
Zello sudah di mobilnya. Bersandarkan di sandaran, cairan bening membasahi pelupuk matanya. Takut yang begitu sangat dengan keberadaan Veron yang tidak ia temukan. Apa benar Veron sedang di luar negeri? Atau disembunyikan di tempat lain? Atau di club?
Tanpa peduli dengan bibirnya yang pecah, Zello mengemudikan mobilnya, melaju pesat.
Cukup lama untuk sampai di perusahaannya. Langkah lebar dengan mata yang begitu dingin. Orang yang biasanya segan, tapi berubah menjadi takut. Tidak ada yang berani menyapa, hanya tersenyum kikuk melihat pemilik perusahaan datang dengan penampilan kacau seperti itu.
Zico yang kebetulan di ruang Zello terlonjak dengan kedatangan bosnya itu. Langkah lebar, nafas memburu emosi yang sepertinya akan siap meledak.
Zico sudah berdiri dari duduknya, mempersilahkan Zello untuk duduk si kursi kebesarannya. Namun Zello hanya menopang kedua tangannya di atas meja, tanpa berniat duduk. Dada Zello sesak, dengan bergemuruh sakit dan juga sesal. Matanya yang nyalang lenyap digantikan dengan tatapan sesal. Zello memijat hidungnya yang kini sudah memerah.
'Bos tidak pernah buat masalah. Apalagi sampai membuat orang atau diriya sendiri babak belur.' batin Zico.
"Cari tahu Lilie kembali atau tidak ke club Dave!"
Hah? Zico terdiam sesaat, sekarang ia tahu babak belur bosnya ada kaitannya dengan Veron.
"Sepertinya akan sulit, Bos. Penjagaan clubnya sangat ketat. Mau lihat cctvnya pun saya rasa harus persetujuan dari Davenya."
Huh, Zello mendengus kesal.
"Pantau rumahnya, infokan segera bila ada yang melihat kemunculan Lilie!"
"Siap, Bos."
"Cari informasi penerbangan ke luar negeri sedari tiga minggu yang lalu, cari apa nama Lilie ada di daftar penerbangan ke luar negeri!"
Zico melongo. 3 minggu yang lalu, semua penerbangan, ke luar negeri, luar negeri yang mana. Bukankah banyak luar negeri. Kepala Zico berdenyut, apa Zello tidak sadar, bawahannya tidak selihai itu.
"I-iya, Bos."
Zello mendongak, menahan supaya air matanya tidak tumpah.
"Aku pulang, aku hanya ingin menyampaikan hal itu ke kamu," ujar Zello.
"Siap, Bos."
****
Sesampai rumah, Zello yang berpapasan dengan Hanif tersenyum paksa.
__ADS_1
"Ini belum genap satu minggu, kenapa kamu sudah pulang?" tanya Hanif.
"Ada urusan mendadak, Kek. Aku istirahat dulu."
"Iya, istirahatlah!" ucap Hanif, Hanif tahu ada yang tidak beres. Namun, ia enggan bertanya melihat Zello yang demikian.
Di kamar, Zello terduduk lemas di sandaran headboard. Air matanya menetes, menyesali semuanya. Tak seharusnya karena cemburu dirinya membiarkan Veron pergi begitu saja. Sakit teramat, ubun-ubunnya terasa mau pecah, dadanya begitu sesak. Rasanya ingin meminta maaf segera dan membawa istrinya pulang ke rumah. Tapi bagaimana caranya, tidak ada alat komunikasi antara mereka.
Zello meraung penuh sesal, dirinya tidak bisa hanya berdiam mengandalkan Zico. Dengan cepat ia menyambar kuncinya lagi. Ingin melakukan pemantauan di rumah Dave sendiri. 'Aku harus segera menemukan Lilie'
****
Dahlia yang baru saja keluar terkesiap melihat Zello. Matanya menatap penuh ke Zello. Ada yang ingin ia katakan, tapi sedikit ragu. Mata Dahlia masih betah melihat pergerakan tuannya yang siap melajukan mobilnya.
"Tuan tunggu.....!" Teriak Dahlia.
"Tuan."
"Kenapa?" ucap Zello dingin.
"Saya dari butik Anita."
"Tuan, maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan Tuan dengan Tuan besar waktu itu. Menurut Tuan, Nona Lilie tinggal di rumah Dave kan? Tapi nyatanya tidak."
