Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Hadirnya Julia


__ADS_3

Dilihatnya Zein yang ada di depannya. Benda pipihnya yang dalam genggaman menjadi pelampiasan. Zein yang tidak menahu mengernyitkan dahi dan memberikan senyum cibiran.


'Aneh.' Batin Zein.


Zico masih mematung di tempatnya, pikirannya masih waras. Mungkin saja itu masa lalu mereka. Tapi tetap saja kepala Zico mau meledak. Debaran di dadanya bertalu tak beraturan.


Notif pesan di ponselnya menyadarkan Zico yang masih saja mematung di tempat. Dilihatnya notif pesan itu. Dari nomer yang sama. Dengan perasaan bergemuruh Zico melangkah lebar dengan masih menggenggam erat ponselnya.


***


Zico menyugar rambutnya kasar karena frustrasi. Membasuh mukanya. Melihat bayangan wajahnya di wastafel.


Terjawab sudah kenapa bosnya sekarang sangat sensitif dengan Zein. Tapi masalahnya itu foto kapan. Rambut lurus Lilie yang panjang tanpa poni. Kemungkinan itu masa lalu. Zico ingat, rambut Lilie sebahu beberapa hari sebelum dirinya menjadi istri Zello. Sedangkan hari-hari sebelumnya, rambut Lilie seperti yang ada di foto.


Zico menjambak rambutnya. 'Ayolah, Zico. Jangan gegabah! Pernikahan mereka berawal dari perjanjian kontrak. Wajar Lilie masih menjalin dengan pria lain. Bosnya pun juga masih menjalin dengan Rossa waktu itu.'


Zico mengangguk kecil dengan pemikirannya barusan. Hubungan sebelum adanya ikatan pernikahan yang sesungguhnya. Sudah jelas itu hanya masa lalu. Dan tidak perlu di pikirkan.


Zico membasuh muka yang kedua kalinya. Seakan itu bisa meredam emosinya.


"Huufz ...."


'Sudahlah lupakan! Itu masa lalu. Lagipula, bos sepertinya juga sudah tahu mengenai Zein.'


'Tapi apa tujuan orang itu mengirim foto menjijikkan itu?'


Dengan perasaan ragu yang bercampur gelisah. Bahkan dada Zico masih naik turun karena emosinya belum stabil. Zico yakin, isi pesan yang baru saja masuk pasti akan membuat emosinya meletup lagi.


Apa aku acuhkan saja?! Sudah jelas dia tidak menginginkan bos dan Lilie bersama.


Zico paham betul. Zello sekarang sedang dilanda asmara, terlebih mereka sudah dalam satu ikatan -pernikahan-. Kebersamaan mereka selalu berhasil membuat sekeliling berdecak kagum dan iri.


Zico melirik ponselnya yang tengah menerima notif pesan lagi.


Pikiran Zico yang sudah mulai tenang mendadak berat kembali.


"Aku yang bawa Lilie." Ucapan Rossa tiba-tiba seakan mendengung di telinganya.


"Wanita licik itu." Gumam Zico. Zico memainkan ponselnya. Delima antara membaca pesannya atau malah menghapus.


Cukup lama Zico berfikir.


"Aku ingin tahu seberapa licik kamu ingin mempengaruhiku." Zico membuang nafas, menetralkan emosi dan juga mawas.


[Aku sudah terlanjur di benci oleh Zello. Tak masalah bila kamu bilang yang sebenarnya ke dia. Aku sudah terlanjur kehilangannya. Tak apa bila dia semakin membenciku karena kelicikanku. Semua sama saja buatku]


[Tapi, Zello laki-laki yang baik. Disini, tersimpan rasa bersalahku untuknya. Seharusnya, orang baik bertemu dengan orang baik]


[Foto itu aku temukan di ponsel Zein yang tidak sengaja tertinggal di bar. Aku berbicara yang sesungguhnya. Lilie seorang pelacur]


[Sampai kapan pun aku tidak akan bisa menghapus kenangan dari Zello. Jaga dirinya baik-baik]


'Rossa' batin Zico.


Sudah jelas-jelas dirinya menyelidiki identitas Veron jauh sebelum pernikahan. Tidak mungkin dirinya melakukan kesalahan.


Dave? Apa mungkin Dave yang selama ini melindungi Lilie?


Zico menggeleng frustrasi, "bosmu sedang berbahagia Zico. Jangan kamu rusak kebahagiaannya."


Zico menepis praduganya.


Dengan segera Zico menaruh ponselnya ke saku dan kembali untuk bergabung dengan yang lainnya.


