Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kedatangan Desy


__ADS_3

***


"Bos," Zico menyerahkan beberapa dokumen untuk di periksa. Zello sendiri baru saja sampai. Tapi tidak ada cara lain. Karena dokumen itu akan digunakan untuk meeting segera.


Zello yang baru saja ingin membaca lembaran kertas itu teralihkan menatap penampilan Zico.


"Kamu pakai kacamata hitam di kantor?"


"Ah iya, lagi ingin saja, Bos.'


"Gantilah! Apa matamu sedang sakit?!"


"Mm iya."


"Sudah. Aku percaya sama kamu." Zello menyerahkan dokumen itu ke Zico.


"Baiklah." Zico merapikan dokumen itu. Berdiri menanti bosnya untuk bersiap ke ruang rapat.


"Bos."


"Hm."


Zello merapikan tuxedonya yang sudah rapi, melangkah mantap dengan Zico yang mengekor di belakangnya.


"Bos, kita belum pernah mengunjungi panti asuhan Bunda Kasih lagi. Saya rasa kita perlu berterima kasih dengan memberikan donasi secara langsung. Pasti ibu panti akan senang mendapatkan kunjungan dari bos."


"Iya, kamu benar. Kapan baiknya?"


"Lusa adalah weekend, bagaimana?"


"Ok. Oya, atur juga untuk bulan maduku! Gara-gara insiden kemarin semua jadi berantakan."


"Ah, siap."


"Besok rapat ulang dengan perusahaan Zein kan?!"


"Iya, Bos. Ada yang perlu dibenahi?!"


"Tidak, aku hanya penasaran kinerja dan karakter dengan kepemimpinan yang baru."


***


Selesainya meeting membuat semua lega. Zello tersenyum puas. Semuanya terlalu mudah.


"Berikan bonus untuk semua yang terlibat dalam meeting."


"Siap, Bos."


Zello membuang nafas kesal, "sayang Lilie tidak kesini."


"Nona tidak datang?"


"Tidak, itu artinya Dahlia juga tidak." Goda Zello.


"Bukan itu maksudku."


***


Weekend, Zico yang sudah memasuki kediaman Hanif langsung duduk di ruang tamu. Menunggu bosnya yang tengah bersiap. Dilihatnya jam yang tertera di layar ponsel. Jam 10.


Tap tap tap.


Suara langkah seseorang membuat mata Zico terarah ke sumber suara.


Munculnya Dahlia rambut ala ekor kuda, penampilan dan polesan wajah yang sederhana. Namun mampu membuat pandangan Zico bertahan beberapa detik di titik yang sama.


"Mau pergi?"


"Iya, menemani Nona."


Dahlia terus melangkahkan kaki melalui Zico yang masih duduk di kursinya.


Zico melihat mobil Zello sudah siap dan sedang dalam kondisi di panaskan oleh Dahlia. Dahi Zico berkerut, terlebih mendengar sedikit obrolan saling bersautan. 'Bos dan Lilie? Apa artinya bos memberitahu dan mengajak Lilie?'


Terlihat Zello dan Veron yang saling bertukar cerita hingga senyum terus mewarnai dari kedua bibir beda pemilik itu.


"Zico, ayo!"


Sedikit terkesiap, Zico akhirnya berdiri dari duduknya.


"Mobilmu biarkan disini saja. Kita naik mobil yang sudah disiapkan Dahlia."


"Ah iya."


Zello dan Veron sudah masuk di kursinya. Sementara Zico yang di depan pintu masih terdiam karena Dahlia tidak pindah posisi duduk dari kursi pengemudi.


"Dahlia pindahlah!"


"Ah, ok."


Dahlia tanpa turun dahulu langsung pindah ke kursi yang ada disebelahnya, yang membuat Zico menggelengkan kepala.


Sudah siapnya mereka yang ada di dalam mobil membuat Zico langsung melajukan mobilnya.


Dahlia dengan wajah santai, sembari terus memainkan ponselnya. Berbeda dengan Zico, yang nampak kecewa. Zico berniat hanya mengajak Zello. Karena takut Veron akan membuat rencananya seakan percuma.


"Sayang, siapa nama ibu pantinya," tanya Zello.


"Mm, ibu Ayu."


