
"apa katamu? Nona muka tebal" pekik Laura dengan memelototi wajah Alesya.
"oh, rupanya selain kau senang menggoda suami orang, rupanya kau juga bermasalah dengan pendengaran mu" balas Alesya.
"jangan membuat ku marah gadis kampungan!! atau kau akan menyesal seumur hidup mu" ancam Laura.
"mungkin aku memang kampungan, tapi setidaknya aku tidak menggoda suami orang" ucap Alesya sinis.
"oh ya, kalau memang kau sudah menikah dengan Tuan Hov, kenapa aku tidak pernah mendengar ataupun melihat pesta pernikahan kalian di siarkan oleh media Nyonya Jehova" ucap Laura setengah mengejek.
"mungkin Tuan Hov memang sengaja tidak ingin media tau tentang pernikahan kami" kali ini Alesya menjawab dengan bibir sedikit bergetar.
gadis cantik itu sadar betul, kalau sebenarnya Ia juga tak tau apa alasan Jehova menyembunyikan pernikahan mereka dari dunia luar. dan hal itu juga lah yang membuat Alesya menjadi bahan hinaan tetangganya di rumah Panti.
"haha, apa kau mulai takut kebohongan mu terbongkar gadis kotor" sahut Laura dengan cepat.
"aku tidak berbohong" pekik Alesya yang mulai gamang.
"oh, atau jangan-jangan Tuan Jehova membuang mu begitu saja setelah meniduri mu, UPS..." ucap Laura mengejek sambil menutup mulutnya.
"asal kau tau, aku bukan gadis seperti itu Nona muka tebal" sambar Alesya marah.
"haha, lalu dengan cara apa kau bisa mendapatkan cincin semahal itu heh" ucap Laura sinis.
"bukankah aku sudah mengatakan nya tadi, kalau itu cincin pernikahan kami" ucap Alesya meyakinkan.
mereka masih saling berdebat, sementara kedua resepsionis yang melihat kejadian itu akhirnya memanggil security untuk memisahkan mereka berdua.
namun sepertinya Laura belum merasa puas untuk mengolok-olok Alesya di depan banyak orang.
"lepaskan aku, kalian tidak berhak menyentuh tubuh ku! hanya Tuan Hov saja yang boleh melakukan nya" teriak Laura dengan sombongnya.
"dasar tidak tau malu, berapa kali harus ku katakan padamu? kalau Tuan Hov itu Suami ku Nona Muka tebal" pekik Alesya tak Terima.
"jangan mimpi bodoh!" sahut Laura.
"tapi sayang nya itu kenyataan Nona, akulah yang menemani hari-hari nya, akulah yang menyiapkan semua kebutuhan nya, bahkan akulah yang menemani setiap malam nya" senyum Alesya sarkas.
"O iya, lalu berapa Tuan Hov membayar mu? aku akan memberikan mu 5kali lipat dari yang Tuan Hov berikan, tapi tinggal kan Dia! bagaimana? bukankah itu lebih menggiurkan" ucap Laura.
Alesya segera meronta dari kedua security yang memegangi nya dan segera berjalan menuju ke arah Laura untuk menampar pipi mulus milik Laura dengan sangat kencang, hingga meninggal bekas jari-jari Alesya disana.
"Berhati-hatilah saat berbicara Nona! atau ucapan mu sendiri yang akan menghancurkan mu" ucap Alesya dengan sangat lugas.
"aaaaaaaaaaaaa, berani nya kau menampar ku heh! aku tidak akan melepaskan mu gadis murahan" pekik Laura murka.
*
*
sementara itu di ruang meeting, Hov tampak begitu gelisah, entah kenapa hatinya merasa ada yang mengganjal.
__ADS_1
pikiran hanya tertuju pada Alesya, namun apa daya Meeting belum juga selesai, walaupun Hov seorang CEO tapi Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan ruang meeting sebelum semua selesai di bahas.
"Steve, coba kau hubungi Robby! apakah mereka sudah sampai?" titah Hov.
"iya Tuan" sahut Steve dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi sopir yang menjemput Alesya.
Steven tampak sedikit menjauh ke sisi sudut ruangan itu dan sepertinya sedang berbicara dengan Robby melalui seluler nya.
tak beberapa lama, kemudian Steven kembali mendekati Hov.
"Bagaimana Steve, apa mereka sudah sampai?" ucap Hov pelan.
"menurut Robby, sudah sejak 30 menit yang lalu Tuan mereka sampai" jawab Steve.
"Apaaaaa? kenapa Alesya tidak menghubungi ku" pekik Hov kencang hingga membuat seluruh orang yang ada di sana menoleh kearah Jehova.
segera Hov merogoh saku jas nya untuk mengambil ponsel miliknya, namun tanpa di duga Ia meletakkan ponselnya di meja ruang nya dan meninggalkan nya di sana.
Steven tau kalau Hov lupa membawa ponselnya dan segera melakukan tindakan agar Tuan tidak murka di saat meeting sedang berlangsung.
"kalau begitu saya akan menelfon lobby Tuan, siapa tau Nona menunggu disana" ucap Steve.
"cepat lah" pekik Hov.
tak butuh lama, panggilan dari Steve segera mendapat respon dari pihak resepsionis yang sedang bertugas di lobby bawah.
("ada yang bisa saya bantu Tuan Steven") sapa seorang karyawan wanita dengan ramah.
