"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 92


__ADS_3

Hari demi hari telah di lalui Alesya dan Hov sebagai pasangan suami istri. tak terasa sudah tiga bulan mereka mengarumi biduk rumah tangga. seiring berjalannya waktu tampaknya


mereka berdua sudah semakin dekat satu sama lain sekarang, walaupun terkadang mereka masih tampak ragu-ragu dan masih sangat menjaga sikap mereka. terutama Alesya Ia masih sangat ragu untuk sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Jehova.


pagi ini rupanya Alesya terlambat bangun, dan yang lebih membuatnya semakin terkejut Ia sudah tidak mendapati Suaminya di atas tempat tidur itu.


dengan panik sekaligus sedikit ketakutan Alesya berjalan dengan terburu-buru menuju kamar mandi, Alesya semakin panik tatkala tidak menemukan Hov disana. kembali Alesya berlari kearah Walk in Closet Ia juga tidak menemukan Hov di tempat itu.


oh Tuhan dimana Tuan Hov? apa jangan-jangan Dia sudah berangkat ke perusahaan ya. oh tidak-tidak mana mungkin Dia berangkat sepagi ini. bukankah biasanya di jam ini Dia baru saja bangun tidur.


Batin Alesya keheranan.


dengan putus asa akhirnya Alesya memilih untuk duduk di tepi ranjang, wajah nya sudah tampak pias, Ia sudah bisa membayangkan betapa mengerikannya kemarahan Jehova pada nya nanti.


tanpa disadari bulir-bulir air mata nya mengalir begitu saja dari lumbung matanya. kali ini Alesya sungguh takut kalau Hov akan melakukan hal yang mengerikan lagi. bukan tanpa alasan jika Alesya begitu takut, karena di awal pernikahan mereka, Hov sudah pernah mengatakan kalau Alesya harus selalu melayaninya dengan baik. dari Hov bangun tidur hingga saat Hov akan tidur setiap hari nya.


Alesya menangis sesenggukan sambil memeluk guling milik suaminya. Ia sudah tidak peduli guling itu basah karena tetesan air mata nya. yang Alesya tau hanya Ia ingin menangis saja pagi ini.


"huhu... kenapa aku bisa bangun kesiangan, kenapa Tuan Hov tidak membangunkan aku." tangisnya terisak.


rupanya ada sepasang telinga yang tampak terkejut saat mendengar suara tangisan dari dalam.


dan siapa lagi kalau bukan Jehova. tanpa disangka rupanya Pria tampan itu sedang duduk menikmati udara segar pagi ini di balkon kamar mereka.


namun suara tangisan Alesya berhasil membuyarkan ketenangan nya.


dengan cepat Ia segera berlari masuk ke dalam kamar mereka.


"Alesya, kenapa kau menangis seperti itu?" tanya Hov dengan kebingungan.


"Tu..Tuan? kenapa kau bisa ada di situ? bukankah kau sudah berangkat ke kantor" Alesya lebih kebingungan.


"ke kantor? haha ini hari Sabtu Alesya. apa kau sudah pikun Nyonya Hov?" Hov terkekeh melihat wajah Alesya yang tampak sangat menggemaskan.


"apa?? kenapa aku bisa lupa!" pekik Alesya keras.


"hey, apa jangan-jangan kau sering menangis karena merindukanmu saat aku sedang di kantor" ucap Hov kegirangan.


"eh, mana mungkin, aku hanya bingung saja karena saat aku bangun tidur kau sudah tidak ada di tempat tidur." Alesya membela diri.


"o iyaa, apakah aku harus mempercayai mu?" Hov menggoda istrinya.


"tentu saja Tuan!" sahut nya cepat.


"tapi kenapa kau sampai menangis Alesya?" Hov berjalan menghampiri Istrinya.


"tidak apa-apa Tuan" Alesya mengusap pipinya yang masih basah.


"tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa kamu menangis sesenggukan seperti tadi." cecar Hov.


"sungguh Tuan, aku tidak apa-apa" Alesya bersikukuh.


"baiklah kalau kau tidak mau berkata jujur, aku akan mencari tau sendiri dan jangan salah kan aku kalau sampai aku tau siapa yang membuat sampai menangis pagi-pagi begini, aku tidak akan mengampuninya." ancam Hov.

__ADS_1


"sungguh Tuan, aku tidak apa-apa." Alesya mencoba meyakinkan suami nya.


dasar Iblis besar, kaulah yang sudah membuat ku menangis sepagi ini.


Batin Alesya.


"lalu kenapa kau menangis Alesya?" kali ini Hov mulau tampak bingung.


"sebenarnya aku takut kalau kau akan marah pada ku Tuan." ucap Alesya pelan sambil menundukkan kepalanya.


"marah? kenapa aku harus marah pada mu Alesya?" Hov semakin bingung.


"iya! aku takut kau akan marah padaku, karena aku bangun kesiangan tadi." sahut Alesya dengan cepat.


"haha, jadi menurut mu aku akan marah saat tau kau bangun kesiangan"


Hov kembali tertawa mendengar jawaban dari Istri nya.


"kenapa kau malah tertawa sih, Alesya mengerucut kan bibirnya.


aku sungguh takut kalau kau akan marah padaku Tuan, apalagi saat aku tau kau sudah tidak ada di kamar.


ucap nya lagi dengan kesal.


"aku tidak kemana mana Alesya, aku hanya duduk di balkon depan." ucap Hov.


