Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Veron dan Rossa


__ADS_3

***


"Lilie, sekarang kamu istirahatlah. Nanti siang kamu ke harus datang ke perusahaan!" titah Hanif.


"Boleh Kek. Tapi kalau boleh tahu. Lilie ke kantor untuk hal apa ya? Siapa tahu Kakek mau memberi aku jabatan sekretaris buat Lilie, hehe." Meski ragu akan hal itu, tapi Lilie nggak bisa untuk tidak bertanya. Lilie menduga kalau dirinya akan di kenalkan sebagai istri Zello. Tapi malu bila menanyakan hal itu, mangkanya pertanyaan tadi hanya dalih saja.


"Nanti kamu akan mengantarkan makan sinag buat Zello. Dan supaya semua tahu, kamu adalah istri dari Zello. Anggap saja itu perkenalan tidak langsung untuk kamu terhadap karyawan."


"Oh, baiklah Kek."


"Aku mau balik ke kamar dulu. Ada yang harus aku kerjakan," jelas Hanif. Dengan sigap, asisten Hanif mendorong kursi rodanya.


"Kalau aku mana bisa sarapan langsung istirahat. Yang ada tubuh mama membengkak."


"Sama Tante, Rossa juga begitu."


"Iyalah, kamu kan model mana bisa membiarkan tubuh kamu menggendut."


"Mama mau ada kegiatan?" sela Veron.


"Ya paling nanti yoga aja. Memang kenapa?"


"Nggak mau ikut ke kantor juga Mah? Nyusul papa hehehe ...."


"Mm ... besok saja deh. Kebetulan semalam mama kurang nyaman tidurnya. Mimpi buruk." Tekan Maria.


Mendadak Veron teringat dengan mimpinya yang membuat bibirnya melengkung ke atas.


"Hayo ... semalam kamu mimpi apa." Goda Maria dengan jari telunjuk kr hidung Veron.


Mama kenapa sih?


***


"Lilie, kamu jadi ke kantor kan. Aku ikut ya."


Rossa yang masih di posisi langsung buka suara setelah senam mereka selesai.


"Ok." Meregangkan tubuh perlahan, masih di tempat yang sama. Begitu juga dengan Maria. Veron fokus dengan gerakan-gerakan lembutnya mengakhiri yoganya.


Sementara Maria fokus dengan Rossa, meskipun dia juga melakukan gerakan-gerakan seperti Veron.


"Baiklah, aku akan bersiap," ucap Rossa semangat.


Veron enggan menjawab, masih memilih fokus dengan posisinya, matanya tanpa sengaja melihat pandangan Maria yang terus menatap Rossa.


"Mah."


"Hm?"


"Ada apa?" Tanya Veron heran,


"Nggak ada apa-apa." Maria kembali fokus ke pendinginan tubuhnya.


"Menurutmu bagaimana Rossa?"


Sedikit heran dengan pertanyaan Maria, tapi Veron tidak mau ambil pusing. "Biasa saja Mah. Pada dasarnya semua orang kan punya pribadi baik. Tergantung kita melihat sudut dari mananya," ucap Veron santai. Dirinya juga perlahan berdiri dari duduknya.


"Iya, kamu benar," sahut Maria membenarkan.


"Lilie ke kamar dulu ya Mah."


"Ok. Tapi kamu jangan langsung bersiap! Istirahat dulu sebentar. Kalau Rossa pergi duluan biarkan saja." Maria tersenyum hangat.


Perhatian yang diberikan Maria benar-benar membuat Veron berbunga-bunga. "Siap Mah."


Sesampai kamar Veron langsung merilekskan tubuhnya dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Masih ada setengah jam untuk bisa tidur."


Setengah jam ternyata sangat berharga untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tidurnya yang nyaman, mungkin karena aura positif di rumah tersebut. Membuat tubuh dan hati Veron ikut merasa hangat.


***


Duduk di meja rias, menyapukan kuas kuas sesuai fungsinya. Menorehkan pewarna bibir maroon yang tajam. Dan ditambah parfum dengan aroma yang memikat.


Jumsuit tanpa lengan dengan bawahan lebar disertai scarf kecil yang ia bentuk simpul kupu-kupu di lehernya. Rambut sisi kiri dan kanan ia jepit di belakang telinga.


"Perfect. Ini baru Nyonya Golden Grub. Tuan Zello Yang Terhormat tentunya tidak akan menjuluki aku seperti bocah sekolahan lagi tentunya." Senyum mengembang terbit dari bibir Veron.


Ceklek. "Lilie ayo!" Rossa sekian detik menatap diam ke arah Veron, tertegun lebih tepatnya.


