"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 107


__ADS_3

Dengan cepat Alesya meraih foto itu dan memandangi lekat.


"tidak salah lagi, ini memang foto ku!" ucap nya mantap, sambil masih memegangi erat foto yang terbingkai itu.


tak lama pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan tampak sosok laki-laki berbadan tinggi tegap dan juga berwajah tampan, siapa lagi kalau bukan Jehova.


seketika Alesya tampak panik saat melihat suaminya sudah kembali, lalu dengan cepat gadis cantik itu menyembunyikan fotonya di balik punggung, dan tentu saja sikap Alesya yang sangat mencurigakan menarik perhatian Jehova.


"apa yang sedang kau lakukan di dekat meja kerja ku Alesya?" Hov penasaran.


"tidak ada, aku hanya ingin membersihkan mejamu saja" ucap Alesya sambil mengelap meja yang sebenarnya tidak kotor itu dengan tangan kirinya.


"o iya?" ucap dengan Hov mengernyit kan dahi nya.


"iya sungguh Tuan?" ucap Alesya gelagapan


"lalu apa yang sedang kau sembunyikan di balik punggung mu itu Nyonya Hov?" Ucap Hov sambil berjalan mendekati Alesya.


"eh, aku tidak menyembunyikan apapun!" Alesya bersikukuh.


"kau sungguh tidak pandai berbohong Alesya, haha" Hov terkekeh melihat wajah Alesya yang tampak begitu menggemaskan.


"ta,tapi aku tidak berbohong Tuan Hov" Alesya berjalan mundur.


"sungguh?" sahut Hov.


"iya sungguh" Alesya mengangguk.


"lalu kenapa kau mencoba menghindar dari ku Nyonya Hov?" Hov menyeringai.


"karena aku tidak ingin dekat-dekat dengan mu Tuan Jehova" ucap Alesya begitu saja.


"he, tapi kenapa?" pekik Hov kesal.


"karena kau sudah membuat ku kesal hari ini" Alesya sudah berjalan menjauh dari meja sekarang dan menuju ke sofa.


"kalau begitu, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkan aku Alesya?" ucap Hov sembari terus mendekati istrinya perlahan.


"tidak mau" Alesya memalingkan wajahnya dari Hov.


dan Hov segera memanfaatkan situasi itu untuk menyergap tubuh Alesya dari samping, hingga membuat Alesya terkejut dan secara refleks langsung berteriak kencang.


"diam Alesya! menurut lah!" titah Hov.


"tapi apa yang akan kau lakukan heh?" pekik Alesya.


"kumohon maaf kan aku Alesya! maaf kan aku!" gumam Hov sambil menelusup kan wajah nya di ceruk leher jenjang istri nya.


"aku sudah memaafkan mu Tuan" ucap Alesya lirih.


"sungguh?" sahut Hov kegirangan dan seketika menangkup wajah istri dengan tangan nya yang lebar.


"iya, sekarang lepas kan aku!" ucap Alesya sambil meronta pelan.


hingga tanpa sengaja menjatuhkan bingkai foto nya di pegang nya.


Klopraakkk


"apa itu Alesya?" ucap Hov terkejut dengan benda yang di jatuhkan oleh istri nya.


"eh, bukan apa-apa Tuan" ucap Alesya kelagapan sembari memungut bingkai yang berisi foto nya.

__ADS_1


"he, tunggu! apa yang akan kau lakukan dengan foto milik ku itu Alesya, kembali kan!" ucap Hov sambil menyodorkan tangan kanannya.


"foto milik Mu? jelas-jelas ini foto ku Tuan" Alesya menunjuk foto itu dengan jari telunjuknya.


"iya itu memang foto mu, tapi foto yang sedang kau pegang itu milikku Alesya" ucap Hov sambil tersenyum tak jelas.


"o iya, bagaimana kau bisa memiliki foto ku Tuan Jehova" ucap Alesya penuh penekanan.


"eh, Tentu saja aku bisa. apa kau lupa siapa suami mu Nyonya Hov?" Hov memainkan kedua alisnya matanya yang hitam dan tebal.


"jangan bilang, kalau kau ternyata sudah menguntit kehidupan ku ya" pekik Alesya.


"menguntit? haha jangan gila Alesya! bagaimana mungkin seorang Alexander Jehova menjadi penguntit, itu tidak akan pernah mungkin terjadi" ucap Hov lantang.


"tapi ini buktinya Tuan Alexander Jehova!" Alesya menunjukkan foto dirinya.


"tapi aku sungguh tidak menguntit mu Nyonya Hov" ucap Hov meyakinkan.


ada apa sebenarnya dengan iblis besar ini, kenapa aku merasa Dia sudah mengincar ku sejak lama.


Batin Alesya meracau.


"kalau begitu apa tujuan mu mengambil foto ku secara diam-diam heh?" Alesya bersungut-sungut.


"baiklah, aku akan jujur padamu. waktu itu aku tidak sengaja melihat mu sedang berdiri sendirian di halte Bus, dan entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengambil foto mu begitu saja. karena saat itu kau terlihat begitu menyedihkan, kau terlihat sangat lelah dan juga berantakan Alesya" Ucap Hov jujur.


"sungguh? apa aku terlihat begitu menyedihkan saat itu" ucap Alesya tertunduk.