"Bicaralah yang jelas!"
"Benar Tuan, saya tahu dari Anita."
Seakan mendapatkan secercah harapan, dirinya langsung melesatkan mobilnya. Membelah keramain kota di siang hari, tiada henti menyalip mobil yang ada didepannya.
Klakson beruntun mirip amukan terus Zello bunyikan, tak peduli dengan dirinya yang dapat cemohan dan cercaan dari pengguna jalan lainya.Yang Zello tahu dirinya harus segera bertanya ke Anita langsung.
****
"Andai Lilie waktu itu tidak pergi dari sini, saya juga tidak tahu kalau dia sedang dalam masalah besar. Dan Lilie seakan menyembunyikan sesuatu. Dia tidak mau kembali ke Dave, tapi dia juga pergi dari Anda."
Zello mendengarkan dengan seksama, sesaat matanya terbeliak, ucapan Anita membuat Zello menerka-nerka. Apa yang disembunyikan istrinya? Atau memang dirinya tidak kuat dengan sikap kakek. Benarkah? Andai dirinya mengikuti ucapan Hanif waktu itu untuk menjemput istrinya, mungkin semua belum terlambat, karena waktu itu istrinya masih bersama Dave, belum hilang seperti saat ini. Namun, semua telah terjadi, sekarang ia kelimpungan mencari orang yang sangat ia rindukan.
"Apa dia tidak mengatakan sama sekali tentang panti yang akan ia singgahi?" ucap Zello.
__ADS_1
Anita menggeleng lemah, "maaf, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa. Saya lupa untuk menanyakannya. Karena dia terlalu terburu-buru, dan saya pikir dia akan menghubungi saya setelah sampai. Tapi nyatanya tidak sampai sekarang." Anita menangis sesenggukan, kesal tapi juga sedih mengingat keadaan tidak jelas Veron sekarang.
Panti, tanpa tahu kotanya, apalagi alamatnya. Zello memejamkan mata frustasi dan keluarlah setetes bening dari sudut matanya.
Istrinya kabur dari Dave, dan Dave pasti sudah mencarinya. Yang tentunya dari awal perginya Veron. Apa ada kemungkinan Dave sudah menemukannya lagi. Aaarrgggh, Zello menjerit dalam hati. Bagaimanapun keadaan istrinya sekarang, istrinya tidak seburuk yang ia bayangkan, tidak kembali menjadi partner *** Dave seperti yang ia duga.
"Apa ada kemungkinan Dave sudah menemukan Lilie?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
Zello meraup wajahnya gusar, dirinya harus mencari dimana?!
****
"Tuan Boss." Anak buah Dave mendekat dengan ragu.
Dave mendongak, menatap dingin anak buahnya yang sedikit gemeteran.
"Bodoh!" umpat Dave, gelagat anak buahnya menandakan tidak dapat informasi apapun.
"Maaf, Tuan." ucapnya penuh sesal.
"Ternyata ada juga yang tidak bisa kamu lakukan. Buat apa aku menampungmu lagi?! Tidak berguna!" Dave berdiri dari duduknya, memberikan hantaman kuat di perut anak buahnya.
"Pasti ketemu, Bos. Hanya saja butuh waktu. Itu kota yang luas. Dan... ada kemungkinan lain juga. Bisa saja Nona Veron keluar kota, atau bahkan keluar negeri."
Brakk. Dave menjungkalkan meja yang tidak jauh darinya. Kesal, dirinya tidak pernah terpikirkan semua itu. Pergi keluar negeri bisa ia selidiki lewat informasi penerbangan, tapi keluar kota, malah harus banyak waktu untuk mencarinya.
"Cari informasi disemua penerbangan sejak hilangnya Veron. Dan jangan berhenti juga mencari di kota B. Selidiki semua, aku tidak mau tahu bagaimana caranya."
Dave mendengus kesal, mengingat Zello juga sudah mulai mencari Veron.
"Kesini kamu!" ucap Dave.
Dengan sigap anak buah Dave mendekat.
"Tutupi akses Zello untuk mendapatkan informasi mengenai Veron, dan -carilah wanita, ubah penampilannya dan bawa dia keluar negeri. Saat ini juga!" Dave tersenyum licik.
Masalah Zello sudah Dave atasi, sekarang masalah Veron. "Tidak seharusnya kamu bermain-main, Veron! Jalangku Sayang."
__ADS_1