Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kecurigaan Hanif


__ADS_3

***


Veron melangkah pelan dengan menenteng sebuah kantong. Veron harap tidak ada yang menaruh curiga dengan dirinya yang keluar lumayan lama. Karena memang rumah Dave jauh dari kediaman Hanif.


Tepat sekali Veron masuk ke rumah saat Hanif sedang sarapan. Dengan senyum yang khas, Veron menyapa Hanif dan langsung ikut duduk di meja makan.


"Dari mana, Lie?"


"Dari depan, Kek. Beli sesuatu yang urgent. Dahlia tadi sepertinya masih tidur. Jadi Lilie beli sendiri."


"Oh. Baiklah ayo sarapan!"


"Iya, Kek." Veron menyendok nasi untuk dirinya sendiri. Satu suapan dengan susah payah berusaha untuk menelannya.


"Kenapa? Sepertinya kamu butuh minum?!"


Veron mengambil air dan meminumnya perlahan. Baru makanannya bisa tertelan.


"Apa tenggorokan kamu sakit?"


"Oh, nggak Kek. Hanya saja Lilie belum lapar."


"Yaudah yang penting makan dulu. Sedikit juga tidak masalah. Supaya tidak sakit maag. Oya, apa kamu sudah mendengar soal Zein?"


"Udah, Kek," sahut Veron pelan.


"Kakek mau kesana. Apa kamu mau ikut?!"


"Boleh, Kek. Lilie memang ada rencana kesana."


"Baiklah nanti kita akan kesana."


Veron mengangguk kecil dan lagi-lagi harus menelan makanannya dengan dorongan air minum.


***


Veron melihat dari jarak sekitar dua meter dari jazadnya Zein yang telah rapi di dalam sebuah peti. Dilihatnya Julia yang duduk di peti mati suaminya dengan tatapan kosong.


Melihat banyaknya orang yang bertandang untuk berbela sungkawa Veron tidak sengaja bersitatap dengan Zello dan segera menghampirinya.


"Kesini sama siapa?" tanya Zello


"Sama Kakek."


"Oh, aku tidak bertemu kakek."


"Kakek sekarang sepertinya sedang berbicara dengan keluarga Zein," jelas Veron.


Tepat saat mereka membicarakan, Hanif muncul dengan beberapa pria ada Dave juga di sana. Veron menatap kecewa ke Dave. Tidak mau membuat orang curiga Veron tidak mau melihat Dave. Dirinya yang penuh kecewa dengan penuh tidak yakin matanya bisa berpura-pura.


Disana tidak ada yang membahas akan kejadian sebelum Zein meninggal. Tapi wajah mereka seakan menyayangkan dengan kejadian tersebut. Tapi yang sedikit Veron dengar, saat kejadian Zein tengah bersama istrinya.


Tidak mau berlama-lama Veron disana. Dirinya takut tidak bisa meredam emosi yang akan berujung isakan dari bibirnya nanti. Veron berniat untuk pulang dan tidak mengantarkan ke pemakaman seperti yang lainnya.


Di dalam perjalanan pulang, Veron hanya terus terdiam. Dirinya tidak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini. Terlebih tadi melihat Ellen yang menangisi jenazah ayahnya. Membuat Veron tak kuasa menahan airmatanya.


Zein meninggal karena dirinya, seakan itu akan menjadi bisikan halus disetiap hari yang akan ia lewati.


"Nona. Istirahatlah! Anda terlihat sangat kacau. Pasti Anda sangat lelah kan!?"


Veron mengangguk, dirinya memang lelah. Meninggalnya Zein membuat tubuhnya semakin lelah.


"Kamu juga, istirahatlah! Matamu bengkak, apa semalam kamu tidak bisa tidur?!" tanya Veron pelan.


"Eh, iya Nona. Semalam saya tidak bisa tidur."


"Baiklah. Aku mau istirahat dulu!" ucap Veron lemah. Entah kemana energinya. Seakan terkuras habis.


***


Di kursi kebesarannya, Dave duduk dengan asap mengepul keluar dari bibirnya. Veron yang tidak jauh dari sana, ragu untuk mendekat ke Dave. Dirinya masih terluka dengan tindakan Dave.


Veron berbalik berniat meninggalkan Dave. Entah kapan lagi mereka akan kembali untuk beekomonikasi. Mungkin tidak akan pernah.


"Iya, sekarang Rossa. Pantau dia disana. Buatlah itu seakan kecelakaan."


Kaki Veron membeku di tempat mendengar suara Dave. Dadanya terus berdegub kencang.


"Tidak. Kamu aman untuk tugas ini. Kamu tidak perlu melakukan seperti yang Joni lakukan."


