Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Asisten Terkutuk


__ADS_3

***


Keesokan hari, di Apartemen


Veron yang baru saja sampai dapur langsung bisa tahu aroma yang sudah berhasil menusuk hidungnya. Zello tengah pakai celemek di depan kompor dengan masakannya.


"Pagi." Sambut Zello yang sadar kehadiran Veron. Senyum sumringah terbit dari bibir Zello, bangga dengan masakannya yang hampir selesai.


Veron tertegun sesaat antara kagum dan juga malu. Bukankah seharusnya istri yang ada di dapur?


"Lilie tolong buatkan kopi untukku!" Pinta Zello.


"Hm." Veron dengan sigap membuat kopi untuk Zello yang ia takar seperti membuat kopi untuk Hanif.


"Kamu tidak tanya takaran gulanya?"


"Berapa?" tanya Veron akhirnya.


Zello menghembuskan nafas kasar, karena bukan itu maksud Zello. Sikap penurutnya Veron membuat Zello tidak nyaman. Hanya jawaban iya dan iya dengan wajah datar saat sedang bersamanya.


"Satu sendok teh," sahut Zello.


Zello menuangkan nasi gorengnya menjadi dua piring dan menyiapkan air putih juga. Setelah selesai ia duduk di meja makan, menunggu kopi siap oleh Veron.


Veron yang selesai membuat kopi menaruh di depan Zello dan membawa cangkir tehnya sendiri di meja yang sama.


"Terima kasih," ucap Zello.


"Hm."


"Kalau kamu bosan sarapan roti terus kamu bisa nyari koki," sambungnya.


Sedikit kecewa dengan ucapan Veron yang sangat datar, malahan terdengar sangat dingin. Zello nggak menyangka Veron yang biasanya berisik bisa sedemikian. Bahkan untuk mengajak bercanda saja Zello merasa ragu. Terlebih dengan sikap acuhnya yang makin menjadi.


"Aku ke kamar ya." Pamit Veron. Kalimat yang menyakitkan. Seperti kemarin sore, saat dirinya baru saja pulang. Veron hanya menyambut dan menyuapinya dan langsung pamit ke kamar, padahal masih sangat sore.


Setelah hampir setengah jam, Veron dan Zello sudah berada di meja makan kembali. Zello merasa dunianya sudah mau kiamat bertemu dengan Veron hanya saat makan, itu pun wajahnya masih saja di tekuk tekuk. Dan seperti biasanya, Veron selalu melakukan tugas rutinitasnya, menyuapi, memakaikan jas sampai sepatu, mengantar sampai depan pintu dan yang masih dengan wajah tak bersahabatnya.


Lilie, kamu benar-benar ... (Batin Zello geram)


Semakin hari sikap Veron makin kekanakan di mata Zello. Apakah sampai sebegitunya? Geram Zello.


Pagi esoknya, Veron masih bersikap sama. Membuat emosi Zello sudah di ubun-ubun. Zello yang sudah selesai dibantu memakai jas menatap tajam Veron.


"Cium aku!" Titah Zello.


Terdiam cukup lama, saling bersitatap dengan pikiran masing-masing.


Entah apa yang di pikirkan Veron, dirinya mengikis jarak mereka berdua. Menyatukan hidungnya dengan hidung Zello, dan sama-sama menyemburkan nafas yang tidak beraturan dan sekian detik bibirnya sudah menempel di bibir sensual Zello.


Zello dengan langsung menahan bahu Veron yang membuat wajah mereka berjarak kembali. Bibir Zello tersenyum sinis. Kebalikannya Veron berwajah bingung.


"Jadi ini kamu yang sebenarnya. Memilih menurut daripada harus bertikai, meskipun harus jadi wanita yang bisa di suruh-suruh. Meskipun disuruh untuk mencium," ucap Zello tajam.


"Apakah harus jadi wanita rendahan seperti ini. Saat kamu ingin mendapatkan sesuatu, apakah kamu akan menjadi rendah seperti ini."