"Oh." Zello menggut-manggut, tangannya memainkan rambut istrinya yang wangi. Dengan mencium aroma rambutnya saja membuat Zello bergairah. Apalagi mencium aroma tubuhnya. Pikiran nakal Zello membuat tangannya berulah. Tangan Zello yang awal di rambut beralih ke pinggang Veron. Menelusupkan jemarinya dari blouse yang sudah ia singkapkan. Membelai dan meremasnya lembut.


"Sepertinya sekarang tiap panjangan dikit langsung dipotong sebahu ya?" terka Zello.


"Hahah iya, aku menyukainya. Apa kamu bosan melihatnya, aku akan memanjangkan nanti."


"Tidak perlu, kamu cantik dengan rambut seperti ini."


"Benarkah? Dulu kamu bilang aku seperti bocah."


"Sebenarnya waktu itu masih gengsi untuk mengakuinya."


"Oh benarkah?" Veron tersenyum gemas ke arah Zello.


"Jangan melihatku seperti itu!" ucap Zello.


"Iya, tidak." Veron tidak menatap Zello lagi. Namun langsung menenggelamkan kepalanya di dada bidang Zello. Menautkan jemarinya dengan milik Zello satunya. Sementara tangan nakal Zello masih di pinggangnya. Tidak mempermasalahkannya, karena diri Veron sendiri sangat menikmati.


Semakin ingin meredam, tapi seakan malah semakin tajam pendengarannya. Zico yang di depan pengemudi hanya bisa fokus ke jalan, sesekali melirik Dahlia yang sudah memakai headsetnya.


****


Sepanjang perjalanan Zico menerka apa yang akan terjadi nanti. Dirinya ikut waspada, padahal ini yang akan di inginkan. Ah walaupun tidak sepenuhnya menginginkan demikian. Zico ingin Zello datang dan mengetahui seorang diri, sehingga akan menaruh curiga ke Veron dan mereka berdua akan sama-sama melakukan penyelidikan.


Tapi nyatanya Veron malah ikut, tidak masalah. Hanya saja Zico takut Veron akan melakukan pendalihan dan melakukan persiapan lagi untuk menutup semua jalan akses penyelidikannya nanti. Karena Zico tahu, ada orang balik besar di balik Veron yang siap membantu kapan saja.


Sesampai tempat yang mereka tuju, semua segera turun dan menyiapkan barang-barang yang sudah mereka siapkan. Begitu, dengan Zico. Meski Zico sudah tak bisa berfikir lagi.


Baru beberapa hari yang lalu bangunan rumah bercat putih itu sepi seakan rumah pada umumnya. Tapi sekarang sudah sangat ramai. Di halaman rumah yang lumayan luas itu sudah penuh dengan anak-anak. Ada beberapa orang dewasa yang dia yakini orang yang ikut berdalih untuk membantu menjaga anak-anak. Sedikit remaja yang mungkin anak panti juga.


"Kakak Lilie datang ...." Sorak anak perempuan berumur sekisar 7 tahunan. Berdiri dengan senyum lebar ke arah meraka.


"Bunda... Kakak Lilie datang." Bocah laki-laki berkisar lima tahunan berlari masuk kedalam panti.


Mereka bertiga-Zello, Veron, Dahlia- tersenyum semringah memasuki halaman panti itu. Hanya Zico yang berwajah datar.


Anak-anak yang berhambur ke pelukan Lilie tak luput dari pandangan Zico sedetik pun. Zello pun juga sangat antusias menyambut rengekan bocah-bocah.


"Kakak, dia siapa?" tunjuk bocah ke Zello.


"Oh, dia suami kakak." sahut Veron.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu. Kakak bawa oleh-oleh yang supeeer banyak buat kalian."


"Horeeeee."


"Kalau kakak cantik ini siapa?"


"Oh, ini teman kakak."


"Haiii." Sambut Dahlia.


"Oh, laki-laki dewasa ini suami kakak Lilie. Terus laki-laki dewasa itu suami kakak cantik ini ya?"


Dahlia tersenyum kikuk, wajahnya memerah seperti tomat. Dan lucunya tanpa ia sadari, dirinya tidak mengelak atau mempe-ralat ucapan bocah itu. Membuat Zico mencuri pandang ke arah wajahnya.