***


Di lain tempat, Rossa meremas ponselnya yang tengah ia pegang. Dirinya berdiri dengan menghadap luar jendela dengan tubuh polosnya. Pemandangan yang indah yang ia acuhkan begitu saja. Tatapannya kosong. Separuh nyawanya seakan menghilang. Buliran air mata merembes di sudut mata. Penyesalan berbaur benci, yang tengah ia rasakan sekarang.


Dengan perasaan yang tak menentu Rossa melempar benda pipihnya sembarang.


Prakk. Entah jatuh dimana ponselnya, Rossa acuh, bergeming ditempatnya.


Seorang pria tampan tersentak dengan ulah Rossa. Untung saja ponsel itu tidak mengenai dirinya.


Ditatapnya tubuh polos Rossa dari belakang tak bergeming sekali di tempatnya.


Hilang sudah rasa ngantuknya karena ulah Rossa. Mereka usai saja melakukan ritual panas. Dirinya yang lelah berniat mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Namun mata yang sudah terlanjur terbuka akan sangat untuk terpejam lagi. Apalagi melihat tubuh sintal Rossa yang tengah polos. Gairah di tubuhnya terasa bangkit lagi.


Dengan perlahan ia singkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Masih seperti Rossa, dirinya pun juga dalam keadaan polos.


"Baby, are you ok?" hiburnya. Memeluk dari belakang dan dari belakang pula tangannya bekerja, menggapai milik Rossa dan meremasnya.


Perlahan Rossa membalik tubuhnya, melingkarkan tangannya di leher prianya. Mengulas senyum tipis.


"What happen?" tanyanya kembali. Menghapus air matanya dengan lembut.


"Nothing," Rossa menggeleng lemah.


"Really?"


Bukannya menjawa Rossa membungkam bibir prianya, menikmati dengan sensual dan gairah. "Entertain me!"


Bibir si pria mengulas senyum lebar. Dengan satu tarikan dirinya berhasil membuat Rossa terangkat, segera Rossa apitkan kedua kakinya dipinggang si pria. Tanpa menaruh Rossa di ranjang, dirinya melakukan penyatuan dengan sempurna.


"Ahh."


***


"Zico ... kemana saja? Kita kalah," tutur Dahlia.

__ADS_1


"Hm." Sahut Zico. Mata awasnya tertuju ke diri Veron. Menatap mengintimidasi istri bosnya. Meski berusaha menepis tapi bila bersangkutan dengan bosnya seakan percuma saja.


Veron terkesiap dengan tatapan Zico. Veron sadar ini bukan yang pertama kalinya Zico menatap ke dirinya dengan cara demikian. Veron membuang arah, benaknya menerka-nerka.


Plok. Satu tepukan keras dari Dahlia. "Lomba karaoke," ucap Dahlia dengan wajah binar. 'Aku pasti menang.'


"Aku nggak ikut," cetus Zico.


"Yah, bagaimana bisa begitu. Zico... " mohon Dahlia.


Zello hanya membuang nafas kasar. Tidak mungkin juga dia memaksakan kehendak berulang kali. Meski bawahan, tapi Zico juga orang yang keras.


Bulat sudah kesepakatan. Zico tidak ikut, begitu pula Veron dan Zello. Sementara Dahlia meski tidak ikut lomba tapi dirinya berinisiatif untuk menyumbang lagu.


Siapa yang tidak suka dengan musik. Meski tidak mengikuti lomba semua keluarga Hanif beserta asistennya setia mendengar suara-suara khas peserta. Tepukan meriah menyambut sang pemenang. Dahlia menghembuskan nafas kecil. Hahh, andai dirinya ikut.


Sebenarnya panitia enggan menerima orang untuk menyumbangkan lagu. Karena menurutnya itu adalah pemborosan waktu. Tapi mengingat siapa Dahlia, dengan terpaksa panitia mempersilahkan. Disaat itu pula Zico beranjak dari tempatnya berdiri. Memilih duduk dan menikmati camilan berat. Entah kenapa perasaannya jadi was-was saat Dahlia mengambil alih mikrofon tadi.


"Ini lagu buat pria yang ada dalam setiap doaku. Pria tampan tanpa jambang."


Zico seketika mengernyitkan dahi, dan yang kemudian menggeleng pelan.


"Pria tanpa jambang. Aku di sini setia menunggumu, meski kau selalu acuhkanku. Aku tak kan lelah untuk menantimu. Bila kamu menjauh, aku kan mengejarmu. Bila kamu meninggalkanku, aku akan mencarimu. Bila kamu berkasih dengan wanita lain, ku tunggu putusmu, bila kamu duduk di pelaminan dengan wanita lain .... aku mundur. Aku masih waras."


Riuh tawa para tamu dengan ucapan Dahlia. Namun tak sedikit yang memberikan sorak dan tepuk tangan.


