Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Rencana Zello


__ADS_3

***


Siang hari Veron dan Maria ke perusahaan Golden bersama tidak lupa di iringi sama Dahlia.


"Sayang, itu papa." Tunjuk Maria. Mereka baru saja memasuki perusahaan di lantai satu. Terlihat Panee tengah melakukan semacam obrolan dengan beberapa karyawan. Maria menghentikan langkah dan menaruh kedua telapak tangannya dengan saling bertumpu di dada. Nggak hanya disitu, Maria juga memejamkan matanya seakan sedang ingin mengucapkan permohonan.


"Mah," ucap Veron pelan.


Maria membuka matanya, " ini namanya ikatan hati suami istri." Dan juga langsung melepaskan tumpuan tangan di dadanya.


"Dan lihat saja! Pasti sebentar lagi papa bakal noleh ke mama," imbuh Maria bersemangat.


"Oh ... "


"Andai papa tidak menoleh ke mama. Awas saja nanti."


Veron tertawa kecil dengan tingkah lucu Maria. "Kalau papa tidak noleh, berarti mama ngucap permohonannya tidak dari hati." Goda Veron.


"Eh, enak a- tuh kan papa noleh," ucap Maria girang.


Terlihat Panee yang melambai dan jalan mendekat ke mereka.


"Ayo, Mah. Kita ke papa juga. Nggak kebalik, kan kita mau masuk, tapi malah papa yang nyamperin kita keluar," cerocos Veron.


"Nggak apa biarin. Itu tanda sayang papa ke mama."


"Ouuhh ...." iyain aja deh. Batin Veron.


Wajah sumringah Panee menyambut Maria juga Veron.


"Siang kedua wanita cantikku." Dirangkulnya kedua wanita yang ada di depannya.


"Kamu tumben kesini Sayang," ucap Panee ke Maria.


"Kangen kamu Sayang," sahut Maria manja.


"Ahem, ahem." Dehem keras Veron.


Panee terkekeh sembari melepaskan rangkulannya. "Kalau kamu kangen sama siapa?" goda Panee.


"Kangen Papa lah," sahut Veron.


"Pantesan hidung kamu mancung banget. Ternyata karena kebanyakan berbohong."


"Maklum Pah. Masih pengantin baru. Nanti kalau sudah melewati masa pengantin baru, baru jadi nggak tahu malu."


"Contohnya mama gitu ya?!" Goda Veron.


"Justru malah bagus. Laki-laki itu suka kaya mama kamu ini. Bergurulah sama dia," ujar Panee. Panee beralih merangkul bahu Maria dan mengecup kening istrinya.


"Betul itu. Pah, aku mau ke ruangan Zello bentar ya. Kangen sama ruangan Zello," ucap Maria.


"Baiklah." Panee melepas rangkulannya ke Maria beralih merangkul Veron. "Aku temani keliling perusahaan yuk Sayang," ucap Panee ke Veron.


"Iya, ajak menantumu keliling perusahaan. Semua karyawan perusahaan wajib tahu dia istri Zello," ucap Maria semangat.


"Ayo Sayang! Kita sudah dapat restu."


"Rangkul mama sekalian Pah. Kan sama-sama masuk."


"Nggak, kita keliling dari lantai pertama baru naik ke atas. See you Darling."


"See."


***


Tok tok.


"Masuk!" sahut Zello. Tanpa menatap arah pintu, dirinya tengah sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Zello," pekik Maria.


"Ma." Mendongak dengan senyum getir. "Suara Mama nggak ada yang ngalahin," imbuh Zello.


"Kamu senyumnya biasa aja dong."


"Mau ketemu papa? Papa lagi diluar."


"Enak aja. Pengen ketemu kamulah. Buat apa ngurusin papa kamu. Dia sudah sibuk dengan wanita baru," cetus Maria.


"Maksud Mama?" wajah Zello berubah merah padam.


"Ah itu nggak penting. Itu bahas nanti saja. Sekarang lihat penampilan mama. Bagus nggak?"


"Mama selalu cantik seperti biasanya. Papa pasti sudah gila karena bermain wanita di belakang Mama." Zello berucap kesal. Tidak menyangka Panee akan berulah seperti itu.


"Kritik yang benar! Bagaimana penampilan Mama?"


Heran dengan sikap mamanya, suaminya bermain wanita tapi malah sibuk dengan penampilannya.


Dilihatnya Maria yang memakai blazer panjang selutut dengan celana scuba. Bingung mau koment apa, mamanya memang selalu cantik. Dan saat dirinya sudah bilang cantik tapi tetap disuruh kritik penampilannya. Dirinya harus bilang apa lagi.


