Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Permohonan Anita


__ADS_3

"Sayang, sini!" ujar Zello sadar kehadiran Veron. Bukannya mendekat Veron malah diam di tempatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo," ucap Zello lembut. Diraihnya tangan Veron menariknya pelan hingga duduk di sebelahnya.


"Hu...hu...hu...." Veron menangis dengan menutup dengan kedua tangannya. Dirinya belum punya keberanian untuk menatap Hanif meski dadanya sudah sangat sesak karena rindu.


"Itu Lilie? Kenapa menangisnya seperti anak kecil kaya gitu?!" ujar Hanif.


Zello terkekeh kecil, tangannya segera merangkul pundak istrinya.


"Sayang, kamu yakin ngga ingin lihat kakek?"


Veron masih sesenggukan, telapak tangannya masih menutup wajahnya dengan sempurna. "Maaf, Kek!" ucap Veron tanpa memperlihatkan wajahnya.


"Kenapa?" tanya Hanif pelan.


"Marahlah, Kek! Lilie akan mendengarkannya."


"Tentu aku marah. Kamu berbicara dengan orang tua dengan wajah ditutupi. Tidak sopan."


Isak tangis Veron makin kencang mendengar ucapan Hanif, berbeda dengan Zello yang malah terkekeh.


"Kalau kamu tidak pulang bagaimana aku bisa puas untuk memarahimu."


Zello mengatur layar ponselnya supaya hanya dirinya yang masuk ke layar. Dan dengan perlahan mencoba membuka telapak tangan Veron yang menutupi wajahnya. "Lihatlah! Aku sudah mengaturnya supaya hanya aku yang terlihat," bisik Zello.


"Buka, memang kamu nggak kangen sama kakek." Bujuk Zello lagi.


Perlahan Veron merenggangkan jarak telapak tangannya hingga ia benar-benar bisa melihat wajah Hanif dengan jelas. Hati Veron langsung menyeruak bahagia, dadanya sesak karena senang. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.


"Aku akan membawa pulang Lilie, Kek. Tapi bukan hari ini."


"Dan untuk malam ini, Zello akan di sini untuk menemani Lilie."


Terdengar helaan nafas kasar dari Hanif. "Baiklah, tidak masalah. Yang penting kalian baik-baik saja."


"Baiklah, Kek. Selamat istirahat."


Sambungan telepon terputus. Veron menatap intens wajah Zello. Entah bagaimana Veron ingin mengatakannya, dirinya syok tapi juga sangat senang.


"Kakek selalu menanyakanmu. Aku tidak punya pilihan lain," ujar Zello.


Veron langsung menabrakkan tubuhnya di tubuh Zello. Menangis sesenggukan di bahu suaminya.


"Aku akan cari waktu yang tepat untuk membawamu ke rumah kakek," ucap Zello.


"Mas, apa kakek sudah tahu alasanku pergi dari rumah. Aku nggak mau kakek jadi sakit lagi nanti karena memikirkan itu."


"Belum. Tapi.... aku akan secepatnya memberitahu kakek. Kita tidak bisa menutupinya terus menerus."


"Seharusnya tadi kamu nggak bilang sama kakek kalau kamu sudah menemukanku. Bagaimana kalau orang itu nekat. Kakek, perusahaan."


Zello membuang nafas kasar, sebenarnya dia juga bingung. Tapi mau sampai kapan istrinya sembunyi? Mungkin bila nanti sudah berbicara dengan kakek dirinya akan merasa tenang dan bisa ambil tindakan.


"Sudah, kamu jangan pikirkan itu! Ayo makan. Aku lapar."


Jangan pikirkan? Bagaimana bisa Veron tidak memikirkan hal serumit itu yang nyatanya itu disebabkan oleh dirinya.


"Nanti jadi ke rumah Anita?" ucap Zello mengalihkan kegundahan Veron.


"Hm."


****


Jalur rumah Anita yang tidak jauh dari butiknya memudahkan Zello dan Veron guna mengunjunginya.


"Butiknya buka." Ujar Zello yang melintas di depan butik Anita.


"Masuk dulu!" pinta Veron. Zello dengan segera mengarahkan kemudinya memasuki halaman butik Anita.


