
("jaga ucapan mu Tuan Jose!!") pekik Steve dari balik ponsel Martin.
("oh kenapa Anda yang harus marah? atau jangan-jangan Alesya sebenarnya simpanan Anda Tuan") Jawab Jose.
("rupanya kau dan Istri mu sama saja ya") Ucap Steve pelan namun penuh penekanan.
("haha, apa kalian pikir aku akan hancur jika kau membatalkan kerja sama kita heh, lagi pula masih banyak perusahaan lain yang akan membantu ku untuk memberi pinjaman jika aku kekurangan dana nantinya) Jose berkoar.
("oh, baiklah. kalau begitu kita lihat saja") Ucap Steve malas.
"matikan panggilan dari si brengsek itu Martin! sebelum aku kehabisan kesabaran ku" titah Steve.
"iya Tuan" Martin segera mengakhiri panggilan telepon nya dengan Jose.
dengan segera Steve mengoperasikan laptopnya dan entah apa yang sedang di lakukan oleh Asisten tampan itu dengan laptop milik nya. yang Martin tau, saat Steve sudah mulai diam dan tidak bicara sepatah katapun saat itulah keadaan paling mengerikan akan segera terjadi.
benar saja dalam waktu Lima belas menit kemudian, Handphone Martin berdering begitu nyaring dari atas meja kerja nya.
"angkat lah panggilan dari si brengsek itu Martin!" ucap Steven datar.
"eh, tapi bagaimana Anda bisa tau kalau ini dari Tuan Jose?" Martin keheranan.
"sudahlah angkat saja! lagi pula sebentar lagi kau akan tau" Steve tersenyum sarkas.
("Tuan Martin, apa yang sedang kau lakukan dengan perusahaan ku, kenapa semua saham ku anjlok di pasaran bahkan tidak ada yang mau membeli nya") ucap Jose dengan suara bergetar.
("haha, kenapa suaramu terdengar begitu ketakutan Tuan Jose?") ucap Steven.
("siapa kau? siapa kau heh? ada masalah apa kau dengan ku, kenapa kau mencampuri urusan perusahaan?) cecar Jose.
("kau tidak perlu tau siapa aku, yang perlu kau tau hanya, kau dan keluarga mu harus membayar mahal semua kebodohan yang sudah Istri mu lakukan pada Nona Alesya. ingat itu baik-baik!) Steven menjelaskan.
("tapi apa hubungan mu dengan Alesya?) jawab Jose.
("sudah ku katakan, kau tidak perlu tau siapa aku, o iya satu lagi. mulai sekarang panggil Alesya dengan sebutan Nona! Nona Alesya!") ucap Steven penuh penekanan.
("iya, iya Tuan. aku akan memanggil nya Nona. tapi ku mohon kembali kan saham ku seperti semula") Jose memohon.
("haha, kenapa kau tidak meminta bantuan pada perusahaan lain saja") ucap Steven.
("sekarang perusahaan ku sudah benar-benar hancur Tuan, bahkan AJ Group yang selalu bersedia membantu ku pun sudah mencabut semua Investasinya dari perusahaan ku, itu lah sebab nya harga saham ku semuanya merosot jatuh") ucap Jose dengan suara parau.
("oh, kalau begitu itu bukan urusan ku Tuan Jose yang terhormat") ucap Steven acuh.
("tidak Tuan Ku mohon, jangan lakukan itu! katakan apa yang harus kulakukan agar semuanya kembali normal") Jose meminta.
("sudah terlambat Tuan Jose, bahkan jika kau harus berlutut di kaki Nona Alesya pun tidak akan bisa mengembalikan keadaannya seperti semula") ucap Steve marah.
("tidak Tuan, kumohon jangan lakukan itu pada kami") Jose merengek-rengek.
"tutup telponnya Martin! aku bosan berbicara dengan orang semacam Dia" ucap Steve sembari memijat kedua pelipis nya pelan.
"baik Tuan" dengan cepat Martin menutup panggilan telepon dari Jose, tanpa mempedulikan Jose sedang merengek-rengek dari balik ponsel itu.
Rupanya Steve sudah menarik semua saham milik AJ Group dari perusahaan Jose dan melarang perusahaan lain untuk membantu nya. hingga membuat perusahaan itu seketika kolep dan otomatis bangkrut.