"kalau aku boleh tau, waktu itu kau ingin pergi kemana Alesya? kenapa kau tampak terburu-buru sekali" Hov penasaran.


"tentu saja untuk pergi bekerja di Clubs milik mu, karena pemilik Clubs membuat peraturan yang sangat kejam untuk karyawan nya, jadi aku tidak berani datang terlambat" ucap Alesya panjang lebar.


"apa kau sedang membicarakan suami mu ini Nyonya Hov?" Hov memicingkan matanya menatap Alesya.


"he, menyebalkan sekali istri ku ini ya" ucap Hov kesal.


"kau lebih menyebalkan" sahut Alesya cepat.


"iya, iya.. aku lebih menyebalkan" ucap Jehova pasrah.


tokkkk....tokkkk......


"masuklah Steve!!" Hov mempersilahkan.


tak lama kemudian Steven masuk dan segera menghampiri Jehova dan Alesya yang sedang berdiri berhadapan namun tidak terlalu dekat.


"Tuan, makan siang yang Anda pesan sudah siap" ucap Steven.


"Hmmm, suruh mereka menyajikan semua makanan di meja!" titah Hov.


"Baik Tuan" sahut Steven cepat.


"Alesya masuk lah sebentar ke kamar!" ucap Hov pada Istrinya.


"eh, iya Tuan" seperti biasa Alesya hanya menurut saja apa yang di perintahkan oleh Jehova, walaupun sebenarnya Ia ingin sekali bertanya kenapa seakan-akan Hov menyembunyikan dari dunia luar.


oh Tuhan, tenang kan lah hatiku ini. aku yakin pasti ada alasan yang baik kenapa Tuan Hov tidak ingin orang lain melihat ku.


Alesya menenangkan diri nya sendiri.


setelah Alesya masuk, baru lah beberapa pelayan dan satu juru masak di persilahkan masuk ke ruang Jehova untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.

__ADS_1


tak ada yang tau apa sebenarnya Alasan Jehova yang selalu menutupi pernikahan nya dengan Alesya, Hov juga seperti nya tidak mau kalau dunia luar sampai tau Alesya adalah istri nya.


"semuanya sudah siap Tuan" ucap Steven.


"suruh mereka semua keluar sekarang Steve!" sahut Hov.


"iya Tuan" sahut Steve cepat.


dalam beberapa menit saja, semuanya sudah meninggal ruangan itu seperti yang Hov minta.


"Alesya?" pekik Hov memanggil Istrinya.


"Hmmm" sahut Alesya dari dalam.


"he, jawaban apa itu Nyonya Hov?" pekik Hov lagi.


kedekatan antara Jehova dan Alesya sungguh membuat jantung Steve berdebar-debar. Ia seperti melihat orang lain dari Tuannya saat sedang memperlakukan Istri kecilnya.


tak ada sedikitpun ucapan kasar, dingin apalagi arogan seperti sikap Hov pada orang lain ataupun wanita lain.


"iya, iya aku keluar.." sahut Alesya malas.


hati gadis itu sungguh sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang. pikiran nya diliputi pertanyaan pertanyaan yang seakan tidak ada jawaban nya.


jiwa nya ingin sekali memberontak, tapi hati nya sudah milik Jehova sepenuhnya, Alesya sungguh tidak bisa menjauh dari laki-laki itu sekarang.


bahkan hatinya begitu sakit, saat mengetahui ada wanita lain yang begitu menginginkan suami nya itu. hingga sekuat tenaga Ia berusaha untuk mempertahankan nya, walaupun sebenarnya Ia tidak memiliki kekuatan apapun untuk bertahan.


"duduk lah disini, Hov menepuk sofa kosong disebelah nya.


"tidak aku duduk di sini saja"


tapi belum sempat Alesya duduk, tubuh nya sudah lebih dulu diraih oleh Jehova dan mau tidak mau akhirnya Alesya duduk di sebelah suami nya.


"nah, begitu kan lebih baik, iya kan Steve?" Hov meminta pendapat asisten nya.


"iy, iya Tuan" jawab Steve gelagapan.


"he, apa tidak ada yang bisa kau ucapkan selain Iya Tuan.." timpal Alesya.


"maaf Nona, tapi memang saya harus berkata seperti itu" jawab Steve.


"haha, diamlah Steve! kau tidak akan menang melawan Istri ku ini" ucap Hov sambil mengacak rambut Alesya pelan.


"Tuannnn... rambut ku berantakan!" Alesya bersungut-sungut.


"Biar saja terurai seperti itu!" Hov memegangi tangan Alesya saat ingin mengikatnya.


"tapi" sahut Alesya kesal.


"biarkan seperti itu, atau aku akan mencium di depan Steven" ancam Hov dan tentu saja berhasil membuat Alesya diam seketika.


lagi-lagi perkataan Jehova pada Alesya berhasil membuat Steve terperangah. Dia tidak menyangka seorang Alexander Jehova akan mengucapkan kata-kata yang begitu mengelikan untuk di dengar.


mereka bertiga pun akhirnya makan siang bersama, walaupun sebenarnya Steve tidak berada dalam satu meja yang sama.


BERSAMBUNG


*LIKE


*VOTE

__ADS_1


*KOMENTAR


TERIMAKASIH


__ADS_2