"Sudah kuduga. Pasti Lilie bohong. Dia bilang ini darimu. Kamu kan tidak pernah kepikiran buat beliin mama barang kecuali saat mama ulang tahun," cerocos Maria.

__ADS_1


"Maksud Mama?"


"Lilie memberi outfit ini tadi pagi. Kata Lilie kamu ingin memberi ini ke mama, tapi kamunya malu karena jarang memberi hadiah. Mangkanya kamu nyuruh Lilie untuk memberikan ini ke mama."


"Oh." Senyum tipis menghias bibir Zello. "Terus?" imbuh Zello.


"Lilie lucu sekali. Dia malah sangat berani untuk nyuruh mama jangan bilang ini ke kamu. Katanya karena takut kamu malu." Maria tersenyum senang mendapat perlakuan dari Veron.


Tok tok.


"Nyonya." Dahlia masuk dengan minuman hangat di tangannya.


"Taruh meja sofa saja!"


"Baik, Nyonya."


"Dahlia. Bagaimana menurutmu tentang Lilie?"


Ha? Terkejut dengan pertanyaan Maria, menerka-nerka apa Nonanya telah berbuat salah.


Apa yang harus ku jawab. Apa aku harus jawab 'Menantu anda wanita materialistis, sanggup melakukan apapun demi uang. Terbukti dengan maunya dia menjadi istri kontrak Tuan Zello'. Huh ... detik ini akan kiamat bila aku mengatakan itu. Aku harus mengatakan yang sebenarnya kan?! Yang aku lihat, meski dia materialistis tapi ...


"Nona Lilie terlihat sangat tulus dengan orang yang disekelilingnya Nyonya."


Maria mengangguk puas, "dan kamu apa selalu bersama dia?"


"Iya Nyonya, seperti yang anda ketahui. Kecuali bila Nona Lilie sedang bersama keluarga. Seperti saat sekarang ini. Karena bersama Tuan Panee, saya disuruh mengekor ke Nyonya," ucap Dahlia sopan.


"Jadi, wanita yang Mama maksud itu Lilie?" sela Zello.


"Hahaha. Iya, papa sedang mengajak Lilie keliling perusahaan." Maria tertawa lebar sudah berhasil membuat Zello tertipu. Dirinya beralih duduk di sofa. "Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu! Mama mau duduk di sini saja."


"Pantas Mama tetap santai mengetahui suaminya tengah sibuk dengan wanita lain." Zello menggeleng mendapati ulah mamanya.


"Makasih Sayang, kamu perhatian sekali tadi."


"Untung papa nggak disini. Coba kalau ada, pasti sudah kena tonjok."


"Hahaha, lain kali berfikirlah pakai logika. Mana bisa papa kamu berpaling kalau mama kamu masih cetar begini."


"Hm, yasudahlah. Terserah Mama. Aku lanjutin pekerjaanku dulu, Mah."


"Iya, Sayang. Lanjutkan, anggap saja kita kasat mata!"


Ceklek.


"Nyonya Besar," sapa Zico. Dan langsung dapat sahutan senyum manis dari Maria. Zico juga langsung beralih ke meja kerja Zello.


"Ini laporan untuk rapat besok Bos."


Zello langsung sibuk mengurusi berkas-berkasnya. Zello bukanlah seperti CEO seperti kebanyakan yang terus mengandalkan asistennya. Bisa dibilang Zello juga gila kerja, seperti Panee. Andai nanti dia sudah menikah, mungkin beda lagi. Tapi kan dia sudah menikah. Zello kesal sendiri dengan pernikahannya, pernikahan yang tidak seperti pernikahan orang lain.


"Zico, apa sudah ada kabar dari David?" tanya Zello.


"Belum, Bos. Mungkin bila nanti Nona sudah kembali untuk pemotretan baru akan mendapatkan barang bukti yang lebih kuat ."


"Kamu benar juga." Zello mengangguk setuju dengan ucapan Zico.


"Rapikan berkasnya!" titah Zello.


"Mm ... Anda tidak terlihat patah hati?!" ucap Zico. Tangannya sibuk menata berkas-berkas mengalihkan rasa takutnya. Takut salah bicara, namun yang diucapkan apa adanya. "Apa ... "


"Itu bukan urusanmu, bekerjalah yang benar!"


"Iya .... " Zico tersenyum puas melihat wajah merah Zello.


Waktu cepat berlalu, pekerjaannya cepat selesai, Zico juga sudah


kembali ke ruangannya. Zello beralih santai di kursinya, duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan pikiran bercabang. Bercabang yang membuat rahangnya mengeras tapi sesaat rahangnya kembali santai, bibirnya yang terkunci itu sedikit melengkung ke atas.


Tok tok.


"Masuk!"


Dilihatnya Veron yang tengah memasuki ruangannya dengan senyum manis. Dan mendekat ke meja Zello.


