Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Sah


__ADS_3

"Veron, pesanlah makanan untuk sarapan!" Dave dengan sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Iya." Veron dengan manis membuka ponselnya, memesan makanan lewat aplikasi.


Ponsel? Ponsel Zello?


Veron yang tengah tersadar langsung keluar kamar, menuju ruang tv. Mencari ponsel yang ia sangat ingat dia lempar di atas sofa.


"Dimana ponsel itu?" Veron mencari-cari namun nggak kunjung ketemu. Nggak kehabisan akal, Veron melakukan panggilan ke nomor Zello.


"Hallo." Suara Zello.


"Zell- ponselnya sudah ada sama kamu?" terbata Veron.


"Iya. Semalam aku kembali untuk mengambilnya."


"Oh ..." sedikit terkejut.


Apa itu artinya dia tahu, semalam diriku sedang ....


"Kenapa?"


"Nggak -aku hanya melakukan panggilan untuk mencari ponselmu, berniat ingin mengembalikannya. Tapi karena sudah ada sama kamu. Jadi- ..."


"Siang ada waktu luang? Ada yang harus kamu tanda tangani."


"Ah iya, baiklah. Sampai ketemu siang nanti."


"Hm."


"Siapa?" tangan Dave melingkar di perut Veron dengan hangat.


"Teman."


"Clienmu?"


"Hm."


"Sudah kelar kan? Ayo duduk!" dengan manis Dave mengangkat tubuh Veron seperti briday style menuju sofa dan mendudukkan di pangkuannya. Memeluk erat pinggang Veron lagi.


"Apa yang kamu pesan untuk sarapan ku?"


"Nanti kamu juga tahu."


"Apa masih lama sampainya? Aku sangat lapar."


"Mana aku tahu."


"Oh ... "


"Mmh... "


Tanpa aba-aba Dave menahan tengkuk Veron dan menikmati bibir tipis Veron.


Ah, nafas Veron tersengal senggal kehabisan nafas.


"Siapa clienmu?"


"Mm ... memang kenapa? Biasanya kamu tidak perduli."


"Aku hanya ingin tahu. Kamu bisa percaya padaku."


"Zello Agra Abraham."


"Oh, Ceo Golden Grub."


"Kamu tahu?"


"Dia punya kekuasaan."


"Hm."


"Iya, dia punya kekuasaan tapi hanya di bisnis. Dia mrnjalankan bisnisnya denganvsantai, tapi keberuntungan selalu berpihak ke dirinya."


"Bukan keberuntungan yang selalu berpihak ke dirinya, tapi dia memang pintar mengambil hati rekan bisnisnya."


"Apa dia juga pintar mengambil hati seorang wanita, misal dirimu."


"Dia sangat mencintai kekasihnya."


"Dan kamu?"

__ADS_1


"Aku nggak kenal cinta."


"Benarkah?"


"Hm."


Tok tok.


"Sepertinya makanan kita." Veron langsung turun dari pangkuan Dave dan menuju ke pintu apartemennya.


Dengan riang Veron mengambil makanan itu, dan Dave juga nggak kalah senang. Dengan cepat mereka menghabiskan makanannya.


"Aku harus segera kembali," ujar Dave.


"Mm ... Dave, sebelum kamu pulang- aku ingin bicara sesuatu sama kamu." Veron menelan salivanya karena sedikit gugup.


"Minum dulu!" ucap Dave yang tahu kegugupan Veron.


"Dave -aku akan menikah." Veron minum airnya dengan hati-hati.


"Hm?" kening Dave berkerut dalam.


"Zello memintaku untuk menikah dengannya. Di atas kertas. Tapi- aku akan mengucapkan sumpah atas nama Tuhan. Aku - tidak mau. Maksudnya, aku mau mengakhiri gaya hidupku yang tidak sehat. Aku - mensakralkan pernikahan. Meskipun, dia tidak berfikir demikian."


Veron menatap balik wajah Dave yang tengah terkejut.


"Hahaha." Gelegar tawa Dave.


"Untung kamu mengatakannya setelah makan. Kalau sebelum makan, takutnya makanan itu akan terbuang olehku." Dave sangat syok dengan pengakuan Veron.


"Dave, kita sudah berteman lama. Aku harap kamu mau mendukungku."


"Kapan kamu menikah?"


"Seminggu lagi."


"Setelah kontrak kalian habis, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku ingin seperti orang di luar sana."


"Sini!" Dave merentangkan tangan yang sekian detik Veron berada di pelukannya.


"Bagaimana kalau aku merindukanmu?" ucap Dave kemudian.


"Iya, tentu saja. Saat aku merindukanmu. Aku akan menghancurkan milik wanita itu."


"Iya, hancurkan bersama milikmu juga. Dan menikahlah!"


"Berhenti omong kosong. Kamu saja menikah karena terpaksa," ucap Dave.


"Hm."