"Iya. Aku ambil tinggal ngambil tas." Diambilnya tas yang sudah ia siapkan di atas kasur.


"Ayo!" ucap Veron. Dan memilih keluar duluan yang langsung diiringi oleh Rossa.


Sesampai bawah Veron langsung mengecek bekal untuk makan siang Zello. "Ok. Thanks Mona."


"Sama-sama, Non."


"Nona, saya siap mengawal Anda." Dahlia dengan cepat berdiri di belakang samping Veron.


Sedikit terkejut dengan kehadiran Dahlia tiba-tiba. "Terserah."


"Saya bawakan bekalnya Nona." Dahlia meraih bekal itu dan langsung menentengnya.


"Terserah Dahlia." Veron memasang wajah pasrah, beda jauh dengan penampilan sangarnya.


Sebenarnya Veron ingin diantar sopir, tapi karena Rossa bersikeras pakai mobilnya akhirnya dia hanya bisa mengiyakan.


"Kamu yang bawa mobil Dahlia!" Rossa memberikan kuncinya ke Dahlia.


"Baik Nona."


Veron mengambil bekal makan siang itu yang berada di kursi mobil depan.


"Nona." Sergah Dahlia dengan suaranya.


"Biarkan, jangan larang aku."


Rossa dan Veron sama-sana duduk di kursi belakang. sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Lilie, apa kamu akan mengantarkan bekal ini?"


Tentu. Batin Veron.


Veron melihat makanan yang ada di pangkuannya itu. Meski Rossa mengucapkan dengan kalimat sederhana. Tapi otaknya paham dengan maksud Rossa.


"Kamu yang antar ya! Aku ingin ke butik Anita dulu."


Senyum menyeringai terpampang di bibir Rossa, puas dengan ucapan Veron. Sementara Dahlia hanya diam, paham dengan situasi, karena tahu 'Rossa pemilik hati Zello sesungguhnya' .


"Jl. King A, Dahlia!"

__ADS_1


"Baik Nona."


***


Dengan langkah menawan yang disertai penampilan dan senyum tipis, akan membuat semua insan akan menoleh kagum kepada dirinya. Nggak hanya pria tapi para wanita pun juga.


"Jaga matamu!"


"Ah iya iya Sayang. Aku pikir dia artis idolaku."


"Aku nggak mau belanja di sini lagi. Ayo keluar!"


"Disini bajunya bagus-bagus."


Veron menoleh sekilas dengan pengujung di butik Anita tersebut.


"Wah Nona. Kamu berdampak buruk buat butik ini." Dahlia terkekeh kecil melihat apa yang sudah terjadi.


"Seharusnya dia mengajak kekasihnya ke hotel, bukan disini. Disini nggak hanya pengunjung yang cantik. Bahkan para pelayannya saja cantik-cantik."


"Anda membuat wanita lain merasa iri."


"Termasuk kamu?!"


"Nggak, Anda kan wanita bayaran," cetus Dahlia. Dalam sekejab langsung nyari aman dengan buang muka.


"Baguslah! Karena kamu tidak akan pernah bisa ?memilikinya," sahut Veron sombong.


"Dasar." Dahlia mengepalkan tinju dan mengayun-ayunkan di belakang kepala Veron.


Veron langsung menuju ruang Anita yang ada Anita tengah makan siang diruangannya.


"Anita," ucap Veron senang.


Eh, huk huk.


Anita sudah hafal dengan Veron, tapi tersedak dengan penampilan Veron.


"Kamu -kenapa kamu penampilannya seperti ini?" masih tertegun tanpa menghentikan mulutnya untuk mengunyah makanan.


"Kamu selalu begini kalau aku memakai pakaian seperti ini."


"Astaga. Siapa yang tidak kaget. Rambutmu. Dan ini ... kamu benar-benar sudah seperti Ibu Bos sekarang," tutur Anita.


"Jangan berlebihan, aku selalu cantik seperti biasanya."


"Sepertinya auramu semakin terlihat setelah menikah. Apa aku benar? Kamu benar-benar sudah jadi istri orang sekarang. Hu hu hu ...."


Anita berhambur memeluk Veron dan malah menangis juga di sana.


"Sudah. Lanjutkan makanmu!"


"Kamu ini! Aku sedang terharu karenamu, tapi kamu seolah ini hanya lelucon." Bibir Anita mencebik menggerutu.


"Iya. Kamu memang sahabat paling paham sama kondisi aku."


"Aku nggak nyangka. Kamu bisa menangkap pria kelas kakap semacam dia. Semenjak aku tahu namanya aku langsung seacrhing dia. Astaga, rasanya aku mau pingsan."