("apa di sana ada seorang wanita yang sedang mencari Tuan Hov?") ucap Steven cepat.
("apaaaaa? kalau begitu panggil kan aku salah satu yang bernama Nona Alesya") ucap Steven panik.
hingga membuat Jehova segera menoleh ke arah Asistennya itu untuk mendapatkan jawaban.
"maaf Nona-nona, siapa diantara kalian berdua yang bernama Nona Alesya?" ucap seorang karyawan wanita dengan setengah berteriak.
maklum saja, karena mereka masih saja beradu mulut satu sama lain.
"ada apa Nona? aku lah yang bernama Alesya, ucap Alesya sambil mengangkat tangan nya secara refleks.
"Tuan Steven ingin berbicara kepada Anda" karyawan itu memberikan gagang telepon yang dipegangnya pada Alesya.
matilah kau gadis ******, kali ini kau tidak akan lolos dari asisten gila itu sekarang.
Batin Laura kegirangan karena menyangka Steve akan menyingkirkan Alesya.
("ada apa? apa ini cara kalian menyambut tamu heh, dimana Tuan mu itu? berikan telepon nya pada nya sekarang!" belum sempat Steve mengatakan apa-apa. Alesya sudah lebih dulu mencecar nya.
semua orang hanya bisa menatap Alesya keheranan, baru kali ini mereka melihat ada seorang gadis muda yang berani berkata dengan suara yang cukup keras kepala Steven.
("ba,baik Nona") sahut Steven dan segera memberikan ponsel nya pada Jehova.
__ADS_1
("halo Alesya?) sekarang Hov yang ada di balik telepon itu.
("Turun sekarang juga! atau aku akan memukul kepala mu sampai kau tau seperti apa caranya menyambut tamu dengan baik") ucap Alesya menggebu-gebu karena kesal.
kali orang-orang yang mendengar cara Alesya berbicara dengan seseorang yang ada di balik telepon itu lebih terkejut lagi.
tak berbeda dengan Laura, wanita itu juga tampak penasaran dengan siapa Alesya sedang berbicara, kenapa Ia seperti sedang berbicara dengan orang biasa saja.
("iya Alesya, jangan kemana mana! aku akan segera kesana menemui...") belum sempat Hov menyelesaikan ucapannya Alesya d lebih dulu menutup telfonnya.
segera Hov memberikan ponsel itu kepada pemilik nya dan langsung berlari keluar menuju lift pribadi nya tampan menunggu Steve atau pun berpamitan pada seluruh kepala bagian yang sedang mengikuti meeting disana.
"Tuan tunggu!!" Steven segera ikut berlari mengikuti Tuan nya.
mereka berdua sudah berada Lift sekarang, air muka Hov terlihat sedang tidak baik baik saja, Sehingga membuat Steve enggan untuk bertanya lebih lanjut.
sementara itu di lobby Alesya berdiri di tempatnya, gadis itu tampak membekap wajah nya sendiri dengan kedua tangan nya. terlihat jelas ada semburat kesedihan bercampur emosi di wajah cantiknya.
namun hal yang tak di sangka terjadi, dengan sangat cepat Laura menghampiri Alesya dan menarik rambut panjang Alesya dengan keras dari belakang, hingga membuat Alesya begitu terkejut dan memekik cukup keras.
"aauuuuu, lepaskan!! lepaskan!!!" Alesya tampak meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"sakit heh? ini belum seberapa ******! aku akan membuat hidup mu seperti di neraka" ucap Laura di sisi telinga Alesya.
"He... lepaskan tangan kotor mu dari rambut Istri ku!!" suara Bariton khas milik Jehova menggema di gedung AJ Group.
seluruh pasang mata yang ada di sana segera mengarahkan pandangan pada sosok gadis muda yang begitu sederhana itu begitu mendengar ucapan dari CEO mereka.
"Apa maksud Anda Tuan?" Ucap Laura gamang.
"apa kau sudah Tuli heh? lepaskan tangan mu dari rambut Istri ku! atau Steve akan mematahkan tangan mu disini Laura!" ucap Hov santai namun mematikan.
begitu mendengar ucapan Jehova, tanpa di perintahkan Steve segera mendekati Laura. begitu juga dengan Laura, saat melihat Steve mulai mendekat wanita itu segera melepaskan cengkraman nya dari rambut panjang Alesya.
Alesya hanya tampak diam saja, tak ada tangis atau pun senyuman dari wajah ayu nya.
sementara Hov segera menghampiri Alesya, namun rupanya Laura segera meraih lengan Jehova dan mencoba memprovokasi nya.
"Dia yang lebih dulu menampar pipiku Tuan Hov, lihat lah masih ada bekas disini!" Laura menyodorkan pipi nya kearah Jehova.
namun seperti biasa nya, Hov tak merespon sedikitpun ucapan Laura pada.
dan bukan Laura namanya, jika wanita itu menyerahkan begitu saja.
tanpa mempedulikan Alesya sedikit pun, Laura dengan tak tau malu nya memeluk tubuh Jehova dari belakang dan merengek meminta Hov untuk memperhatikan nya.
**BERSAMBUNG
*LIKE...LIKE....LIKE...LIKE....!!!!
*VOTE.....!
__ADS_1
"KOMENTAR
TERIMAKASIH**