Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kamu, Suamiku


__ADS_3

*


"Kakek ...." Veron berhambur memeluk Hanif yang kebetulan sedang di ruang santai. Dia dan Zello baru saja sampai di kediaman Hanif. Raut bahagia tergambar di wajah Veron, membuat Hanif tertawa geli.


"Katakan ada apa?" tanya Hanif. Veron yang masih di pelukan Hanif menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Kek. Lilie hanya lagi senang."


Pandangan Hanif beralih ke Zello yang berdiri tidak jauh dari mereka. Bibir Zello sendiri mengulum tipis yang membuat Hanif merasa heran juga.


"Ada apa Zello?" tanya Hanif.


"Nggak tahu, Kek. Dia memang suka aneh." Zello berucap sembari melangkah mendekat.


"Dasar." Cebik Veron.


"Coba katakan! Apa ini karena pulangnya Zello?"


"Mm... ada deh," sahut Veron.


Hanif menggelengkan kepala mendengar sahutan dari Veron.


"Bagaimana kabarnya, Kek?" tanya Zello. Tangannya sembari menarik pelan tubuh Veron yang masih menempel di tubuh Hanif.


"Nanti Kakek bisa sesak," imbuh Zello.


"Kakek saja tidak mengeluh." Gerutu Veron.


"Sudah, Lilie temani Zello istirahat sana. Zello pasti capek," ujar Hanif.


"Biarkan saja, Kek. Biasanya juga tidak."


"Terima kasih, Kek. Atas pengertiannya." Zello langsung menuntun paksa Veron menuju tangga.


Hanif tersenyum menyaksikan mereka, sudah yakin mereka mulai dekat.


Sesampai mereka di kamar Zello langsung menutup pintu dan langsung memeluk Veron erat.


Di ruang persegi itu mereka saling berpelukan, Veron tak kalah eratnya memeluk Zello. Mereka yang tanpa jarak pun menyatukan bibirnya kembali, menikmati manisnya ungkapan cinta mereka.


Zello menghapus sudut bibir Veron yang basah karena ulahnya.


"Tadi wajah kakek lucu sekali," ucap Veron.


Zello terkekeh kecil. "Biarkan saja."


"Iya aku tahu."


Zello dan Veron sudah sepakat untuk tidak memberitahu ke Hanif kalau mulai sekarang mereka tinggal di sana. Mereka sengaja ingin Hanif menyadari dengan sendirinya, menurut Veron dan Zello itu akan terkesan lebih manis dan kejutan yang sesungguhnya.


"Aku mau mandi," ucap Zello.


"Terus?" Wajah Veron memerah sudah.


"Apa kamu benar-benar tidak tahu maksudku? Hm?"


"Iya, tapi kan percuma." Veron mencubit hidung Zello gemas. "Sana mandi!"


"Awas aja nanti," Zello mengacak rambut Veron dan berlalu ke kamar mandi.


Veron tersenyum kaku melihat punggung Zello. Merasa bersalah karena belum bisa memenuhi kewajibannya.

__ADS_1


Di tengah perasan yang gundah gulana Veron menuju ranjangnya. Duduk bersandar di sandaran ranjang dengan tangan terlipat di pangkuannya. Veron benar-benar pusing. Seharusnya dia senang, karena Zello benar-benar mencintainya.


'Apa yang aku lakukan. Zello membalas cintaku, seharusnya aku senang. Tapi aku malah menyia-nyiakannya. Aku harus segera mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Zello. Aku tidak mau dihantui rasa bersalah terus.'


Sebuah notice pesan membuyarkan Veron yang tengah terbengong. Dibacanya pesan itu. Dari Rossa.


[Kebahagiaanmu tidaklah lama, kamu pun sadar akan hal itu. Miris]


Veron menelan salivanya setelah membaca pesan itu. Bahkan dirinya sedikit bergetar.


'Benar kata Rossa. Andai aku jujur dengan Zello. Belum tentu dia mau menerima masa laluku.' Batin Veron.


Veron menaruhnya ponselnya asal, tidak berniat membalas pesan Rossa sama sekali.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan pandangannya Veron. Zello yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Veron. Dengan hanya menggunakan handuk yang berlilitkan sepinggang dan dengan rambutnya yang masih basah.


Jarak yang semakin mengikis mereka, membuat Veron segera memalingkan wajahnya. Terdengar kekehan kecil dari Zello karena melihat wajah merah Veron. Dan segera Zello duduk di samping Veron.


"Zello. Nanti ranjangnya basah," keluh Veron.


"Kamu berbicara dengan siapa?"


"Dengan orang." Sahut Veron datar.


"Siapa?"


"Dengan Suamiku," sahut Veron lembut dan melihat Zello sekilas dengan senyum tipis.


Mendengar ucapan Veron dengan cepat Zello memeluknya. Sedangkan Veron langsung menggeliat kegelian karena rambut basah Zello yang mengenai kulit lehernya.


"Suamiku, rambutmu basah. Bajuku kebawa basah juga."


Bukannya melepas Zello malah semakin mengeratkan pelukannya.


Perasaan hangat yang menjalar di hati Veron. Nyatanya tidak hanya Veron, tapi Zello sendiri juga merasakan hal yang sama. Rasanya sangat nyaman memeluk istrinya.


Bunyi notif pesan di ponsel Veron yang tidak jauh dari mereka berhasil membuat mereka saling melepaskan satu sama lain. Bagaimana tidak, pesan itu jelas terbaca oleh mereka berdua. Satu pesan susulan dari Rossa.