"Kamu terlalu banyak bicara. Kenalkan, dia asistenku."


"Ha? Kamu punya asisten?!"


"Bukan asisten. Tapi perusak suasana." Veron menatap congkak ke Dahlia yang tengah tersenyum manis. Tersenyum manis ke Anita tepatnya.


"Astaga. Yaudah sini duduk! Kenapa kamu berdiri terus?!"


"Tidak usah Nona. Saya sudah biasa berdiri," ucap Dahlia sopan.


"Duduk!" Dengan gesit Veron menarik tangan Dahlia.


Blug.


"Kenapa kamu malah duduk di pangkuanku?!" ucap kesal Veron.


"Maaf, Nona. Tapi Nona tadi yang menarik tanganku," sahut Dahlia bingung. Dahlia juga langsung berniat berdiri lagi.


"Duduk!" tangan Veron dan Anita menahan pundak Dahlia yang membuatnya terduduk lagi dengan terpaksa duduk di posisi tengah.


Kenapa dengan perempuan ini. Batin Dahlia.


"Aku belum makan Nit," keluh Veron.


"Kamu orang kaya tipu-tipu ya?! Setiap kesini pasti ngeluh belum makan."


"Ayolah, aku lapar," ucap jujur Veron. Tadi berniat makan bareng sama Zello di kantor, tapi apa daya dia malah nyasar di butik Anita.


"Ok ok."


"Apa makanan kesukaan dia?" ucap Anita.


"Ngga tahu, orang ada di sebelahmu ngapain tanya sama aku."


"Saya Nona?!" ucap Dahlia bingung.


"Pesankan apa saja! Dia akan menolak bila kamu menawarinya."


"Ok. Aku pesankan makanan yang sama denganmu."


"Nggak perlu repot-repot Nona."


"Anggap saja ini imbalan kamu untuk tetap tetap mulut, alias selalu berpihak kepadaku dalam keadaan apapun."


Sudah kuduga. Batin Dahlia.


Astaga Lilie, kamu bicara apa? Apa kamu ingin terlihat buruk dimata orang? Anita membatin.


"Ayo, ayo ceritakan betapa enaknya jadi Nyonya Abraham?" ucap Anita antusias.


"Mereka keluarga yang sangat hangat, siapapun akan beruntung bila menjadi anggota keluarganya." Tegas Veron dengan berbinar.


"Benarkah? Hah, kenapa benar-benar membuatku iri. Seharusnya aku tadi tidak menanyakannya. Aku pikir akan ada drama keluarga seperti di film-film."


"Dasar, teman nggak ada akhlak. Bisa-bisanya berucap demikian."


"Apa Zello punya saudara?"


"Kamu tadi bilang bila sudah searching dia."


"Siapa tahu tidak akurat. Ada yang ditutupi oleh sosial media." Cetus Anita.


"Nggak ada, dia anak tunggal," ucap Veron menyombongkan.

__ADS_1


"Astaga, kamu akan jadi pewaris satu-satunya."


"Zello, bukan aku."


"Sama saja. Tapi sayangnya dia nggak punya saudara," keluh Anita mendrama.


"Hm. Tapi ada duda ko di rumah itu."


"Benarkah? Ayo kapan-kapan kenalkan aku." Anita berucap setengah teriak.


"Astaga berisik. Andai kamu bisa memilikinya, kamu akan lebih kaya dariku nanti," ucap Veron.


'Mereka heboh sekali, sudah seperti di pasar.' Batin Dahlia menggerutu. Bagaimana tidak, Dahlia posisi duduknya di tengah.


"Benarkah? Siapa?" ucap Anita antusias.


'Siapa?' Dahlia ikut membatin.


"Hanif," ucap singkat Veron. Bibir Veron rapat terpaksa karena menahan tawa.


"Hmph." Dahlia menutup mulutnya yang hampir tertawa lebar.


"Seriusan, siapa dia. Namanya saja sudah sangat cool." Anita memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih kencang.


"Kakeknya."


Senyum jahil keluar dari bibir Veron.


"Apa? Katakan sekali lagi!" Dada Anita nggak hanya berpacu, bahkan rasanya sudah mau meledak.


"Hahaha." Tawa lepas Veron, bahkan Veron menggoyangkan tubuh Dahlia dengan hebohnya.


'Astaga Nona, Anda cantik sekali kalau tertawa lepas seperti ini. Andai Tuan Zello melihatnya, mati sudah Rossa.'


"Apa kau ingin mati, hah?" Bug. Anita memukulkan buku catatannya ke Veron.


