
Zello dan Veron sudah berada di depan apartemen persis yang sudah terbuka. Dan Rossa terpaku di tempatnya. Tatapan tidak suka saat melihat Zello membawa Veron kembali. Terlebih Zello memegang tangan Veron yang terlihat erat.
"Zello, ternyata kamu keluar untuk membawa Lilie. Kenapa?" Rossa benar-benar tidak terima, dirinya ditinggal begitu saja oleh Zello hanya untuk mencari Veron.
"Ayo masuk dulu!" ucap Zello tanpa melepaskan tangan Veron. Yang membuat Rossa makin geram. Dengan cepat Rossa melepas tangan Veron dengan kasar dari genggaman Zello.
Zello yang melihat reaksi Rossa hanya menghela nafas kasar lalu melangkahkan kaki lebih dulu untuk masuk ke apartemen.
Zello langsung duduk di kursinya yang kemudian di susul Rossa tepat di sampingnya. Berbeda dengan Veron, dirinya masih di depan pintu, ragu untuk masuk.
"Zello ada apa?" Tuntut Rossa. Berbicara bertiga. Rossa sudah menduga ini berkaitan dengan pernikahan kontrak.
"Biarkan Lilie masuk dulu."
"Lilie." Teriak Rossa.
Zello menggeleng kepala karena teriakan Rossa. Sementara Pikiran Veron berkecamuk. Dengan ragu, ia melangkahkan kaki berdiri di depan Zello dan Rossa. Menatap sayu ke arah mereka berdua.
"Duduklah, Lie!" titah Zello.
Veron tersenyum kaku dan menolak dengan menggeleng, sementara Rossa menatap bingung ke arah Zello dan Veron.
"Ada apa? Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Rossa.
"Bukan kami, tapi kamu." Tandas Zello.
"Maksudnya?"
"Rossa, kita sudah dekat sedari kecil. Tiga tahun menjalin asmara sebagai pasangan kekasih. Aku memintamu untuk menjadi istriku tapi kamu belum siap." Zello mengakhiri kalimatnya sembari menoleh ke Rossa yang ada di sampingnya. Tatapan Zello tergambar kecewa di dalamnya. Rossa yang melihat mata Zello langsung menelan salivanya.
"Iya, Zello. Dan kamu sudah setuju. Apa yang perlu dibahas lagi?"
"Kamu belum siap. Dan aku bisa menerimanya."
"Iya, Zello. Terima kasih. Kamu memang kekasih yang pengertian." Rossa tersenyum kikuk dengan ekspresi Zello.
"Kurang baik bagaimana aku di matamu. Aku sabar menunggumu. Bahkan setiap kata kakek yang menyudutkanku aku acuhkan demi kamu."
"Zello-"
"Pernikahanku dengan Lilie tidak akan pernah kuakhiri."
"Maksudnya?" Rossa terkejut dengan yang di dengarnya. Perasaan gemuruh hinggap di dadanya, menuntut penjelasan segera dari Zello.
Sementara Veron merasa tubuhnya kaku, tubuhnya sedikit gemetar. Ingin melakukan sesuatu, tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Veron memejamkan matanya sesaat. Bingung, stres dengan situasi yang ia hadapi. Bibirnya kelu, tak ada yang bisa ia keluarkan dari bibirnya. Matanya sudah menganak sungai, menerka apa yang akan terjadi.
"Lilie adalah istriku, sekarang nanti dan seterusnya."
"Zello," pekik Rossa, dirinya berdiri dari duduknya. Menatap nyalang ke Zello.
"Apa maksudnya? Apa kamu gila? Apa yang terjadi dengan kalian? Apa kalian sudah menghianatiku, hah?" Dada Rossa naik turun, amarah tergambar jelas di mata dan nada bicaranya.
"Bukan kami. Tapi kamu." Hardik Zello. Zello berdiri di depan Rossa. Menatap penuh amarah dan kecewa.
Rossa terpaku di posisinya, masih menatap Zello tak percaya. Matanya menganak sungai, air matanya pun lolos begitu saja di pipinya.
"Zello, kamu bicara apa. Jangan buat aku takut Zello. Aku istri kamu. Aku yang akan jadi istri kamu." Isak tangis mengiringi ucapan Rossa.
"Apa kamu mencintaiku?"
"Tentu saja aku mencintaimu."
"Lalu kenapa kamu menyuruhku untuk menikah dengan wanita lain."
"Zello. Kamu sudah setuju. Kenapa membahasnya."
"Sejak saat itu, aku meragukan perasaanmu."
"Zello," ucap Rossa lirih. "Kamu tidak tahu sakitnya aku saat melihat kamu menikah dengannya." imbuh Rossa.
"Zello." Bentak Rossa. Dirinya benar-benar tidak terima yang diucapkan Zello.
Plakk. Rossa menampar keras pipi Zello. Tangannya sendiri pun sampai ikut merasakan perih. Tapi rasa perih di tangannya tidak sebanding dengan perih di dadanya.
"Kamu menghianatiku Zello." Teriak Rossa.
"Kamu yang mengkhianatiku." Teriak Zello balik. Tangan Zello dengan cepat mengambil kertas yang terletak di bawah meja. Dan langsung melemparkan ke wajah Rossa.