"Berapa lama? Satu tahun?" tebak Dave.


"Itu haknya. Dia tidak menentukannya."


"Veron, berdoalah supaya aku cepat menemukan belahan jiwaku. Kalau tidak, aku akan mengejarmu, entah menunggu setelah kontrakmu habis. Atau saat kamu masih menjadi istrinya."


"Tidak. Kamu tidak akan melakukannya. Aku tahu itu."


Cup. Dave mencium kening Veron dalam.


"Kamu mau mendukungku kan?"


"Mau bagaimana lagi."


***


Tok tok.


"Zello." Veron langsung menuju ke tempat Zello yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Duduk Lie!"


"Hm."


Zello langsung menyodorkan map ke Veron.


"Bacalah!"


Poin 1, poin 2, poin 3 poin 4. Kening Veron mengkerut dengan poin 4 yang ia baca.

__ADS_1


"Bukankah kamu bilang tidak akan mengurusi urusan pribadiku?" ucap Veron.


"Iya, aku berubah fikiran. Nominalnya bisa kutambah."


"Bukan itu masalahnya, kenapa kamu tiba-tiba berubah fikiran? Apa karena semalam ... -"


"Tidak juga. Karena aku merasa sudah bayar mahal. Jadi sudah sepatutnya patuh apa yang kumau," jelas Zello.


"Ok." Veron langsung membubuhi kertas itu dengan tanda tangan. "Sudah." Veron menggeser map itu ke Zello.


"Baiklah, kamu sudah boleh pulang!"


"Sudah gitu aja? Aku jauh-jauh datang cuma di suruh duduk lima menit."


"Ya terserah, tapi aku tidak bisa menemanimu ngobrol."


"Hm, akan sangat membosankan bila sendirian. Aku pergi saja." Veron beranjak dari duduk dan menuju pintu keluar ruangan itu.


"Lilie."


"Hm."


"Kamu mau kemana?"


"Ke butik."


"Oh ... Ok."


***


(Beberapa hari kemudian)


"Dengan ini kalian sah jadi suami istri."


Veron tersenyum lega, dan tenang tentunya. Karena dia sudah mempersiapkan untuk hari ini. Termasuk memberi tanda lahir palsu di leher, hanya untuk menghindari terkaan seorang pria yang mengenal wajahnya.


"Mmhp." Mata Veron membulat saat bibirnya dibungkam dan dilumat sempurna oleh bibir Zello. Kecuali persiapan untuk yang satu itu. Veron nggak menduga Zello akan menciumnya. Bahkan terasa tangan kokok Zello yang masih di pinggang Veron setelah ciuman itu berakhir.


Dalam sekejab, tepukan berubah jadi sorakan untuk sepasang suami istri yang baru saja sah secara agama dan hukum ini.


Tidak lama mereka disana, karena nanti mereka nanti malam akan lebih lama di pesta resepsi, sehingga mereka memilih untuk segera istirahat.


"Ayo kita ke tempat Kakek dulu! Baru masuk kamar," ucap Zello.


"Ayo!"


"Aku sudah di sini. Kalian istirahatlah!"


"Kakek." Veron berhambur ke pelukan Hanif dengan haru.


"Selamat, kamu sudah jadi bagian dari keluarga kami."


"Makasih Kek."


Zello menuntun Veron untuk masuk ke mobil, menuju hotel. Disanalah mereka akan istirahat. Dengan persiapan make up dan resepsi yang akan dimulai dari sore.


Zello menempelkan kartunya guna masuk ke kamar hotel. Hotel mewah bintang lima, dengan king size, dan juga hamburan bunga mawar merah di lantai dari depan pintu sampai terhenti di ranjang dan meskipun masih siang, tapi ranjang itu juga sudah banyak dihiasi dengan kelopak bunga mawar terbentuk hati. Dan juga jangan lupakan sesosok wanita model yang sudah ada di atas ranjang itu.


"Darl." Rossa yang awalnya berada di atas ranjang langsung turun dan menatap Zello dan Veron secara bergantian.


"Darl, istri kamu sangat cantik."


"Iya, dia sangat cantik," ucap Zello, dengan mata sekilas menyapu wajah cantik Veron.


"Tapi kamu lebih cantik," ucap Zello kemudian. Tangan Zello juga langsung meraih pinggang Rossa erat.


"Darl, tunggu sebentar. Aku ingin bicara dulu dengan dia."


"Hm."


"Ayo!"


Veron dengan enggan nengikuti langkah Rossa yang menuju toilet. Disana Veron melepas pakaiannya dengan dibantu Rossa.


"Apa kamu terkejut dengan kehadiranku?"


"Tidak juga."


"Baguslah. Itu artinya kamu sudah mulai mengenalku."


Setelah Veron selesai dengan pakaiannya. Rossa langsung memberikan kartu kamar hotel. "Kamar sebelah."

__ADS_1


"Ok."


__ADS_2