"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 96


__ADS_3

Helikopter jenis Airbus H155 yang termasuk helikopter termewah di kelas nya itu sudah bersiap untuk di terbang kan oleh pilot nya, untuk membawa Tuan dan Nona Muda mereka.


tampak Steven sudah ada di sana, saat Hov dan Alesya memasuki kawasan Helipad.


seperti biasa Steve dengan sigap berlari menyambut kedatangan mereka. sementara Hov terlihat tak pernah sekalipun melepaskan tangan Alesya dari genggamannya, Pria itu memang tangan istrinya erat-erat, seakan memberikan kenyamanan pada Istrinya yang masih terlihat gelisah karena harus menaiki Helicopters untuk pertama kalinya.


"tenanglah, buang semua kepanikan mu!" Hov mengusap punggung tangan Alesya dengan lembut.


"he'em" Alesya hanya menjawab pelan disertai anggukan.


"ayo sekarang kita naik!" ajak Hov sambil merangkul pundak Alesya.


"apa ini akan baik-baik saja Tuan?" wajah Alesya tampak pias.


"iya Alesya, percayalah padaku! lagi pula penerbangan kita tidak akan lama" Hov meyakinkan.


"Baiklah Tuan" jawab Alesya sambil menaiki heli itu yang di susul oleh Jehova.


setelah memastikan semuanya sudah siap, barulah Steve ikut memasuki heli, dan kali ini Steve memilih tempat duduk yang ada tepat di belakang Hov dan Alesya. Ia sengaja tidak duduk di depan Hov seperti biasa nya agar mereka tidak merasa canggung.


tak berselang lama, helicopter mewah yang bisa mengangkut kurang lebih 10 awak pesawat itu sudah mengudara dengan sempurna.


Lima menit dalam penerbangan, Alesya masih saja Tampak ketakutan, Ia bahkan tidak berani membuka matanya untuk melihat keluar jendela.


Hov yang melihat keadaan Istrinya sangat khawatir tapi juga sangat menggelikan untuk nya. karena Hov tidak menyangka kalau Alesya akan sangat ketakutan.


"Alesya, dengar aku! bukalah mata mu sekali saja, ada yang ingin aku tunjukkan pada mu." Bujuk Hov agar Alesya mau membuka matanya.


"tidak mau, aku takut Tuan" sahut Alesya sambil memeluk lengan Jehova erat.


"iya aku tau, tapi sekali saja buka matamu! kau harus melihat indahnya pemandangan dari atas sini." bujuk Hov lagi.


"tapi apakah itu tidak berbahaya Tuan?" sahut Alesya masih dengan mata terpejam.


"haha, apanya yang berbahaya Alesya." tawa Hov geli.


"kenapa kau malah menertawakan ku" sahut Alesya kesal dan tanpa sadar membuka matanya untuk menatap Jehova.


"nah, bagus Alesya. lihat ke jendela sekarang!" Hov memutar kepala Istri nya pelan untuk melihat ke arah jendela.


"aaaaaaaaaaaaa, tidak mau!" Alesya kembali menutup matanya.


"bukankan kau baru saja membuka matamu dan tidak terjadi apa-apa kan, sekarang cobalah sekali lagi!" ucap Hov.


"sungguh tidak akan terjadi apa-apa kan Tuan." Alesya meyakinkan.


"iya, sungguh Alesya. sekarang bukalah mata mu!" titah Hov.


Akhirnya dengan perlahan, Alesya memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya yang begitu indah, hingga akhirnya terbuka sempurna.


Alesya tidak menyangka, kalau pemandangan pulau pulau yang ada di tengah lautan tampak begitu indah. dari kaca jendela helikopter yang sedang di tumpangi nya sekarang.


"wow, bagus sekali Tuan pulau pulau itu" wajah Alesya dari yang tadinya tampak pucat langsung berubah menjadi sangat kegirangan.


"bukankah tadi aku sudah mengatakan nya Alesya." sahut Hov datar.


"hehe, iya Tuan." sahut nya sambil terkekeh pelan.


"apa kau ingin makan atau minum sesuatu?" Hov menawari.


"tidak Tuan, terimakasih. eh, lihat Tuan! pulau itu tampak kecil sekali dari atas sini." Alesya mengetuk ngetukan jarinya di kaca jendela.


"iya Alesya, padahal sebenarnya pulau itu besar nya hampir sama dengan pulau yang sekarang kita tempati." Hov menjelaskan.


"o iya, benar kah" wajah Alesya sungguh terlihat begitu polosnya.


"iya Alesya, apa kau ingin datang ke pulau itu?" tanya Hov.


"tentu saja, tapi apakah kita boleh datang ke pulau itu?" Alesya tampak ragu.


