
Sorotan mata Zico yang tajam membuat Dahlia langsung menutup mulut. Dahlia baru sadar kalau dirinya terlalu banyak bicara.
"Tapi aku kan selalu bersama nona. Nona aman. Mereka hanya kenal sebatas teman. Tidak lebih."
Masih dalam rasa penasaran Zico mengemudikan mobilnya dengan tatapan kosong.
Wajah datar dan dingin Zico dari samping malah terlihat sangat menggemaskan dimata Dahlia.
"Oh iya. Besok kamu mau ya jadi pasangan aku di acara nanti."
Hening. Zello menoleh ke Dahlia tanpa berucap. Dirinya sudah lelah dengan kegiatan minggu ini. Dirinya tidak mau lebih lelah dengan ulah konyol wanita aneh di sampingnya.
"Zico."
Brummm.
"Aaaa."
Dahlia mencebik dengan tangan di dadanya.
'Jangan berucap lagi Dahlia! Nyawamu ada di mulutmu.'
Sesampai di depan perusahaan Zico dan Dahlia langsung masuk ke ruangan Zello.
"Dahlia. Istriku sudah bersama pria yang aman. Kamu ikut Zico ke ballroom, guna pengecekan acara besok." ucap Zello tegas.
Dahlia terdiam dan melirik Zello yang seakan tengah berfikir. Meski begitu Zico mengangguk kecil.
Dengan patuh Zico dan Dahlia keluar ruangan. Jalan beriringan tanpa kata dengan langkah lebar.
Sesampai muka perusahaan, Zico langsung masuk mobil yang memang masih di tempat. Begitu Dahlia yang langsung masuk dan tidak lupa untuk memasang sealtbeltnya.
Dengan cepat mobil Zico sampai di depan butik Anita.
"Turun! Bawa mobilnya pulang!"
"Tapi, Tuan Zello bilang -"
"Aku tidak kekurangan bala bantuan di sana."
Dahlia keluar mobil dengan pasrah.
Brakk.
Bruummm...
"Astaga, jantungku."
***
Keesokan hari, di waktu senja. Veron tengah bersiap untuk datang ke acara perusahaan. Veron dengan lihai memoleskan berbagai macam ulasan make up di wajahnya. Tidak lupa juga Dahlia di kamar yang sama. Menghias diri sendiri seperti nonanya.
Dahlia yang hanya memakai make up seperlunya lebih awal selesai. Dirinya yang sudah selesai menghampiri Veron yang tengah duduk di meja rias. Melihat nonanya dengan lincah mengaplikasikan make upnya.
"Make up Anda rapi sekali. Seperti MUA terkenal. Nanti kalau saya nikah tolong rias saya ya Nona."
Veron mendongak melihat Dahlia yang tengah berdiri di sampingnya. "Kamu tidak takut untuk menikah?" tanya Veron.
"Hah? Pertanyaan apa itu Nona?"
"Tolong buat rambutku jadi curly!" titah Veron.
"Nona. Saya butuh banyak penjelasan dari Nona."
Dengan pelan Dahlia memainkan rambut Veron. Dirinya menatap nonanya di pantulan cermin yang make upnya sudah hampir selesai.
"Sekarang Nona sibuk terus sama tuan."
"Kamu butuh penjelasan apa Dahlia?"
"Mm... sekarang hubungan Nona bagaimana dengan Tuan Zello?"
Seketika sekelibat bayangan wajah Zello memenuhi ingatannya. Sikapnya yang hangat dan juga manja. Bibir Veron tersenyum simpul mengingat moment-moment mereka.
"Menurutmu bagaimana?"
"Mm, menurutku Nona sama Tuan sekarang benar-benar di mabuk asmara. Tuan Zello eh Nona Rossa. Aduh, maksudku." Dahlia berucap tak jelas. Namun Veron seakan paham dengan apa yang ingin Dahlia tanyakan.
"Zello sudah tahu semuanya."
"Maksudnya?"
"Seperti yang kamu katakan. Zello mengetahui kebiasaan Rossa yang sering berkencan dengan pria lain."
"Ah, astaga."
