
Alesya masih memeluk tubuh suaminya erat sambil menelusup kan wajah nya di jeruk leher Jehova, menikmati aroma tubuh suaminya yang selalu bisa memberikan efek menenangkan di hati nya.
cukup lama mereka saling memeluk, hingga sebuah panggilan telepon masuk ke Handphone Jehova dan membuat mereka berdua segera melepaskan pelukannya.
"sebentar Alesya, sepertinya ada yang menelfon ku" ucap Hov sambil berdiri dan berjalan mengambil ponselnya yang ada di meja.
"he,em" ucap Alesya pelan.
terlihat Hov berbicara dengan serius dengan orang yang ada di balik ponsel nya.
air mukanya tampak terkejut dengan apa yang sudah di sampaikan oleh seseorang itu dan rupanya yang ada di balik ponsel nya adalah Steven.
"Alesya, tunggu lah aku disini! ada urusan yang harus aku selesaikan sebentar saja" ucap Hov sambil membelai pelan rambut Istri nya.
"tidak usah Tuan, selesai kan saja urusan mu! aku akan kembali ke panti sekarang juga" ucap Alesya kemudian berdiri dan ingin segera pergi.
namun dengan cepat Hov menahan tubuh gadis itu hingga kembali terduduk di tempat nya yang semula.
"tunggu aku disini! kita akan pulang bersama nanti" ucap Hov menegaskan.
"tapi kenapa aku harus menunggu mu heh?" pekik Alesya kesal.
"sudah lah, tunggu saja aku disini! kalau kau lelah, kau bisa menggunakan kamar itu untuk beristirahat" ucap Hov sambil mengarahkan ekor matanya ke sebuah ruangan yang ada di balik dinding.
"tapi aku mau pulang Tuan Jehova!" pekik Alesya lagi.
"dasar keras kepala!" pekik Hov dan kemudian berlalu meninggalkan Alesya keluar dari ruangan nya dan tak lupa Hov menguncinya dari luar.
rupanya Hov sengaja melakukan itu agar Alesya tidak kabur dari kantor nya sendirian. Ia takut Alesya akan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri.
"Tuan Hov! Tuan Hov!! buka pintunya! kenapa kau malah mengunci ku disini heh? apa yang akan kau lakukan di luar sana, apa kau akan menemui si muka tebal itu heh, sehingga kau mengunci ku disini"
Alesya berteriak sekeras mungkin, tapi percuma saja. karena ruangan milik Jehova jelas kedap suara, sehingga tak ada orang luar yang bisa mendengar teriakannya dari dalam.
*
*
lalu dengan segera Hov menuju ruang meeting, karena masih ada pekerjaan yang harus pria itu selesai dan semua orang mengikuti meeting itu juga masih setia menunggu nya disana.
tak lama Hov sudah di sana dan langsung di sambut oleh semua orang. tak terkecuali Steven.
"silahkan Tuan" ucap Steve menarik kursi untuk Tuan mudanya.
"maaf, karena tadi aku meninggalkan meeting begitu saja tanpa mempedulikan kalian semua" ucap Hov datar.
semua orang sangat terkejut, begitu mendengar Tuan mereka mengucapkan kata maaf kepada mereka. seketika ruang meeting menjadi senyap dan mereka saling beradu pandang satu sama lain.
namun dengan cepat Steve segera memecahkan suasana dengan sedikit memberikan aba-aba agar mereka segera menjawab permintaan maaf Tuan nya.
"iya, tidak apa-apa Tuan. lagipula kami sudah terbiasa berada di ruang meeting jadi walaupun kami menunggu lama, kami tidak akan bosan hehe" ucap salah satu kepala cabang perusahaan Hov di bidang properti.
dan dengan segera di ikuti oleh seluruh anggota meeting lain nya.
sudah sekitar 15 menit Hov dan yang lainnya melanjutkan meeting nya.
tiba-tiba Handphone Steven berbunyi dan Steve segera menjauh ke sudut ruangan agar tidak menggangu yang lainnya.
__ADS_1
segera Steve mengambil ponselnya yang ada di saku jas, dan betapa terkejutnya asisten tampan itu setelah melihat video yang di kirim kan oleh Robby, supir yang menjemput Alesya tadi.
tanpa membuang waktu lagi, Steve segera menghampiri Jehova dan memberikan kode agar segera mengakhiri meeting mereka, karena ada hal penting yang harus Jehova tau.
"sepertinya meeting kita kali ini cukup sampai di sini dulu. kirim saja semua file nya kepada Steven, dan kalian semua bisa kembali keruangan kalian sekarang!" ucap Hov datar.
"Baik Tuan Hov" jawab serentak dari seluruh peserta meeting.
lalu dengan cepat mereka semua sudah pergi meninggalkan ruang meeting dan hanya menyisakan Hov dan Juga Steven tentunya.
"ada apa Steve? kenapa kau terlihat panik?" ucap Hov penasaran.
"Anda harus melihat Video yang baru saja Robby kirim kan di ponsel saya Tuan" sahut Steve sambil meletakkan ponselnya di dihadapan Jehova.
segera saja Hov menekan tombol play dan video itu segera diputar.
betapa terkejutnya Hov saat melihat Vidio yang memperlihatkan Alesya sedang di hina habis-habisan oleh tetangga nya yang bernama Mona.
raut muka Jehova segera tampak merah padam terbakar emosi.
berkali kali Ia memutar video itu, berkali kali pula umpatan demi umpatan keluar dari bibir seksi nya.
