
Persendian tulang Veron seakan luruh. Detak jantung yang kencang menandakan betapa tegangnya Veron.
Guncangan di lengannya ia indahkan. Dengan dada bertalu dan pikiran berkecamuk Veron mencoba melangkah ke pintu.
"Veron." Desi menggeleng lemah. Menahan Veron untuk melihat luar kamarnya. Desy benar-benar takut.
"Sebentar," ucap Veron. Dirinya menelan salivanya dengan berat. Mengangguk kecil berusaha meyakinkan Desy, membuka cekalan Desy dan memilih melihat siapa yang ada di depan pintu.
Dengan mengumpulkan keberanian Veron melebarkan pintunya yang sudah terbuka. Satu tapakan kakinya sudah diambang pintu, melihat luar kamar kiri kanan.
Bi Ida yang sedang di depan pintu kamar tamu memungut pecahan beling menoleh ke Veron dengan wajah sedikit bimbang. "Non."
"Bi, ada apa?"
"Bibi nggak sengaja mecahin vas bunga ini, Non. Tadi di ruang tamu sudah mecahin gelas, sekarang vas bunga. Bibi takut kena sanksi, Non."
"Oh. Tidak apa, Bi. Kakek pasti tidak akan marah." Veron mendekati Bibi Ida yang tengah berjongkok. Membantu memungut pecahan itu dengan hati-hati.
"Tidak perlu, Non. Biar bibi saja," Tolak Bi Ida.
"Tidak masalah, Bi."
Veron menatap wajah wanita paruh baya di depannya. "Bi, apa tadi ada orang lain yang berdiri atau jalan di depan kamar Lilie?" tanya Veron pelan.
Bi Ida menatap wajah Veron balik. "Nggak ada, Non. Memangnya kenapa?"
"Beneran kah, Bi? Apa Bibi? Pintu kamarku terbuka," ucap Veron dengan wajah sesantai mungkin.
"Tidak ada orang lain, Non. Itu Bibi. Tadi bibi lihat Non Lilie keluar rumah. Karena Bibi nggak lihat masuknya Nona, bibi pikir Non belum kembali. Terlebih tidak terdengar suara sama sekali di kamar. Niatnya, bibi mau beresin kamar Nona selagi nggak ada Nona dan Tuan," jelas Bi Ida.
"Terus?"
"Ternyata ada teman Nona. Mm, Nona sepertinya sedang bicara serius. Jadi bibi tidak jadi masuk dan sungkan untuk minta izin. Takut ganggu."
"Oh." Veron menundukkan pandangannya. Ada rasa lega di dada Veron. Meski detak jantungnya masih sama seperti sebelumnya.
"Terima kasih, Non. Sudah bantuin bibi."
"Sama-sama, Bi."
Selesai membantu Bi Ida, Veron masuk lagi ke kamarnya.
Desy yang masih sangat ketakutan masih berdiri di tempatnya. Jari-jemarinya memilin satu sama lain.
"Veron."
"Sst."
"Bagaimana Veron. Sepertinya aku sudah membuatmu dalam bahaya." Desy berucap dengan wajah cemas. Matanya memerah menahan tangis.
"Ayo duduk dulu!" ucap Veron.
Desy duduk dengan perlahan di bibir ranjang seperti Veron. Bibirnya kelu, tidak tahu harus berbicara apa. Yang ada hanya takut.
"Tukang bersih-bersih tadi yang di depan pintu kamar," jelas Veron.
__ADS_1
"Benarkah? Perasaanku tidak enak, Veron."
"Iya. Aku sudah memastikan tadi."
"Lalu, apa dia mendengar obrolan kita?"
"Aku rasa tidak. Bi Ida wanita paruh baya yang sudah lama tinggal di sini. Sangat mengerti batasan. Saat tahu aku ada tamu dia tidak berani mengganggu."
"Bisa saja dia bohong, Veron."
"Aku jamin. Tenanglah!"
Desy mengangguk, menatap intens Veron.
"Kenapa? Apa yang kamu ketahui lagi?"
Desy menggeleng, membungkam bibirnya rapat-rapat.
"Desy, apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan tentang Dave. Kemarin Dave masih membantuku."
Desy berdecak kecil. Tangannya yang masih sedikit bergetar meraih tangan Veron.
"Kenapa?"
"Aku ingin bicara banyak. Tapi aku masih syok." Desy melepaskan genggamannya. Merogoh sakunya untuk mengambil ponsel yang ia bawa.
"Apa kamu ada headset?"
Veron mengangguk, mengambil headset dan langsung menghubungkan ke ponsel Desy.
Veron melepaskan headset dari telinganya. Rekaman suara berat khas orang mabuk sangat jelas terdengar dan dengan mudah Veron mengenali suara itu.
"Hanya itu yang sempat aku rekam."
Desy mengambil ponsel dan menyimpannya kembali.
"Banyak ocehan yang aku dengar dari mulutnya semalam. Semalam ada wanita yang ingin menjadi orang baru disana. Aku berniat untuk mengenalkan ke Dave. Disitu aku mendengar racauan Dave."
Veron terdiam, mencerna ucapan Desy dan menyiapkan hati untuk apa yang akan ia dengar lagi. Ucapan Desy membuatnya menahan nafas. Tegang, cemas, penasaran dan was-was.
"Dave terus meracau tentang dirinya telah menyesal telah melepasmu. Kamu tahu, Veron. Setelah kamu pergi, Dave tidak pernah berkunjung ke kamar siapapun."
