
Hov dan Alesya sudah lebih dulu menyelesaikan makan malam mereka, sementara Steve masih saja belum keluar dari dapur restoran. namun tidak sedikit pun Jehova tampak menghawatirkan asisten nya itu, justru Alesya lah yang tampak penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh tangan kanan suaminya itu.
"Tuan, kenapa Tuan Steve belum keluar dari dapur? tanya Alesya ragu-ragu.
"tidak usah pedulikan Steve Alesya!" ucap Hov sambil menyesap segelas air putih.
"Tapi apakah kau tidak ingin melihatnya Tuan? siapa tau dia pingsan di dapur" ucap Alesya sambil tersenyum kecil.
"jangan gila Alesya, mana mungkin orang seperti Steven bisa pingsan di dapur, lagi pula Dia tau apa yang harus dia lakukan, jadi berhentilah mencemaskan Dia! ucap Hov mulai kesal.
"aku tidak mencemaskan Dia Tuan, aku hanya penasaran saja. kenapa Dia lama sekali di dapur" jawab Alesya.
"sudah lah, ayo kita naik saja! aku sudah lelah Alesya" ajak Hov.
"tapi bagaimana dengan Tuan Steve?" pekik Alesya.
"Dia tidak akan tersesat di Apartemen ini Alesya" Hov menyakinkan.
"oh, baiklah kalau begitu" ucap gadis itu pelan.
akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Apartemen lebih dulu, meninggalkan Steven yang masih sibuk di dapur Restoran.
*
*
*
Sementara itu di dapur Restoran AJ Apartemen, Steve sedang mengumpulkan para pelayan dan juga para chef untuk menghadapnya.
semuanya sudah berkumpul dan berdiri di hadapan Steven yang sudah duduk manis di depan mereka.
wajah mereka semua sudah tampak pucat pasi, mengetahui orang kepercayaan Jehova sampai menyempatkan diri untuk masuk ke dapur tempat mereka bekerja.
mereka semua saling bertatapan, berusaha mencari tau apa sebenarnya yang sudah terjadi.
"apa kalian tau kesalahan apa yang sudah kalian lakukan?" pekik Steve.
"tidak Tuan" jawab mereka serentak.
"Bodoh!!!" pekik Steven lagi.
"maaf kan kami Tuan, tapi sungguh kami memang tidak tau apa salah kami." jawab seorang pria paruh baya yang merupakan kepala pelayan di sana.
"ishh, lalu apa yang kalian gunjingkan tadi" timpal Steve kesal.
"memang nya apa yang sudah kami gunjingkan kan Tuan" ucap kepala pelayan itu lagi.
"apa kalian pikir mataku ini buta heh, sehingga aku tidak bisa melihat kalian memandang Nona Alesya dengan tatapan mata yang merendahkan" cecar Steve.
mereka semua tampak terkejut saat mendengar ucapan Steven, mereka tidak menyangka kalau ternyata Steve melihat tingkah laku mereka.
"maaf Tuan, kami tidak bermaksud seperti itu" jawab pelayan wanita yang tadi melayani Alesya dan Hov.
"apa kalian pikir aku ini orang bodoh heh" pekik Steve semakin kencang.
tubuh mereka semua sudah bergetar, mendengar lengkingan suara dari Steven.
mereka sudah tau seperti apa karakter Asisten pribadi Jehova itu, bahkan Ia di kenal lebih kejam dari Tuan nya.
"ma,maaf kami Tuan" kepala pelayan mendekat dan mencoba meraih tangan Steve.
__ADS_1
"cih,, apa kau pikir dengan ucapan maaf mu bisa merubah keputusan ku nanti heh" Steve segera menarik tangan nya sebelum si kepala pelayan meraih nya.
"sungguh maaf kan lah kami Tuan, kami berjanji tidak akan memberi tau siapa pun kalau Tuan Hov datang bersama seorang perempuan." jawab si kepala pelayan.
"perempuan!! berani sekali kau menyebut Nona Alesya dengan sebutan itu." teriak Steven geram.
"maaf Tuan, maaf kan aku!" ucap pria itu dengan suara bergetar.
"dasar Bodoh" pekik Steven dengan menendang kaki si kepala pelayan.
"sakit Tuan" pekik si kepala pelayan sambil memegangi kakinya.
"sakit katamu" pekik Steve lagi.
"ampun Tuan, saya mohon maaf atas kesalahan saya" ucap pelayan wanita itu.
"kalian semua berbaris lah yang rapi di depan ku" titah Steve dengan senyuman Iblis nya.
"iya Tuan" jawab mereka serentak sambil berdiri berjejer sesuai keinginan Steve.
"bagus"
Steve tampak berdiri melewati mereka satu persatu.
dan tanpa di duga Steven memberikan mereka kenang-kenangan berupa tamparan keras yang mendarat ke pipi mereka masing-masing.
terlihat beberapa pelayan wanita menangis sesenggukan menahan sakit di pipi mereka.