"Simpan rasa terima kasihmu! Awas jika gagal. Keluargamu yang akan menanggung semua."


Dengan masih syok dada berdegub kencang Veron melangkah cepat ke arah Dave.


"Oh hai," ucap Dave.


"Dave, aku mohon jangan sakiti Rossa!"


"Aku melakukan ini untuk kamu. Mengertilah!"


"Dave, aku mohon. Jangan lakukan itu lagi. Apalagi karena untuk diriku, Dave. Aku nggak bisa Dave. Aku mohon."


"Aku merindukanmu, Veron. Bagaimana kalau kita bersenang-senang."


"Dave!" bentak Veron.

__ADS_1


"Maka diamlah! Semuanya akan kamu miliki! Jangan pedulikan kebahagiaan orang, apalagi nyawa orang yang membuat posisimu terancam."


"Dave, aku mohon!"


"Kamu berisik sekali," gerutu Dave.


Prok prok.


Tepukan Dave berulang memanggil bawahannya.


"Siap, Bos."


"Bawa dia keluar!"


"Dave, aku mohon jangan sakiti Rossa!" tanpa memperdulian teriakan Veron. Anak buah Dave menuntun paksa Veron keluar, sesuai perintah Dave.


"Jangan, Dave! Jangan!"


Ah, hembusan kasar keluar dari bibir Veron. Nafasnya tersengal dengan air keringat yang sudah membuat basah pelipisnya.


Dilihatnya, dirinya yang tengah di ranjang. Melihat sekitar.


'Mimpi." Simpul Veron. Veron yang masih terbayang mimpi buruknya tanpa sadar terus meremas selimut yang tengah ia pakai.


Mimpinya berhasil membuat matanya memerah dan berujung isakan kecil di bibir.


'Tidak mungkin. Dave tidak boleh melakukan itu.'


Veron menggeleng frustrasi. Derungan mobil membuat Veron menajamkan suaranya. Dan segera ia hapus air matanya. Dengan sigap Veron ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, sebelum terlihat oleh Zello.


Tepat selesai Veron mencuci wajahnya, Zello masuk ke kamar. Dengan senyum tipis.


"Habis cuci muka?"


"Iya, habis bangun tidur," jelas Veron. "Bagaimana pemakamannya?"


"Lancar."


Sesaat Zello membuang nafas kasar. "Aku lelah ingin istirahat. Tapi kamu malah sudah bangun. Tidur lagi yuk!"


"Kamu istirahatlah. Ini sudah siang. Sebentar lagi akan makan siang. Oya, apa suamiku ini tidak mau makan dulu?!"


"Makan kamu boleh?!" goda Zello.


Veron terdiam, andai dirinya tidak sedang halangan. Pasti dia akan mengangguk untuk yang pertama kalinya. Tapi sayangnya. 'Ah, apa yang harus kukatakan dengan Zello nanti.'


"Kenapa bengong? Hm?"


Veron menggeleng, melihat wajah antusiasme di suaminya yang begitu terpampang jelas dirinya merasa bersalah.


"Kamu terlihat lelah sekali."


"Nggak aku nggak apa-apa."


"Lalu?"


"Sayang. Mungkin setelah mendengar ini kamu akan kecewa."


"Kenapa?" Zello menatap Veron intens. Membuat Veron menciut sesaat.


"Sepertinya siklus haidku sedang tidak lancar." Mau tidak mau dia harus mengatakannya, meski sedikit takut.


"Hah? Apa itu?"


"Seharusnya sudah selesai hari ini. Tapi karena gangguan hormon sampai sekarang belum selesai. Dan aku nggak tahu pasti kapan selesainya," jelas Veron.


"Bisa begitu?"


"Iya."


"Apa ada yang sakit, sampai kamu mengalaminya?"


"Nggak sakit. Hanya saja jadi bisa lebih lama."


"Zello meremas tangan Veron dan tersenyum tipis. "Mau bagaimana lagi. Belum rezekiku berarti."


"Maaf."


"Kenapa minta maaf. Nanti kita periksa ya. Nggak masalah kan?"


Veron mengangguk lemah.


"Aku mau tidur dulu. Kamu yakin tidak ingin menemaniku tidur?"


"Tidak. Aku ingin mengobrol sama kakek."


"Ok." Zello memanggutkan kepalanya. "Oya, ada Zico juga di bawah."


"Tumben?!"


"Kangen masakan rumah katanya."


"Oh."


Tanpa perlu bertanya, Zello menikmati bibir istrinya. "I love you."

__ADS_1


"Love you too. Istirahatlah!"


"Hm."