"tapi aku tidak tau kalau ternyata kau duduk disana, aku sudah mencari mu di seluruh kamar ini tapi tidak menemukan mu, karena itu aku mengira kalau kau sudah berangkat ke kantor." ucap Alesya panjang lebar.


"dasar gadis Aneh, mana aku tau kalau kau sedang mencari ku, salah mu sendiri kau tidak memanggil ku kan." ucap pria tampan itu dengan santai.


"aku memang sengaja tidak membuka pintu nya Alesya, karena di luar dingin, aku tidak mau angin dari luar masuk ke kamar. karena aku tau kau sedang tidur." jawab Hov dengan penuh penekanan.


"jadi, kau memang sengaja tidak membangunkan aku Tuan!" ucap Alesya.


"Hmmmmm" sahut Hov singkat dan padat.


"oh astaga, apa kau tau? aku hampir gila membayangkan, kalau kau akan memarahi ku karena aku bangun kesiangan." oceh Alesya begitu saja.


"kau beruntung karena ini hari Sabtu Nyonya, karena jika kau bangun kesiangan di hari aku bekerja, maka aku akan sungguh menghukum mu. haha"


Hov mengacak rambut Alesya dengan tangan kanan nya, hingga membuat rambut gadis itu berantakan kemana-mana.


"aaaaaaaaa Tuan Hov..." pekik Alesya kencang.


Hov hanya tertawa terbahak-bahak mendengar teriakkan Istri kecilnya yang terdengar begitu menggema di kamar itu.


"sekarang kalau kau tidak ingin aku marah, kemarilah temani aku menikmati udara pagi!" ucap nya sembari kembali berjalan menuju balkon.


"huh, kenapa orang ini begitu menyebalkan sih" gerutunya sembari mengekor di belakang langkah Jehova.


"aku tidak tuli Nyonya Hov, jadi berhenti lah menggerutu di belakang ku!" ucap Hov datar.


sesampainya di balkon, mereka berdua duduk bersebelahan, sesaat tak ada percakapan di antara mereka. namun sepertinya suara perut Alesya yang kelaparan membuka percakapan diantara keduanya.

__ADS_1


"hehe, maaf Tuan. sepertinya aku lapar" ucap Alesya tanpa dosa.


"oh astaga, rupanya Istri ku ini sudah kelaparan ya" Goda Hov.


"Tuan,, jangan menggodaku terus!" rengek Alesya.


"kalau begitu suruh saja Leo untuk menyiapkan sarapan" ucap Hov.


"tidak perlu Tuan, biar aku saja yang memasak sebentar." sahut nya dan segera ingin berdiri dari tempat duduknya.


namun tangan Hov sudah lebih dulu menahan nya.


"tetap duduk di sini! aku tidak ingin kau keluar dari kamar ini tanpa aku Alesya" ucap Hov begitu saja.


"eh, tapi?" sahut Alesya.


"tidak ada tapi tapian Alesya, kalau aku menginginkan kau duduk di sini, maka tetap lah duduk di sini." Hov menatap wajah Alesya hingga membuat mata mereka saling bertemu.


"baiklah kalau begitu Tuan" ucap Alesya dengan cepat dan segera memalingkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan mata dari Jehova.


"duduk saja dengan tenang! biar aku yang meminta Leo untuk menyiapkan sarapan untuk kita." ucap Hov sembari meraih ponselnya yang ada di meja dan segera mendial nomor khusus yang langsung terhubung ke dapur.


Alesya hanya diam, sambil memandangi wajah suaminya dari samping yang sedang melakukan panggilan dengan juru masak mereka di Mansion DE'LUXE.


tak hentinya gadis itu mengagumi ketampanan wajah yang suaminya miliki.


dari sudut manapun wajah Hov sungguh memiliki kesempurnaan yang luar biasa. alisnya yang tebal, warna bola


matanya yang begitu indah, dengan bulu mata yang bisa di katakan cukup lentik untuk seorang kaum pria.


hidung nya yang begitu mancung sempurna, seperti batu karang yang menjulang tinggi di tengah lautan.


bibir nya yang merah dan selalu basah membuat semua wanita ingin sekali mencicipi nya. dan satu lagi, rahangnya yang begitu tampak tegas semakin melengkapi kesempurnaan ketampanan yang Jehova miliki. sungguh seperti tak ada sedikitpun kesalahan pada wajah pria itu.


"oh Tuhan, kenapa pria ini tampan sekali!" ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Alesya tanpa Ia sadari.


"eh, apa katamu Alesya?" Hov segera menoleh saat mendengar istrinya bergumam tentang nya.


"kenapa kau bisa setampan ini Tuan?" tangan Alesya sudah membelai lembut wajah suaminya tanpa sadar.


sebenarnya Hov tampak bingung dengan sikap Istrinya yang tiba-tiba begitu menggemaskan, tapi Ia(Hov) sengaja hanya diam saja, saat jari jemari Alesya menelusuri wajah nya begitu saja.


dengan penuh perasaan Alesya menyentuh mata Hov, hidung nya, pipinya hingga bibir nya tak luput dari sentuhan Alesya.


Hov hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan itu. hatinya sungguh berbunga bunga saat Alesya sudah semakin berani menyentuh tubuhnya lebih dekat.


BERSAMBUNG


**LIKE


*VOTE


*KOMENTAR*

__ADS_1


TERIMAKASIH


__ADS_2