
Hov sudah ada dikamar sekarang, segera Ia berjalan menghampiri sofa dimana Alesya sedang tidur di balik selimut nya.
dari ujung kepala hingga ujung kaki Hov memandangi tubuh Istrinya. tiba-tiba tersungging sebuah senyuman dari bibir pria tampan itu.
"aku tau kau tidak sedang tidur Nyonya Hov" Ucap Jehova datar.
namun tak ada sedikitpun jawab dari Alesya, gadis itu tetap tak bergeming dari posisi nya sekarang.
"sungguh kau tidak akan bangun?" ucap Hov lagi.
lagi-lagi usaha Jehova untuk membuat Alesya bangun gagal.
"ya baiklah kalau begitu, tidur saja tidak usah bangun! dan aku akan meninggalkan mu sendirian Mansion ini selama satu Minggu ke depan." ancam Hov.
namun lagi-lagi usaha nya gagal, Alesya tetep tak berubah dari posisi tidur nya yang menghadap ke punggung sofa.
"rupanya kau tidak ingin bertemu dengan Ibu dan adik-adik mu di Panti ya" Hov mengeluarkan jurus pamungkas nya.
"apaaa?" pulang Kau akan mengajak ku ke Pantai?" sahut Alesya dan segera menyingkap selimut nya.
rupanya kali ini usaha Jehova untuk membangun kan Istri nya membuahkan hasil.
"haha...." Hov langsung tertawa kegirangan melihat reaksi Alesya yang begitu menggemaskan di mata nya.
"kenapa kau malah tertawa Tuan? jangan bilang kalau kau hanya berbohong pada ku" Alesya menatap Jehova nanar.
"tidak Alesya, kali ini aku tidak akan berbohong. aku akan mengajak mu untuk pulang ke panti sore ini juga" ucap Hov.
"sungguh? akhirnya setelah hampir enam bulan lamanya, aku akan kembali ke Rumah Panti, ahh, rasanya seperti mimpi saja." Alesya membuang nafas nya kasar.
"o iya, bukankah tadi kau sedang tertidur pulas ya Nyonya Hov, tapi kenapa kau tiba-tiba duduk seperti itu." Hov menatap Alesya penuh telisik.
"eh, iya Tuan, tiba-tiba aku haus" Alesya segera berjalan menghampiri meja tempat dimana gelas dan juga sebuah teko berisi air mineral.
"jangan bilang kalau sebenarnya kau hanya berpura-pura tidur Alesya" Hov memicingkan matanya.
"tidak, aku tidak pura-pura Tuan. aku sungguh tertidur kog. hanya saja kebetulan aku haus, jadi aku terbangun" Alesya tersenyum getir.
"tapi matamu berkata lain Alesya" Hov menatap mata Alesya dalam.
"memang mata ku bisa berkata apa Tuan?" Alesya mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghindari kontak mata dengan Jehova.
"haha, sudah lah jujur saja! kau tidak bisa berbohong dari ku." Hov terkekeh.
"astaga, aku harus bagaimana lagi menjelaskan nya pada mu." pekik Alesya.
"baiklah kalau begitu aku tidak..." belum selesai Hov melanjutkan ucapannya Alesya sudah dulu memotong nya.
"iya, iya, aku tadi hanya pura-pura tidur. sekarang aku sudah berkata jujur pada mu, jadi jangan batalkan rencana kita untuk pergi ke Panti sore ini" oceh Alesya sambil meruncing kan bibir mungilnya.
"hehe, iya....! lagi pula siapa yang akan membatalkan nya." sahut Hov.
"jelas-jelas tadi kau akan mengatakan kalau kau tidak jadi mengajak ku pergi ke Panti kan" jawab Alesya kesal.
"hah, siapa juga yang ingin mengatakan itu." ucap Hov
"lalu apa yang ingin kau katakan Tuan?" Alesya penasaran.
"karena itu, jangan suka memotong pembicaraan ku!" ucap Hov datar.
"dasar menyebalkan!!" Alesya menggerutu lirih.