Zico? Tepuk tangan dalam hati.


Alunan musik yang mulai terdengar pertanda akan Dahlia akan memulai bernyanyi.


[Dengarkanlah ...


Di sepanjang malam, aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Dengarkanlah ....


Di sepanjang malam, aku berdoa


Cintaku untukmu s'lalu terjaga


Dan aku pasti setia]


Suara Dahlia? Posisi Zico yang duduk membelakangi bernyanyinya Dahlia menajamkan pendengarannya. Zico akui, suaranya sangat jernih, dan bisa membuai perasaan bagi yang mendengarnya.


Tak sedikit yang ikut bernyanyi bersama Dahlia.


Zico memijit hidungnya, dan melanjutkan makannya sampai lagu Dahlia habis.


Akhirnya selesai juga, batin Zico. Dirinya masih duduk di kursinya. Namun ia mengubah posisi duduknya melihat area unjuk suara.


***


Langkah anggun seorang wanita membuat suasana hening sesaat. Terlebih dengan Veron dan Zello. Mereka saling melempar pandang. Menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Julia.


Di lain sisi, Zein terkesiap dengan hadirnya Julia. Terlebih Julia sudah mengambil alih mikrofone dari tangan panitia. Mau apa?


"Rasanya saya ingin marah dengan seseorang di sini. Tapi rasanya akan aneh bila aku marah karena masa lalu."


Sorot mata tajam terarah ke Veron, namun sesaat kemudian sorot mata tajam itu berangsur redup. Senyum mengembang di bibir Julia untuk Veron.


"Sayang, suamiku. Apa aku terlihat kekurangan pria? Apa aku terlihat payah dan tidak bisa menghidupi anak seorang diri? Tentu saja kamu tahu. Itu tidaklah mungkin. Aku memilih bertahan. Dan kamu pasti tahu apa alasannya. Sayang, biarkan dia berbahagia dengan keluarganya. Dan kembalilah kamu seperti yang dulu, berbahagia dengan keluarga kecilmu!"


Zein tersenyum getir di tempatnya berdiri. Dirinya yang tengah membawa air, langsung menegak sampai tandas.


Suasana hening, dari awal munculnya Julia. Sedih yang tengah ia rasakan seakan membawa pengaruh di acara tersebut.


Veron menghela nafas panjang. Ada perasaan lega, Veron pikir Julia akan mempermalukannya atau berbuat semacamnya yang akan merugikan dirinya. Zello pun demikian, udara segar seakan baru saja ia dapatkan.


"Tidak perlu dipikirkan! Dia masih mengira kamu adalah dia. Yang penting dia sudah bersikap dewasa. Kita doakan saja Zein akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarganya."


Veron mengangguk kecil dan menatap Zello.


Tapi pikirannya ke Julia dan Zein.


'Bukan aku yang datang ke Zein, tapi Zein yang selalu datang ke diriku terus menerus. Salahkah aku mengutuk Zein? Bukan menyalahkan diriku sendiri yang tidak sengaja jadi duri dalam keharmonisan keluarganya.'


"Kasian Julia," gumam Veron tanpa sadar.


"Zein pasti bisa berubah," ujar Zello. Diraihnya tubuh istrinya, memberi ciuman di kepalanya.


Di lain sisi, Zico yang menyaksikan semua teringat dengan masalalunya. Yang ayahnya memilih wanita lain, dan akhirnya ibunya yang seorang janda harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya. Saat remaja, ibu Zein meninggal karena kecelakaan. Sungguh Zico menyesalinya. Zico belum sempat berbalas budi dan membahagiakan ibunya.


Zico yang masih duduk di tempatnya, mengerti akan ucapan Julia. Terlihat matanya yang tak jarang ke mata Veron. Sudah di pastikan Julia juga tahu mengenai perihal suami dan Veron.


Deringan di ponsel Zico memecah keheningan di tempat duduknya. Panggillan dari Zello. Segera Zico menuju dimana Zello berada.


"Zico persiapkan dirimu lomba renang!" ucap Zello.


"Saya nggak ikut."


"Jangan!"


Suara bersamaan dari Zico dan Dahlia. Dahlia mencebik menyayangkan titah tuannya. Bisa-bisanya pujaan hatinya disuruh pamer body.


"Kenapa, bukankah kamu hobbi renang," ujar Zello.

__ADS_1


"A-"


"Jangan! Jangan!" potong Dahlia cepat.


"Nona saja yang ikut lomba renang."


"Heh! Kamu menyuruh istriku untuk mengumbar bentuk tubuhya!" hardik Zello.