Veron tersenyum kecil dan mengacak rambutnya. "Memang apa itu suami? Kamu tahu?"


"Mm, tahu. Yang suka ngajak jalan-jalan, traktir makan."


"Nak, Lilie."


Seorang wanita paruh baya keluar menyambut mereka berempat. Veron dan wanita paruh bayu yang sebagai ibu panti itu saling berbalas peluk.


"Ini, Nak Zello kan. Sayang sekali dulu bunda sama anak-anak tidak bisa ke pesta pernikahan."


"Sayang sekali Bunda."


"Bunda memang suka lupa. Apalagi itu dadakan, bersamaan dengan acara sunatan massal anak-anak. Jadi repot. Maaf ya, Nak."


"Tidak apa, Bunda. Yang penting doanya sudah sampai," Zello tersenyum hangat. Arah matanya juga tak lepas dari istrinya.


"Oya, Lilie Sayang. Terima kasih sudah repot-repot nengokin Bunda sama adek-adek. Meski kamu sudah lama keluar dari panti Bunda, kamu tetap rajin komonikasi dan jadi donator." Ujar Bu Ayu.


"Sama-sama Bunda. Kalau bukan komonikasi sama Bunda. Lilie harus komonilasi sama siapa lagi."


"Oya, mungkin Bunda sama anak-anak sementara akan pindah tempat. Karena mau direnovasi sekalian ditambah kamarnya, sudah nggak muat."


"Sudah ada tempatnya Bunda?"


"Sudah -sudah dapat. Kamu tenang saja."


Ketiga perempuan itu masuk ke dalam panti, sementara Zello mengajak Zico kembali untuk mengambil barang yang tersisa di mobilnya.


"Ada yang bisa bantuin nggak?!" seloroh Zello.


"Bantu apa, Om?"


"Kok Om. Kakak dong. Masa Kakak Lilie dipanggil kakak, suaminya di panggil om."


"Eh iya, Kak."


Mendengar sebutan baru untuk dirinya membuat Zello tersenyum masam. "Kok terdengar aneh ya?!"


"Bos memang aneh."


"Hahahaha." Tawa bocah-bocah panti.


Dengan sigap mereka mengambil barang yang masih ada di mobil. Kebetulan mobil Zello memang terlatak di luar pagar panti. Membuat anak-anak berhambur dengan berlari. Senyum lebar menghias di bibir Zello melihat pemandangan yang jarang ia lihat. Matanya memerah dengan mengeluarkan sedikit embun.


Semua antusias membawa barang ke dalam panti. Termasuk Zico. Meski Zico sedikit merinding dengan kelicikan dan kelihaian Veron dalam mendrama.


Siang menjelang sore mereka baru sampai di panti, membuat mereka tidak bisa berlama-lama. Meski begitu, mereka yang disana mendapatkan kesan yang mendalam. Zello, Veron dan Dahlia dengan hangatnya anak-anak. Zico juga tak kalah terkesan dengan yang ia lihat. Benar-benar menakjubkan. Bagaiamana bisa anak-anak dilibatkan dan ternyata mereka juga sangat pintar mendrama.


***


Di dalam perjalanan pulang, semua tengah riuh bernyanyi bersama, kecuali Zico.


[Ku akan selalu menjagamu


Hingga akhir waktu


Selama nafas ini berhembus


Tak akan ada cinta yang lain


Tak akan ada cinta yang lain


Hingga Tua Bersama]


"Ah, Zico nggak asyik. Diam terus," celetuk Veron.


"Biasalah, belum nikah. Masih jaga image. Beda kalau sudah nikah."


"Siapa juga yang mau nikah," ujar Dahlia.


'Aiish, kenapa aku malah nanggapin?!'


Sementara Zico langsung memijit hidungnya yang tiba-tiba gatal.


"DDB berarti." ujar Veron.


"Apa? Dbd?"


"Ddb. Dbd, memang habis di gigit nyamuk."


"Apa ddb?"


"Diam-Diam tapi Baper," ucap Veron sembari cekikikan.


"Hahaha. Seperti kamu dong."


"Kita."


"Nona, lapar, berhenti dulu ya. Makan," sela Dahlia.