***


Veron yang sudah sampai bawah langsung ikut bergabung dengan Hanif. "Kek."


"Iya, Zello apa istirahat?"


"Iya, Kek."


"Tidak terasa sebentar lagi makan siang. Kebetulan kakek sudah lapar," ucap Hanif.


""Mau disiapin sekarang saja, Kek?"


"Boleh. Ayo Zico kita makan bareng!"


"Iya, Tuan."


Mungkin dalam hal berbicara Veron bisa berusaha untuk bersikap santai. Tetapi saat menelan makanannya terasa sangat sulit. Entah mau sampai kapan dirinya dihantui rasa bersalah.


Selesai makan, Veron menuju dapur. Ingin membuat minuman sereal. Suara langkah seseorang membuat Veron menoleh.


"Sudah bangun?"


"Hehe sudah Nona? Nona mau minum apa? Biar aku buatkan."


"Kamu itu berbicara apa. Sudah jelas-jelas aku sudah selesai membuatnya."


"Siapa tahu, Nona mau bikin dua gelas."


"Tidak."


"Oh. Oya, Nona. Dave kenapa belum keluar negeri juga?!"


"Mm, entahlah. Sepertinya sudah dibatalkan."


"Oh."


"Kenapa, apa kamu mulai tertarik dengan Dave?" goda Veron.


"Ah nggak." Ralat Dahlia cepat.


"Iya, percaya. Kan kamu sukanya Zico," ujar Veron sembari berlalu dari sana.


Mendengar nama Zico membuat dirinya teringat dengan kejadian semalam. Ah nggak lagi-lagi goda Zico. Goda Zico seperti goda singa. Nyawa taruhannya.


Dahlia dengan sigap membuat teh untuk dirinya sendiri.


Selesainya teh yang ia buat segera Dahlia ingin menuju kamarnya lagi. Kapan lagi bisa sesantai ini.


Dahlia yang kamarnya melewati ruang keluarga tidak sengaja berpapasan dengan Zico.


Dahlia yang biasanya cerewet mendadak diam. Membuat Zico menoleh sesaat. Dan menyadari Dahlia marah kepadanya.


Di lain sisi, Hanif yang selesai makan masuk ke dalam kamarnya.


"Tok tok."


Hanif menoleh ke pintu yang sudah ada Beni di sana. "Tuan, ada tamu yang mengirim map untuk Tuan."


"Suruh masuk kamar!"


"Baik Tuan."


Tidak lama Hanif perlu menunggu. Setelah pria itu masuk. Hanif langsung memberi kode untuk menutup pintunya.


Dengan sigap tamu Hanif langsung mengeluarkan hasil penyelidikannya dari map.


Masa lalu Veron, pekerjaan Veron. Hanif mengangguk. Meski awal sedikit terkejut dengan yang ia baca bahwa cucu mantunya pernah kerja di club. Tidak ada yang menunjukkan hasil pengamatan tentang Veron dan Zein disana. Hanif memang penasaran dengan yang pernah ia dengar waktu acara perusahaan.


"Apa ini akurat?"


"Tentu saja, Tuan. Saya bisa pastikan."


Hanif mengangguk dan menatap intens ajudannya. "Selidiki tentang Zein. Termasuk hobinya. Dan mungkin juga masa lalunya."


"Baik, Tuan."


***


Pembunuhan Zein penuh teka-teki bagi Zico. Pembunuhan itu seperti yang disengaja karena balas dendam bukan karena perampokan. Terlebih ada jenazah lain di tempat kejadian. Dan anehnya Julia baik-baik saja tidak ada kekurangan satu pun.


Interogasi polisi tentang penyelidikan membuat polisi berat sebelah. Seakan menyudutkan kematian Zein adalah rekayasa Julia. Dengan faktor adanya cekcok rumah tangga mereka. Tapi melihat ekspresi Julia, Zico yakin Julia sangat terpukul. Dan tidak mungkin Juli pelakunya. Apa itu dari musuh perusahaan? Apa ada yang berani melawan kuasa dari keluarga Julia. Atau sesuatu yang akhir-akhir ini berkaitan dengan Zein?


'Kenapa aku harus capek-capek memikirkan kematian Zein?!' Zico mengacak rambutnya frustasi.


Zico meminum kopinya dengan nikmat. Membuat dirinya sedikit rilekz. Akan rileks lagi bila mendengar suara Dahlia. Ah Zico. Kamu gila. Zico meraih ponselnya, memutar lagu dari ponselnya.


Baru satu putaran lagu, dirinya sudah diganggu dengan panggilan telepon.


"Kenapa?"


"Apa? Rossa?"

__ADS_1


__ADS_2