Aku akan bisa menyebarnya kapan saja"
Ucapan Zico membuat Rossa tercengang mematung di tempatnya.
"Keluar!"
Zico ada alasan kenapa menanggapi ucapan Rossa. Zico tahu Rossa wanita yang licik. Dan dari ucapan Rossa membuat Zico termenung. Apa penyelidikannya tentang Lilie tidak akurat?
Zico tersenyum masam, "aku sudah termakan ucapan wanita licik itu. Dia tentu saja tidak rela Bos dengan Lilie," hibur Zico pada dirinya sendiri.
Namun sesaat Zico menjambak rambutnya sendiri. Yang kemudian membuka laci meja, mengambil dan menatap penuh teka-teki ke foto, foto Lilie.
***
Veron mengamati Dahlia yang tengah serius mengemudikan mobilnya. Siang ini mereka akan keperusahaan. Tapi sebelumnya Veron ingin ke suatu tempat. Dirinya sudah janjian dengan seseorang di suatu tempat. Masalahnya, apa Dahlia mau memberi ruang untuk dirinya bersama temannya yang yaitu seorang pria.
"Nona. Bagaimana kemarin. Pasti anda terkejut sekali kan di apartemen?!" tanya Dahlia tiba-tiba.
Veron malah lebih terkejut dengan pertanyaan Dahlia. Apa Dahlia tahu kejadian kemarin?
"Nona pasti surprise karena tuan muda ternyata sudah kembali." Antusias Dahlia. "Mangkanya aku nggak ikut masuk. Karena tahu tuan Zello sudah berada di apartemen."
"Kamu juga tahu kalau ada Rossa?"
"Apa?" syok Dahlia.
"Jangan pura-pura nggak tahu."
"Demi Tuhan, Nona. Aku tidak tahu kalau ada wanita itu juga di sana. Lalu apa yang terjadi. Sebenarnya Nona mau apa kesana. Sedangkan ada Rossa di apartemen bersama Tuan Zello?"
"Mau ketemu Rossa. Kan aku tidak tahu kalau ada Zello."
"Ah, iya juga ya." Dahlia menepuk jidatnya.
"Seharusnya kamu ikut masuk. Biar tahu ada apa." Cetus Veron.
"Saya pikir tidak ada Rossa. Saya takut gangguu.... "
Veron bernafas lega. Dari perkataan Dahlia sudah dipastikan Dahlia tidak tahu apapun mengenai kejadian di apartemen kemarin.
"Oya, Dahlia. Sebenarnya aku ingin bertemu dulu dengan teman. Maksudku sahabat. Sudah lama kami tidak bertemu."
__ADS_1
"Jadi, Nona mau bertemu dulu dengan temannya. Mau ketemuan dimana Nona?"
"Mm, masalahnya. Teman saya itu pria." Ucap Veron hati-hati. Sedangkan Dahlia langsung menoleh ke Veron karena penasaran.
"Cuma sahabat. Ada yang harus aku bicarakan. Penting. Ini soal perpisahan. Dia akan keluar negeri. Apa kamu tidak kasihan denganku. Aku hanya ingin melepas untuk yang terakhir kalinya." Hiba Veron.
"Tapi-"
"Kamu boleh mendampingiku. Tapi, jarak jauh."
"Itu bukan mendampingi namanya." Protes Dahlia.
"Iya. Maksudnya mengamati." Tekan Veron.
Dahlia mencebik. "Ah, okelah. Nggak tega sama Nona yang manis ini. Tapi awas ya. Jangan main api. Kalau tidak ...."
"Apa?"
"Apa ya?! Nanti ku pikir-pikir dulu."
"Terserah. Yang penting aku tidak macam-macam. Jadi itu juga tidak akan berlaku."
"Ok ok. Jadi ke?"
"Ke Resto jl Beiji."
"Siap."
***
Sesampai resto Veron langsung menuju dimana Dave berada. Ya, dia sudah membuat janji untuk bertemu dengannya. Sementara Dahlia langsung memilih duduk di dekat pintu masuk.
"Dave."
"Halo Veron Sayang." Dave langsung menangkup kedua pipi Veron gemas.
"Lepaskan!" ucap Veron lembut.
"Wah, kamu membuktikan ucapanmu ternyata."
"Tentu saja. Oya. Bagaimana?"
"Kenapa buru-buru. Aku pesenkan minum dulu."
"Dave. Sebenarnya aku mau ke kantor Zello juga. Sebentar lagi jam makan siangnya." Veron berucap dengan senyum lembut. Berharap Dave memakluminya.
"Ouh." Kedua alis Dave menukik sempurna.
"Aku rasa aku mulai iri dengan Zello."
"Kamu ini."
Dave menatap dalam Veron. Teramat rindu. Sudah lama tidak mengobrol. Memadu kasih. Mendengar lenguhannya. Mendengar jerit kecilnya.
Tanpa sadar bibir Dave mengulas senyum. Lambaian tangan Veron menyadarkan dia dari ingatan liarnya.
"Dave." Ulang Veron.
"Ah iya. Aku mau tanya dulu. Kamu ingin aku melindungimu yang bagaimana?"
"Aku hanya butuh waktu untuk menutupi semuanya, Dave. Aku ingin mengakuinya ke Zello tentang pekerjaanku selama ini. Tapi tidak untuk saat ini."
"Oh .... gampanglah kalau untuk sementara. Tapi kamu yakin mau mengaku ke Zello? Wah, kamu benar-benar sudah jadi budak cinta sejati." Ledek Dave.
"Aku nggak mau kehilangan keluarga manis yang sudah kudapat. Jadi, bagaimana? Kamu pasti bisa kan?"
"Bisa tidaknya tergantung kesiapan kamu, pengakuan kamu terhadap Zello. Yang aku terka adalah kekasih Zello akan mencari pelanggan setiamu. Dan menjadikan itu sebuah bukti."
"Bukti sebuah ucapan tidak akan mempengaruhi Zello. Aku yakin itu," cetus Veron.
"Kamu percaya diri sekali. Bagaimana kalau bukti itu diseret ke keluarga Zello?!"
Ucapan Dave berhasil membuat Veron tersentak. Wajahnya mendadak gelisah.
"Apa yang harus aku lakukan, Dave? Aku belum siap. Lagipula aku ingin mengakui saja ke Zello. Tidak mungkin ke keluarganya. Aku tidak bisa."
"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Biar aku yang menyelesaikan."
"Caranya?"
"Yang jelas aku tidak akan menyentuh Rossa. Yang ada itu akan membuat Zello menaruh curiga padamu. Jadi ... "
"Katakan!"
"Pelangganmu. Harus dibasmi. Itu jalan satu-satunya. Termasuk siapa dia. Mm, oh ya. Zein dan juga yang lainnya."
"Dave." Syok Veron.
"Tidak ada jalan lain. Keluargamu sendiri. Atau, keluarga orang lain?"
***
Assalamualaikum, terima kasih atas kunjungannya. Jangan lupa tinggalkan jejak dan bantu share ...
supaya jiwa kehaluan Authornya meroket tanpa batas. Terima kasih sebelumnya. Selamat menjalankan puasa bagi yang menjalankan.
__ADS_1