"Ah, kenapa aku berurusan dengan ora yang menyebabkan seperti dia ya" Steve menghela nafasnya panjang.
"kalau saya boleh tau, siapa sebenarnya Nona Alesya itu Tuan?" Martin penasaran
rupanya pria itu juga menyangka kalau Alesya adalah istri dari Steven.
"apa kau ingin mati heh? berani sekali kau bertanya seperti itu padaku" jawab Steve cepat.
"ma, maaf Tuan! saya tidak akan melakukannya lagi" ucap Martin.
"kalau begitu selesai kan tugas mu sekarang juga! tarik semua saham kita yang ada di perusahaan Jose dan pasti kan Dia dan keluarganya jatuh miskin" ucap Steven sembari melipat kembali laptop milik nya dan beranjak begitu saja meninggalkan ruangan Martin.
__ADS_1
"siap Tuan" Martin mengantarkan Steve hingga masuk ke mobil nya.
Sementara itu di tempat lain Hov sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya dan segera mengajak Alesya untuk kembali ke panti.
gadis cantik itu tampak lega, karena akhirnya Ia bisa kembali ke panti dan kembali bertemu dengan ibu nya.
wajar saja kalau Alesya selalu ingin dekat dengan ibunya, karena sudah cukup lama Ia tidak bercengkrama dengan keluarga nya di panti.
seperti biasa, Hov keluar turun ke basemen menggunakan lift pribadi nya. namun kali ini ada yang berbeda, biasa Steve lah yang selalu menemani, namun kali ini yang ada di dalam lift bersama nya adalah Alesya gadis yang sangat Ia cintai.
tak ada percakapan diantara keduanya, mereka saling diam walaupun posisnya berdiri bersebelahan.
namun bukan Jehova nama nya, jika Ia tidak bisa membuat Alesya bersuara.
"Alesya?" panggil Hov pelan.
"Hmmm" sahut Alesya singkat.
"terimakasih karena sudah menemani aku bekerja hari ini" ucap Hov berbasa-basi.
"sama-sama Tuan" jawab Alesya datar.
"Alesya, sepertinya siang tadi aku mendengar mu memanggil ku dengan sebutan apa ya?" pancing Hov.
"eh, memang nya aku memanggil mu dengan sebutan apa Tuan?" Alesya pura-pura tidak tau.
"jangan bilang kalau kau tidak mengingat nya Nyonya Hov!" Hov memicingkan matanya.
"sungguh aku tidak ingat Tuan, memang nya aku memanggil mu dengan sebutan apa heh?" Alesya memasang wajah polos nya.
"nomor Handphone ku yang tertulis di kontak mu siapa Alesya?" pekik Hov.
"Tuan Jehova" sahut Alesya cepat.
"jangan gila Alesya, kemarikan ponsel mu, biar aku menggubahnya lagi" Hov menyodorkan tangannya.
"kemarika!!" pekik Hov Sambil berusaha merogoh tas kecil milik istri nya.
"tidak mau" Alesya tetap berusaha mempertahankan tas miliknya.
hingga akhirnya terjadi lah pergumulan sengit di antara keduanya untuk memperebutkan tas kecil itu.
Tinggggg
Tiba-tiba lift berbunyi menandakan mereka sudah tiba di lantai yang mereka tuju.
saat pintu lift akan terbuka dengan cepat Hov menutup nya kembali dan memegangi tubuh Alesya agar tidak keluar dari itu.
"berikan handphone mu pada ku sekarang, atau kita berdua akan terkurung di lift ini semalaman" ancam Hov.
"apa semalaman? lalu bagaimana dengan Ibu, ibu pasti sedang menunggu ku sekarang" Alesya mulai panik.
"ibu tidak akan mencari mu Alesya, karena ibu tau kau sedang bersama ku sekarang" Hov tersenyum sarkas.
"berhenti disitu! apa yang akan kau lakukan Tuan?" Alesya mulai salah tingkah saat melihat Hov mulai merenggang dasi yang melingkar di lehernya.
"tentu saja aku akan melakukannya disini bersama mu Alesya" Hov mengungkung tubuh Alesya dengan kedua kaki dan tangan yang kekar.
"ah, apa? jangan gila Tuan, ini tempat umum. mana boleh kau melakukan nya di sini" ucap Alesya pelan.
"apa boleh buat, kau yang memulai nya" jawab Hov sembari menyusuri leher jenjang istri nya.
