"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 113


__ADS_3

setelah Laura merasa puas mengadu ini itu pada Michelle tentang Alesya, Wanita cantik bertubuh langsing itu segera berpamitan untuk kembali ke kemar nya.


Laura sengaja menginap di rumah Mommy Jehova itu, agar Ia dapat dengan mudah memprovokasi Ibunya Jehova untuk segera memisahkan Hov dan Alesya.


"Tante, aku pamit untuk istirahat dulu ya, rasanya kepalaku ini pusing dan tubuh ku lemas sekali" rengek Laura.


"apa kau sakit Lau?" sahut Michelle sambil menyentuh dahi Laura.


"ah, aku tidak sakit Tante, aku hanya kelelahan saja dan sedikit shock dengan perlakuan gadis kampungan itu padaku." jawab Laura.


"sekarang kau istirahat saja, urusan gadis kampung itu biar aku yang menyelesaikan nya" ucap Michelle.


"baiklah Tante, aku sungguh berterima kasih pada mu" Laura memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu.


"kau tidak perlu sungkan Lau, lagi pula sebentar lagi kau akan menjadi menantu ku kan" ucap Michelle sambil menangkup kedua pipi Laura yang mulus.


"tante bisa saja" Laura tersipu malu.


"sekarang masuk lah ke kamar mu!" titah Michelle.


"iya Tante" ucap nya sambil beranjak meninggalkan Michelle yang masih duduk di sofa ruang tengah.


sementara Michelle terlihat sibuk dengan ponselnya, sepertinya Ia sedang mengobrol dengan seseorang dari balik ponsel nya, namun entah siapa yang sedang Ia ajak bicara sekarang.


wajah wanita paruh baya itu tampak sangat serius saat sedang mengobrol melalui seluler nya.


tak jarang Ia berjalan bolak-balik dari ruang tengah menuju ke halaman depan.


tampak nya Ibunda dari Jehova itu sedang merencanakan sesuatu dengan orang yang ada di balik telepon.


tak jauh berbeda dengan Laura, rupanya wanita itu juga sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang dan rupanya orang yang sedang Laura hubungi adalah Hansen, sahabat baik Jehova.


rupanya Laura ingin bertanya pada Hansen tentang pernikahan Jehova dan Alesya, pikir Laura Hansen pasti tau apakah mereka benar-benar sudah menikah atau hanya berpura-pura saja. dan Laura ingin memastikan itu lewat Hansen.


beberapa kali Laura mencoba menghubungi Hans, namun sepertinya Hans belum menjawab panggilan telepon dari Laura.


namun bukan Laura namanya jika wanita seksi itu akan menyerahkan begitu saja.


hingga panggilan yang ke 10 kali, Hans akhirnya mau mengangkat nya.


("ada apa Nona Laura?") suara Hans segera menusuk pendengaran wanita itu.


("tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memastikan apa Tuan Hov sungguh-sungguh sudah menikah dengan gadis kampung itu heh?") ucap Laura sinis.

__ADS_1


("apa maksud mu Nona?") sahut Hans bingung.


("jangan berpura-pura bodoh Tuan Hans, aku yakin kau lah orang yang paling tau, seperti apa sebenarnya hubungan Tuan Hov dengan wanita kampungan itu") ucap Laura kesal.


("wanita kampungan? apa yang kau maksud itu Alesya?") sahut Hans cepat.


(hah, akhirnya kau mau mengakui nya, cepat katakan apa benar mereka sudah menikah?") pekik Laura lagi.


("dengarkan aku baik-baik Nona Laura! kau tidak berhak menyebut Alesya semau mu sendiri, mulai sekarang kau harus menyebut nama nya dengan benar, atau aku akan membungkam mulut mu itu") ucap Hans dengan santai namun seperti sebuah hantaman keras di jantung Laura.


belum sempat Laura berucap sepatah kata pun, Hans sudah lebih dulu memutus panggilan nya.


Laura sungguh sangat terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Hans padanya.


wanita itu tidak menyangka, Hans berani mengancamnya seperti itu hanya demi melindungi wanita seperti Alesya. pikir Laura.