Veron terkejut dengan yang di dengarnya. Dave penggila wanita yang tidak pernah absen menjelajah tubuh wanita, bisa berhenti.
"Bukankah itu malah bagus."
"Memang. Tapi faktanya, dia selalu berkunjung ke kamar wanita hanya untuk menepis perasaannya ke kamu. Mengalihkan perasaan ke kamu. Dengan begitu, Dave yakin kalau perasaan yang ada di dirinya ke kamu hanya sebatas di atas ranjang. Tidak lebih. Dave mencoba membohongi dirinya sendiri dengan selalu berkunjung ke kamar satu ke kamar yang lain."
"Tidak jarang Dave menyebut namamu saat bersama wanita lain. Dave dulu pernah dikhianati oleh perempuan, Veron. Disitu dia tidak percaya dengan cinta dan perempuan. Dan selalu berusaha menepis perasaannya yang ada. Untuk kamu."
"Setelah mendengar ucapan Dave aku tidak bisa tidur, Veron. Dan aku memutuskan untuk memberitahukan ini. Maafkan aku Veron. Tapi aku hanya berniat baik. Supaya kamu bisa waspada. Kalau perlu. Kamu akui saja, Veron! - aku takut dari keluarga suamimu sudah ada yang bertindak. Ini tidak akan bagus untukmu."
Mata Veron memerah. Satu-satunya orang yang selalu ia andalkan ternyata mempunyai maksud lain.
Bagaimana bisa, hatinya sudah terlanjur jatuh ke pelukan keluarga Hanif. Kekuarga yang sedari dulu ia impikan. Sekarang sudah ia dapatkan. Dan dengan egoisnya Dave berusaha untuk menarik dirinya kembali dan keluar dari keluarga Hanif. Tidak. 'Aku tidak bisa'
__ADS_1
"Veron akuilah! Buatlah pengakuan ke suamimu!"
Veron menggeleng lemah. Matanya yang memerah berubah jadi tetesan bening.
"Kenapa?"
"Aku tidak punya keberanian, Desy."
"Tapi aku rasa Dave tidak akan pernah putus asa, Veron. Cepat atau lambat keluarga suamimu akan.... "
Tetesan bening dari mata Veron semakin menjadi, mengiringi dirinya yang masih menggeleng lemah atas ketidakmampuannya.
"Aku tidak berani, Desy. Aku bukan mantan narapidana, bukan mantan pemakai narkoba. Aku wanita pemuas laki-laki Des. Apa mereka akan menerima semua itu. Tidak Des."
"Veron, tidak ada cara lain. Paling tidak mereka akan memaklumi kejujuranmu. Bilang kalau itu masa lalu kamu."
"Apa dia akan percaya, Des. Aku mengakhiri menjelang pernikahan. Andai pernikahan itu tidak terjadi, belum tentu aku keluar dari sana."
"Tapi Veron, cepat atau lambat ...."
"Kalau aku mengatakan sekarang. Kemungkinan aku akan kehilangan semuanya sekarang. Detik ini juga. Aku hanya ingin mengulur waktuku saja Des. Tidak mengapa bila aku hanya menikmatinya sebulan atau dua bulan lagi. Tapi yang jelas jangan sekarang. Aku tidak sanggup Des."
"Veron." Dengan cepat Desy meraih tubuh ke pelukannya. Mata Desy kian memerah mendengar pengakuan Veron.
Sekian menit Veron meluapkan tangisnya di dada Desy. Seakan tersentak karena waktu, Veron segera menghapus air matanya.
"Yasudah, bila memang itu sudah jadi keputusanmu." Desy menatap sendu Veron. Merasa iba tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Oya, Veron. Aku mau pulang kampung ya."
"Pulang kampung? Memangnya kamu punya keluarga... "
Desy menggeleng, namun begitu, senyum kecil mewarnai bibirnya. "Biarkan, tidak masalah. Itu malah bagus, kalau aku ketahuan Dave paling tidak, tidak ada yang tersangkut paut atau kebawa imbas karena aku."
"Memangnya Dave tahu?" ucap cemas Veron.
"Entahlah, Veron. Aku juga tidak tahu. Tapi aku takut. Kamu tahu kan siapa Dave? Di ruangan Dave ada cctvnya. Cctv itu akan dilihatnya kapan saja meski hanya sekadar memantau. Jadi sebelum Dave melihatnya aku ingin pulang kampung."
"Tinggalah disini!"
Desy menggeleng cepat, dan sedangkan Veron tidak bisa memaksa. Andai ucapan Desy benar adanya. Bahkan dirinya nanti pun tidak akan punya tempat tinggal. Dirinya hanya menunggu waktu.
"Yasudah. Kamu mau naik apa? Aku antar sampai tempat pemberangkatan ya. Anggap saja ini ucapan terima kasihku. Aku tidak bisa berbuat selain ini."
"Iya." Desy mengangguk cepat.
"Mau berangkat kapan?"
"Lebih cepat lebih fokus."
"Mau sekarang?"
"Iya."
Sebelum mereka keluar kamar, Veron membersihkan wajah mereka. Baru sama-sama menuruni tangga.
__ADS_1
Menuruni tangga setapak demi setapak. Suara obrolan dengan suara yang sangat Veron kenal, membuat langkahnya terhenti. Sejak kapan mereka pulang?