"Aku jadi nggak selera makan lagi sekarang."


"Baguslah, anggap saja diet." Wajah Veron masih memerah karena terlalu banyak tertawa. "Ah, Anita kamu ini."


Veron berusaha meredam tawanya. "Tapi sungguh, Kakek Hanif sangat baik."


"Berhenti bicara! Bikin kesal saja." Ketus Anita.


Lumayan banyak yang mereka obrolkan, sampai makanan yang sudah dipesan siap di santap.


"Ayo makan, Dahlia!"


"Mm ... baik Nona."


"Setelah ini kita ke kantor," ucap Veron lagi.


"Ha? Kita ke kantor?"


"Tentu saja."


Oh, aku pikir Nona Lilie akan sepenuhnya tunduk dengan Rossa.


"Wait. Ke kantor? Kamu memang kebiasaan, selalu pergi setelah kenyang," celus Anita.


"Bawaan orog."


***


"Nona biar saya bawakan tasnya." Tawar Dahlia. Mereka baru saja turun dari mobil dan kuncinya langsung ia berikan ke petugas.


"Iya, ini." Ngga perlu sungkan, Veron langsung menyerahkan tasnya. Veron benar-benar pintar menikmati hidup dan posisinya sekarang.


Veron berjalan dengan Dahlia yang ada di belakangnya, melangkah memasuki perusahaan atas kepemimpinan Zello.


"Kira-kira apa Nona Rossa masih di dalam ya Non?" tanya Dahlia penasaran.


"Entahlah. Tapi dia juga berhak. Lagipula kalau masih ada di dalam, berarti sang CEO tidak keberatan dengan kedatangan. Yang ada dia malah senang."


"Tapi kan sekarang Tuan Zello sudah berstatus berkeluarga. Kalau ada wanita yang sering menemuinya, akan membuat reputasi diri dan perusahaannya buruk."


Meski sebagai asisten, namun Dahlia tidak sungkan untuk memberikan pendapat atau kritikan. Ya karena dari keluarga Hanif sendiri tidak terlalu memberi jarak kepada pekerja-pekerjanya. Selama mereka berkata masih dengan sopan, itu tidak masalah buat keluarga Hanif.


"Itu urusan Zello. Aku hanya memerankan peranku."


"Baiklah Nona. Anda memang menikmati hidup," ujar Dahlia.


"Hm."


Veron dan Dahlia memasuki lift.


Thing.


"Nona, itu Nona Rossa." Tunjuk Dahlia.


Sedikit terkejut yang terlihat dari raut Rossa dengan kehadiran Veron, tidak menyangka kalau Veron akan tetap ke kantor.


Veron melangkah menuju ruang Zello, sementara Rossa yang di depan pintu Zello melangkah mendekat ke Veron.


Nggak butuh waktu lama, mereka hanya berjarak setengah meter, saling bersitatap dengan bertolak belakang. Veron dengn senyuman tipis sementara Rossa dengan wajah tak bersahabat.


"Aku pikir kamu tidak akan kesini." Tidak hanya tatapan Rossa, nada bicara Rossa terdengar sangat tidak nyaman di telinga bagi yang mendengarnya.


"Aku mengiyakan untuk tidak membawakan makan siang Zello. Bukan berarti aku tidak akan ke perusahaan." Senyum Veron sudah menghilang sejak Rossa buka suara.


"Mau nyari perhatian dengan Zello?" Cibir Rossa.


"Apa maksudmu? Aku hanya menikmati sebagai mantu dan cucu dari keluarga berada. Bukankah kamu dulu juga menjanjikan kemewahan dan kesenangan untukku?!"


"Aku rasa kamu punya niat terselubung."


"Mau percaya atau tidak, aku tidak pernah menggoda kekasihmu. Meskipun dia adalah 'suamiku'." Tekan Veron.


Heh. Nada cebiran Rossa.


"Apa kamu iri dengan apa yang sudah aku lalui? Kamu sudah menolak keberutunganmu sendiri Rossa."


"Berani sekali kamu bicara. Lihatlah penampilan mu! Kamu seperti wanita baik-baik." Sindir Rossa. Bibirnya menyeringai penuh cibiran.


Tanpa sadar tangan Veron mengepal dengan keras.


"Kamu ada dua pilihan Rossa. Mau mendapatkannya atau tidak sama sekali. Kamu tahu maksudku bukan? Kamulah Dalang Utama." Veron menatap tajam ke Rossa.


'Seharusnya Rossa sadar, Lilie Verone Monic tidak selemah itu.'


"Minggir!"

__ADS_1


***


__ADS_2