"Ya itu yang aku maksud," cetus Dahlia. Dirinya tanpa sadar langsung mengapit lengan Zico.


"Lepas!" hardik Zico.


"Eh iya." Dahlia dengan segera melepas tangannya.


"Sudah, kita jadi penikmat saja," ucap Veron kemudian.


"Kamu mau menikmati tubuh lelaki lain?"


"Nggak, Sayang ... yaudah kita pulang," ujar Veron.


"Tidak bisa juga. Kan kita yang punya acara, masa kita pulang duluan."


"Yasudah kita duduk saja disana," ucap Zello.


Mereka menuju di mana tempat untuk bersantai bersama, dengan tatanan camilan ringan sampai berat yang tersedia.


Hanif yang masih di antara mereka masih memikirkan ucapan Zello dan Veron setelah Julia berbicara tadi. Apa ada yang tidak ia ketahui?


"Kakek, sedang memikirkan apa?" tanya Veron.


"Tidak Sayang. Mungkin sedikit lelah saja. Andai kakek pulang dulu tidak masalah kan? Zello?"


"Oh, tidak apa Kek. Yang penting masih ada yang mewakilkan kan?! Ada aku ada Zico, ada manager," sahut Zello.


"Baiklah, Kakek pulang dulu. Lilie kamu baik-baik di sini."


"Baik, Kek. Kakek langsung istirahat ya!"


"Hm."


Tanpa menunggu titah dari Hanif, Beni langsung sigap mendorong kursi Hanif dan mengangguk kecil dengan sopan ke semua.


"Zico, kamu yakin nggak ikut lomba? Lumayan kan hadiahnya. Bisa nambah tabungan."


"Jangan maksa Tuan!" celos Dahlia.


Ucapan nyolot Dahlia membuat Zello dan Veron saling melempar pandang.


"Posesif! Istri bukan, pacar bukan. Awas, Zico. Nanti kalau dia sampai jadi istrimu. Kamu tidak akan bisa berkutik," ucap Zello.


'Ah, bodo amat' batin Dahlia.


Zico hanya bisa menggeleng kepala menerima perlakuan aneh Dahlia yang semakin menggila.


***


Usainya acara mereka melakukan perjalanan pulang dengan tenang. Zello dengan Veron, Zico dan Dahlia. Dahlia bisa saja satu mobil dengan tuan nonanya. Tapi Zello berdalih tidak ingin diganggu oleh Dahlia. Jadi terpaksa Zico harus mengantar Dahlia. Tapi Zico paham betul, itu hanya akal-akalan bosnya.


***


Dalam perjalanan pulang juga. Zein dan Julia yang berada di dalam mobil hanya saling bungkam. Julia sudah biasa mendapatkan perlakuan demikian, entah sampai kapan.


Zein membuang nafas kasar, menoleh ke istrinya sekilas.


Jalanan yang mulai sepi karena sudah larut malam. Suasana hening berangsur mencair karena adanya keramaian dari jalan yang tengah ia lalui.


Zein yang melihat jalan yang akan ia lalui terpasang garis line, terpaksa memberhentikan mobilnya. Ragu akan bisa melaluinya.


Tok tok. Dilihatnya polisi yang tengah mengetuk kaca mobilnya. Segera Zein membuka kaca mobinya.


"Mohon maaf. Jalan tidak bisa dilalui oleh mobil. Karena sedang dijadikan TKP dan sedang dilakukan pemeriksaan perihal kecelakaan mengenaskan barusan. Anda bisa memakai rute lain."


"Ah, baiklah."


Zein membuang nafas kasar. Dirinya sangat lelah malam ini. Melihat mesranya Veron ke pria lain dan karena ulah Julia.


Mobil Zein melaju pesat. Karena rute yang lalui terbilang sangat sepi.


"Julia seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu."


"Kenapa?"


"Itu hanya akan menjatuhkan martabatmu."


"Martabatku atau martabatmu?!"


"Kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri."


Julia membuang arah. Melihat sepinya jalan.


"Kenapa hanya ada kita yang melalui rute ini. Apa ada rute lain yang tidak kita ketahui?"


Dahi Zein bertaut, matanya menatap tajam di depannya. Dengan gesit Zein memutar mobilnya, berbalik arah.


"Kenapa?" tanya Julia.


"Sepertinya ada jalan lain," dalih Zein. Zein tidak ingin Julia panik. Baru puluhan meter, Zein terpaksa menghentikan mobilnya. Ada yang aneh dengan mobilnya, seakan ban mobilnya telah bocor? Bagaimana bisa?


"Sebentar aku periksa dulu."

__ADS_1


Zein keluar dari mobil, melihat kedua bannya yang terlihat bocor.


"Zein, awas!"


__ADS_2