"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"

"PENGANTIN KECIL TUAN HOV"
Bab 89


__ADS_3

Jehova dan Alesya masih duduk saling berhadapan, sementara yang lainnya masih asik duduk di rerumputan, tapi ada juga yang memilih duduk di kursi taman.


seperti biasa, Steven hanya bisa menjadi manekin hidup diantara mereka, ada tapi seperti tidak ada. dan Alesya pun sudah mulai terbiasa dengan sikap Steve yang seperti itu.


"terimakasih Tuan"


tiba-tiba Tangan Alesya meraih salah satu tangan Hov dan meremas nya pelan.


sontak saja perlakuan Alesya itu membuat Jehova langsung menghentikan makannya dan seketika menatap Alesya dengan tatapan penuh keheranan.


"eh, terimakasih untuk apa Alesya? tanya Hov.


"ya terimakasih untuk semua ini Tuan" sahut nya sambil tersipu malu.


astaga, cantik sekali istri ku ini saat tersenyum seperti ini.


batin Jehova.


"kau terlalu berlebihan Nyonya Hov, aku melakukan ini semua karena memang sudah saatnya aku berbaik hati pada mereka semua. karena selama ini mereka sudah melayani ku dengan baik. itu saja" tukasnya.


Hov pun kembali meneruskan makan siang nya, namun tidak sedikitpun menggeser tangannya dari bawah telapak tangan Alesya.


"terserah, apa katamu Tuan Hov. yang penting siang ini aku bisa melihat mereka semua makan siang dengan tenang, tanpa harus diliputi oleh perasaan ketakutan kerena mu." mata coklat Alesya berbinar indah menatap para pelayan yang saling bercanda satu sama lain.


saat Alesya ingin segera menarik tangan nya, namun pergerakan kalah cepat oleh tangan Jehova yang telah lebih dulu berbalik dan segera menggenggam nya erat.


"biar kan tetap seperti ini Alesya!" ucap Hov pelan namun penuh penekanan.


"eh, tapi ada banyak orang disini Tuan" cicit Alesya pelan.


"Biar kan saja, apa peduli ku" Hov tetap saja menggenggam tangan istrinya erat-erat.


"bisa-bisanya kau mengabaikan Asisten mu itu." Alesya mengarahkan ekor matanya ke arah Steve yang hanya duduk diam di sebelah Jehova, hanya saja berjarak satu meter dari nya.


"memangnya kenapa dengan Steven? bukankah sudah seharusnya Dia berada di dekat ku kan" sahut Jehova santai.


"tapi aku malu Tuan" Ucap Alesya setengah berbisik.


"oh, jadi kau malu, memegang tangan suami mu sendiri di depan orang lain heh!" Hov meletakkan sendok nya kasar. hingga membuat semua orang menoleh kearah nya.


"bukan begitu maksud ku, aku hanya merasa tidak nyaman saat mereka melihat kita bermesraan" ucap Alesya sembarangan saja.


"bermesraan katamu, aku hanya memegang tangan mu saja Alesya" Hov meninggikan suara nya satu oktaf.


"kalau berpegang tangan bukan bermesraan, lalu seperti apa bermesraan menurut mu Tuan?" sahut Alesya kesal.


"oh, baiklah akan ku tunjukkan pada mu seperti apa bermesraan yang sesungguhnya.

__ADS_1


dengan cepat Hov berdiri dari kursi tempatnya duduk dan segera menghampiri Alesya.


"he, apa yang akan kau lakukan Tuan? kembali ke tempat duduk mu!" Alesya tampak panik saat Hov sudah menundukkan kepalanya, hingga mereka beradu pandang.


tanpa mempedulikan semua mata yang sudah mengarah pada mereka berdua.


dengan sedikit kasar Hov menarik tengkuk Alesya dan menciumnya bibir ranum Isterinya dengan sangat lembut, di depan seluruh pelayan, pengawal dan juga Steven tentunya.


hingga membuat semua nya orang merasa terkejut tak percaya kalau Tuan mereka akan melakukan hal segila itu.


tak terkecuali Steve, Asisten tampan itu langsung berdiri meninggalkan makan siang nya dan berjalan menjauh dari meja.


sedangkan Jehova masih saja ******* bibir Alesya tanpa mempedulikan mereka semua, yang tampak satu persatu menjauh dari taman itu, hingga menyisakan mereka berdua saja.


Hov baru melepaskan pagutan nya, saat merasa Alesya hampir kehabisan nafas.


"haha, dasar Bodoh! bukankah aku sudah mengajarkan mu untuk bernafas saat sedang berciuman heh" Hov kembali berdiri sambil berkacak pinggang dan tertawa terbahak-bahak.


"bagaimana bisa aku bernafas, kalau kau melakukan nya dengan sangat tiba-tiba" Alesya mengomel tak jelas.


"ayo kita masuk! disini panas" Jehova mengacak pucuk rambut Alesya hingga berantakan lalu meninggalkan begitu saja.


