"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 94


__ADS_3

Di pagi dengan cuaca yang cukup dingin ini, mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Mansion. entah kenapa Alesya seperti tidak ada bosan nya untuk mengelilingi Mansion itu.


mereka berjalan beriringan meskipun tidak bergandengan tangan. kedua nya tampak banyak sekali melepaskan senyuman di sela obrolan mereka.


Namun tiba-tiba langkah Alesya terhenti di sebuah hamparan lahan kosong yang cukup lebar menurut nya.


tanah lapang itu berada di tengah-tengah antara hutan Pinus dan juga taman bunga mawar putih.


"eh, tunggu sebentar Tuan!" Alesya menghentikan langkahnya.


"ada apa Alesya?" kenapa kau tiba-tiba berhenti.


"kenapa aku baru menyadari kalau ada tanah kosong seluas ini ya." Alesya menjentikkan jari nya di sebelah bibir.


"dasar aneh, memang nya selama ini kemana saja kau Nyonya Hov?" Hov berkacak pinggang, sambil tersenyum manis.


"hello Tuan Jehova yang terhormat, apa kau sendiri sudah lupa, kalau Mansion ini terletak di sebuah pulau yang luar biasa luas nya, jadi mana mungkin aku bisa mengelilingi nya hanya dengan berjalan kaki." Alesya berjalan menjauh menuju tanah lapang itu.


"he, tunggu aku Alesya!" panggil Hov.


Hov berjalan mengekor di belakang istrinya yang sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.


"kenapa kau menyiyiakan tanah lapang seluas ini Tuan?" oceh Alesya begitu saja.


"eh, siapa yang menyiyiakan tanah ini?" bibir Hov meruncing.


"ini bukti nya!" Alesya merentangkan kedua tangannya.


"aku tidak menyiyiakan nya Alesya, hanya saja aku memang tidak pernah mengurusi hal-hal semacam ini." Hov menegaskan.


"lalu siapa yang menanam semua pohon dan bunga mawar putih itu." Alesya penasaran.


"aku memang memberikan perintah kepada para pekerja, untuk menanam pepohonan apa yang cocok di sini. tapi bukan aku yang memilih pohon nya, kau tau maksud ku kan Alesya?" Hov mencoba menjelaskan.


"ooo, berarti bunga mawar putih itu juga bukan kau yang menanamnya Tuan?" Alesya masih penasaran.


"jangan gila Alesya, Tentu saja bukan aku lah!" Hov meyakinkan.


"kira-kira siapa ya, yang memiliki ide untuk menanam bunga mawar di taman itu. apa mungkin Bibi Hanna ya Tuan?" Alesya mencari pembenaran.


"mungkin saja, tapi yang jelas bukan aku yang menanam nya." Hov kembali berjalan.


Mereka kembali berjalan menyusuri taman-taman yang ada di Mansion DE'LUXE.

__ADS_1


"Tuan" panggil Alesya pelan.


"Hmmmmm" sahut Hov seperti biasa.


"bagaimana kalau tanah kosong tadi di tanami dengan beraneka buah buahan, dan juga taman bunga itu di tanami dengan bunga-bunga yang lebih bervariasi." Alesya menatap Hov dengan pandangan puppy eyes nya berharap Hov akan mengabulkan permintaan nya.


"jangan menatap ku seperti itu Alesya!" Hov menyingkirkan wajah Istrinya dari hadapan nya.


"lalu aku harus menatap dengan cara yang bagaimana? apa dengan seperti ini?" Alesya mengedip ngedip kan kedua matanya dengan genit. sambil menopang kedua pipinya dengan tangan.


"ahh, kau benar-benar membuat ku tidak tahan Alesya" Hov mengacak rambut Alesya dengan brutal.


"aaaaaaaaa Tuan Hov" rengek Alesya.


sial, kenapa istri ku semakin imut begini sih, aku jadi semakin tidak tahan ingin segera memiliki mu sepenuhnya Alesya.


cicit Hov dalam hati.


"salah mu sendiri, kenapa kau terus saja menggoda ku." sahut Hov.


"aku tidak menggoda mu Tuan, aku hanya meminta persetujuan dari mu" Alesya berkelit.


"terserah!!! yang penting aku merasa kau sedang menggoda ku" Hov berjalan sambil tersenyum-senyum.


"enak saja, kapan aku mengatakan setuju dengan rencana mu" goda Hov.


"Aaaa Tuannnn!! coba bayangkan saja Tuan! kalau lahan kosong itu kita manfaatkan menjadi perkebunan buah-buahan, dengan begitu kita bisa berhemat, kita tidak perlu lagi membeli buah-buahan keluar pulau, kita bisa memanfaatkan buah dari perkebunan kita sendiri. dan yang lebih menyenangkan lagi kita bisa memitik nya sendiri, bukan itu sangat menyenangkan?" Alesya menerangkan secara panjang lebar.


