
"Tentu saja. Nona dulu kan kerja di-"
Dahlia ingat obrolan dengan nonanya waktu itu. "Nona berteman baik dengan pria itu?" tanya Dahlia. karena Dahlia merasa nggak rela nonanya punya kenalan pria macam Dave.
"Iya, sebelum kerja di butik aku dulu kerja di tempat dia. Di... club, mangkanya dia agak urakan sama cewek. Disita aku jadi akrab sama dia. Dia baik kok, walau urakan begitu."
"Oh, astaga." Dahlia hanya bisa menyayangkan pekerjaan nonanya. Tapi untungnya itu kan dulu ...
Dahlia menggantung kalimatnya. Tidak mungkin dirinya bilang kalau istri seorang Ceo pernah kerja jadi waitress di club malam.
Veron membuang ke arah lain. Terbayang binar bahagia di wajah Zein yang ia lihat barusan. Seperti setiap Zein mengunjungi dirinya di club.
Veron yang mengetahui Zello akan ke meja mereka pun langsung berdiri. "Ayo Dahlia!"
"Nona Lilie." Cegah Zein.
"Zein." Sela suara bariton Dave.
"Dave?" Zein cukup terkejut dengan munculnya Dave.
"Ayo temani aku mengobrol di sana."
Veron terkesiap dengan apa yang dilihatnya. Veron langsung menggunakan waktunya untuk kabur dari pandangan Zein. Mendekap ke Zello yang datang menghampirinya. 'Untung Dave sudah membawa pergi Zein.'
"Apa dia melukaimu?"
"Tidak."
"Tidak? Tapi dia pasti menggodamu?!"
"Sudah lupakan saja. Resiko kalau punya istri cantik."
"Hah yasudahlah." Zello berucap pasrah. Yang penting Zein sudah menjauh dari istrinya.
Rasa cemas menyerang Veron dengan cepat. Bagaimana tidak, Zein tadi seakan mendengar ucapan Dahlia bahwa dirinya mengenal Dave.
Zello yang tidak membaca raut cemas istrinya langsung membawa istrinya ke tempat dimana Hanif berada.
Disana ada Hanif, Beni dan Zico.
"Zico, pergilah! Jangan terus menempel ke bosmu. Bersenang-senanglah malam ini."
"Tentu saja Bos. Saya sebentar lagi akan ke area perlombaan untuk menyusun acara lomba."
"Ck. Kamu masih saja ngurusin begituan. Jangan mengurusi hal begituan. Apa kata kolega lain."
Zico menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah. Mending kamu cari gebetan atau apa gitu. Biar label menyimpangnya lepas."
"Terserah Bos saja." Zico memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Oya. Kamu jaga Dahlia ya. Sengaja dia kusuruh jauh dari kami. Biar nggak ganggu moment kami."
Dahi Zico berkerut mendengar alasan tidak masuk akal bosnya. Mengganggu moment? Di khalayak ramai begini memangnya mereka mau apa?!
"Sana susul Dahlia. Aku nggak yakin dia bisa mengatasi kalau bertemu pria brengsek."
"Saya akan mengawasi dari sini Bos."
Zello berdecak bodo amat dengan ucapan Zico.
Dahlia yang tengah sendiri di antara kerumunan manusia hanya bisa pasrah saat dirinya ditugaskan mengawasi dari kejauhan. Tugas yang aneh. Dirinya bukan mata-mata yang harus mengawasi dari kejauhan. Terlebih dirinya hanya sendirian. Membuat merasa dirinya terlihat memprihatinkan di mata orang-orang.
"Hah." Dahlia mendesah kesal. Sudah hampir setengah jam dirinya terlantar.
Sedangkan perutnya kenyang karena terlalu banyak makan camilan di sana. Mau bagaimana lagi. Paling tidak dirinya tidak akan merasa bosan dengan sibuk mencicipi semua makanan yang ada.
"Kamu lapar atau apa?"
"Tuan, Anda ngapain di sini?"
