Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Di Panti


__ADS_3

****


"Veron, bagaimana makanannya?" ucap Dave. Tangannya tak henti memainkan rambut Veron yang bergelombang. Menyesap aroma shampo dengan mencium kepala Veron.


Dulu Veron menikmati perlakuan Dave yang demikian, tapi sekarang diri Veron seakan bergidik. Merinding. Bukan merinding karena meremang dengan hawa panas. Tapi merinding takut. Veron terus berupaya menghindar, tapi tangan dan perlakuan Dave sangat posesif. Membuat Veron menelan salivanya berkali-kali.


"E-enak. Dave, sebenarnya aku sedang makan. Jadi, kamu bergeserlah sedikit!"


Dahi Dave berkerut, ada semburat kecewa dari wajahnya.


"Dave, maaf. Aku hanya belum bisa melepas Zello dari pikiranku. Aku harap kamu maklum!"


"Dulu, kamu tidak seperti ini."


"Iya, dan aku yang sekarang malah merasa tersiksa. Tolong aku Dave! Tapi dengan cara perlahan. Aku tidak bisa dengan cara dipaksa." Veron menatap menghiba, matanya yang bening sedikit menggenang.


"Iya, maafkan aku juga." Dave memberi jarak ke Veron. Mengelus sedikit rambutnya. "Makanlah yang banyak. Aku mau ke kamar dulu, okey."


Veron mengangguk, "Makasih, Dave."


****


Beg. Kepalan Zello berhasil membuat meja kerjanya berguncang. Rasa sakit dikhianati Rossa ternyata tak seberapa dengan rasa sakit di khianati istrinya kini. Pribadinya yang hangat berangsur menjadi pribadi tempramen.


Zello dengan langkah ringan keluar dari ruang kerjanya. Menuju kamar yang sekarang ia anggap neraka.


Mata Zello yang sudah di ambang pintu tak lepas dari meja rias Veron. Tangannya terkepal. Rasanya ingin menjungkirbalikannya. Tapi entah kenapa sampai sekarang belum bisa.


Hahh. Zello mencibir dirinya sendiri yang lemah.


Zello menelan salivanya, memberanikan diri membuka laci-laci kecil di meja rias istrinya. Mengobrak-abrik isinya. Meski tak kan pernah ada kepuasan setelahnya. Tapi tangannya selalu gatal untuk menjelajah meja itu. Setiap masuk kamar tak pernah ia terlupa untuk mengacak-acak meja rias dan juga isinya.


Tangan Zello terhenti ketika tangannya menyentuh benda pipih Veron. Benda pipih yang terletak di bawah kotak tissu. Senyum sinis terukir di bibir Zello. 'Sebegitunya ingin lost contack, ponselmu pun sengaja kamu tinggal kan.'


Dug. Zello membanting ponsel Veron.


Arah mata Zello juga tertuju frame berisi gambar Veron yang berada di atas nakas. " Dasar ******."


Prakk. Hancur berantakan. Dada Zello berdegup kencang dengan hati meraung sedih, seakan menyesal telah menghancurkan frame itu.


***


"Ahhh.... " Veron hanya bisa menikmati saat jemari Dave bergerak dibawah perutnya dan berhasil membawa dirinya melambung ke surgawi. Dave tersenyum menyeringai, siapa yang tidak akan tunduk dengan Dave Argamantara, pria berotot yang mampu berkali-kali membuat perempuan menjerit kecil di bawah kungkungannya.


Mengerti Veron yang sudah menyerah tanpa penolakan lagi. Dave dengan gencar melakukan penetrasi. Melihat wajah menggemaskan Veron yang berada di bawah kungkungannya, desah dengan mulut yang sedikit terbuka menambah gairah Dave berkali-kali lipat.


"D-Dave."

__ADS_1


"Iya." Suara parau Dave. Tubuhnya menghimpit tubuh Veron, menangkup bibir Veron dengan bibirnya. Tangan Veron yang mengalung di lehernya isyarat lampu hijau buat dirinya. Dengan masih menghentakkan pinggul, Dave juga meraih manisnya bibir Veron. Menyesap penuh isi bibirnya.


"Dave." ulang Veron.


Dave menghentakkan pinggulnya cepat, kasar.


"Lilie!! " Hardik Zello menggema.


Hahh. Veron terbangun dari berbaringnya. Dahi dan pelipisnya sudah penuh keringat.


Sadar apa yang terjadi Veron menampar pipinya. "Dasar ******."


"Ahh, kenapa aku tidak memimpikan bersama Dave, kenapa tidak dengan Zello saja. Zello aku sangat mencintaimu. Maaf telah mengkhianatimu meski dalam mimpi."


Veron mendesah kesal. Bisa-bisanya dirinya bermimipi demikian dengan Dave.