"apakah se menyenangkan itu Alesya?" sahut Hov datar.


"tentu Saja! apa kau tau Taun? dulu sewaktu aku kecil orang tua ku memiliki perkebunan buah-buahan yang cukup luas, dan ada berbagai macam buah-buahan yang ayah ku tanam, setiap kali memanen nya, aku selalu ikut dengan mereka, jadi aku tau bagaimana bahagia nya bisa memetik buah hasil dari kebun kita sendiri." wajah Alesya tampak berbinar penuh kebahagiaan saat bercerita tentang keluarga nya.


"o iya." Hov jawab Hov dengan datar.


"jadi bagaimana menurut mu Tuan? apa kau setuju?" Alesya kembali menatap Hov dengan bola matanya coklat nya.


"entah lah, kita lihat saja nanti." Hov berjalan sambil bersiul seakan tak peduli dengan permintaan Istri nya.


"Tuan Jehova!!!!" teriak Alesya memanggil suaminya dengan nada kesal sekaligus frustasi.


"haha.. jangan berteriak seperti itu Alesya! apa kau pikir ini hutan belantara heh." sahut Hov dengan tertawa.


awas saja kau Iblis besar, aku tidak akan berhenti, sebelum kau mengabulkan permintaan ku ini.

__ADS_1


Batin Alesya.


di sepanjang perjalanan mereka mengelilingi Mansion, tak hentinya Alesya berbicara panjang lebar tentang konsep yang ingin Ia wujud di lahan kosong itu. Ia terus saja berbicara walaupun Jehova terlihat tidak peduli dengan rencana nya besarnya.


sebenarnya Alesya sedikit kedinginan, tapi Ia sengaja tidak menunjukkan nya, agar bisa terus berbicara dengan suami nya itu.


namun lain dengan Jehova, pria tampan itu menyadari kalau Istrinya sedang kedinginan dan segera melepaskan mantel yang panjang nya untuk di sematkan di pundak Alesya.


"pakailah ini, kau pasti kedinginan kan." ucap Hov pelan sambil menatap Alesya.


"eh, iya Tuan. terimakasih" sahut Alesya.


"hmmmmm" jawab Hov


"Tuan, apa kau mendengar yang sudah ku bicara kan tadi?" Alesya memberanikan diri untuk bertanya.


"eh, memang nya kau berbicara pada ku ya Alesya?" Hov memasang wajah lugu.


"astaga,, apa kau sungguh tidak mendengarkan apa yang ucapan kan dari tadi." Alesya melotot tak percaya.


"oh, maaf kan aku Alesya! sepertinya karena aku terlalu menikmati pemandangan di sini, jadi aku tidak sempat mendengarkan semua pembicaraan mu." Hov dengan wajah penuh penyesalan.


"kau sungguh sangat menyebalkan Tuan Alexander Jehova!!" pekik Alesya kemudian gadis berlari meninggalkan Hov dan masuk kedalam mansion lebih dulu.


"haha, hati-hati Alesya, kalau kau sampai terjatuh aku tidak akan menolong mu." Hov terkekeh tak henti-hentinya.


Alesya segera masuk kedalam kamar, mencuci kaki dan tangan nya, lalu segera menelusup kan tubuh indah nya di balik selimut tebal yang ada di sofa.


sementara itu Jehova terlihat masih sibuk berbincang bersama dengan Steven di bangku taman. tak yang tau apa sebenarnya yang sedang mereka berdua bicarakan. sepertinya hanya Tuhan dan mereka berdua saja yang tau isi pembicaraan mereka.


setelah hampir satu jam lebih, Hov dan Steve berbincang. akhirnya Jehova memutuskan untuk kembali masuk Mansion. selain udara di luar cukup dingin, Hov juga penasaran apa yang sedang di lakukan Istri kecilnya saat sedang marah.


Hov berjalan setengah berlari menuju kamar mereka, Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alesya.


namun lain halnya dengan Alesya, saat Ia(Alesya) mendengar pintu kamar terbuka, gadis itu segera memejamkan matanya, berpura-pura tidak mendengar kehadiran Hov. rupanya Alesya sengaja melakukan itu, agar Jehova tidak mengajak nya berbicara. Alesya benar-benar kesal kali ini. karena menurutnya Hov sudah sangat keterlaluan pada nya.


BERSAMBUNG


**LIKE


*VOTE


*KOMENTAR

__ADS_1


*TERIMAKASIH*


__ADS_2