*


*


Dan di tempat lain, Hansen tampak gelisah, emosinya meluap tak terkendali. hingga semua barang yang ada di hadapannya hancur berkeping-keping.


hatinya hancur, mendengar kabar dari Laura bahwa diam-diam Hov sudah menikah dengan gadis yang sangat Ia Cintai.


Ia tidak menyangka, kalau teman yang selalu Ia percayai tega melakukan itu padanya.


dan sekarang Ia harus menelan pil pahit, bahwa gadis idaman nya sudah di nikahi oleh sahabat terbaik nya itu secara diam-diam.


"aaaaaaaaaaaaa, kenapa kau tega melakukan ini padaku Hov" teriak Hans kencang.


tidak, aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini menerima semuanya, aku harus kembali ke Negara X secepatnya, dengan ataupun tanpa persetujuan dari mu Hov.


Batin Hansen.


dengan cepat, Hans mendial nomor asisten nya untuk segera memesan kan tiket pesawat agar Ia bisa terbang ke negara X malam ini juga.


("halo Ed, tolong Carikan aku pesawat untuk penerbangan malam ini menuju negara X") ucap Hans.


("maaf Tuan, tapi ini sudah larut malam") jawab Edward.


("aku tidak peduli Ed, apapun yang terjadi aku ingin terbang ke Negara X malam ini juga") pekik Hans.


("baiklah Tuan, akan coba saya carikan") sahut Edward.

__ADS_1


("segera hubungi aku kalau kau sudah mendapatkan tiket nya") ucap Hans.


("iya Tuan") sahut Edward.


mereka segera mengakhiri panggilan nya. Hans segera bersiap untuk penerbangan nya malam ini.


sementara Edward sibuk mencari maskapai penerbangan yang bisa membawa Tuan nya terbang menuju ke negara X malam ini juga.


setelah beberapa jam mencari rupanya Edward tidak berhasil menemukan nya. tidak ada satu pun maskapai penerbangan yang akan menuju ke Negara X tengah malam ini. dan jadwal penerbangan baru ada saat pagi nanti.


dengan cepat Edward menghubungi Tuannya untuk menyampaikan kabar itu.


tak butuh waktu lama, Hans segera menerima panggilan dari Asistennya itu.


("bagaimana Ed, apa aku bisa berangkat sekarang?") ucap Hans.


("maaf Tuan, saya sudah mencarinya tapi memang tidak ada satu maskapai pun yang akan melakukan penerbangan menuju ke Negara X tengah malam ini") ucap Ed.


("tapi bagaimana mungkin, Ed?) ucap Hans kesal.


("jalan satu-satunya adalah, Anda harus menghubungi Tuan Jehova, agar Anda bisa melakukan penerbangan malam ini juga menggunakan pesawat jet milik perusahaan Tuan") Edward menyarankan.


("apa kau sudah gila Ed, bajingan itu tidak akan mengijinkan aku kembali ke negara X begitu saja, apa kau lupa kalau aku sengaja di buang ke negara ini heh") ucap Hans parau.


("maaf kan saya Taun, kali ini saya tidak bisa membantu Anda dengan baik") ucap Edward tak kalah sendu.


("tidak apa-apa, kaulah orang yang paling bisa ku percayai sekarang ini") ucap Hans.


("terimakasih Tuan") jawab Ed cepat.


("baiklah kalau begitu, pesan saja aku tiket pesawat untuk keberangkatan besok paling awal") titah Hans.


("baik Tuan, saya akan segera memesannya untuk Anda") jawab Hans.


panggilan mereka berakhir, Hans dengan kasar melemparkan ponsel nya di atas kasur. pikiran buntu sekarang. jelas Ia tau betul, Hov tidak akan pernah mengijinkan nya untuk kembali ke Negara X dengan begitu mudah. atau bahkan jika Hov tau diri nya akan kembali, pasti Hov akan segera mengirimnya pergi lebih jauh lagi. tentu saja tujuan nya agar Hans tidak dapat bertemu dengan Alesya.


"sepertinya aku memang harus lebih bersabar, Tunggu aku Alesya! aku akan membawamu pergi dari kehidupan Jehova" Hans bergumam sendiri.


***BERSAMBUNG


*LIKE


*VOTE

__ADS_1


*KOMENTAR


TERIMAKASIH***


__ADS_2