Alesya hanya pasrah saat Hov sudah mendaratkan beberapa kecupan di leher nya. sebenarnya gadis itu mulai menikmati rangsangan yang di berikan oleh Jehova. namun tanpa di sangka Hov justru menghentikan setelah Ia mendapatkan apa yang sedang Ia cari.
"yees, akhirnya aku mendapatkan nya" Hov bersorak gembira sambil memegangi ponsel Alesya.
"eh, kembali kan pada ku!" Alesya merasa kesal sekaligus kecewa karena Hov mencumbu nya hanya untuk mengambil ponsel nya saja.
__ADS_1
"tidak mau, aku sudah mendapatkan nya. sekarang ayo kita pulang" Hov menekan tombol khusus agar lift nya terbuka.
dasar Iblis besar, beraninya Dia mempermainkan aku.
Batin Alesya kesal.
"kembali kan dulu ponsel ku" Alesya merengek sambil berjalan di belakang suaminya.
"kalau kau bisa ambil lah!" Hov mengangkat tinggi-tinggi ponsel milik Alesya hingga gadis itu kesulitan untuk meraih nya walaupun sudah melompat berkali kali.
"haha, apa kau sudah menyerahkan Nyonya Hov? dasar payah" goda Hov.
"menyerah, jangan mimpi!" pekik Alesya dan kembali melompat untuk mendapatkan ponsel nya kembali.
namun tetap saja usaha Alesya tidak berhasil, karena tinggi badan Hov jauh melampaui tinggi badan gadis itu, sehingga sangat tidak mungkin Alesya bisa meraih ponselnya dengan tangan kosong.
"kalau begitu aku akan memberi mu satu keringanan" ucap Hov.
"keringanan?" Alesya penasaran.
"mulai sekarang kau harus memanggil aku dengan sebutan "Suami" ucap Hov sambil memainkan kedua alisnya.
"tidak mau" balas Alesya cepat dan segera memalingkan wajahnya dari Hov.
agar Hov tidak melihat kalau wajahnya sedang bersemu merah sekarang.
"he, sungguh kau tidak mau? kalau begitu aku tidak akan membawa mu pulang malam ini" Hov kembali mengeluarkan ancaman nya.
"selain mengancam ku, apa yang bisa kau lakukan Tuan Jehova" ucap Alesya penuh penekanan.
"apa kau menantang ku Nyonya?" pekik Hov.
"cepat kembali kan ponsel ku Tuan!" rengek Alesya lagi
"tidak mau, panggil dulu aku dengan sebutan Suami ku!" ucap Hov sambil tersenyum kecil.
"tidak mau..!" sahut Alesya cepat.
"ish... kenapa kau begitu menyebalkan Alesya!" pekik Hov.
"kau lebih menyebalkan" sahut Alesya.
"ya sudah kalau kau tidak mau memanggil ku dengan sebutan Suami, aku juga tidak akan mengembalikan handphone mu ini" Hov memasukkan ponsel Alesya ke dalam saku celananya.
"oh Tuan, sebenarnya apa yang sedang kau cari? kenapa dari tadi kita hanya berputar mengelilingi mobil-mobil ini" protes Alesya.
"aku sedang mencari mobil yang akan kita naiki Alesya" ucap Hov sambil menekan tombol kunci mobil yang di pegang nya.
"memang nya yang mana mobil mu Tuan, sampai kau tidak bisa mengenali nya" jawab Alesya.
"semua mobil yang ada di sini milik ku Alesya" jawab Hov datar.
"apa?????" sahut Alesya cepat
astaga seberapa kaya suami ku ini, sampai mobil sebanyak ini milik nya semua.
Batin Alesya.
jelas saja Alesya terkejut bukan main, saat mendengar jawaban dari suaminya. karena ada banyak sekali mobil mewah yang terparkir di area basemen itu, dengan berbagai merk dan juga berbagai warna. pantas saja Jehova sampai bingung dengan kunci yang diambilnya secara sembarangan. namun Ia tidak tau di mana letak mobil yang sedang Ia cari terparkir. sebab ada puluhan mobil yang berjajar dengan sangat rapi di basemen khusus untuk mobil milik nya saja.
BERSAMBUNG
LIKE
VOTE
KOMENTAR
__ADS_1
TERIMAKASIH