
****
Veron menyeret kopernya dengan lemah. Berjalan tak tahu arah, dengan bekal masker dan kacamata di wajahnya. Sesekali kacamata ia pasangkan di kepala sebagai bando. Bukan untuk menjaga penampilannya, tapi untuk memudahkan Veron menghapus air matanya yang kadang meleleh tanpa di minta.
Lengannya yang kurus terus menarik koper kecilnya, mata menyapu sekitar berharap dapat ojeg atau taxy kosong.
Kakinya yang jenjang mulai melemah, berulang kali Veron menghentikan langkahnya. Terdiam lama di tempat. Bingung. Veron seperti orang bingung. Kelimpungan di jalan. Tidak tahu harus kemana.
Dengan lesu Veron melangkah, menuju di mana penjual makanan di pinggir jalan. Perutnya melilit, perih.
"Pak, soto satu!"
"Siap, Neng. Pakai nasi?"
"Iya." Veron tersenyum hambar.
Sudah lama Veron melalaikan asupannya. Makan hanya sebatas pengganjal. Seperti sudah lama tidak menemukan makanan, Veron menghirup aroma wangi khas soto saat pelayan membuka tutup panci dan menyendok kuah soto ke dalam mangkok.
Aroma yang menyeruak hidungnya membuat nafsu makan Veron seakan bergejolak. Panas kuah dengan asap mengepul membuat Veron menatapnya tak berkedip beberapa saat.
Bayangan Zello dengan masakan kuah dengan asap mengepul berbayang di depannya. Veron menggeleng lemah. Pria tampan ber tubuh maskulin, ditambah pintar di dapur. Benar-benar seperti mimpi, tidak terbayangkan sebelumnya akan mendapatkan suami seperti Zello. Seperti mimpi juga, memori indah itu hanya sesaat. Dan sekaranglah hidup Veron yang sesungguhnya. Sendiri.
"Kak, sambal sama kecapnya," ujar pelayan cantik membuyarkan lamunan Veron.
"Terima kasih."
"Pak... soto satu, nasi dua!" Teriak pria asing di sebelah Veron.
Tubuhnya yang gembul membuat bangku kayu mereka seakan melentur saat dirinya mendudukkan bokongnya.
"Eh maaf-maaf," ucapnya spontan.
Veron menyunggingkan senyum, mulai menyuapkan nasi kuah di mulutnya.
Baru beberapa suap Veron makan tapi perut seakan sudah ingin segera menyudahinya. Kemana nafsu makannya yang bergejolak barusan?
Apa aku sudah kebablasan karena mengabaikan pola makanku? Apa aku akan kena penyakit anoreksia? Veron menggeleng cemas. Dengan perlahan dia mencoba menghabiskan sisa makanannya.
Mata Veron yang tak sadar ke arah sebelahnya, menatap mangkok kosong dari pria yang baru saja memesan.
"Agghk." Sendawa pria menggelegar.
"Eh maaf-maaf."
"Mau berapa kali, Pak minta maafnya?!"
"Hehe." Pria tadi hanya cengenges sembari menggaruk tengkuknya. Veron menggeleng melihat ulahnya. Veron tersenyum geli melihat tingkah pria asing itu.
"Pak, saya berapa?" ucap Veron.
"Dua puluh ribu, Neng."
Veron menyodorkan selembar uang biru.
"Pak, total!" ucap pria asing. Tangannya sembari dengan gesit memakai jaket ijo ciri khas pekerjaannya.
"Bapak tukang ojeg?" tanya Veron antusias.
"Tukang pilot, hehe."
Veron tersenyum masam mendengar jawaban pria itu.
"Tukang utang," sela penjual.
"Hahaha, jangan dibocorin, Pak!"
"Lima puluh lima sama kemarin."
"Eh iya iya. Ini ...kurangnya besok. Eh nanti sore maksudnya."
"Ini sudah mau sore."
"Oh iya, Neng. Ini kembaliannya."
"Buat genepin utang Tukang Pilot saja, Pak!"
__ADS_1
"Eh, jangan Mbak!"
"Nggak papa. Tapi Pak Pilot bisa kan antarin saya nyari kost-kostan."
"Eh, bisa-bisa. Tapi jangan panggil saya pak pilot. Tadi kan saya cuma bercanda. Panggil Rudi saja."
"Ah iya, Pak Rudi."
"Baik, mari saya bantu cari. Di dekat sini ya?!"
"Mm, kalau bisa yang jauh dari sini. Tenang, nanti saya bayar lagi."
"Ah, siap. Laksanakan."
****
Kost-kostan yang lumayan untuk ditempati Veron yang sekarang seorang diri. Satu juta perbulan.
Tidak mau berlama-lama Veron langsung membereskan pakaiannya. Menaruh di almari yang sudah disiapkan.
Haaah, hanya merapikan baju sekoper sudah membuat Veron kelelahan.
Veron berbaring di ranjang size 3 di tempat itu. Menatap langit-langit kamar. Kepingan-kepingan perjalanan hidupnya terus berputar di ingatannya.