"Kamu bukan seperti seorang istri. Bahkan asisten saja masih bisa memberi saran bila pasangannya salah. Tapi kamu, hanya bilang iya saat setiap aku menyuruhmu. Kamu bahkan seperti pesuruh yang selalu menurut setiap ucapan tuannya. Bahkan hal kotor sekalipun."


Zello berucap tajam dengan pelan. Sifat ke kanakan Veron benar-benar membuat dirinya merasa sangat kesal, bahkan muak.

__ADS_1


Kamu pikir? Aku memang pesuruh kamu. Sejak kapan aku jadi istri kamu. (Batin Veron)


Antara bingung dan juga membalas ucapan Zello, Veron memalingkan muka dengan santainya, membuat amarah Zello semakin besar. Dan akhirnya pergi dari sana dengan cepat.


sepeninggal Zello, Veron terduduk di sofa. Ada sedikit rasa nyeri di dadanya.


'Aku memang murahan, Zello. Dengan mencium pria tanpa cinta membuatmu berfikir aku rendahan, bagaimana kalau kamu tahu aku ini sering tidur dengan banyak pria. Untungnya kamu menolak ciumanku, kalau tidak, kamu akan menyesal seumur hidupmu.'


***


Waktu cepat berlalu, Zello yang dari rumah moodnya sudah berantakan jadi semakin berantakan dengan bertambahnya jam dirinya yang tengah di perusahaan.


"Bos." Zico melongokkan wajahnya ke ruangan Zello.


"Ini ada yang harus di periksa terkait rapat nanti."


"Tunda saja!"


"Kebetulan timnya sudah mempersiapkan dengan matang-"


"Semua pasti sudah matang. Kalau tidak mana berani ada rapat."


"Bukan begitu Bos. Masalahnya ini yang menangani adalah mbak Lisa."


Lisa, senior dari salah satu tim dan sedang mengandung besar.


Mendengar ucapan sang asisten, Zello menghela nafas kasar. "Ini rapat terakhir untuknya. Kasih dia cuti mulai besok."


"Baik Bos."


Setelah selesai memeriksa dokumen penting itu, Zello menyerahkan kembali ke Zico.


"Bos tidak ikut rapat?"


"Apa perlu aku jawab."


"Baik Bos."


Sepeninggal Zico dari ruangannya, Zello membuang nafasnya kasar. Merenungi nasibnya yang membuatnya uring-uringan.


Setiap pagi bangun untuk membuat sarapan khusus buat mereka berdua, berupaya ingin lebih dekat. Tapi tadi pagi dirinya malah melontarkan kata-kata itu. Yang pasti akan membuat mereka semakin renggang.


Zello merasa sakit saat di acuhkan Veron terus menerus, tetapi saat dia melontarkan kata itu dia juga merasakan sakit yang lebih. Mau nyusul Veron ke rumah Hanif, namun tahu kalau dirinya bakal di acuhkan lagi membuat dirinya mengurungkan niatnya. Memilih tetap di kantor merutuki kesalahannya sembari memikirkan kata yang tepat untuk meminta maaf nanti.


"Semoga kamu akan memaafkanku," Sesal Zello.


***


Pulang kantor, sesampai Apartemen, Zello langsung mendapati Veron yang baru saja keluar dari kamarnya. Zello mencoba tersenyum dan senyumnya menggantung dengan sikap acuhnya Veron.


"Lilie." Zello mendekat Veron yang ke arah dapur.


"Mandilah! Aku akan menyiapkan makan."


"Lilie ... soal ucapanku tadi pagi. Aku ... benar-benar menyesal. Aku sedang tidak waras pagi tadi." Zello terus membuntuti Veron yang kesana-kesini karena menyiapkan makan mereka.