Veron ragu Anita ada di butik, meski begitu dia ingin memastikannya.


"Kak Lilie, Tuan." Sapa pegawai Anita.


"Mm Ada Anita?" tanya Veron.


"Sekarang ibu jarang ke butik, Kak. Oya, Kak Lilie hamil ya. Sudah berapa bulan?"

__ADS_1


"Sudah tujuh bulan. Jadi ibu jarang ke butik? Sejak kapan?"


"Mm kapan ya?! Mungkin sudah hampir dua bulanan."


Hah, "kira-kira kenapa?"


"Saya juga ngga tahu, Kak."


"Mm, ada orang club kesni nggak akhir-akhir ini."


"Kayanya nggak ada deh, Kak. Terakhir beberapa hari setelah kakak pergi dari sini itu."


Veron mengangguk kecil yang kemudian beralih menatap suaminya.


"Ayo!" ucap Zello.


"Yaudah aku mau ke rumahnya saja kalau gitu."


"Iya, Kak. Ibu pasti di rumah."


Hm.


Selepas dari butik Veron dan Zello langsung tancap gas ke rumah Anita, hanya butuh waktu 15 menit dari butiknya.


Mobil Zello berhenti tepat di depan gerbang rumah Anita. Security yang kenal dengan Veron pun langsung mempersilakannya masuk.


"Tapi Anita ada di rumah kan, Pak?"


"Ada, Non."


"Ok. Makasih, Pak."


Gegas mobil Zello memasuki pelantaran sederhana milik Anita dan berhenti tidak jauh dari pintunya.


"Anita," ucap Veron dengan ketukan kecil.


"Eh, Non Lilie." Sambut Mbok yang bekerja di rumah Anita.


"Non Lilie hamil?!"


"Iya, Mbok. Ini suami Lilie."


"Oya, Anita mana Mbok?" tanya Veron sembari melangkahkan kaki memasuki rumah Anita.


"Ada di kamar, Non. Bentar simbok panggilkan ya."


"Iya, Mbok."


Veron dan Zello duduk di ruang tamu. Sudah lama Veron tidak berkunjung ke rumah Anita. Anita yang tinggal sendirian dan hanya dengan pekerjanya saja. Anita korban anak broken home. Orang tuanya yang sudah sibuk dengan pasangannya masing-masing membuat Anita bersikeras untuk hidup mandiri. Dan jadilah sekarang Anita dengan kepribadian yang mandiri. Belum genap berumur 25 tahun sudah bisa mengembangkan butik dengan tekatnya sendiri.


"Maaf, Non. Non Anitanya ngga mau turun. Terus....."


"Terus apa, Mbok?"


"Non Lilie disuruh pulang."


"Kenapa?" tanya Veron cemas dan heran.


"Nggak tahu, Non. Non Lilie pulang dulu ya. Non Anita lagi nggak mau di ganggu. Maaf ya Non."


Tanpa menghiraukan ucapan mbok, Veron menuju kamar Anita yang diiringi Zello.


"Sayang," ujar Zello.


"Dia nggak pernah begini sebelumnya," ucap Veron.


Veron dan Zello yang sudah di depan pintu kamar Anita saling melempar pandang. Suara sesenggukan dari dalam kamar Anita membuat Veron dan Zello hening sesaat. Perasaan Veron cemas tidak terelakkan, Anita kenapa sampai menangis seperti itu. Tadi siang ketemu di rumah sakit dalam keadaan demikian, sekarang Anita menangis nelangsa.


"Nit," ucap Veron pelan.


"Dia lagi ngga mau di ganggu Sayang," cegah Zello menenangkan.


"Aku hanya mengkhawatirkannya, Mas. Dia nggak punya siapa-siapa."


"Nit," ulang Veron dengan ketukan kecil.


"PERGI!"

__ADS_1


Veron melongo mendengar teriakan Anita. Membuat hati Veron meringis sekaligus cemas.


"Anita kamu kenapa?" tanya Veron dengan ketukan beruntun.


"Pergi Lie! Pulang sana!"


Zello menyentuh Bahu Veron, meminta untuk menuruti ucapan Anita.


