Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Istri Sewaan


__ADS_3

"Ayo kuantar ke kamar," ucap Zello.


"Biar Dahlia saja yang mengantarku. Kamu temani saja dulu teman kolegamu."


"Aku mengantarmu karena ingin istirahat sejenak juga," ujar Zello.


"Oh... "


"Dahlia jangan lupa tasku."


"Iya, Nona."


***


"Nona, selamat istirahat ya. Saya kembali ke pesta dulu. Nanti kalau ada perlu silahkan telepon!"


"Loh, masuk dulu! Bantu aku melepas gaun ini!"


"Soal itu, silahkan minta tolong sama Tuan Zello!"


"Dahlia!"


Selamat bersenang-senang, eh istirahat Nona."


Veron mengutuk kesal Dahlia yang kabur begitu saja.


"Sini, aku bantu." Alis Zello menukik menggoda Veron.


"Nggak perlu, aku masih ingin hidup."


"Maksudnya?"


"Kalau kekasihmu tahu, aku memperlihatkan bahuku. Pasti hidupku akan habis di tangannya besok.


Zello terdiam, mendengarkan celoteh Veron.


"Tapi ... aku minta tolong ini aja deh. Bantu nglepasin jepit dan tatanan rambutku. Aku nggak bisa tiduran kalau rambutku kaya gini."


"Sini!"


Dengan mata sedikit ngantuk, Veron mendekat ke ranjang tempat Zello istirahat. Duduk di bibir ranjang dan memunggungi Zello.


Zello yang sudah di belakang Veron mengulurkan tangannya merasakan tatanan rambut Veron yang terlihat masih baik. Tatanan rambut sanggul modern, dengan aksesoris mawar putih.


"Pelan-pelan!"


Terasa tangan Zello yang mulai membuka jepit rambut, dan yang terakhir membuka sanggul itu, mengambil jepit-jepit kecil hitam secara satu persatu.


Saat semua jepit rambut sudah terlepas, dengan mudah Zello merapikan rambut Veron. Rambut bergelombang yang panjangnya sebahu.


Dahi Zello berkerut dalam, saat melihat rambut Veron yang terurai. "Kenapa rambutmu jadi begini?"


"Hahaha. Ingin ganti saja. Bosen panjang terus."


"Dari kapan?" terulur tangan Zello memainkan rambut Veron.


"Dua hari sebelum pernikahan. Bagaimana bagus kan?"


"Coba lihat sini!"


Veron dengan semangat membalikkan tubuhnya, dan duduk berhadapan dengan Zello. Tidak lupa Veron merapikan rambut bagian depan.


"Astaga," pekik Zello.


"Kenapa sih? Biasa aja kali."


"Kamu, terlihat tujuh tahun lebih muda dari biasanya." Zello menatap syok, poni yang bertengger di kening Veron.


"Hahahaha. Aku harus senang atau bagaimana mendengar ucapanmu. Seharusnya aku senang kan, tapi lihat ekspresimu-"

__ADS_1


"Lilie, kacau sekali. Wajah kamu seperti gadis sekolahan."


"Bagus dong, menggemaskan."


Zello menatap intens, wajah dan rambut baru Veron. " Mm ... gini aja ya." Zello dengan lembut menyatukan poninya sampai ke atas kepala dan menjempitnya dengan jepitan kecil. "Ini lebih bagus," ucap Zello kemudian, senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Masa, ambilan cermin!"


"Nggak ada. Sana bercermin sendiri!"


Dengan pelan Veron turun dari ranjang dan menuju cermin yang ada di kamar itu. Melihat pantulan dirinya disana. "Aku memang selalu cantik."


"Zello aku ngantuk." Dengan mata mengantuk Veron mendekati ranjang itu kembali.


"Kamu mau tidur pakai baju itu?"


"Iya, nggak apa-apa." Dengan cepat tubuh Veron sudah terbaring di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. Sesaat kemudian, tubuh Veron merasa melayang dan tubuhnya terbaring lebih nyaman.


"Aku kembali ke pesta."


"Hm."


***


"Bangun, bangun!"


Mimpi yang nyata buat Veron, guncangan ditubunnya terasa semakin kencang.


"Veron, bangun!"


Dengan kuat Rossa menarik tangan Veron dan sekian menit tubuh Veron sudha jatuh ke lantai.


"Aw sakit." Dielusnya bagian tubuhnya yang nyeri. "Aku-"


"Kamu kebanyakan polah tidurnya, mangkanya jatuh. Buruan bangun, aku ingin istirahat di sini." Rossa mendengus kesal dengan Veron yang terlalu susah dibangunin.


"Mh, baju pengantinku." Syok melihat gaunnya sobek bagian samping.


"Kamu kenapa bisa di sini?" Raut kesal terpampang di wajah Veron. Selain tidurnya sudah terganggu, gaunnya juga rusak.


"Bisa dong. Kan aku diberi card sama Zello."


"Terus, kenapa gaunku bisa sobek?"


"Kan tadi kamu terjatuh, pasti karena itu."


"Aku nggak pernah tidur dengan banyak polah, bagaimana bisa jatuh."


