"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 101


__ADS_3

"Tunggu sebentar Alesya!" Hov menarik tangan Alesya pelan.


"ada apa Tuan?" Alesya penasaran.


"berjanjilah! kalau kau tidak akan menyalahkan Ibu atas keadaan sekarang" ucap Hov parau.


"apa maksud mu Tuan? ada apa dengan Ibu ku?" tatap Alesya nanar.


"kalau begitu ayo kita lihat keadaan ibu!" ajak Hov sambil merangkul tubuh Alesya untuk berjalan.


mereka berdua berjalan bersama melewati koridor menuju kamar Mayya yang ada di ujung Panti.


rupanya Mayya sengaja memilihnya di bagian belakang, agar tidak terlalu bising oleh celotehan anak-anak panti.


Always berjalan semakin cepat, langkah kaki seakan tak juga sampai pada kamar yang Ia tuju. hingga akhirnya gadis itu memilih untuk berlari kecil menuju kamar Ibu nya.


dan tibalah Ia di depan sebuah pintu kamar yang bertuliskan.


*jika tidak berkepentingan di larang masuk*


sejenak Alesya tampak bingung dengan selembar sticker yang sudah tertempel itu.


"apa arti semua ini Tuan?" wajah Alesya tampak semakin pucat.


"masuk lah Alesya! tapi ku mohon kuatkan hati mu" titah Hov.


dengan sedikit ragu-ragu Alesya mengetuk pintu kayu berwarna coklat itu.


hingga tibalah seorang wanita paruh baya dengan baju serba putih, layaknya seorang suster.


"siapa Anda Bibi? dimana Ibu ku?" tanya Alesya dengan sopan.


"maaf Nona, saya surter Leni, saya yang bertugas untuk merawat Ibu Mayya di sini." jawab wanita itu dengan lembut.


"merawat? memang kenapa dengan Ibu ku heh" nada suara Alesya mulai meninggi dan merangsek masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Hov dan juga surter yang sedang diam di depan pintu.


tubuh Alesya seketika mematung, ketika matanya menangkap tubuh sang ibu terbaring di atas ranjang dengan peralatan medis lengkap.


air matanya tak bisa lagi di bendung, hati nya hancur melihat keadaan Ibu yang sangat Ia kasihi terbaring lemah tak berdaya.


Mayya segera membuka matanya, saat mendengar suara Isak tangis dari seseorang yang sangat Ia kenali.


"Kenapa aku mendengar suara Alesya ku Len? ucap Mayya dengan suara serak.


"Ibu....." tangis Alesya pecah dan segera menghambur ke pelukan Ibunya.


"hey, kenapa kau bisa ada di sini sayang?" Mayya membalas pelukan putri kesayangannya.


"kenapa ibu tidak pernah memberitahu aku kalau selama ini Ibu sedang sakit Bu" Alesya menangis sesenggukan.


"ibu tidak sakit sayang, ibu hanya membutuhkan sedikit perawatan saja." ucap Mayya menenangkan.


"tidak, Ibu pasti berbohong pada ku" ucap Alesya bersikukuh.


"o iya, di mana suami mu Nak?" Mayya mengalihkan perhatian Alesya.


"Dia ada di luar Bu" sahut Alesya.


"apa-apaan ini, panggil menantu ku untuk masuk ke dalam Len!" titah Mayya.


"Baik Bu" sahut Leni sopan.

__ADS_1


setelah di persilahkan untuk masuk, Hov segera menghampiri di mana Alesya dan ibu mertua berada.


"Nak Hov, kenapa kau baru masuk" ucap Mayya dengan sedikit terengah-engah.


maklum saja, karena Mayya harus di bantu oksigen untuk bernafas.


"tidak apa-apa Ibu, sekarang aku sudah ada disini, ibu tidak boleh terlalu banyak berbicara dulu ya!" ucap Hov sambil membelai tangan Mayya dengan lembut.


rupanya selama ini, Hov sering mengunjungi Mayya tanpa sepengetahuan Alesya. Mayya memang meminta Hov untuk tidak memberitahu Alesya tentang keadaan nya sekarang. agar Alesya tidak merasa khawatir.


"kenapa kau tidak memberitahu aku terlebih dahulu Nak, kalau kalian akan datang kemari" ucap Mayya.


"iya Bu, anggap saja ini kejutan" Hov tersenyum.


"dasar, kalian berdua memang pasangan yang sangat serasi, karena sama-sama menyebalkan nya" ucap Mayya dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.


"hey, kenapa aku seakan tidak ada di sini. kenapa Ibu hanya mengajak bicara Tuan Hov saja sih" Alesya menimpali.


"haha, rupanya putri ku sedang cemburu sekarang" goda Mayya.


"tidak, bukan begitu Bu, aku hanya merasa iri saja. karena sekarang Ibu lebih menyayangi Dia di banding kan aku" Alesya cemberut.


"mana bisa begitu, kalian berdua adalah kesayangan ku" ucap Mayya.


"Ibu, tadi Ibu belum menjawab pertanyaan ku. katakan Bu! sebenarnya Ibu sakit apa?" cecar Alesya.


"sebenarnya Ibu sa..." belum sempat Hov menerus ucapan nya, Mayya sudah menahan nya lebih dulu.