"Duduk!"


"Aku hanya sendiri, tidak bersama Rossa," ucap Veron.


"Apa aku menanyakannya."


"Tidak. Cuma aku pikir kamu mengharapkannya. "


"Tidak. Dia juga sudah mengirim pesan ke nomorku." Zello menelisik penampilan Veron, yang seperti wanita karir dengan penuh aura disana. Terlihat sangat ...


"Bagaimana penampilanku?" goda Veron.


"Apa kamu tidak tertarik kerja di perusahaanku? Aku akan menjadikan kamu sebagai asisten pribadiku," dalih Zello.


"Hm? Apa kamu butuh asisten pribadi. Biasanya juga nggak. Lagian aku nggak mau terus sibuk di perkantoran. Aku itu maunya shopping, nyalon, kuliner ... -"


"Nah, betul itu. Itu baru mantu mama. Jujur apa adanya," sela Maria. "Aku benar-benar dianggap kasat mata oleh Veron."

__ADS_1


"Mama terlihat sangat serius barusan. Lilie nggak berani ganggu," jelas Veron.


"Hm. Mana ada orang bisa serius dengan ponsel."


"Mama pasti lagi laper," cetus Veron.


"Kok kamu tahu," ucap Maria mendrama dengan isakan palsu.


"Tapi sekarang sudah kenyang," ujar Veron.


"Kok bisa gitu?" Maria mengernyit heran.


"Ini Mama buktinya sudah nggak resek."


"Ih bisa banget kamu. Ayo Zello, makan! Ini sudah jam istirahat kan?!"


"Iya, Mah. Ayo kita nyari resto. Sebelum reseknya kambuh."


"Aih, kalian ini serasi sekali. Oya papa mana, Lie?"


"Ada Mah di luar. Lagi asyik ngobrol sama Zico tadi."


"Oh yaudah yuk keluar!"


Keluarga Zello memang tidak pernah mempermasahkan kasta. Dahlia dan Zico mereka ajak juga untuk makan siang bersama.


Sesampai di resto, mereka makan di meja masing-masing. Seperti keinginan Maria. Maria dengan Panee, Zello dengan Veron dan Zico dengan Dahlia.


(meja Maria)


"Mah, kenapa bersikeras banget buat pisah meja? Enakan juga rame-rame." Panee sedikit heran dengan kemauan keras istrinya.


"Mm ... ada deh."


"Mah." Tuntut Panee


" ....."


(Meja Zello)


"Kamu nggak masuk kerja?" tanya Zello.


"Belum. Aku minta libur seminggu, kan masih nuansa pengantin baru. Bisa di cibir nanti, masa pengantin baru liburnya cuma sehari."


"Oh ... gitu ya?!" senyum tipis terulas di bibir Zello.


(Meja Zico)


"Makanlah yang banyak!"


"Tenang, aku bukan wanita yang suka malu-malu."


"Andai ada yang melihatmu makan denganku, apa tidak akan masalah?!"


"Tidak. Kamu?"


"Tidak juga. "


Obrolan yang nggak jelas, tapi membuat mereka saling mencuri-curi pandang.


"Bilang aja jomblo."


"Halah, palingan kamu juga."


(Meja Zello)


"Menurutmu bagaimana rasanya?" ucap Veron.


"Semua makanan enak di lidahku."


"Hm. Aku juga bukan tipe pemilih. Tapi ini benar-benar enak."


"Lilie, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa?" Veron menghentikan aktivitasnya, melihat raut serius di wajah Zello.


"Setelah kepergian mama papa nanti. Kita akan tinggal di apartemen. Apartemen ku," jelas Zello.


Seperti kabar buruk yang Veron terima, hatinya merasa berdenyut bahkan terasa perih. Kenapa? Kenapa reaksinya sesakit ini?


"Kenapa?" ucap Veron. Veron merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman. Sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.


"Memang harus begitu. Seminggu sekali kita akan mengunjungi Kakek."


Veron menggigit bibirnya dan menelan saliva dengan susah payah.


"Zello. Kamu tahu kan maksud Kakek supaya kamu cepat nikah?"


"Iya. Nggak apa-apa. Itu bukan masalah. Kakek pasti bisa memaklumi." Zello tersenyum dengan paksa, mencoba meyakinkan semua akan baik-baik saja. Tidak menduga reaksi Veron akan demikian. Dengan jelas Zello bisa melihat mata Veron yang sudah memerah.


"Aku pikir kamu ...." Veron tersenyum getir. Menertawakan dirinya yang terlalu cepat kagum dengan seseorang.


"Apa?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa." Veron berdiri dari duduknya. "Aku ke toilet dulu."


__ADS_2