"Kenapa tidak dengan Zello saja barusan. aku merindukan dibawah kungkungan Zello."


Diri Veron sudah memikirkan untuk kabur dari Dave. Tapi bagaimana? Veron terus berfikir, tidak ingin jadi budak *** Dave lagi. Dan intinya dia harus kemana? Bagaimana kalau Dage selalu menemukan dirinya lagi? Ahh, Veron menepuk selimutnya kesal.


'Apa aku harus bersembunyi di panti?


Aku harus buktikan kepada Zello, ah, kepada diriku sendiri juga. Kalau wanita malam ada lah masa laluku. Lagipula bila aku terus disini tidak menjamin Dave berubah pikiran.'


****


Sudah hampir satu minggu Veron berada di rumah Dave. Bukan tanpa tujuan. Veron ingin Dave beranggapan dirinya memang berpihak padanya, membutuhkannya, dan kembali kepadanya. Karena dengan begitu pengawasan Dave akan sedikit mengendur.


"Buat apa? Maksudnya kamu ada perlu apa. Nanti aku temani. Tapi bukan sekarang. Ah, bagaimana kalau kamu ikut aku? Aku ada perlu penting ke luar negeri."


Veron menggeleng.


"Dave ....masa aku mau tempat teman harus pakai tanya mau apa."


"Aku akan keluar negeri, tidak bisa di tunda."


"Tidak apa. Tenang saja. Cuma sebentar saja, kok."


"Baiklah. Oya, ponselmu jangan sampai nggak aktif. Aku akan menghubungimu."


"Siap!"


Berulang kali Veron demikian, meminta izin untuk main ke tempat Anita. Bahkan sampai Dave sudah pulang dari luar negeri. Sudah hampir yang keberapa kali ini akan Veron lakukan. Veron ingin memupuk kepercayaan anak buah Dave dulu. Baru pengawasan mereka akan sedikit melemah nanti.


"Lie, kamu yakin? Kamu akan baik-baik saja, kan?" ucap cemas Anita.


"Iya, yang penting tugas kamu terus membuat ruangan kamu tertutup dalam kurun waktu lama. Dan tetap biarkan ponselku dalam keadaan nyala."

__ADS_1


"Hati-hati," lirih Anita.


Dengan mengganti baju dan memakai wig, Veron bergabung dengan beberapa pembeli di butik Anita. Melakukan transaksi pembayaran. Setelah selesai, dengan penampilan yang berbeda, dengan kantong belanja di tangan dan dengan di dampingi karyawan Anita kiri kanan untuk mengalangi wajah Veron. Veron berhasil melangkah keluar, melangkah santai memasuki rentcar yang sudah disiapkan Anita.


Haahh, Veron menghela nafas lega. Sekarang tujuannya adalah panti.


****


Setelah menempuh perjalanan dua jam mobil sewaan Veron berhenti di depan sebuah panti. Dengan langkah lebar Veron langsung mendatangi tempat itu. Dengan dalih ingin jadi pekerja relawan untuk membantu mengasuh anak-anak, sekaligus untuk mencari tempat untuk bernaung.


Mendengar penuturan Veron, pengelola panti mengabulkan keinginan Veron untuk menjadi bagian keluarga besar mereka.


****


[Beberapa hari kemudian ]


"Kakak Lilie ...." rengek bocah di depannya. Dengan kedua tangan terulur, Veron menyambut bocah tadi untuk di gendongnya.


"Hap." Ujar Veron.


Bocah pria tampan berumur lima tahun tersenyum riang di gendongan Veron.


"Nanti, aku mau punya mama yang tantikk..... kaya kakak."


"Kalau nanti Arya sudah punya mama, nanti tetap sayang sama kakak sama bunda nggak?"


"Tetap sayang dong. Kan kakak baik sama Aryo dan teman-teman."


"Pintar."


"Atau kalau tidak, Arya mau di sini saja. Jadi anak kakak," senyum yang manis dengan kemudian bibir yang mendarat di pipi Veron, membuat Veron meleleh. Bocah yang ada dalam gendongannya sangat manis, dari f km fisik dan juga tingkahnya.


"Arya minta gendong terus sama kakak Lilie. Sudah gede, malu ah." Ujar Bunda.


"E, em." Rengek Arya.


"Kamu sudah berat. Kasian kak Lilie. Jangan lama-lama kalau minta gendong."


"Ok." Arya turun dari gendongan Veron.


"Arya main dulu, Kak ...."


"Hm," sahut singkat Veron dengan bibir senyum tipis.


"Makasih ya, Nak Lilie. Adanya kamu bunda sangat terbantu."


"Lilie yang harus terima kasih sama Bunda, sudah mau menerima Lilie di sini."

__ADS_1


"Sama-sama. Bantu bunda masak yuk!"


"Mari Bunda."


__ADS_2