Dahlia merasa tidak enak dengan Zico. Ditambah takut Zico jadi ilfill dengan dirinya karena ulah kedua majikan yang lagi kumat.


"Bilang saja sama Zico. Kan dia yang bawa mobilnya," ucap Zello.


Zico menghela nafas kasar, rasanya kepala mau pecah. Stres, dan ....


Zico yang kebetulan menoleh tidak sengaja bersitatap dengan Dahlia. Saling tatapan yang tidak bisa di artikan satu sama lain.


"Aku juga lapar," ucap Zico pelan. Perlahan Zico membawa mobil itu memasuki area restoran.


***


"Jangan room privat ya!" pinta Veron manja.


"Kenapa?" sahut Zello.


"Tidak kenapa-kenapa. Sedang ingin saja."


Tanpa pikir panjang, mereka langsung duduk di meja makan yang ada. Mereka berempat duduk di meja yang sama.


Restoran yang mewah sebanding dengan pelayanannya. Tidak perlu menunggu lama, waittres dan pramusaji datang membawa pesenan mereka.


Dahlia menatap nanar makanan yang ada di depannya. Sendok dan garpu sudah ada di tangan. Suapan pertama. Eemmm ....


"Sayang, aku mau nyoba makanan kamu," celetuk Zello.


Dengan senang hati Veron menyuapi suaminya. Tidak sampai disitu Zello beralih menyuapi Veron. "Coba punyaku," ucap Zello.


Veron membuka mulutnya, siap menikmati makanan lezat suapan dari Zello.


"Itu sayur kesukaan aku. Buat aku boleh," ucap Zello. Sedangkan Veron hanya mengangguk sembari mengunyah.


Mulut Zello menganga siap untuk menerima suapan. Dan suapan sayur buncis mendarat dari sendok Veron.


Malah suap-suapan kan. Mau sampai kapan coba?!


"Zico," bisik Dahlia.

__ADS_1


"Hm."


"Pindah meja yuk!"


"Kenapa?" tanya Zico mode pelan juga.


"Pakai tanya," geram Dahlia.


Dahlia berdiri dari duduknya, kedua tangan sudah memegang makanannya. Sementara kaki masih di tempat, hanya saja kakinya tidak bisa diam. Kakinya terus memberi kode ke Zico meminta untuk berdiri juga.


Tak kunjung dituruti oleh Zico, Dahlia menginjak dengan keras sepatu Zico.


Uhh. Keluh Zico.


"Hm?" Zico mendongak masih tidak paham.


"Ayo."


Daripada ribut, Zico menuruti kemauan Dahlia.


"Nona,Tuan. Kami pindah meja ya?! Kebetulan saya dan Zico ingin membahas hal yang penting," ujar Dahlia.


"Oh ," sedikit terkejut. "Baiklah. Yang akur-akur."


"Pasti, Nona."


Dahlia yang sudah duduk di meja berbeda dengan majikannya langsung menyantap nikmat makanannya.


"Kamu tidak makan?" tanya Dahlia melihat Zico yang tidak kunjung makan.


"Aku sudah kenyang."


Dahlia menaruh sendok dan garpunya, ada raut tidak suka diwajahnya. "Kamu tidak selera makan karena satu meja sama aku? Yaudah aku pindah tempat."


Dahlia dengan cepat berdiri dari duduknya.


"Bukan karena itu."


"Duduk!" tegas Zico.


Dengan wajah masam Dahlia kembali duduk. Menatap jengkel ke Zico yang memasang tidak layak untuk di tatap.


"Aku tidak selera makan karena lagi mikirin tugas yang menumpuk."


"Benarkah?"


"Iya."


"Oya Dahlia, aku...minta maaf."


"Untuk?"


Zico berdehem pelan dengan masih menatap Dahlia. "Semuanya."


"Semua?"


"Setelah acara itu. Yang membuat ketakutan, sampai kamu menang.... "


"Ah, sudahlah lupakan! Ngga usah dibahas," potong Dahlia.


"Sama soal yang beberapa hari yang lalu," ucap pelan Zico hati-hati.


Dahlia menatap datar ke Zello, "ah entahlah, aku tidak paham kamu ngomong apa."


"Soal aku ganggu waktu kamu bersama lelaki waktu itu."


"Robert?"