"hey, berhenti Tuan Jehova!! berhenti!! Alesya berteriak lalu berlari mengikuti langkah suaminya yang sangat lebar.


Hov hanya terus berjalan tanpa mempedulikan istri nya yang terus saja memanggil nama nya berkali-kali, jelas sekali terlihat kebahagiaan yang sangat besar di raut wajah tampan Jehova. bibir laki-laki itu tak hentinya melengkung kan senyuman, tatkala mendengar istrinya meneriakkan namanya berulang ulang.


"dasar lamban, kenapa jalan mu pelan sekali Alesya!" Hov menggoda istrinya yang sudah berhasil menyusul langkah nya.


"haha, memang kau lamban, buktinya saat berjalan kau slalu tertinggal di belakang ku" Hov menoleh ke arah Alesya yang kembali tertinggi di belakang nya.


"hey, kalau begitu pelan kan sedikit langkah mu Tuan! titah Alesya begitu saja.


Alesya menatap langkah demi langkah yang Jehova lewati, Ia mencoba mengikutinya namun sepertinya kakinya tak cukup panjang untuk bisa menyamai langkah suaminya.


oh astaga, kenapa kaki pria ini panjang sekali, pantas saja langkah nya bisa begitu lebar.


gumam Alesya.


kerena Alesya masih fokus pada langkah Jehova saja, Ia tidak menyadari kalau ternyata Jehova tiba berhenti di depannya. hingga


Brugggg


"Aauuuuu"


Alesya memekik pelan saat dahinya membentur dada milik Hov. sejenak Ia(Alesya) terdiam saat mencium aroma maskulin yang begitu menyegarkan dari tubuh suaminya.


kenapa kau berhenti Tuan?

__ADS_1


"bukankah kau tadi menyuruhku untuk berjalan pelan kan?" sahut Hov.


"iya, tapi tidak menyuruh mu untuk berhenti dengan tiba-tiba begini" Alesya tampak mengusap dahinya pelan.


"apa dahi mu sakit Alesya?" Hov mengangkat dagu Alesya agar bisa melihat dahi Istrinya dengan jelas.


"tidak apa-apa, lepaskan!" Alesya meronta pelan agar Hov melepaskan tangan dari dagu runcing nya.


"tunggu sebentar! aku akan melihatnya dulu" satu tangan Hov mengelus pelan dahi yang begitu mulus milik Alesya.


Wajah Alesya langsung merah merona, saat Hov memperhatikan dan menyentuh wajah nya dengan sangat lembut.


rupanya Hov menyadari, kalau istrinya mulai bereaksi dengan sentuhan nya.


"lepas kan Tuan! dahi ku sudah tidak sakit lagi" cicit nya pelan.


"oh, baiklah"


Hov melepaskan dagu Alesya namun memberikan sentilan kecil di dahi gadis itu.


"auuh, kenapa kau malah menyentil dahi ku?" protes Alesya.


"hehe, ayo cepat! aku sudah ingin sekali merebahkan tubuh ku." Hov menarik tangan Alesya pelan dan membawanya naik ke lantai atas menuju kamar mereka.


Alesya hanya menurut saja, tak ada perlawanan sedikitpun. ada perasaan yang begitu luas biasa di hatinya untuk Jehova, walaupun Ia belum menyadari kalau sebenarnya Ia sudah sepenuhnya jatuh hati pada pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.


*


*


sementara itu di tempat lain, Hansen seperti kehilangan kabar tentang Alesya, Ia seperti dihalangi halangi untuk mencari tau tentang keadaan Alesya dan juga keluarga gadis itu.


Hans sadar betul, kalau yang menutup semua akses menuju Alesya pasti lah sahabatnya sendiri yaitu Jehova.


Hans seperti sudah kehabisan akal untuk mencari tau tentang Alesya, karena semua orang yang Ia perintahkan untuk mencari informasi tentang Alesya selalu tidak berhasil. bahkan terkadang mereka hilang seperti di telan bumi, Hans tau tidak akan mudah untuk mencari kabar tentang gadis yang sangat dicintainya itu.


karena yang menjadi rival nya saat ini bukanlah orang sembarangan, Hans tau, kalau Jehova akan menjadi tembok tinggi yang menghalanginya untuk mencari tau tentang keadaan Alesya. bahkan keluarga Alesya pun seperti tidak bisa tersentuh oleh orang-orang yang Hansen kirim kan.


jangan kan orang suruhan Hansen, media massa pun tak ada yang bisa mengendus apalagi menyentuh keberadaan Alesya di Mansion mewah orang terkaya di negeri itu (Alexander Jehova).


semuanya yang informasi yang Hans berikan pada media masa secara diam-diam tidak ada satupun yang membuahkan hasil. Hov sungguh menutup dan membatasi Alesya dan keluarganya. tidak ada satupun orang yang bisa berbicara dengan keluarga nya tanpa seijin dari Jehova.


BERSAMBUNG


**LIKE


*VOTE

__ADS_1


*KOMENTAR*


TERIMAKASIH


__ADS_2