"Dan ternyata, Zello mengetahui itu semua sebelum kami menikah. Terbongkarnya Rossa membuat Zello menerima pernikahan kami dari awal. Dia mensakralkan pernikahan. Karena itu, dari awal nikah dia juga sudah menerimaku jadi istri sahnya."
"Benarkah?" Dahlia terkesiap. Matanya memerah karena terharu dengan sikap tuannya. Terharu dengan pernikahan majikannya.
"Nona bolehkah aku memelukmu. Aku sangat senang."
Belum Veron menyahut Dahlia yang sudah memeluk bahu Veron dari belakang.
__ADS_1
"Terima kasih Dahlia. Aku sangat senang. Aku juga tidak menyangka sama sekali."
"Benar-benar kejutan besar. Seharusnya kita merayakannya."
"Hm. Kita akan merayakannya nanti."
"Oya, Nona. Terus maksud Nona tadi apa?"
"Yang mana?"
"Barusan. Nona yang tanya sama saya, apa aku tidak takut menikah."
"Oh.... nggak. Hanya saja kan kebanyakan wanita seusia muda kaya kamu belum siap menikah."
"Ah Nona. Saya kan sudah tua. Selisih tiga tahun saja dengan Nona."
"Oh ....memang kamu rencana kapan nikah?"
"Yaa, sedapatnya saja, Nona. Kalau besok sudah dapat langsung gas hehe."
Veron tersenyum tipis menanggapi ucapan Dahlia. "Lalu, bagaimana menurutmu tentang Zico?"
"Ha? Mm .... dia pria yang tanggung jawab." ucap Dahlia pelan.
Veron tersenyum geli mendengar sahutan Dahlia. Suaranya yang cempreng mendadak lemah lembut saat menyinggung Zico. Wajah nya pun juga memerah.
"Ah, sudahlah Nona. Jangan bahas dia."
"Ah iya iya. Aku tahu." Ucap Veron dengan mimik menggoda.
"Oya Nona. Apa yang Nona maksudkan takut adalah malam pertama? Saya sering baca novel-novel dan katanya sakit. Tapi juga enak. Eh." Dahlia menepuk jidatnya sendiri.
Tawa kecil keluar dari bibir sensual Veron. Sesaat tawanya perlahan meredup. Menatap iri ke Dahlia. "Kamu masih vir?" ucap pelan Veron menggantung.
"Ah Nona tentu saja. Aku ini wanita baik-baik. Dan nanti akan ku persembahkan untuk suamiku tercinta."
Mendengar ucapan Dahlia, hati Veron mencelos sakit. Andai dirinya bisa menjaga keutuhan yang berharga dalam dirinya. Nanti pasti akan sangat spesial buat Zello.
"Nona lihatlah! Anda sangat cantik." Ditatanya rambut Veron dengan lembut. Rambut Veron yang bergelombang memperpendek ukuran panjang rambut sebelumnya. Yang awalnya sebahu menjadi di atas bahu. Dan terlihat sangat pas di wajah dan bahu Veron. Terlebih Veron menggunakan gaun dengan bahu terbuka.
Mata Dahlia tertuju dengan poni Veron yang mulai memanjang. "Nona poninya apa perlu diubah juga?"
Veron mengadahkan tangannya meminta alat yang tengah dipegang Dahlia.
Diambilnya dengan pelan rambut poni Veron menyisakan sedikit poni bagian tengah. Ia singkap dan beri jepit di kedua sisi kiri kanan. Dan mengambil sisa poninya yang di tengah, ia singkap menjadi kiri kanan dan membuat sedikit gelombang di rambutnya yang bagian kiri dan juga yang kanan. Ia rapikan poni itu menyamping. Senyum tipis mewarnai bibir Veron yang sudah puas dengan tatanan rambutnya.
"Anda keren sekali." Pekik Dahlia.
"Biasa saja. Kamunya saja yang tidak tahu."
"Nona. Karena sudah selesai saya keluar ya." Dahlia keluar kamar dengan sopan. Meninggalkan kedua majikannya.
Dengan langkah pelan Zello menuju di mana Veron duduk. Menatap penuh pesona yang terpantul di cermin.
"Kalau kamu cantik seperti ini lebih baik jangan keluar!"