Rossa memungut kertas itu dan matanya mendelik sempurna. Dan ternyata itu bukan kertas biasa, tapi lembaran-lembaran foto Rossa dengan pria yang berbeda-beda. Foto yang memalukan untuk dilihat.
Foto-foto itu terlepas dari tangan Rossa, tubuhnya merasa lemas. Buliran air mata yang sempat terhenti kini mulai mengalir lagi.
"Pernikahan itu sakral Rossa. Semenjak kamu menyuruhku menikah dengan wanita lain. Di situlah aku meragukanmu, dan mulai menyelidikimu."
Tubuh Rossa merosot, tersipuh di depan Zello. Air matanya terus berjatuhan dengan derasnya.
"Seminggu sebelum pernikahan, aku sudah mendapatkan bukti. Meski belum seratus persen, tapi itu sudah membuktikan siapa kamu sebenarnya."
"Tidak Zello, ini semua bohong. Kamu harus jadi milikku."
__ADS_1
"Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi Rossa. Aku sudah menyobek kertas perjanjian pernikahan itu. Lilie istri sahku." Tekan Zello.
Veron menutup mulut dengan tangannya. Rasa sesak karena ucapan Zello. Seharusnya dia senang, tapi itu tidak mungkin. Hancurnya Rossa sekarang akan disusul oelh hancurnya dia sekarang. Kehilangan semuanya, Kakek, mama papa Zello. Bahkan Zello sendiri yang sekarang berhasil menguasai hatinya. Dia akan kehilangan segalanya.
"Hahahaha."
Rossa tertawa menggelegar. Tapi malah terdengar sangat mengkhawatirkan. Rossa juga berdiri dari posisinya. Menatap penuh benci ke arah Zello.
"Kamu bilang pernikahan itu sakral. Lalu kenapa kamu mau melakukannya setelah resepsi itu. Malam pertama yang seharusnya dengan istri, tapi kenapa kamu mau melakukannya denganku. Hahaha dasar munafik. Kamulah penghianat sebenarnya Zello."
"Aku tidak ada pilihan lain. Supaya kamu tidak curiga. Kalau kamu curiga dan sampai tahu, kamu pasti akan mengatakan yang sebenarnya kesemua orang tentang pernikahan kami. Aku tidak bisa kalau kakek harus jatuh sakit karena itu. Anggap saja itu yang terakhir dariku." Zello berucap santai. Zello mengarahkan pandangannya ke Veron yang jelas-jelas bisa dilihat Rossa.
"Hahaha." Tawa Rossa yang sangat mengerikan, seperti orang gila. Zello menggeleng melihat tingkah Rossa. Berbeda dengan Veron yang semakin berkeringat karena rasa cemasnya yang semakin menjadi.
"Kamu mencampakkanku karena aku menghianatimu. Dan memilih dia. DIA." Tekan Rossa dengan menunjuk Veron, matanya menatap nyalang ke Veron. Namun seketika tawa keluar lagi dari bibir Rossa.
"Zello." Rossa beralih memainkan jemarinya di dagu Zello.
"Zello Zello Zello." Ulang Rossa dengan tatapan yang tidak bisa Zello tebak.
"Kamu tahu?! Dia itu tidak lebih dari seorang pelacur. Ah ralat. Dia itu. SEORANG PELACUR." Rossa berkata dengan penuh kemenangan.
"Istrimu adalah wanita yang suka menjajakan tubuhnya ke semua pria. Menjajakan tubuhnya. Menjual." Tekan Rossa.
"Diam." Dicengkramnya pipi Rossa dengan kuat. Cengkraman kuat Zello tak menyurutkan Rossa untuk tertawa sinis, meski tawa itu terdengar seperti bukan sebuah tawa karena kuatnya cengkraman Zello.
"Tidak hanya tubuhmu yang kotor. Tapi mulut, bahkan bahkanmu juga sangat kotor. Aku bersyukur karena tidak jadi menikah denganmu. Kamulah yang menjajakan tubuhmu. Hanya untuk meraih popularitasmu." Zello melepas cengkramannya dengan kasar. Tubuh Rossa bahkan hampir oleng karena ulah Rossa.
"Hahaha. Kamu sangat menggelikan Zello. Kamu memilih pelacur ketimbang aku."
Zello mencekam pipi Rossa kuat dan melepaskannya kasar.
"Eh" Rossa meringis karena ulah Zello.
"Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh pelacur."
Pandangan Zello beralih ke Veron, tanpa ada kata.
Dengan keberaniannya Veron berhambur ke pelukan Zello.
"Zello, aku memang bekerja di club. Tapi sebagai pelayan. Percaya padaku Zello. Rossa berbohong karena kamu memilihku." Veron menatap Zello, matanya sendiri sudah menganak sungai. "Zello, aku mohon percaya padaku!"
'Zello, aku tidak bisa untuk kehilangan semua. Aku tidak mau kehilangan sebuah keluarga. Aku menyayangi kakek. Menyayangimu. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku mencintaimu. Aku berjanji itu masa laluku. Kamu masa depanku. Aku berjanji akan menjadi wanita yang baik untukmu'.
"Zello ...." Lirih Veron.
__ADS_1
Zello meraih kepala Veron, memberi kecupan di keningnya. Dan memeluknya erat.
"Iya. Aku percaya. Aku percaya." Zello memeluk Veron dengan erat. Sangat erat.