"tentu saja boleh, kalau begitu lain kali ayo kita berkunjung ke pulau itu" ajak Hov.


"Iya Tuan, Alesya mengangguk kegirangan."


Alesya, Alesya, kau boleh kesana sesuka mu. bahkan kau boleh membangun sebuah Mansion lagi jika kau mau. karena aku lah pemilik pulau itu.


gumam Hov dalam hati.


ya Jehova memang memiliki beberapa puluh pribadi milik nya, yang biasa Ia sewa kan untuk para pengusaha kaya berlibur dan juga untuk sekedar berwisata.

__ADS_1


dan seperti salah satunya adalah pulau yang di tunjuk oleh Alesya tadi.


tanpa terasa tiga puluh menit sudah mereka melakukan penerbangan dan Heli siap untuk mendarat di atas landasan yang ada di lantai paling atas gedung Apartemen milik AJ Group.


dan Hov menempati salah satu Apartemen dengan type presiden suite yang khusus di desain sesuai keinginan nya.


"apakah kita sudah sampai Tuan?" Alesya tampak bingung.


"Hmmm" jawab Hov.


"kenapa cepat sekali Tuan?" padahal kita baru saja melewati lautan, kenapa tiba-tiba sudah sampai di atas gedung ini." Alesya sungguh tampak begitu mengelikan kali ini.


"jangan gila Alesya! inilah gunanya helikopter, agar bisa mempersingkat waktu. coba saja kalau kita menggunakan mobil, pasti saat ini kita masih di jalanan." terang Hov.


"iya Tuan, aku kan baru pertama kali naik helikopter, jadi wajar saja kalau aku masih bingung." sahut Alesya cepat.


"iya iya Nyonya Hov." goda Jehova.


"sekarang kita akan kemana Tuan?" mereka berdua sudah turun dari heli sekarang.


"selama di kota X kita akan tinggal di sini Alesya." Hov menggandeng tangan Istrinya untuk masuk ke dalam lift khusus.


"astaga, apakah ini AJ Apartemen?" Alesya terkejut melihat lambang AJ Grup yang tertulis besar di pintu Lift.


"Hmmmmm" sahut Hov singkat.


"jangan bilang kalau apartemen ini juga milik mu Tuan!" Alesya memicingkan matanya menatap Jehova.


"Hmmmmm" sahut Hov lagi.


"oh Tuhan" Alesya terkejut sambil menutup mulut nya dengan satu telapak tangan nya.


sebenarnya sekaya apa suami ku ini? kenapa Ia seperti memiliki usaha apapun di negara X.


Batin Alesya sambil menatapi suaminya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Hov hanya tersenyum simpul, saat melihat reaksi Alesya saat tau kalau Apartemen itu ternyata milik suaminya.


sama halnya dengan Steven, hanya juga ikut tersenyum walau tidak berani untuk menunjukkan nya, Ia tersenyum sam, menundukkan kepalanya.


"jangan menatap ku seperti itu Nyonya Hov!!" ucap Hov datar.


"eh, maafkan saya Tuan"


tak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah tiba dilantai tempat di mana Apartemen Hov dan Steven berada.


tingggg


suara pintu lift berbunyi nyaring pertanda kalau mereka sudah sampai pada lantai yang tuju.


Hov menarik tangan Alesya pelan agar keluar dari Lift itu.


rupanya Alesya masih saja tidak percaya, kalau Ia bisa menginjakkan kakinya di Aj Apartemen, Apartemen paling megah dan mewah di Negara X.


"ayo Alesya! aku sudah lelah" ajak Hov.


"ih, iya Tuan" Alesya mengikuti kemana arah Hov berjalan.


tanpa di perintahkan, Steve langsung berhenti dan memohon diri, untuk masuk ke dalam Apartemen nya.


dan seperti biasa Hov hanya mengangguk, tanpa menjawab apapun.


Hov menekan tombol pin untuk membuka pintu nya, dan mempersilahkan Alesya untuk masuk terlebih dahulu.


"masuklah!" titah Hov.


"Tuan, kenapa Tuan Steve pergi ke arah berlawanan?" tanya Alesya penasaran.


"kenapa kau harus peduli dengan Steven Alesya? biarkan saja dia pergi." pekik Hov kesal.


"kenapa kau harus marah seperti itu Tuan, aku kan hanya bertanya saja." sahut Alesya tak kalah kesal nya.


"jelas saja aku marah, karena kau memperhatikan pria lain, bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau kau hanya boleh memperhatikan aku saja." tegas Hov sambil berkacak pinggang.


"iya, iya.. maaf kalau begitu" ucap Alesya pelan.