"Aku? Aku kan investor di sini." Dave meneguk minuman yang dipegangnya.
"Oh."
"Kemana kekasihmu itu?"
"Hah siapa?"
"Masa kekasih sendiri lupa." Dave terkekeh. Melihat pelayan lewat dia menaruh gelasnya di nampan pelayan.
__ADS_1
"Oh." Dahlia menelan salivanya.
"Dia sedang jadi bodyguard di sini. Jadi aku sendirian."
"Oh... dansa?!" tawar Dave.
"Aku rasa tidak perlu. Aku lebih suka makan."
"Nanti kamu gendut."
"Biarin. Bukan urusan Anda."
"Tidak masalah kamu gendut andai kamu tinggi. Masalahnya kamu ini pendek."
"Apaa?"
"Kamu pendek, kalau gendut akan jelek nanti."
"Sudah hentikan!" Dahlia yang memang lagi kesal makin kesal dengan ucapan Dave.
"Sudah ayo dansa!" tanpa persetujuan Dahlia, Dave meraih pinggangnya dengan cepat.
Gerak cepat Dave membuat Dahlia terkejut, namun dengan cepat ia menarik tangannya yang tanpa sengaja sudah berada di antara pundak bahu Dave. Namun sayangnya, tangan Dave yang berada di pinggulnya tidak membiarkan dia lolos.
Satu tangan di pinggul dan satunya disematkan di jemari Dahlia dengan erat. Yang membuat Dahlia kesulitan untuk lolos.
"Tuan, lepaskan!"
"Apa kamu akan seperti orang aneh sepanjang acara karena sendirian atau makan dengan rakus?!"
"Itu bukan urusan Anda."
"Santailah, pejamkan matamu bila kamu membenciku. Aku tidak memintamu untuk berdansa sepanjang acara. Hanya sesaat saja sampai orang-orang tidak melihatmu dengan tatapan aneh."
Dahi Dahlia berkerut, dan kemudian membenarkan ucapan Dave.
"Lihatlah, banyak wanita tengah iri karena melihatmu berdansa denganku."
Dahlia melihat sekitar, memang banyak wanita yang seakan menyayangkan pria setampan Dave mau berdansa dengan dirinya.
Melihat Dahlia terdiam Dave mulai melakukan gerakan kecil di kakinya dan tidak lupa menaruh tangan Dahlia di pundaknya.
Dahlia menutup mata, bukan menurut. Tapi karena malas melihat wajah Dave dengan jarak begitu dekat.
'Zico... Aissh, kenapa diriku malah menyebut nama Zico.' Rasanya ingin menepis. Tapi bayangan wajah Zico dan senyumnya membuat bibir Dahlia melengkung ke atas dalam mata keadaan masih tertutup.
Senyum Zico masih setia melintas di bayangannya, meski senyum itu tidak pernah untuk dirinya. Tapi membuat dirinya meleleh. Pikiran Dahlia semakin membuncah mengingat Zico tersenyum hanya untuk atasannya maupun orang yang ia segani. Tidak pernah sekalipun senyum dengan wanita. Andai dirinya bisa membuat Zico tersenyum karena dirinya. Sudah pasti hanya dia wanita satu-satunya yang dapat senyuman indah Zico. Lamunan indah Dahlia membuat dirinya tidak sadar sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Dave. 'Zico... '
"Tuan."
Dahi Dahlia mengernyit seakan mendengar nama sang pujaan hati. Membuka mata segera dan matanya mendelik karena tengah bersandar di dada Dave. Dahlia segera mungkin menjauhkan kepala dan melepas tangannya dari pundak Dave.
Dilihatnya Zico yang tengah menatap dirinya dan Dave dengan wajah santai. Tangan Dave pun juga sudah terlepas dari pinggangnya.
"Aku hanya mengajaknya berdansa sebentar," ucap Dave datar.
"Iya. Tidak masalah."
'Tidak masalah?' batin Dahlia.
Ucapan santai Zico membuat Dahlia mencebik. Karena sudah membuktikan tidak adanya kecemburuan sama sekali di diri Zico untuk dirinya. Yang artinya, ah yasudahlah.