"Yaudah aku pulang. Kalau perlu teman cerita kamu hubungi aku ya. Aku akan kesini." Veron terdiam sesaat, dirinya nggak punya ponsel.


"Mas, aku kan nggak ada ponsel."


"Oh. Nanti kita ambil ke rumah kakek. Ponselmu di sana kan?!"


"Tapi.... "


"Sudah nurut saja."


Hah, "aku pulang, Nit."


Zello merangkul bahu Veron menuntun untuk keluar dari rumah Anita.


"Nomor telepon rumah masih sama kan, Mbok? Nanti Lilie telpon ya mbok," ucap Veron pelan.


"Iya, Non. Maaf ya, Non."


"Nggak papa, Mbok."


Pikiran Veron makin gundah, dirinya merasa tidak akan bisa menangani ini. Langkahnya lunglai, dan sedikit sempoyongan. Seakan ada yang mengusik ketenangannya hingga membuat dirinya benar-benar merasa tidak nyaman. Tapi apa? Tapi yang jelas berkaitan dengan Dave, karena Anita saat di rumah sakit didampingi orangnya.


"Jangan terlalu banyak fikiran! Nanti pasti Anita akan cerita sama kamu kalau dia sudah membaik," ujar Zello. Mereka sudah duduk di kursi mobil. Sekian detik mesin mobil Zello menyala dan perlahan menjauh dari pintu masuk rumah Anita. Veron tak menjawab, memilih duduk bersandar meredam gundahnya.


"Maaf, Tuan, Nona. Kalian dilarang keluar oleh Nona Anita," ujar security rumahnya.


"Apa? Tapi dia sendiri yang menyuruh kita balik," jelas Veron.


"Lilie!" teriak samar Anita. Veron dan Zello yang mendengar teriakan itu melongok melihat Anita yang sudah di depan pintunya. Penampilan yang berantakan dan melangkahkan kaki menuju Veron dan Zello berada.


Veron dan Zello keluar dari mobil secara bersamaan. Terlihat Anita yang mempercepat jalannya. Dari tempat Veron berdiri, jelas pandangan Anita yang seakan memindai kehamilan Veron.


"Lilie!" ucap serak Anita. Anita melihat sekilas perut Veron yang membesar.


"Aku hamil tujuh bulan," ujar kaku Veron.


Anita menelan salivanya yang kemudian menatap Zello dan Veron bergantian.


"Tuan, bolehkah aku ingin berbicara pribadi dengan Lilie?"


Sedikit terkejut namun sesaat Zello mengangguk dengan senyum tipis, "tidak masalah. Aku akan kembali ke mobil."


Zello kembali duduk di mobil, mengalihkan semua dengan memainkan ponselnya. Tidak berniat menguping pembicaraan istri dengan sahabatnya itu. Zello percaya, istrinya akan terbuka dengan dirinya.


Di lain sisi Anita melangkah menjauh dari mobil Zello yang kemudian diekori Veron.


"Anita." ucap Veron saat mereka sudah saling berhadapan.


"Aku ingin minta tolong sama kamu."


Hah, Veron terheran, namun dia mengangguk kecil mengiyakan.


"Ini ada kaitannya dengan pemilik club 'Dave.'"


"Apa?" ujar Veron tersentak.


"Aku hamil."


Veron tercengang, pikirannya masih berkelana tanpa titik temu.


"Anak Dave."


Dahi Veron berkerut dalam, pikirannya sudah terisi dengan tindakan keji Dave. Tanpa terasa air matanya berjatuh tanpa aba-aba. "Apa yang sudah dilakukan oleh Dave?" tanya Veron, tidak hanya dahinya yang berkerut, tapi urat pelipis Veron juga menegang karena emosi.


"Itu tidak penting untuk dibahas sekarang."


"Lilie, anak ini butuh ayah. Tolong temui dia untuk bertanggung jawab! Aku yakin dia akan menuruti ucapanmu."


"Aku mohon Lie." Suara iba Anita berubah isakan tangis pilu.

__ADS_1


Tangan Veron terulur memeluk Anita. Memeluk tanpa suara. Bibirnya kelu. Matanya meradang, namun air mata juga menetes tanpa ia bisa kendalikan.


__ADS_2