
****
Rasa sakit yang tidak bisa Veron tahan. Dirinya meraung kesakitan di tenaganya yang mulai lemah.
"Ahhh."
"Yang kuat ya, Nona. Sebentar lagi akan dimulai operasinya. Suami Anda juga sudah dalam perjalanan," ujar perawat yang membantu Veron berbaring di ranjang supaya nyaman. Meski semua itu tidak berpengaruh sama sekali buat Veron.
Udara dingin menusuk Veron yang terbaring sakit, rasanya sudah tidak kuat. Tapi perawat selalu mengajaknya mengobrol seakan ingin dirinya selalu terjaga. Sakit dan dinginnya ruangan sangat menyita tenaganya. Veron hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan perawat.
****
"Tuan, sebelum melakukan operasi, sesuai prosedur semua dilakukan pengecekan dulu atas semua kondisi tubuh pasien tak terkecuali dengan rahimnya. Dan .... ternyata ditemukan tumor pada rahim Nyonya Lilie."
"Apa?" Suara Zello bergetar mendengar ucapan dokter. Kondisi istrinya sekarang saja sudah membuatnya sangat panik, dan sekarang harus menerima fakta yang menyakitkan.
"Benar, Tuan. Tumor yang terletak di dinding rahim. Seharusnya tumor ini bisa disembuhkan dengan cara pengobatan bertahap. Tapi, karena Nyonya Lilie mengalami pendarahan yang hebat dan takut berakibat infeksi dengan rahim dan tubuh Nyonya Lilie sendiri. Jadi, terpaksa kami akan melalukan pengangkatan rahim untuk mencegah infeksi itu."
"Apa semua akan baik-baik saja?!"
"Tentu saja, Tuan. Hanya.... karena dilakukan pengangkatan rahim, jadi Nyonya Lilie tidak akan bisa hamil lagi."
Zello terdiam sesaat, yang kemudian dengan cepat menandatangani kertas yang ada di tangannya. "Lakukan!"
"Mari Tuan!" Dokter dan Zello dengan cepat memasuki ruang operasi. Zello menggantikan peran perawat yang menemani istrinya. Digenggamnya tangan Lilie, matanya berembun melihat istrinya yang terbaring dengan wajah meringis sakit.
Tindakan awal dokter yang membius tubuh Veron membuat dirinya jauh lebih tenang di ranjangnya. Namun begitu matanya tak pernah lepas dari wajah suaminya. Ucapan yang selalu keluar dari bibir suaminya adalah penyemangat dan hiburan untuk dirinya.
"Ayo tebak-tebakan, apa jenis kelamin anak kita?" ujar Zeolit lirih. Rasa haru dan cemas jadi satu, Zello tutupi dengan berucap sesantai mungkin. Menahan sekuat mungkin supaya air matanya tidak jatuh. Dokter sudah menyarankan supaya dirinya menunggu diluar, tapi Zello kekeh untuk menemani istrinya berjuang.
Bibir Veron mengulum senyum, tangannya meremas genggaman Zello. Andai dirinya bisa berucap, dirinya akan mengatakan 'boy'. Tapi dirinya terlalu lemah.
"Aku yakin, nanti anaknya pasti perempuan. Cantik seperti kamu." Zello menyapu wajah Veron dengan telapaknya, menatap wajah istrinya yang berhias senyum manis di bibirnya. Dan kemudian beralih mencium tangannya dengan lembut.
Setelah hampir satu jam operasi berlangsung, kedua tangan sang dokter berhasil menimang bayi mungil yang kulitnya masih merah. Dokter berjalan dimana Zello berada, yang tentunya berhasil membuat Zello berdecak kagum dan haru. Air matanya yang sedari ia tahan menetes ketika melihat bayi yang ada dalam timangan sang dokter. Tidak lupa juga dokter memperlihatkan wajah bayi ke istrinya. Air mata bercucuran dari sepasang suami istri, mereka memberikan sentuhan kecil yang lembut di kulit wajah bayi yang masih rentan.
"Saya bawa untuk dibersihkan kan ya. Setelah itu akan langsung ditaruh ankubator," ujar dokter.
__ADS_1
"Baik, Dok. Silahkan!" sahut Zello.
Pandangan Zello beralih lagi ke wajah istrinya. Satu jam sudah untuk proses persalinan istrinya. Tapi itu belum dihitung untuk jam pengangkatan rahim yang akan berlangsung. Entah berapa jam lagi istrinya terbaring dalam keadaan demikian. Air mata Zello banjir lagi, melihat sendiri perjuangan istrinya. Pendarahan yang tidak kunjung henti dan operasi yang belum kunjung selesai membuat air mata haru Zello berubah air mata ketakutan.
Genggaman Zello tak pernah lepas dari tangan istrinya. Dirinya merasa ada untungnya rahim istrinya di angkat, paling tidak istrinya tidak akan mengalami kesakitan seperti ini lagi nantinya.
Selalu berdoa di tengah ketakutan, menumbuhkan keyakinan kalau istrinya akan kuat dan bisa melalui semua. Senyum tipis terukir di bibir Zello, menatap sayu ke wajah istrinya yang tengah tersenyum kaku.
"Kenapa?" tanya Veron.
Zello menggeleng, masih dengan senyum kecilnya.