"ingat baik-baik! kau tidak boleh melihat, apa lagi memperhatikan pria lain selain aku." pekik Hov.


dasar Iblis besar aneh, sekalian saja kau pasangkan mata ku ini kaca mata kuda, agar aku tidak bisa melirik kesana kemari.

__ADS_1


Batin Alesya.


Hov segera membuka tirai panjang menjuntai yang masih menutupi kaca apartemen nya.


segera sinar matahari sore yang teduh mulai masuk kedalam ruangan apartemen mewah itu.


saat kaca apartemen sudah terbuka sempurna, Alesya berhasil di buat takjub dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya, seluruh pemandangan kota X tampak jelas dari atas Apartemen itu, gedung yang menjulang tinggi dan jalan raya yang berkelok kelok sungguh tampak sempurna dari sana.


"wahh, ini indah sekali Tuan" Alesya mendekat wajah nya ke kaca berukuran lebar itu.


"jangan terlalu dekat Alesya, wajah mu bisa kotor nanti." Hov menarik tangan Alesya pelan.


"tapi lihat lah Tuan, pemandangan dari sini indah sekali." ucap Alesya lagi.


"ah, menurut ku ini biasa saja." ucap Hov datar


"ih, dasar selera mu payah." Alesya kembali menempelkan jidat di kaca itu.


"apa kata mu? selera ku payah" sahut Hov cepat.


"iya, selera mu payah" ucap Alesya lagi.


"kau hanya belum terbiasa melihat nya Alesya, nanti kalau kau sudah sering melihat nya, kau jaga akan mengatakan hal yang sama dengan ku." ucap Hov tak terima.


"tapi ini sungguh luar biasa Tuan" ucap Alesya lagi.


"iya, iya.. terserah kau saja." Hov menyerah.


kau sungguh sangat menggemaskan Alesya, kau tidak pernah berpura-pura dengan perasaan mu, walaupun tingkah mu terkadang konyol dan sedikit kekanakan, tapi aku sungguh tidak pernah malu untuk selalu berada di samping mu.


Hov bergumam sambil tersenyum sendiri menatap tingkah istri yang begitu polos.


"Tuan, kenapa Apartemen ini luar sekali" Alesya berjalan melihat lihat isi Apartemen milik Hov.


"Hmmm" jawab Hov singkat.


"kenapa hanya Hmmm? kenapa kau tidak menjawab nya? pekik Alesya.


"lalu apa yang harus aku katakan Alesya? Hov merebahkan tubuhnya di sofa favoritnya.


"setidaknya berikan aku alasan, kenapa kau menempati apartemen sebesar ini sendiri an heh! ucap Alesya.


"type Apartemen ini memang begini Alesya, tak peduli akan ada berapa orang yang akan menempati nya." jelas Hov singkat.


"atau jangan-jangan kau sering membawa orang lain tinggal di sini juga" Alesya melotot menatap suaminya.


"kalau iya memang nya kenapa? goda Hov.


"tidak apa-apa, kalau begitu mulia besok aku akan tinggal di panti ibu ku saja, aku tidak mau tinggal di sini bersama mu." jawab Alesya dengan nada suara sedikit parau.


"haha, ada apa dengan mu Nyonya Hov? Hov terkekeh melihat istrinya yang mulai kesal.


astaga, apakah istri ku sedang cemburu sekarang.


Batin Hov kegirangan.


"tidak apa-apa, aku hanya ingin mandi. tubuh ku rasanya lelah sekali." sahut Alesya cepat.


"ya sudah mandi lah, setelah itu kita akan makan malam." ucap Hov.


Alesya tidak menjawab apapun, Ia hanya berjalan memutari Apartemen itu, mencoba mencari dimana keberadaan toilet, namun setelah beberapa saat mencari Ia tak juga menemukan nya. dan dengan terpaksa akhirnya Ia harus bertanya pada suaminya.


"dimana Toilet nya?" ucap Alesya dengan nada ketus.


"he, apakah begitu yang di ajarkan oleh Ibu Mayya pada anaknya, apa kau tidak bisa bertanya pada suaminya dengan cara yang lebih baik" goda Hov.


"bisa tolong tunjukkan pada ku Dimana toiletnya Tuan Alexander Jehova." Alesya mengulangi kata-kata nya.


"haha, dengan senang hati Nyonya Jehova yang terhormat" Hov berdiri sambil tertawa dan tak lupa mengacak rambut Alesya hingga berantakan kemana-mana.


"aaaaaaaaaaaaa" pekik Alesya keras.


Hov hanya tertawa tawa sambil berjalan ke arah kamar mandi dan di susul Alesya yang mengekor di belakangnya.


***BERSAMBUNG


*LIKE


*VOTE

__ADS_1


*KOMENTAR


TERIMAKASIH***


__ADS_2