Zico menganggguk sembari menyodorkan makanannya. "Makanlah!"


"Oh tidak apa."


Mata Dahlia menatap makanan Zico sesaat dan beralih menatap pria dihadapannya kembali. "Ini buat aku?"


"Iya. Biar cepat gede."


"Sial." Gerutu Dahlia.


Dan untuk pertama kalinya Zico tertawa kecil ke Dahlia.


*****


Keesokan hari. Hari Minggu. Membuat Semua orang mempunyai waktu santai lebih banyak. Setelah sarapan, Veron kembali ke kamarnya, bermalas-malasan dengan memainkan ponselnya. Sementara Zello dan Zico yang kebetulan bermalam di sana sedang jogging dan belum kembali.


Ting.


[Veron, aku di depan rumah istanamu]


'Desy? Tumben'


[Aku akan segera ke luar ] send.


Veron keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan santai. Tidak ingin mengundang orang rumah untuk curiga. Karena Desy teman dari clubnya. Kedatangan Desy yang tidak biasanya membuat Veron heran dan jantungnya berdetak lebih cepat.


'Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan. Bisa saja Desy sekedar main'


Sesampai pintu keluar, Veron melangkah cepat. Jarak pintu rumah dengan pintu gerbang yang lumayan jauh, takut membuat Desy terlalu lama menunggu.


"Desy."


"Veron." Desy dengan sedikit berwajah pucat langsung mengapit tangan Veron.


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Sebenarnya aku ingin bicara hal penting. Tapi bingung mau bicara dimana. Apa sekiranya di rumah ini aman."


Ucapan Desy berhasil membuat Veron terkesiap di tempatnya.


Mengingat Zello dan Zico sedang keluar, sementara yang lain sedang berada dalam kamar membuat Veron mengangguk kecil.


"Apa kamu yakin?" tanya Desy memastikan.


"Jangan lama-lama. Ayo!" Veron menuntun tangan Desy melangkah cepat menuju kediaman Hanif. Sesuai instruksi dari Veron, Desy sesudah memasuki rumah bersikap santai.


Perlahan dengan sedikit bergurau Veron menggiring Desy untuk masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya langsung.


"Ada apa?" bisik Veron.


"Dave."


Veron membetulkan posisinya. Alias dirinya semakin tegang karena ucapan Desy.


"Dia tidak setulus yang kamu fikirkan, Veron. Zein- Rossa. Semua diatur oleh Dave dengan alur pembunuhan, kesengajaan. Padahal bisa saja Dave membuat alur dengan kecelakaan. Iya, kan?"


"Dengan alur kesengajaan dan juga waktu bersamaan. Dave sengaja Veron. Melakukan demikian supaya keluarga dari Hanif ada yang menaruh curiga dengan persamaan itu. Mereka akan mengaitkan Zein, Rossa dan juga kamu."


Jantung Veron seakan berhenti setiap mendengar kata dari Desy. Veron menggeleng lemah, tidak menerima ucapan Desy. Tapi logikanya juga tidak menyangkal ucapan Desy yang masuk akal.


"Apa mereka akan mengaitkan denganku Desy. Mereka berkomonikasi dengan banyak orang."


"Terakhir kali mereka selalu tertuju padamu, Veron. Zein yang selalu menerormu. Rossa yang tersakiti olehmu, meski mereka tidak tahu rahasia apa yang Rossa simpan. Dan Rossa tidak memberitahu identitasmu. Tapi Rossa pasti pernah menyinggung semuanya kan?!"


Air mata tak kuasa Veron bendung. Dave orang satu-satunya yang bisa menolongnya. Tapi nyatanya ada misi Dave yang tidak Veron ketahui.


"Kamu tahu dari mana?"


"Aku dengar sendiri dari Dave."


Prangg.


Veron dan Desy terlonjak dari duduknya. Jantungnya seakan meloncat dari tempatnya. Suara pecahan benda membuat Veron terarah ke pintu kamarnya. Terbuka sedikit.

__ADS_1


Buliran keringat membasahi pelipis Veron. Dirinya yakin, jika ia sudah menutup pintunya.


Dengan tangan bergetar Desy meraih lengan Veron, refleks mengguncangnya pelan. "Veron ...."


__ADS_2