"Tidak masalah Zello. Aku memang wanita seperti itu. Bahkan demi uang aku rela jadi istri bayaran." Tanpa menghentikan aktivitasnya Veron berucap santai seakan tanpa beban, padahal hatinya sedikit nyeri.


"Bukan begitu Lie-"

__ADS_1


Veron menghentikan langkahnya, menatap Zello, "Zello, kalau kita membahasnya terus akan membuat mood kita jelek. Ujung-ujungnya jadi nggak selera makan. Apa kamu mau kita ngga makan malam sekarang," ucap Veron kemudian.


"Mm ... baiklah." Nggak ada pilihan lain. Zello menurut ucapan Veron. Menyadari ucapannya tadi pagi akan susah untuk di maafkan. Zello takut akan melewatkan makan malam mereka berdua. "Aku mandi dulu."


***


Malam hari pukul 23.00 WIb. Veron yang tengah tertidur mendadak gelisah, merasakan sedikit kram dan basah di bagian bawah perutnya. "Sial." Pekik Veron. Dirinya langsung turun dari ranjang dan sedikit melorotkan celananya. Secepat mungkin membetulkan dan meraih ponselnya membawanya ke toilet.


Veron yang sudah berada di dalam toilet merutuki kebodohannya. Dia sudah mewanti jangan sampai lupa mempersiapkan tapi ujungnya lupa juga. Dengan segera ia melepaskan celananya, dilihatnya sekilas sudah ada flek merah di kain segitiganya yang ia lemparkan ke ranjang kotor. Duduk segera di dudukan closet sembari mendeal nomer Dahlia. Dua kali panggilan ia lakukan namun tak diangkatnya. Tidak mau putus asa Veron menulis pesan untuk Dahlia.


[Maaf Nona. Bukannya tidak mau. Tapi perut saya sedang mulas-mulas] balas Dahlia.


Mendapat balasan dari Dahlia, Veron langsung melakukan panggilan ke Dahlia.


"Nona." Suara Dahlia.


"Aku sedang tidak bercanda Dahlia," ucap Veron geram.


"Nona maafkan saya. Saya juga serius. Saya rasa kebanyakan makan sambal tadi. Perut saya nyeri dan mulas-mulas."


"Ck."


"Nona, bagaimana kalau Nona minta tolong sama Tuan Zello." Saran Dahlia yang disertai kekehan kecil yang sayangnya bisa di dengar oleh Veron.


"Kalau kamu beneran sakit tidak mungkin bisa tertawa seperti itu," ucap kesal Veron.


"Aku sakit perut Nona, bukan koma. Mangkanya masih bisa tertawa."


"Aku mohon Dahlia. Aku serius." Veron berucap memelas penuh hiba.


"Beneran Nona. Aku juga serius. Maafkan saya Nona."


Tut.


"Astaga. Asisten tidak bermoral," jerit Veron tertahan.


Veron melakukan panggilan kembali dan selalu tidak tersambung.


"Dahlia benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya dia menonaktifkan ponselnya."


Veron beralih mengetik pesan ke Dahlia.


[Kalau kamu tidak kesini. Aku akan terus duduk di sini ] Send.


Klik. Veron juga menambahkan foto dirinya yang tengah duduk di dudukan toilet itu.


Centang satu.


Dia nggak mungkin setega itu kan. (batin Veron)


Di lain tempat, Dahlia menatap ponselnya yang kehabisan daya. Ia menchargernya. Namun ragu untuk mengaktifkan ponselnya. Memikirkan kalau nonanya tengah mendiamkan Zello mungkin bila dirinya mengacuhkan pesan Veron, nonanya akan meminta tolong ke Zello dan hubungan mereka akan membaik.


"Maaf ya Nona." Dahlia menaruh ponselnya lagi tanpa menghidupkan ponselnya.


Sudah satu jam berlalu, Veron menatap pesannya untuk Dahlia yang masih centang satu.


"Dasar, asisten terkutuk."


***

__ADS_1


__ADS_2