"sebenarnya ibu hanya sesak nafas saja sayang. dalam beberapa hari keadaan ibu juga akan membaik." Mayya menyela ucapan Hov.


"eh, iya Alesya. Ibu sakit sesak nafas" Hov menimpali dengan canggung.


"kenapa aku merasa ada yang kalian sembunyikan dari ku" Alesya menatap Hov dan Ibu nya bergantian.


Batin Hov.


selama ini yang Alesya tau, ibu nya hanya memiliki masalah pada jantung nya, namun ternyata salah. setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif rupanya Mayya mengidap kanker paru-paru dengan stadium yang sudah sangat menghawatirkan.


tapi perempuan paruh baya itu menoleh untuk di rawat di rumah sakit, menurut nya Ia (Mayya) akan lebih nyaman bila perawatan nya bisa di lakukan di rumah saja.


itulah sebabnya Hov bekerja sama dengan para Dokter pilihan dari AJ Hospital. untuk melakukan perawatan terhadap Mayya dari rumah.


"tidak ada yang kami sembunyikan sayang" sahut Mayya.


"sungguh?" ucap Alesya masih tak percaya.


"iya sayang, kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada suami mu. iya kan Nak Hov!" Mayya meyakinkan.


"eh, iya Alesya, ibu sudah berkata yang sebenarnya." sahut Hov gugup.


"baiklah kalau begitu, ayo kita sarapan pagi bersama" ajak Mayya.


"kami sudah sarapan di Apartemen Bu" sahut Hov pelan.


"Benarkah sayang?" Mayya bertanya pada Alesya yang masih tampak termenung.


"eh, iya Ibu. kami sudah sarapan tadi" Jawab Alesya sembari melempar senyum pada Ibunya.


"o iya Bu, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, karena pagi ini aku ada meeting penting di kantor" ucap Hov menimpali.


"sayang sekali, padahal aku masih ingin bersama kalian" ucap Mayya.

__ADS_1


"tenan saja Bu, selama kami telah tinggal di kota X, setiap hari kami akan datang kesini" ucap Hov.


"oh syukur lah kalau begitu" Mayya tersenyum girang.


"o iya Bu, apa saat makan siang nanti, Alesya boleh datang ke kantor ku?" Hov meminta ijin.


"tentu saja Nak, kau boleh membawa nya kemana pun kau suka" sahut Mayya.


"tapi aku masih ingin di sini Tuan!" ucapan Alesya menyambar begitu saja.


"apa itu Alesya? kau tidak boleh membantah ucapan suami mu!" ucap Mayya kesal.


"tapi Bu" sahut Alesya.


"tidak ada tapi-tapian sayang" Mayya menegaskan.


"ya baiklah Ibu" ucap Alesya sambil membuang nafas nya panjang.


Hov tampak mengulum senyum, saat melihat Istrinya merengek seperti anak kecil di depan Ibunya.


"kalau begitu aku permisi dulu Bu" ucap Hov sembari mengusap punggung tangan mertua nya.


"iya Nak, berangkatlah! Alesya, antar kan suamimu ke depan!" titah Mayya.


"iya Bu" Alesya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengekor di belakang Jehova.


tak ada percakapan diantara keduanya, mereka hanya diam. sepertinya pikiran mereka sedang tidak baik-baik saja. Hov merasa bersalah karena harus merahasiakan tentang penyakit Mayya dari Alesya. sementara Alesya merasa tidak yakin kalau ibunya hanya menderita sesak nafas biasa.


hingga lamunan mereka buyar secara bersamaan, tatkala suara Steve menusuk telinga keduanya.


"apa Anda sudah siap untuk berangkat Tuan?" sapa Steve.


"Hmmm" jawab Hov.


seperti biasa Steve membukakan pintu mobilnya untuk Jehova, namun tanpa disangka. bukan nya masuk kedalam mobil, Jehova justru berbalik arah dan memeluk tubuh Alesya yang tepat berada di belakangnya dengan sangat erat.


"jangan takut Alesya! aku akan melakukan yang terbaik untuk perawatan Ibu" ucap Hov pelan sambil mencium pucuk kepala istrinya mesra.


Alesya hanya terdiam, tak tau harus berkata apalagi, Ia merasa kalau Hov sudah terlalu banyak membantu nya dan juga ibunya.


tak pernah sedikitpun terbesit di pikiran Gadis itu, kalau Hov akan membangun Rumah panti menjadi begitu megah dan juga memberikan perawatan yang begitu baik untuk Ibunya.


"terimakasih Tuan" ucap Alesya sambil terisak didada Jehova.


"jangan menangis Alesya! aku akan selalu ada di samping mu, jadi jangan pernah sekalipun mereka sendirian" ucap Hov menangkan.


"he,em" Alesya mengangguk.


"kalau begitu, aku pergi dulu, ingat saat makan siang nanti akan ada sopir yang menjemput mu." Hov mengingat kan.


"iya Tuan" ucap Alesya parau.


Hov pun memasuki mobil Roll Royce nya dan kemudian mobil itu melaju, melibas jalanan yang tidak begitu luas, karena panti tempat Alesya tinggali dulu hanya terletak di pinggiran kota X saja.


***BERSAMBUNG


*LIKE


*VOTE


*KOMENTAR

__ADS_1


TERIMAKASIH***


__ADS_2