Veron menyadari cepat atau lambat dirinya pasti akah keluar dari kediaman Hanif. Karena orang luar sana tidak akan tinggal diam. Dan rasanya sakit sekali.
'Kakek, maaf aku yang memilih pergi. Zello tidak kekurangan wanita. Dia pasti bisa perempuan yang jauh lebih baik dari Lilie'
***
Tidak terasa sudah sore, waktu yang berharga hanya dihabiskan Veron untuk meratapi hidup.
'Siapa yang mengirim foto itu, Dave atau Rossa. Andai Dave, berarti ucapan Desy benar adanya. Dan sampai kapan pun Dave tidak akan melepaskanku. Lalu apa gunanya aku hidup kalau akhirnya aku harus kembali ke Dave. Dave tidak sebaik yang aku pikirkan. Lagian aku masih sangat berharap dengan Zello. Zello setelah tahu masalaluku, apa kamu masih mencintaiku?'
"Zello ...."
***
"Lilie? Lilie tidak kesini. Dia klayapan tapi belum pulang juga ya? Sudah potong saja duit bulanannya," goda Anita.
"Ah, saya tidak tahu, Tuan. Coba ditelepon. Mungkin sekarang sudah aktif!"
Tanpa kata, Zello melakukan apa yang diucapkan Anita.
"Nggak aktif," ucap Zello lesu.
'Apa dia ke tempat Dave?'
***
Mumpung masih sore Veron pergi ke mini market terdekat. Seperti sudah jadi teman baik, masker dan kacamata sekarang selalu menempel di wajahnya.
"Veron."
Veron bergeming di tempatnya. Suara dan panggilan itu tidak asing. Dave.
Veron tetap melanjutkan aktivitasnya, memilih pura-pura tidak mengenal.
"Veron, hai," ucap Dave lagi. Lagi-lagi Veron acuh. Sok sibuk dengan makanan di depannya.
"Justru karena kamu terus terdiam malah makin membuat orang penasaran," celetuk Dave.
"Sombong, mentang -mentang sudah punya keluarga."
"Hai." Dave membalik tubuh Veron paksa.
Tak hanya itu Dave juga membuka masker Veron.
"Dave." Gertak Veron.
"Ada apa denganmu? Apa kamu masih marah dengan peristiwa Zein tempo."
"Iya." Veron melanjutkan mengambil makanan di rak.
"Sorry. Makan yuk! Sudah lama tidak makan bareng."
__ADS_1
"Aku sudah kenyang."
"Please, please, please, please!"
'Cowok pecicilan tapi mematikan. Dave.'
"Terserah."
***
"Ngomong-ngomong kenapa kamu belanja jauh sekali dari rumah Zello?"
"Hanya ingin saja."
"Biasanya juga sama cewek imut itu."
"Kamu sendiri kenapa bisa nyasar di tempat ini?"
"Oh, tadi aku habis mengantar wanitaku pulang ke kost-kostan."
"Kenapa kita bisa disini?" tanya Veron sadar dengan tempat yang mereka lalui.
"Memang kenapa? Kan bagus ini dekat kantor suami kamu. Tadi aku pakai jalan tikus. Kamu nggak paham ya?!"
Dave langsung memarkirkan kendaraan roda empatnya.
"Ayo, kita makan...," seru Dave.
Dengan antusias Dave merangkul Veron, menuntun untuk masuk ke restoran.
"Apa kamu sering makan disini?!" Tanya Dave.
"Lumayan."
"Favorit makanan kamu apa disini?"
"Lobster asam pedas."
"Hah? Aku pikir kamu nggak suka seafood."
'Iya, itu makanan favorit Zello disini.' Mata Veron berkaca-kaca. Entah bagaimana ia menyampaikan perasaan ini ke orangnya.
'Zello, kita masih suami istri, kan?'
"Veron, kamu sedang ada masalah?"
'Tentu saja, bukankah ini maumu?!'
Veron menggeleng, "pesankan aku sop iga!"
"Ok."
Tangan Dave beralih mengacak rambut Veron lembut, terulur ke leher Veron.
"Apa yang kamu lakukan?" tepis Veron.
"Tidak aku, hanya baru sadar saja. Sejak kapan ada tahi lalat di lehermu?"
"Sudah, jangan bahas itu!"
"Ok ok," ucap Dave sembari mengangkat kedua tangannya.
Setelah menghabiskan makanan Veron langsung berdiri. Ingin pulang, segera mungkin mengakhiri pertemuannya dengan Dave.
"Mau kemana?"
"Tentu saja pulang."
"Baru saja kita selesai makan, tunggulah sejenak lagi!"
"Terserah maumu. Tapi aku mau pulang."
"Ok ok, ayo pulang. Aku antar ya!" Dave berdiri sembari merangkul bahu Veron, memberikan tepukan lembut seperti yang biasa Dave lakukan.
Belum sampai depan pintu restoran, kaki Veron terpaku dengan wajah tercengang, terkejut. "Zello."
__ADS_1