"Jangan kebanyakan membual."
"Bagaiamana kalau ada yang menculikmu nanti?!"
"Sudahlah!"
"Aku serius."
"Dasar pembual."
"Banyak pria mata keranjang di sana."
"Mereka tidak akan berani. Karena aku akan terus di samping suamiku."
Zello meraih kepala Veron lembut dan membuat mereka bersitatap. Mengagumi paras istrinya dengan dada berdebar tak beraturan. Tangannya terulur menyentuh bibir Veron yang terpoles warna pink soft.
"Apa ini akan berantakan bila aku melakukannya?!"
"Entahlah, mungkin sedikit."
Tidak menggubris ucapan istrinya, Zello mengurangi jarak wajah mereka. Bibir Veron terlihat sangat menggoda. Rasanya ingin memakannya sampai bengkak.
"Jangan! Nanti berantakan." Tolak Veron.
Hembusan nafas kasar keluar dari hidung Zello. "Awas saja nanti malam. Akan kubuat kamu besok pakai masker."
Veron tersenyum simpul mendengar celotehan suaminya. Wajahnya sedikit menunduk dengan semburat merah karena tersipu.
Zello meraih dagu Veron dan menelisik wajah Veron lagi dengan ....gairah.
"Hem." Dehem Zello sembari melepaskan dagu istrinya.
"Aku mandi dulu."
***
Hanif, Zello, Veron, Dahlia dan Beni sudah sampai di tempat acara. Di ballroom hotel mewah yang memang biasa ia pakai.
__ADS_1
Hari sudah gelap dan suasana acara sudah ramai dengan semua yang bersangkutan dengan perusahaan. Tidak lupa juga rekan kolega yang akan ikut meriahkan acara nanti.
Zello menggembungkan pipinya disusul hembusan nafas kasar.
"Kenapa?" tanya Veron.
"Jaga jarak dengan semua pria yang ada di sini! Terutama Zein." Tekan Zello. Matanya menatap intens Veron.
Sikap manis dan manja Zello yang selalu menggoda Veron. Membuat Veron lupa akan hal itu. Veron tersenyum kaku. Perkataan Zello berhasil membuat dirinya waspada dan sedikit cemas.
"Ayo!" Zello melangkahkan kaki dan mulai menyambut para tamu koleganya. Begitu juga dengan Hanif. Sementara Dahlia dapat kebebasan karena sedang bersama Zello. 'Cukup mengawasi dari jauh' titah Zello.
"Bos." sapa Zico yang sudah dari awal di tempat acara.
"Good job." Zello menepuk pipi Zico bangga.
Dahlia dapat titah mengawasi dari jauh bukan berarti di kucilkan. Tapi karena mereka sengaja supaya Dahlia bisa menikmati acaranya juga. Tidak hanya terus mengekor nonanya.
Jam berlalu acara segera dimulai. Hanif sang pemilik utama yang berada di depan aula tak hentinya mengucap syukur atas keberhasilan dan kemajuan perusahaannya. Sanjungan dan pujian Hanif torehkan untuk semua yang bersangkutan di perusahaannya, karyawan kantor dari kedudukan tinggi sampai ke ob dan security pun tak lupa ia sebut. Yang disusul dengan ungkapan terima kasih kepada semua rekan kolega dan penanam saham.
Ungkapan hangat Hanif disambut hiruk pikuk lautan manusia yang di sana. Hanif memang terkenal dengan sifatnya yang hangat. Sehingga semua bawahan yang bekerja di kantor pun tidak hanya menghormati tapi juga sangat menaruh kagum. Kagum dengan sosok orang besar yang selalu bisa berbuat hangat dan terbuka dengan siapa saja. Perhatian-perhatian kecil Hanif pun tak luput dari ingatan mereka, seperti ada karyawan yang sakit, melahirkan, Hanif dengan sukarela menjenguk dan membiayai.
Pandangan Hanif yang awalnya ke depan beralih ke Veron yang berdiri di sampingnya.
"Puji syukur, aku sekarang juga sangat berbahagia. Kehadirannya menambah warna yang indah di keluarga besar kami. Perilakunya, senyumnya. Kami bersyukur tidak ada yang menemukan dia sebelum kami membopongnya jadi menantu. Andai itu terjadi, mungkin aku akan terus melamun di setiap hariku."