Huh. Dahlia membuang nafas kasar.
Adanya Zico, Dave berlalu dari sana. Meninggalkan Dahlia dan Zico. Tatapan mata Zico yang tajam langsung membuat Dahlia membeku di tempatnya.
Tanpa kata, Zico beralih menyapu acara tersebut. Tak luput juga dengan keluarga Hanif. Yang jadi pusat utamanya.
Dahlia terdiam melihat Zico dengan wajah datarnya tanpa membuka mulut sama sekali.
Tanpa terduga Zico menoleh ke arahnya. Menyadari di amati oleh Dahlia Zico langsung membuang muka dengan cueknya.
Dahlia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Masa sudah dandan begini tapi dikacangin'
"Zico-"
"Eh, mau kemana dia?!" Dilihatnya Zico yang berlalu dari sampingnya.
Dilain sisi,
__ADS_1
Veron tersenyum tipis melihat Zello yang tengah tertawa kecil dengan Hanif dan teman koleganya. Tawa Zello membuat ruang hatinya terenyuh dan menghangat.
"Nona Lilie."
"Iya?"
"Ada yang berbicara dengan Anda," tutur Zico pelan.
"Siapa?"
"Dia ada disana." Zico menunjuk dimana Dave berada.
"Dave?"
"Iya, Nona."
Veron beranjak ke tempat Dave yang terlebih izin ke Zello dulu dengan dalih ke toilet.
"Dave." ucap Veron.
"Hai."
"Terima kasih yang tadi. Zein membuatku tidak nyaman."
"Hm. Aku tahu itu."
"Oya, ada apa?"
Alis Dave bertaut. "Oya, sudah tidak ada fotomu di ponsel Zein. Mungkin di ponsel yang lain atau sudah dikemanakan nggak tahu. Yang aku takutkan foto itu jatuh ke orang lain."
Veron mendengar ucapan Dave dengan intens. Perasaan gelisah selalu hinggap setiap berbicara dengannya.
"Kamu selalu membuatku was was."
"Jangan menyalahkanku. Kamu sendiri yang menciptakan semua ini. Aku juga sudah menyelidiki kenapa foto kalian bersama. Ceroboh."
Veron tertegun. Sesaat matanya menangkap Zico yang berjalan ke arahnya.
"Aku kesana dulu," ucap Dave.
Tanpa membalas ucapan Dave, Veron berniat beranjak ke tempat Zello berada.
"Nona," sergah Zico.
"Kenapa?"
"Anda akrab sekali dengan Dave."
Veron merasa dadanya sesak. Ucapan Zico seakan menyudutkannya.
Veron menyunggingkan senyum tipis."Tentu saja, bukannya kamu tahu sendiri. Apa kamu lupa dengan statusku dulu. Aku kerja di club Dave."
Zico terhenyak, yang diucapkan Veron apa adanya. Dirinya membuang nafas kasar. Kenapa malah dirinya yang merasa terjebak.
"Ngomong-ngomong kalian berdua serasi," imbuh Veron dan berlalu dari sana.
Serasi? Zico menoleh belakang. "Dahlia? Kamu disini?!"
"Aku terlihat memprihatinkan di acara yang meriah ini bila sendirian."
Ck. "Aku mau ke toilet."
Ihh.
Di lain sisi Veron meremas jemarinya dan sesaat kemudian menghembuskan nafas pelan dari mulutnya. "Huufz... "
"Nona Lilie."
Zein?
Apalagi ini? Batin Veron.
"Anda kenal Tuan Dave?!" Veron tahu jelas itu bukan kalimat pertanyaan. Wajah Zein berbinar dengan bibir melengkung indah.
Dada Zein naik turun, ada yang menyeruak dan membuncah dari dalam sana.
"Veron ... aku merindukanmu."
Veron tercengang, mulutnya ternganga karena syok. Perlahan keringat dingin keluar dahinya.
"Veron.... "
__ADS_1