"brengsek, panggil Robby sekarang juga kemari!" titah Hov sambil menyingkirkan ponsel Steve dengan kasar.
"Baik Tuan" Steve segera meraih ponselnya yang hampir saja terjatuh dari meja dan segera mendial nomor milik Robby.
dengan cepat Robby sudah ada di balik ponsel Steven.
("halo Tuan Steve, ada yang bisa saya bantu?") ucap Robby begitu sopan.
("he Bodoh, datang lah keruang meeting sekarang juga! cepat lah, atau aku akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri" ucap Hov penuh penekanan.
("ih, iya Tuan Hov") jawab Robby dengan suara bergetar.
karena Ia tau betul siapa yang baru saja berbicara pada nya.
gubrakkk
Hov kembali melempar kan ponsel Steve ke atas meja dengan keras.
dengan kekuatan penuh Robby segera berlari mencari lift dan menuju ke lantai 5 di mana ruang meeting berada.
sementara Jehova berkali-kali meremas rambut hitamnya sambil mengumpat tak jelas.
Sedang Steve hanya bisa diam saja tak berani menegur apa lagi bertanya tentang suasana hati Jehova saat ini.
tak beberapa lama orang yang Hov nantikan pun datang.
Robby membuka pintu dengan sangat hati-hati, wajah nya sudah pias sejak di lift tadi. perasaan nya bergemuruh dan langkahnya juga begitu berat seperti akan diadili.
"kemari lah Bie!!" ucap Hov santa namun terdengar seperti Sambaran petir di telinga Robbie.
"I..iya Tu..an" suara Robbie sudah bergetar.
"kenapa kau takut? atau kau tau kesalahan apa yang sudah kau lakukan heh!" ucap Hov sambil berdiri dari tempat duduknya.
Robbie tidak menjawab apapun, pria dengan perawakan sedang itu hanya menggeleng pelan pertanda dia belum mengetahui apa sebenarnya kesalahan nya.
__ADS_1
"Dasar Bodoh!!" pekik Hov kencang di telinga Robbie.
"maaf Tuan, saya mohon maaf jika saya bersalah sungguh saya mohon maaf" ucap Robbie ketakutan.
"maaf katamu! apa kau pikir dengan ucapan maaf mu itu, kau bisa merubah keadaan heh" teriak Hov.
"maaf Tuan, maaf..!" ucap Robbie lagi.
"brengsek, kenapa kau tidak melakukan apa-apa saat Alesya ku di hina tadi heh" teriakkan Jehova semakin menggema.
"maaf Tuan, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, karena Tuan sendiri yang melarang saya untuk tidak boleh berbicara dengan Nona Alesya" ucap Robbie terbata.
"tapi bukan berarti kau tidak bisa berbuat apapun saat Alesya ku di hina brengsek!!" umpat Hov dan sesekali memberikan pukulan di perut sixpack Robbie.
"uuuh, maaf kan saya Tuan" ucap Robbie kesakitan menahan pukulan dari tangan Hov.
"sial, apa tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan heh" sahut Hov.
Walaupun sebenarnya Steve menaruh iba pada keadaan Robbie, tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena akan semakin bertambah emosi jika ada yang berani menegur Hov saat sedang seperti ini.
"Tuan, saya siap menunggu perintah Anda" sela Steven agar emosi Hov segera mereda.
"Cari suami nya, dan hancurkan seluruh keluarga nya, buat wanita itu untuk berlutut meminta maaf pada Istri ku" ucap Hov sambil menatap udara.
"Baik Tuan" ucap Steven.
"Bawa si brengsek ini pergi dari hadapan ku juga!" ucap Hov sambil berlalu pergi meninggalkan Steven dan Robbie di ruangan itu
"terimakasih Tuan Steve, berkat Anda Tuan Hov tidak menghukum ku" ucap Robbie sambil memegangi perutnya yang masih terasa mual.
"tidak masalah Bie, lagi pula ini tidak sepenuhnya salah mu, Tuan Hov memang begitu sensitif jika mengenai Istri kecilnya itu." ucap Steven menjelaskan.
"istri nya, jadi gadis cantik itu benar-benar sudah menikah dengan Tuan Hov" ucap Robbie terkejut.
"iya, sekarang pergi lah, dan mintalah obat pereda nyeri di ruang kesehatan" ucap Steven cepat.
"iya Tuan" sahut Robbie.
"o iya Bie, ingat lah Baik-baik! jangan memberikan Taukan siapa pun tentang Nona Alesya" Steve mengingat kan.
"iya Tuan, saya mengerti" sahut prian itu dan kemudian keluar meninggalkan Steven sendirian.
*
*
sementara itu di ruangan Jehova, Alesya tampak penasaran dengan benda-benda apa saja yang suaminya miliki, Ia melihatnya satu persatu dari foto foto yang terpajang di dinding dan juga di meja kerja suaminya, lalu betapa terkejutnya Ia, saat melihat ada fotonya saat sedang menunggu bis di halte, terbingkai dengan elegan berada di atas meja kerja Suaminya.
BERSAMBUNG
LIKE
VOTE
KOMENTAR
TERIMAKASIH
__ADS_1