"Kakek..." lirih Veron.
"Nak, rasanya kakek ingin mengajakmu berdansa malam ini. Tapi nyatanya tidak bisa."
Veron menunduk mencium pipi Hanif, memeluk dan menangis tersedu di bahu Hanif.
Tepukan tangan bercampur rasa haru yang menular memenuhi ruangan. Rasa iri menjalar ke para wanita yang merasa Veron sangat beruntung mendapatkan keluarga seperti Hanif. Namun tak mengurungkan mereka untuk memberikan tepukan juga.
"Sudah, hapus air matamu, Nak!" ucap Hanif. Tangannya yang mulai berkeriput menepuk lembut punggung Veron.
Veron melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Zello yang sudah siap menyambutnya. Menangis sesenggukan di dada suaminya membuat basah atasan Zello dengan cepat.
"Sudah, Sayang. Wajahmu berantakan. Tadi kamu melarangku karena takut berantakan. Apa aku ingin melakukannya sekarang? Hm? " Goda Zello dengan meraih dagu Veron.
Veron masih sesenggukan, enggan menjawab ucapan suaminya.
"Wohh." Sorak riuh dari para tamu yang melihat Zello melahap bibir istrinya dengan rakus. Meskipun hanya sekian detik namun membuat mereka menahan nafas.
"Zello!" Veron memukul dada bidang Zello kesal.
"Sudah tidak apa. Kan kita suami istri."
'Dasar tidak tahu malu.'
Penyambutan keluarga Hanif yang dapat respon tangis haru sampai sorakan sudah selesai. Membuat Dahlia kembali ke Nonanya. Sudah cukup lama dirinya jauh dari Veron. Mungkin saja nonanya akan memerlukan bantuannya.
"Dahlia, pintar sekali. Ikut aku ke toilet.
"Baik, Nona." Dengan langkah ayu Veron melenggang dari kerumunan. Tersenyum di tengah rasa malu dengan mereka yang tengah menatapnya. Terlebih karena ada adegan konyol dari Zello. Meski malu ia mencoba untuk menutupinya. Harus bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur. Tidak mungkin juga dirinya kabur sementara acara baru saja dimulai.
Di dalam toilet Veron merapikan makeup dan penampilannya dengan dibantu Dahlia. Tidak butuh waktu lama Veron merapikan penampilannya. Dirinya langsung keluar bergabung dengan Zello lagi. Sesuai titahnya.
"Zello. Dorong kursiku dulu. Kakek ingin menyambut rekan kerja kita yang baru saja datang," ucap Hanif.
"Ah yasudahlah. Ayo, Kek."
"Jaga Nonamu!"
"Baik, Tuan."
Dahlia menuntun Veron untuk ke tempat makanan yang tersaji. Mengambilkan cupcake dan minum untuk nonanya.
Alunan instrumel yang romantis mengalirkan suasana yang mendukung dalam acara itu. Membuat sedikit banyak digunakan tamu untuk berdansa.
Hangatnya suasana acara itu. Ada yang berdansa, bercengkerama, menikmati hidangan.
Veron dan Dahlia duduk di meja dengan ditemani cupcake dan minuman. Nggak selang lama pelayan lewat menawarkan minuman segar.
"Telat, Uncle.... " cetus Dahlia.
"Maaf, Nona." ucap pelayan.
"Tidak masalah. Jangan dengarkan dia!" sela Veron.
"Terima kasih, Nona. Permisi."
Veron mengangguk dengan senyum, mempersilahkan.
"Eh, Nona. Bukankah itu teman Nona?! Kenapa dia belum pergi ke luar negeri juga?!"
'Dave?'
Veron mengecap bibirnya, terkejut dan bingung mau jawab apa ke Dahlia.
"Nona Lilie - kenal Dave?"
'Zein.'
__ADS_1
Veron menelan salivanya, terkejut dengan kehadiran Zein yang sudah ada di sampingnya. Terlebih dengan pertanyaan Zein.
"Tentu saja. Nona kemarin kan kerja di -"