[Dasar pelacur]


Isi pesan itu berhasil membuat Zello geram. Dengan segera Zello membuka ponsel Veron.


"Zello," ucap Veron yang langsung mengambil alih ponselnya. "Sudah biarkan saja. Wajar Rossa marah. Tidak perlu dibalas," imbuh Veron.


Veron dengan cepat menghapus pesan, bukan dari Rossa. Tapi dari Dave beberapa saat yang lalu. Baru kemudian Veron beralih ke pesan Rossa. Membaca pesan dari Rossa dirinya hanya bisa menghela nafas kasar.


"Blokir saja!" ucap Zello.


Veron sedikit ragu untuk memblokir kontak Rossa. Karena itu pasti akan membuat Rossa semakin geram terhadap dirinya. Dan akan membuat dirinya terpojok. Tapi Veron tidak ada pilihan lain, guna Zello tidak curiga terhadap dirinya Veron akhirnya memblokir kontak Rossa.


"Tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak bersalah, Istriku." Zello menggoda balik Veron.


"Iya," sahut Veron dengan wajah memerah. Dirinya beranjak turun dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya Zello.


"Rambutmu basah, aku akan membantu mengeringkannya." Veron segera membawa alat pengering di tangannya ke tempat duduk Zello yang masih anteng di ranjang.


Dengan lembut tangan Veron menahan kepala Zello sementara tangan satunya mengarahkan alat pengering.


Bibir Zello tidak berhenti mengulas senyum dapat perhatian dari istrinya.

__ADS_1


"Lilie, sayang. Emm, aku sekarang harus memanggilmu apa?" tanya Zello. Mimiknya penuh godaan.


"Mm, bagusnya apa?"


"Istriku Sayang."


"Baiklah, Suamiku Sayang."


Veron dan Zello tertawa kecil bersamaan dengan obrolan kecil mereka.


"Aku pengin tanya lagi, boleh?" tanya Zello.


"Tanya apa? Kenapa pakai izin dulu."


"Sejak kapan kamu tertarik padaku, mencintaiku?"


Pertanyaan Zello membuat Veron menghentikan aktivitasnya. Mencoba mengingat kapan dirinya menyukai Zello.


"Mm, kapan ya. Aku juga lupa. Tapi, setiap saat kamu memperlakukanku dengan lembut aku merasa senang dan ....." Veron menghentikan kalimatnya. Wajahnya memerah karena malu, padahal dirinya belum mengatakannya.


"Apa, lanjutkan?"


"Dan selalu menginginkan lagi dan lagi." Veron berkata dengan perlahan.


"Ketagihan maksudnya?"


Eh, "Ya begitulah."


"Tapi kamu selalu menyangkalnya."


"Iya, karena aku takut untuk berharap memiliki sesuatu yang bukan milikku."


Zello tersenyum, menatap dalam wanita yang ada di depannya.


"Zello, sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya balik Veron.


"Sejak kamu jadi istriku, saat itulah aku mencintaimu."


"Bohong, mana bisa secepat itu."


"Kamu yang mengira itu masih pernikahan di atas kontrak tentu saja itu seperti mustahil. Tapi bagiku, pernikahan itu resmi dari awal, bagaimana aku bisa tidak mencintaimu. Kamu hadir saat aku menemukan fakta pahit tentang Rossa. Kamu seperti obat bagiku."


Zello menarik pinggang Veron hingga berhasil duduk di pangkuannya. Veron merasakan degup jantungnya bertalu-talu. Tatapan dalam Zello seakan menyeret dirinya masuk ke dalam matanya yang penuh kehangatan dan langsung membuatnya hanyut di saat itu juga.


Veron benar-benar terenyuh dengan situasinya. Dan terbawa suasana yang ada. Terlebih dengan kata-kata Zello yang ternyata memiliki persamaan dengan dirinya. Mensakralkan pernikahan.


"Zello."


"Hm."


"Aku, mensyakralkan pernikahan. Dari awal sebenarnya, aku juga sudah menerimamu untuk jadi suamiku."


"Apa?" Zello berucap tercengang. Sedari awal percakapan ucapan Veron berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Tapi Zello tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang wah dari pengakuan istrinya, yang kini membuat Zello semakin kagum.


"Aku tidak pernah merasakan keluarga Zello. Kamu tidak tahu bahagianya aku saat sah menjadi bagian dari keluargamu. Aku menginginkan semua yang kamu miliki, keluargamu, kasih sayang keluargamu. Dan juga memiliki kamu seutuhnya." Tanpa terasa mata Veron sudah membasah.


Zello mengambil pengering rambut yang masih dipegang Veron sedari tadi dan menaruhnya di atas nakas.


Tangan Zello yang sudah kosong menangkup kedua pipi istrinya. "Kamu sudah memilikinya sekarang. Semuanya. Aku, keluargaku. Sekarang sudah jadi milikmu."


Air mata Veron berjatuhan membanjiri pipinya yang putih. Zello dengan segera menghapus air mata istrinya. Memberikan kecupan lembut di pipi kiri kanannya sebagai pelipur lara dan menenggelamkan wajah Veron di dadanya.

__ADS_1


"Berjanjilah Zello. Kalau kita akan selalu bersama. Jangan biarkan aku sendirian lagi."


"Tidak ada yang bisa membuatmu sendirian. Aku janji."


__ADS_2