"berapa kali aku harus mengatakan kalau suami mu ini tidak tuli Nyonya Hov, jadi aku masih bisa mendengar suara cempreng mu itu." ucap Hov lagi.
"eh iya Tuan. maaf!!!" sahut Alesya.
__ADS_1
"sekarang lebih baik bersiap lah! karena sebentar lagi kita akan terbang ke kota X." titah Hov.
"apa terbang?" wajah Alesya seketika berubah pias.
"iya, terbang. kita akan menggunakan helikopter untuk pergi ke kota X Alesya." terang Hov.
"menggunakan helikopter Tuan? Alesya tampak ragu.
"iya lah, mana mungkin menggunakan parasut, dasar aneh!" oceh Jehova.
"bukan begitu Tuan, tapi aku takut. Selama ini aku belum pernah menaikinya, jadi aku merasa tidak yakin." jelas Alesya.
"eh, bukankah kau pernah mengatakan kalau kau ingin naik heli kan, sekarang ini lah saatnya, oiya ketahui lah Alesya! mulai sekarang kau harus terbiasa dengan penerbangan. karena aku akan membawamu kemana saja saat aku harus pergi ke luar kota atau pun keluar negeri. ingat itu baik-baik!!" titah Hov pada Istrinya.
"apa? kenapa kau harus mengajar ku juga, kau kan bisa pergi bersama Tuan Steve. lagi pula aku tidak akan terbiasa dengan gaya hidup mu Tuan." Alesya menunduk.
"he, jangan gila Alesya! kau ini istri ku dan aku akan membawamu kemana pun aku pergi, memang nya kau pikir gaya hidup seperti apa? aku ini sama seperti mu Alesya, dan aku tidak akan meninggalkan mu saat aku harus melakukan perjalanan jauh. sudah lah, kau hanya perlu menuruti kemauan ku Alesya." tegas Hov.
"iya baiklah" jawab Alesya.
"sekarang bersiaplah, bawa saja barang yang sangat kau butuhkan." titah Hov.
"iya Tuan" Alesya segera berjalan ke Walk in Closet untuk mengemasi bajunya.
"sekarang aku akan pergi mandi" ucap Hov pelan.
"Hmmm" jawab Alesya menirukan gaya Jehova.
Hov hanya tersenyum kecil saat mendengar jawaban dari Istri kecilnya itu.
Alesya mulai mengemasi barang-barang nya, cukup banyak yang Ia bawa. Ia hampir membawa seperempat isi dari lemari pakaiannya.
tampak ada 2 koper penuh barang-barang miliknya nya sudah Ia kemas rapi, masih ada satu koper kosong lagi yang sudah Ia siapkan untuk menaruh baju bawaan milik Hov. Alesya sudah memulai memilih beberapa pakaian milik Hov untuk di masukan ke dalam koper. namun Alesya terkejut tiba-tiba Hov memasuki walk in Closet hanya mengunakan handuk kecil yang di lilit kan di pinggangnya.
"hehe, memang nya kenapa Alesya?" ucap Hov begitu santai.
"huh, kau ini selalu saja begitu" oceh Alesya.
"haha, tapi kau suka kan, saat melihat ku seperti ini" Hov menggoyang pinggulnya tak jelas.
"pakailah ini!" Alesya menyodorkan celana bokser putih bersih untuk Hov gunakan.
"tidak mau" jawab Hov.
"Taun Jehova yang terhormat!! sekarang pakai lah celana mu!!" ucap Alesya sambil melambaikan celana milik suaminya.
"kalau begitu pakaikan!!" Hov berjalan mendekati Alesya yang sedang duduk di lantai.
"hey, apa-apaan ini?" Alesya menggeser tubuhnya.
"baiklah kau tidak mau memakai kan nya, kalau begitu biarkan saja aku seperti itu" ucap pria tampan itu.
dasar Iblis besar gila.....! otak nya semakin tidak waras saja. tapi kalau aku menolak nya, dia pasti akan membatalkan rencana nya untuk mengunjungi pantai. oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?
Batin Alesya bergemuruh.
"iya, iya baiklah! aku akan memakai nya" sahut Alesya kesal.