"ku mohon maaf kan kami Tuan!" Kepala pelayan bersimpuh di depan Steven memohon ampun.
"baiklah, aku akan berbaik hati pada kalian malam ini, tapi ingat baik-baik! anggap kalian tidak pernah melihat Tuan Hov datang kesini, tutup mulut kalian rapat-rapat! dan jangan pernah ada satupun diantara kalian yang berani menggunjing kan Nona Alesya! jika aku sampai mendengar nya, maka kalian tidak akan ku buang sejauh mungkin. kalian paham?" Teriak Steven kencang.
"ih,iya Tuan" sahut mereka bersama.
"siap Tuan" ucap kepala pelayan.
Steven berjalan keluar kembali menuju ke mejanya dan duduk sendiri di sana.
*
*
sementara itu, Alesya dan Hov sudah tiba di Apartemen mereka. tak sekalipun Jehova melepaskan tangan istrinya sejak keluar dari Restoran tadi hingga memasuki Apartemen.
Hov seakan takut kalau Ia akan kehilangan Istri kecilnya itu.
sedangkan Alesya hanya pasrah saat tangan di genggam erat oleh Jehova.
"sekarang istirahat lah! besok aku akan mengantarmu ke panti menemui Ibu." ucap Hov pelan.
"sungguh Tuan?" mata Alesya membulat sempurna menatap Hov.
"Hmmm" jawab Hov singkat.
"terimakasih Tuan" ucap Alesya kegirangan.
"he, jangan terlalu senang dulu Alesya!" ucap Hov datar.
"eh, kenapa Tuan?" sahut Alesya penasaran.
"kau boleh pulang ke Panti, tapi kau tidak boleh keluar untuk berjalan-jalan. ingat itu baik-baik!" titah Hov.
__ADS_1
"iya Tuan, aku tidak akan kemana-mana" ucap Alesya malas. sambil masuk ke Walk in Closet untuk berganti baju tidur.
"he, ada apa dengan nada suara mu Nyonya Hov?" Hov tau kalau Istrinya sedang kesal.
"tidak ada apa-apa" teriak Alesya Alesya singkat dari dalam.
"haha, apa kau kesal dengan peraturan yang sudah aku buat?" ucap Hov.
"tidak" jawab Alesya cepat.
"baiklah kalau begitu, sekarang tidur lah! agar kau bisa membuat sarapan dulu sebelum kita berangkat." ucap Hov.
"Hmmm" saut Alesya.
"selamat tidur Nyonya Hov" ucap Hov sambil mengacak rambut panjang Alesya dan kemudian berjalan menuju kamar mandi.
*
*
seperti biasa mereka masih tidur terpisah, tapi kali ini Alesya lah yang tidak di ranjang dan Jehova memilih untuk tidur di sofa empuk nya.
Alesya sudah memejamkan matanya, namun rupanya gadis cantik itu belum bisa tidur nyenyak.
Ia terus saja berguling kesana kemari, pikiran terus melayang jauh. rupanya Ia sudah tidak sabar untuk menunggu pagi. Alesya sudah sangat ingin pulang ke panti asuhan tempat nya di besar kan.
sepertinya Hov menyadari kalau Istrinya belum bisa tidur, karena masih mendengar suara-suara pelan dari mulut Alesya yang terdengar seperti sedang bergumam.
"tidur lah Alesya! apa kau ingin kita kesiangan besok heh" suara Hov membuyarkan lamunan gadis itu.
"eh, kau juga belum tidur Tuan?" Alesya sedikit terkejut.
"bagaimana aku bisa tidur, kalau suara mu terus saja berdengung seperti nyamuk di telinga ku" protes Hov.
"maaf Tuan, seperti nya aku terlalu senang jadi aku tidak bisa tidur" ucap Alesya jujur.
dari kegelapan kamar, Hov tampak tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Alesya, Ia merasa senang karena bisa membuat Alesya bahagia.
"iya aku tau, tapi kau harus tidur Alesya! lihat saja kalau besok kau bangun kesiangan, maka aku akan langsung berangkat ke kantor tanpa membangunkan mu." ancam Hov.
"huh, dasar kejam!!" pekik Alesya.
"he apa katamu? lagi pula kalau besok kau sampai bangun kesiangan, itu salah mu sendiri Alesya, bukan salah ku" Hov membela diri.
"iya, iya.. itu salah ku. sekarang tidur lah Tuan, aku juga akan tidur" ucap Alesya.
"haha, selamat malam Nyonya Hov" ucap Jehova menggoda.
"hmmmmm" sahut Alesya.
"hahaha" hanya suara tawa dari Hov yang terdengar dari keheningan malam ini.
semakin malam, akhirnya mereka berdua larut dalam mimpi mereka masing-masing.
BERSAMBUNG
**LIKE
*VOTE
*KOMENTAR*
__ADS_1
TERIMAKASIH