"Kamu terlalu capek, jadi pasti banyak polah. Sudah bangun! Aku bantu lepasin baju kamu."


Dengan kesal Veron bangun dari posisi jatuhnya dan langsung membelakangi tubhh Rossa yang sudah siap membantu melepas gaunnya.


"Gaun yang bagus. Siapa yang memilihnya?"


"Kakek Hanif." Tapi bohong. Semua yang milihin Zello, kan Kakek Hanif nggak ikut waktu itu.


"Oh ... sudah."


Tanpa kata, Veron menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Dan secepat mungkin pindah kamar.


***


(Pagi Hari)


"No - Nona, Anda keluar dari sini? Terus kenapa tadi malah Nona Rossa yang keluar dari kamar Nona?" Dahlia masih syok, dengan yang dilihatnya barusan. Beberapa menit lalu, ia melihat Rossa keluar dari kamar pengantin. Dahlia mengira, Rossa sekedar masuk dan masih ada Veron di dalamnya, tapi saat melihat Veron keluar dari kamar berbeda, yang artinya Zello sekamar dengan Rossa bukan sama istrinya, baru mata Dahlia membulat karena syok. Bahkan jantungnya berdebar sangat kencang.


Eh. Baru tersadar, kalau dirinya keluar dari kamar sebelah kamar Zello. Veron merutuki kecerobohannya yang tidak lihat situasi luar kamarnya dulu.


"Mm ... kamu kenal Rossa?"

__ADS_1


"Iya, Non. Dia kan sahabatnya Tuan Zello." Wajah prihatin tergambar dari raut Dahlia.


Sahabat?


"Oh." Veron baru paham, ternyata mereka berdua di mata orang-orang adalah sahabat.


"Nona, sebenarnya apa yang terjadi?" Dahlia menelan salivanya. Terlalu lancang ia bertanya demikian, tapi dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa keingin tahuannya.


"Ayo, masuk!" Dengan terpaksa Veron menggiring Dahlia masuk ke kamar yang sebelumnya ia tiduri.


"Duduklah!" ucap Veron lagi.


Veron berusaha tersenyum tipis dengn Dahlia, meski sebenarnya ia juga syok dengan kemunculan Dahlia tadi.


Veron duduk di sebelah Dahlia persis, sama-sama duduk di bibir ranjang.


"Dahlia, sudah berapa lama kamu kerja dengan Tuan Hanif?"


"Sudah sangat lama Nona. Tapi yang jelas, semua orang juga tahu. Kalau Nona Rossa dan Tuan Zello itu bersahabat. Mungkin-sedari kecil Nona."


"Saya pernah lihat foto Tuan Zello dan Nona Rossa saat masih kecil di kamar Tuan Zello." Sambung Dahlia.


"Dahlia, bukan itu yang mau aku tanyakan."


"Hah? Lalu?"


"Seberapa besar rasa abdimu kepada Tuan Besar Hanif?"


"Tuan Hanif sangat Baik Nona. Beliau sangat baik dengan keluarga saya."


"Jadi, kamu sayang kan sama Tuan Hanif?"


Dahlia menatap Veron, tanpa berniat menjawab pertanyaannya lagi. Seakan sudah bisa membaca apa yang akan dikatakan Veron kepada dirinya.


"Jangan katakan ke Tuan Hanif dengan apa yang sudah kamu lihat!"


Pandangan Dahlia yang awalnya lurus ke Veron berubah menurun sesaat. Dan dengan sedikit keberanian dia menatap Veron lagi.


"Kalau sampai Kakek tahu, takutnya Kakek malah akan sakit." Veron menatap Dahlia dengan intens, berusaha meyakinkan, itu adalah cara yang paling tidak bisa di elakkan.


"Apa Nona nggak marah dengan kelakuan Tuan Zello?"


"Dahlia, ikatan kami hanya sebatas di atas kertas. Nggak lebih. Rossalah pemilik Zello yang asli."


"Buat apa?"


"Buat keuntungan diriku. Demi uang."


"Saya benar-benar nggak nyangka Nona-"


"Itulah diriku yang asli. Tapi apapun alasannya, jangan beri tahu Tuan Hanif."


"Aku pikir kalian berdua benar-benar suami istri pada umumnya. Bukankah kalian sangat romantis."


"Romantis? Sejak kapan?"


"Kenapa wanita-wanita cantik selalu buruk kelakuannya. Memang anda butuh duit berapa sampai mau jadi istri sewaan?" celetuk Dahlia.


"Itu bukan urusanmu."


Raut kesal, kecewa dan kening yang berkerut menjadi satu di wajah Dahlia.


"Kenapa?" tanya Veron.


"Kenapa apanya?"


"Wajahmu jelek sekali."


"Mm ... bukan apa-apa. Saya permisi, saya hanya ingin tanya Anda sama Tuan Zello mau dipesankan sarapan apa?"

__ADS_1


"Apa saja yang bisa dimakan oleh Zello, dan untukku yang penting bukan seafood."


"Baiklah Nona. Permisi."


__ADS_2