"Semua akan baik-baik saja," ujar Zello yang seakan paham kekhawatiran istrinya. Hampir tiga jam perut istrinya dibedah dan dikorek-korek. Zello yakin istrinya pasti merasa heran dengan lamanya dirinya melakukan operasi.
Klik. Lampu operasi mati.
Zello melihat pergerakan dokter-dokter dan perawat yang keluar jalur dari tirai pembatas. Memperlihatkan aktivitas mengerikan mereka telah usai. Mata Zello berlaih ke istrinya lagi yang masih terbuka dengan wajah sedikit pucat.
"Tuan." Panggil dokter.
Zello melepas genggaman tangannya, sementara ada perawat wanita yang menemani Veron mengobrol.
"Ah, syukurlah." Zello menangkup wajahnya, bersyukur sekaligus ungkapan rasa leganya. Tangannya beralih meraih tangan dokter menjabatnya, sangat berterima kasih dengan dokter inti yang ada di depannya. "Terima kasih sekali, Dokter."
"Sama -sama Tuan. Istri Anda boleh istirahat sejenak. Baru nanti akan dipindahkan ke ruang inap. Saya permisi dulu."
"Baiklah, Dokter." Zello dengan senyum lebar melangkah menuju samping istrinya lagi. Udara dingin diruangan itu pun juga berkurang karena usainya proses operasi.
"Sayang, istirahatlah! Kamu pasti lelah."
Mata Veron terpejam, karena Veron memang merasa sangat butuh istirahat.
***
"Sayang," tepukan lembut di pipi Veron menyadarkan Veron dari tidurnya. Zello tersenyum lebar sembari merapikan rambut istrinya. "Kita pindah ruang ya." Zello dengan hati-hati mengangkat tubuh istrinya untuk ditaruh di kursi roda.
Entah sudah berapa lama Veron tidur, tapi dia merasakan tubuhnya jauh lebih segar dari sebelumnya.
__ADS_1
Elusan tangan Zello di pundaknya membuat dia menoleh ke suaminya yang tengah mendorong kursi rodanya.
"Mas."
"Hm."
"Aku ingin-" Suara Veron terhenti saat dirinya melihat Hanif yang tengah berada di depan pintu. Veron menelan ludahnya karena gugup dan terdiam beberapa saat dengan mata yang masih setiap menatap wajah Hanif yang terulas senyum di bibirnya.
"Kek." Suara pelan Veron yang sekian lama tercekat di tenggorokannya.
Kursi Hanif bergerak maju mengikis jarak kursi roda mereka berdua. Tepukan lembut di kepala Veron juga Hanif berikan sebagai ungkapan sayangnya."Terima kasih, Nak. Kamu sudah mengabulkan permintaan kakek untuk memberi cicit."
"Kakek, aku minta maaf soal,"
"Mau sampai kapan kamu memikirkan itu? Lupakan. Nggak ada yang perlu di bahas ataupun dijelaskan."
Air mata terus bercucuran membasahi pipi Veron dengan suara isak tangis keluar dari bibirnya.
Zello membungkuk menghapus air mata istrinya, mengecup keningnya lembut.
"Sekarang kita lihat anak kita ya." Hibur Zello. Sedangkan Veron mengangguk tipis dan berusaha untuk tersenyum ke Hanif.
Zello mendorong kursi roda Veron setelah berpamitan dengan Hanif. Memasuki ruangan yang di dalam ruangan itu ada beberapa box bayi. Zello terus mendorong pelan kursi roda Veron dan berhenti tepat di box bayi dengan tag Ny. lilie di boxnya.
Veron menatap penuh kagum dengan bayi mungil yang ada dalam box. Airmatanya lagi-lagi meleleh. Entah bagaimana Veron mengungkapkannya, yang pasti dirinys merasa sangat beruntung. Hatinya membuncah karena merasa bahagia tak terkira. Senyum tipis terulas di bibir Veron meski air matanya masih membasahi kedua pipi. "Aku benar kan, anak kita tampan sepertimu?" ujar Veron pelan.
Zello mengecup kepala Veron dalam, pelupuk matanya juga menitihkan air mata. "Terima kasih, Sayang. Kamu wanita yang hebat."
Masih dengan jelas Zello mengingat latar belakang istrinya. Masa kecil dan masa lalu istrinya. Sakit dan marah setiap mengungatnya. Ada rasa puas mengingat Dave sudah membunuh ayah angkat istrinya. Dia memang pantas mendapatkannya.
"Akhirnya aku punya keluarga juga." Gumam Veron kecil.
"Iya Sayang. Kamu sekarang sudah punya keluarga yang lengkap. Dan sekarang nggak ada yang bisa mengusik kebahagiaan kita. Aku janji."
Zello melepas rengkuhan tangannya dari tubuh Veron. Merogoh ponsel dan mengetik pesan panjang di sana.
[Buatlah yayasan besar untuk anak terlantar/jalanan di setiap kota. Jangan sampai ada bocah-bocah terlantar di jalanan lagi]
__ADS_1
********************************************
[Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena lamanya tak kunjung2 update. Sehingga mungkin membuat cemestrynya sudah hilang bagi pembaca. Supaya dapat lagi baca dari awal lagi juga boleh. sekalian kasih like dan komentnya di setiap partai hehe]