"yeahhhhh" pekik Hov dan segera melepaskan handuk nya kesembarang arah.
dengan perlahan Alesya mulai memakaikan celana itu, dan satu persatu Hov memasukkan kaki nya sesuai gerakan Alesya.
namun Hov tidak tega melihat Alesya yang seperti nya masih belum rileks untuk melakukan nya.
"eh, kenapa Tuan?" Alesya tampak terkejut dan segera menoleh ke arah Hov kerena merasa Hov menjauh.
__ADS_1
"aku bisa melakukan nya sendiri Alesya, maaf kan aku ya, karena aku terus saja menggoda mu." Hov mengusap pelan pucuk kepala Alesya.
Alesya hanya duduk terdiam, hati nya terasa hangat, saat mendengar ucapan Jehova padanya. Ia bahkan tidak menyangka kalau Hov akan memperlakukan semanis itu.
Alesya sungguh merasa kalau sikap Jehova sudah banyak sekali berubah, sikap nya yang dulu keras dan arogan lambat laun mulai melunak, Hov tidak lagi suka memaksakan kehendaknya, Hov sekarang juga lebih bisa menghargai Alesya sebagai istri nya.
"terimakasih Tuan" ucap Alesya begitu saja.
"hey, terimakasih untuk apa Alesya?" Hov kebingungan.
"untuk pengertian mu" pipi Alesya bersemu merah saat mengatakan nya.
"haha...." Hov hanya tertawa saja.
oh lihat lah! pipi nya tampak merona. apa mungkin Dia mulai bisa menerima ku. semoga...
batin Hov penuh harap.
"baju apa saja yang ingin kau bawa Tuan? aku akan menyiapkan untuk mu" Alesya menawari.
"Baju? aku tidak perlu membawa baju apapun Alesya, ada banyak sekali baju ku di Apartemen." jelas Hov.
"ahh, padahal aku sudah mengambil beberapa untuk mu" suara Alesya melunglai.
"jangan bilang kalau koper-koper ini berisi baju mu Alesya? Hov menatap Alesya curiga.
"he,em" Alesya mengangguk pelan.
"astaga, untuk apa kau membawa baju sebanyak ini! kau hanya perlu membawa apa akan kau butuhkan di sana saja Alesya, misalnya seperti handphone mu lipstik mu atau apalah" ucap Hov kebingungan.
"tapi baju-baju ku juga penting Tuan, kalau aku tidak membawanya, bagaimana aku akan berganti pakaian nanti." pekik Alesya.
"Steven sudah mengurus semua kebutuhan mu Alesya, jadi kau tidak perlu repot-repot membawa nya." Hov menjelaskan.
"apa? Tuan Steve? Alesya keheranan.
"iya Steve! Oiya Alesya, mulai sekarang kau tidak perlu memanggil nya Tuan Steve, kau hanya perlu memanggil namanya saja." titah Hov.
"tidak bisa Tuan, dia kan lebih tua dari ku. jadi sudah sepantasnya aku harus menghormati nya." Alesya menjelaskan.
"huuh, kalau begitu terserah kau saja Nyonya Hov. yang penting aku tidak suka mendengar nya." sahut Hov datar.
"jadi aku harus meninggalkan baju-baju yang sudah ku siapkan ini?" Alesya tampak sedikit kecewa.
"Hmmm, sekarang ganti saja baju mu! Steve sudah menyiapkan helikopter nya." ucap nya sambil berpakaian.
"iya!! oiya Tuan, tapi apakah kita harus menaiki Helicopters?" tanya Alesya lagi.
"tentu saja, memang nya kenapa?" Hov penasaran.
"tidak apa-apa, tapi, bagaimana kalau kita menggunakan mobil saja, hehe" Alesya terkekeh pelan.
"tidak, perjalanan dengan mobil akan membuat banyak waktu. lagi pula jangan takut Alesya, aku akan menjaga mu." ucap Hov.
"baiklah kalau begitu Tuan" Alesya pasrah walaupun sebenarnya Ia masih merasa takut.
BERSAMBUNG
**LIKE
*VOTE
*KOMENTAR*
TERIMAKASIH
__ADS_1